Rasanya kepalaku mau pecah, langit-langit bewarna putih adalah pemandangan pertama yang aku lihat.
Merasakan pening melanda, sontak tanganku meremas kepalaku dengan kuat.
"Woi gila nih anak, kenapa njir."
Melupakan rasa sakit dikepala, aku dengan cepat menoleh ke asal suara. Mataku terbelalak melihat seorang gadis berada di dekatku, aku ingat sekali aku mengalami kecelakaan beruntun yang berakhir tertimpa truk. Kenapa jadi aku berada di sini, kulihat sekeliling mungkin ini rumah sakit atau UKS.
"Woi Xav, ketimpuk bola basket ngga bikin lo gila kan?"
Fokusku kembali teralih ke arah gadis berseragam khas SMA yang asing menurutku. Tertimpuk bola basket?
apa aku hanya mimpi kecelakaan? tapi aku ngga punya temen selain Sesil, terus kenapa ini malah tambah rame yang kesini?
"Anjir mukanya kocak." Tawa salah satu gadis yang baru saja masuk keruangan sambil menunjuk tepat di depan hidungku.
Berusaha tenang, aku melirik name tag yang terpasang rapi di kemeja masing-masing.
Aku lihat totalnya ada tiga gadis yang berada di dekat ranjangku, pertama ada gadis yang mengataiku gila bername tag Alaia Yasmin Dirgantara, kedua ada gadis yang sedari tadi tertawa bername tag Aura Mauisya Trinula, dan terakhir yang sedari tadi hanya diam bername tag Irene Adler Alexa.
Melihat nama-nama yang terpasang di kemeja mereka sontak pikiranku langsung tertuju ke novel yang baru aku selesaikan sebelum aku mengalami kecelakaan, novel Love For Anna. Mereka bertiga adalah teman antagonis yang akan mati di akhir cerita.
Jatungku berdetak lebih cepat, mataku menoleh ke arah kemejaku. Terdapat name tag bertuliskan Xaviora Glenca Pradipta disana, wajahku langsung kaku.
Xaviora tokoh antagonis novel yang akan mati ditangan kakak dan pacarnya sendiri, aku transmigrasi? Aku diberi kehidupan kedua tapi ditakdirkan mati lagi.
Akuu harus-
"Woi bengong aja lo, udah sembuh kan lo, ketimpuk doang elah ngga mungkin amnesia kan?" Ucap Alaia.
"Berisik." Sahutku
"Liat mukanya si Xavi. Mukanya linglung kocak anjir." Lagi-lagi kulihat si rambut sebahu tertawa sendiri, gadis itu Aura.
Aku mendelik kearahnya, ngga ada yang lucu lo kenapa dari tadi ketawa ngakak mulu sih?
"Pulang." Ucap Irene yang sedari tadi hanya diam.
Mungkin sekarang aku bakal ngejalanin jadi Xaviora dulu, kagetku kusimpan nanti setelah berada dirumah tubuh ini.
Aku hanya mengangguk dan turun dari ranjang, aku yang masih canggung dengan tiga teman Xaviora ini akhirnya memilih jalan terlebih dahulu.
Berlari kecil, sempat bingung saat keluar UKS. Belok kanan apa kiri nih? Menduga-duga akhirnya aku memutuskan belok kiri, tapi langkahku terhenti setelah mendengar suara cempreng dari belakang.
"Xav pulang kesini, situ arah kantin woi."
Lagi-lagi aku hanya mengangguk, masih bingung harus bagaimana.
Akhirnya kami berempat berjalan menuju parkiran mungkin? Tapi sebelum sampai, aku melihat ada gadis lain yang sedang menangis berjalan kearahku, kepalanya sedikit tertunduk seperti tidak melihat jalan.
Dan akhirnya, gadis tersebut menabrakku. Dia yang nabrak, dia yang jatoh.
Aku yang sudah terbiasa acuh dengan sekitar hanya melanjutkan langkah yang tertunda, melirik ke kanan kiri tempat yang lain berada, kudapati mereka menatapku heran, aku hanya mengerutkan dahi sebagai balasan.
Sebelum aku membuka suara untuk bertanya, tiba-tiba teriakan dari suara laki-laki terdengar.
"Xavi apa yang lo lakuin hah!"
Kerut keningku bertambah, kulihat ada sekitar lima laki-laki. Dadaku berdebar keras, bukan karena jatuh cinta, melainkan rasa takut hinggap, dengan cepat aku melihat name tag nya, kulihat orang pertama yang meneriakiku adalah Giordano Sky Axelio.
Sebelum aku lanjut membaca name tag yang lain, kepalaku sudah lebih dulu tertoleh cepat kesamping.
Mataku membelalak, tanganku otomatis memegang pipiku yang baru saja di tampar.