Elena gadis yang dingin, dan acuh pada sekitar sedang duduk di salah satu bangku kelas sambil membaca novel berjudul "Love For Anna" kisah remaja klasik tentang Anna si gadis lemah lembut dan gampang menangis, dengan adanya lima orang pangeran pelindung yang salah satunya adalah pacar dan kakak dari sosok antagonis novel yaitu Xaviora.
Karena terlalu cemburu, keseharian Xaviora jadi selalu membully Anna agar dia jauh-jauh dari pacar dan kakaknya. Tapi karena perilakunya yang suka membully, akhirnya Gio atau pacar Xaviora membencinya dan lebih memilih Anna.
Sampai Akhirnya si antagonis melakukan percobaan pembunuhan untuk Anna yang sialnya rencana itu gagal karena ketahuan oleh kedua kakak dan pacarnya sendiri, karena ketiga orang tersebut sangat mencintai Anna akhirnya mereka bertiga balik merencanakan pembunuhan untuk Xaviora.
Berakhir dengan Xaviora mati tertabrak mobil suruhan kedua kakak dan pacarnya, dan bahagianya hubungan Anna dan Gio.
Sebut saja novel ini, novel dark romance, terlalu banyak adegan kekerasan.
Sedang fokus membaca novel, tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang.
Menghela nafas pelan, Elena menoleh ke samping mendapati teman satu-satunya, Sesil namanya.
Mengingat aku yang terlalu pendiam, dan tidak peduli dengan sekitar, wajar kalau tidak ada yang berani mengajakku berteman, hanya Sesil yang berani mendekatiku.
Awalnya aku tidak mau berteman dengan siapapun, karena menurutku mereka semua munafik. Berteman karena kekayaan, berteman karena kepopuleran, atau karena wajah.
Tapi melihat usaha Sesil yang dengan sabar mengajakku berteman, walau sudah sering aku menolaknya akhirnya aku pun luluh. Dan sekarang aku dan Sesil sudah dikatakan dekat.
"Baca terus lo, ngga bosen apa."
"Berisik."
"El, ayo ganti. Mapel olahraga sekarang."
"Hmm."
Aku dan Sesil berjalan ke ruang ganti, setelah berganti kami menuju ke lapangan.
Pelajaran olahraga hari ini tentang bola basket, kelasku dibagi dua tim siswa dan siswi dicampur supaya adil.
Ditengah permainan tiba-tiba kepalaku terasa sakit, dan setelahnya pandanganku mengabur.
Aku jatuh sambil memegangi kepalaku, setelahnya aku merasa tubuhku melayang. Mendongkak keatas sambil memegangi kepala, ternyata aku diangkat oleh Aksa salah satu siswa dikelasku.
Tidak lama pandanganku berubah menjadi gelap, aku pingsan.
***
Sekarang aku sedang berada di Rumah sakit, setelah kejadian kemarin waktu aku pingsan. Pas aku bangun, aku udah ada di UKS sekolah. Disitu dokter bilang, nyuruh aku buat kerumah sakit dan cek kesehatan ku katanya ada yang serius.
Dan sekarang aku lagi nunggu hasil dari pemeriksaan lab yang tadi aku lakuin, sambil nunggu aku lanjutin maraton novel yang kemarin aku baca di kelas.
Beberapa menit setelahnya aku dipanggil, aku dapet satu amplop putih ini hasil pemeriksaan aku.
Aku buka, dan ya bener kata dokter UKS sekolahku. Aku terkena kanker otak stadium satu, aku agak syok karena emang aku baru ngalamin gejala kemarin dan ngga tau bakal punya penyakit ginian.
Aku ngga berniat mau nyembunyiin hasil pemeriksaan ku ke mama sama papa, aku bakal kasih nanti nunggu mereka pulang kerja. Karena aku sadar kalo nyembunyiin sesuatu yang penting malah bakal nambah masalah lain.
Berjalan menuju parkiran rumah sakit, aku menaiki motor gede sambil melihat ke pergelangan tangan. Jam menunjukkan pukul empat sore, sebentar lagi mama dan papa pulang, aku harus bergegas.
Karena buru-buru, aku menyalip mobil di depanku dengan kecepatan tinggi, tapi naas aku tidak terpikirkan bakal ada mobil didepanku yang melaju berlawanan arah, yang berakhir menabrak motorku menyebabkan mobil tersebut akhirnya berhenti mendadak dan menyebabkan kecelakaan lain terjadi.
Aku terlempar ke tengah jalan dengan helm yang entah bagaimana sudah terlepas dari tempatnya, berguling-guling sampai akhirnya ada mobil lain melaju ke arahku dan
Krekk
Kakiku terlindas ban mobil yang melewatiku, kudengar suara tabrakan lain. Mungkin sudah waktunya aku pergi, remang-remang aku melihat truk yang sudah hilang kendali melaju kearahku, aku sudah pasrah kakiku mungkin sudah patah, sampai akhirnya truk itu jatuh menyamping menimpa tubuhku.