Melupakan kejadian tadi di parkiran sekolah, dimana dia harus pura-pura pingsan agar menghindari bercekcok yang kutebak dengan kelima pangeran tokoh protagonis.
Tidak di sangka-sangka salah satu dari mereka menompang tubuhku sebelum jatuh ke bawah, menggendong dan juga mengantarkanku pulang, dia adalah Airlangga.
Aku ingat Airlangga adalah tokoh protagonis laki-laki yang dingin, irit bicara dan tidak suka mencampuri urusan orang lain kecuali sesuatu yang berhubungan dengan Anna.
Sempat heran karena tindakan Airlangga, tapi sebuah keberuntungan Xaviora diantar olehnya, karena Elena yang sekarang memasuki raga Xaviora tidak memiliki ingatan sang pemilik asli.
Walaupun awalnya terkejut dirinya bertransmigrasi ke dunia novel, tapi Elena berusaha menerima dan mensyukuri diberi kehidupan kedua.
Tentang alur cerita di novel yang sekarang ia tempati, Elena mengingat tentang takdir Xaviora yang nantinya akan mati di akhir cerita.
Dirinya bertekad untuk mempertahankan hidupnya di dunia ini, dia tidak akan menyia-yiakan kehidupan keduanya.
Dia akan menjalani kehidupan keduanya sebagai dirinya sendiri yaitu Elena, dirinya akan berusaha merubah alur agar Elena ditubuh ini terhindar dari kematian.
Memikirkannya mungkin Elena akan membuat rencana untuk kehidupannya kedepannya-
"Sampai." Ucap Airlangga.
"Oke, thanks."
Airlangga hanya mengangguk dan melajukan mobil keluar gerbang rumah Xaviora, tak berapa lama muncul mobil lain, keluarlah tiga pemuda. Salah satunya yang tadi menamparku dengan kembarannya dan satu lagi mungkin temannya.
Karena aku belum mengetahui nama-nama semua orang yang aku temui tadi di parkiran, aku masih ragu untuk menyimpulkan.
Tanpa memerdulikan mereka aku dengan cepat masuk ke rumah, meninggalkan tiga pemuda dengan wajah terkejutnya.
Sesampainya di ruang tamu dirinya dibuat bingung dengan letak kamar yang entah berada dimana, akhirnya aku memanggil salah satu ART yang berada tak jauh di dekatku.
"Bi?"
"Eh iya non, udah pulang?"
"Iya bi, tolong bawa tasku ke kamar ya bi, aku mau duduk dulu." Alibi ku.
"Iya non."
"Makasih."
Kulihat wajahnya yang kukira sekitar 50 tahunan itu menatapku terkejut, mungkin kaget mendengar Xaviora si antagonis mengucapkan terimakasih. Tak heran melihat respon beliau, karena seingatku di novel selain suka membuat kekacauan, sikap sopan santun Xaviora juga kurang.
Kulirik beliau yang mulai naik ke atas tangga, mengintip dimana ia menuju. Setelah melihat bibi itu keluar dari ruangan yang berarti kamar Xaviora, langsung saja aku bergegas ke arah kamar itu.
Setelah sampai di depan ruangan yang bisa disebut kamar pemilik tubuh dengan perlahan aku membuka pintu, pemandangan yang pertama aku lihat adalah ruangan bernuansa serba pink dengan adanya boneka dan stiker Hello Kitty di setiap sudut ruangan.
Harus aku akui Xaviora yang asli memang norak seperti yang diceritakan di novel, aku yang tidak terlalu menyukai warna terang seperti ini pun merencanakan akan mengubah warnanya nanti.
Sebelum itu aku juga penasaran dengan wajah tubuh yang aku tempati, dengan cepat menuju ke salah satu sudut yang terdapat kaca full body.
Terlihat dikaca seorang gadis berseragam SMA, dengan kulit putih pucat, tubuh ramping tapi berisi, mata bulat besar berlensa coklat hazel, bibir kecil berisi bewarna merah menyala, eyeliner tebal di kedua sisi mata dengan eyeshadow pink terang di kelopak mata.
Apa ini? Ingin rasanya aku berteriak malu. Dandanan menor dengan pewarnaan norak, pantas saja Gio pacar asli tubuh ini lebih memilih Anna.
Muak melihat wajah tubuh yang ia tempati, akhirnya dirinya dengan segera bergegas ke arah meja rias mengambil tisu dan micellar water guna menghapus make up nya.
Setelah selesai dengan kegiatan menghapus make up, dirinya dibuat terkejut dengan pantulan bayangan yang ada di kaca depannya.