"Woi kembar liat tuh adik lo." Ucap pemuda bername tag Xabiru De Grisham.
Merasa terpanggil si kembar yang bername tag Altair Utara Pradipta dan Alaric Selatan Pradipta pun melihat kearah depan, seketika wajah keduanya memerah menahan amarah, melihat Anna yang terlihat menangis disamping adiknya yang akan meninggalkannya begitu saja.
Lagi-lagi adiknya membully Anna, adiknya hanya bisa membuat malu sampai-sampai mengakui Xavi sebagai adiknya pun enggan.
Sebelum si kembar membuka suara terdengar teriakan dari arah samping mereka, Giordano Sky Axelio.
"Xavi apa yang lo lakuin hah!"
Gio dan teman-temannya berjalan mendekat ke arah Xavi dan Anna berada, belum sempat Gio memarahi Xavi atas kelakuannya, dirinya dikejutkan dengan suara tamparan.
Alaric menampar kuat pipi Xaviora, sempat terkejut dengan tindakan kakak dari pacarnya tersebut.
Sempat kasihan dan ingin menolong pacarnya, tapi tiba-tiba Gio merasa ada yang menyentuh tangannya lembut, dirinya otomatis menoleh kesamping. Anna dengan kondisi menangis dan baju acak-acakan, akhirnya Gio merasa Xaviora memang pantas ditampar.
"Lo bisa ngga sehari aja jangan bikin ulah sama Anna!" Geramku.
Kutatap Xavi yang saat ini hanya menatapku datar, aku cukup terkejut dengan tatapannya.
Bukannya menangis dan mengadu ke kakak kembarnya seperti biasa, lain dengan sekarang Xavi hanya melengos melanjutkan langkahnya diikuti tiga temannya yang sedari tadi menatap Xavi terkejut sama sepertiku, Anna, kembar dan Biru.
Lain halnya dengan Airlangga Albara Lumi yang sedari tadi hanya memasang wajah datarnya.
"Xavi lo bener-bener ya, berhenti dan minta maaf ke Anna sekarang." Ucap Alaric.
"Diem deh lo, tau apa lo." Sahutnya
Kulihat kembar sempat terkejut mendengar balasan yang Xavi lontarkan, karena memang Xavi biasanya bersikap manja dengan kakak-kakaknya walaupun setelahnya dirinya hanya mendapat hinaan habis-habisan.
"Kak, jangan marahin Xavi, yang bully aku bukan hiks hiks." Suara bergetar dan tangisan Anna kembali terdengar.
Sebelum aku meneriakinya lagi, kudengar pekikan dari teman-teman Xavi dan kulihat tubuh Xaviora yang perlahan ambruk sebelum ditahan oleh laki-laki?
Airlangga yang menahan tubuh Xaviora, dengan cepat menggendong bridal style ke arah mobil miliknya.
Aku menatap muram pandangan di depan mataku, ku susul langkah kaki Airlangga tapi kurasa ada yang menarik ujung kemejaku, dengan terpaksa aku berbalik hendak memarahi pelaku tapi emosiku sirna setelah melihatnya.
Anna dengan suara bergetar berkata dengan lembut. "Kak Gio bisa anterin aku pulang ngga? Baju aku basah aku malu tadi aku di- hiks."
Aku gelagapan mendapati Anna menangis, akhirnya kusetujui dan melupakan tujuan awalku.
Kugenggam tangan Anna, dan aku tuntun menuju ke arah mobilku meninggalkan Alaric, Altair dan Biru yang masih terdiam sedari tadi.
***
Lain halnya dengan Xaviora yang masih berada di gendongan seseorang, membuka mata sedikit sekedar mengintip tapi dirinya dikejutkan dengan suara asing.
"Buka, udah ngga ada orang."
"Eh." Ucapku spontan.
"Temen-temen gue mana?" Tanyaku.
"Pulang."
"Terus gue?"
"Sama gue."
"Oke."
"Hm."
Setelah duduk disamping kemudi, dengan Airlangga mengemudi, suasana hening menyelimuti keduanya.
Airlangga yang irit bicara, dan Xaviora yang dingin.
Kepribadian keduanya menciptakan suasana hening yang tenang, sampai akhirnya Xaviora membuka suara.
"Kok tau?"
"Apa?"
"Pura-pura."
"Mata lo geter."
"WTF." Umpat Xavi.
"Mulut."
"Sorry ngga."
"Hm?"
"Angga."
Seketika hening kembali, Airlangga pun seperti tidak niat menyahuti ucapan Xavi.
Xavi yang merasa mungkin ada yang salah dengan ucapannya pun menoleh ke arah Airlangga, dan yang dilihat hanya wajah datar seperti biasa.
Menghela nafas pelan, Xaviora akhirnya memilih untuk melihat pemandangan diluar kaca jendela.
Tanpa Xaviora ketahui, Airlangga sedang mati-matian menahan senyum mendengar nama panggilan darinya.
KETUK LOVE!