Melihat Xaviora yang tiba-tiba pingsan membuat Xabiru ingin menolongnya, tapi melihat Airlangga yang sudah lebih dulu akhirnya dirinya memilih tetap diam di tempat.
Entah mengapa melihat Xaviora yang sekarang pembawaanya lebih tenang dan tidak mudah terbawa emosi membuat dirinya sedikit memberikan perhatian lebih kepada gadis itu, sebelum-sebelumnya ia mengakui sangat membenci Xaviora yang terkesan tidak tahu malu mengejar-ngejar lelaki yang bahkan sudah menolaknya mentah-mentah.
Tidak jarang juga Xaviora mengganggu Anna, cinta pertamanya.
Walaupun ia tahu bahwa Anna lebih memilih Gio sahabatnya sendiri ketimbang dirinya. Tapi dirinya akan berusaha ikut serta menjaga Anna dari apapun dan siapapun yang berusaha mengganggu tak terkecuali Xaviora adik sahabatnya sendiri.
Bahkan yang ia tahu, Alaric dan Altair juga ikut membenci adiknya sendiri.
Melihat Xaviora yang sudah dibawa pergi oleh Airlangga meninggalkanku dan kembar yang masih diam ditempat memperhatikan, setelahnya disusul Gio dan Anna yang juga pergi akhirnya aku dengan cepat menyadarkan kembar yang masih diam membisu.
Aku dan kembar berencana akan bermain PlayStation dirumahnya, saat mobil yang ia dan kembar tumpangi akan memasuki gerbang rumah ia melihat keluarnya mobil Airlangga.
Sesampainya di halaman rumah aku melihat Xaviora yang masih berdiri disana, ia tebak Xaviora akan mendekati kakak-kakaknya dan bergelayut manja seperti biasa. Tapi sedetik kemudian aku terperangah, Xaviora dengan santainya memasuki rumah tanpa melirik sedikitpun ke arah kami.
Kulihat sekilas, kembar juga terkejut melihatnya. Tak berapa lama setelahnya, akhirnya kembar mengajakku masuk untuk melaksanakan kegiatan kami.
***
Beralih ke Xaviora yang masih terkejut memandangi wajah asli pemilik tubuh ini, melihat pantulan kaca di depannya, wajahnya yang menor sudah tergantikan dengan wajah polos tanpa riasan yang cantik.
Kulit wajahnya yang bersih dan putih, serta bibir merah ranum alami, hidung kecil mancung, dan mata bulat.
Perfect, sekarang ia lebih percaya diri menampakan dirinya di depan orang-orang.
Melihat beberapa baju, yang ternyata semuanya berwarna pink. Mungkin ia juga akan membeli beberapa baju yang bewarna netral untuknya nanti, setelah beberapa saat memilih akhirnya ia melihat satu setelan piyama yang tidak terlalu norak menurutnya.
Mengganti baju sekolahnya dengan piyama satin pink nude polos, setelahnya dirinya merasa haus akhirnya ia berniat mengambil minum ke dapur.
Berjalan turun, sambil mencepol asal rambutnya.
Setelah sampai ia berniat membuat jus strawberry untuk di bawa ke kamar, mengambil bahan-bahan dan memasukan nya ke blender.
Dan jus strawberry jadi, melihat-lihat sekitar dirinya mendapati satu toples cookies coklat. Akhirnya ia membawanya dengan satu tangan memegang gelas dan satu tangan memeluk toples, dirinya berbalik berniat menuju ke kamarnya sebelum dirinya menabrak seseorang sampai jusnya tumpah berhamburan disertai suara jatuhnya toples pecah.
Jus yang belum dicicipi sama sekali sudah tergeletak dilantai, ingin rasanya dia memaki. Mengangkat wajah, guna melihat siapa pelaku yang membuat jusnya tumpah.
"Eh sorry, sorry aduh." Ucapnya.
Aku hanya mendengus, berniat berlalu ke kamar tanpa membersihkannya.
Tapi sebelum itu ia merasakan tangannya di tarik, membuat dirinya menghentikan langkahnya.
"Apalagi sih." Ucapku kesal.
"Jangan pergi dulu, biar gue buatin lagi bentar, sini duduk."
"Ngga."
"Siniii." Ucapnya sambil menarik tanganku.
Akhirnya aku pasrah, dan melihat dia melakukan kegiatannya. Tatapanku fokus pada wajahnya, kulit putih mulus, hidung mancung, rahang kokoh dan bibir pink tipis.
'Ganteng.' batinku.
"Ini udah jadi, gue minta maaf banget sebelumnya."
"Hmm, makasih emm?"
"Lo ngga kenal gue?."
Siapa nih, seketika lupa tokoh-tokohnya. Mana ngga ada ingatan Xaviora asli sama sekali, duh siapa nih.
"Gue Xabiru temen kakak lo, yang tadi di parkiran juga."
"Oh, makasi biru."
"Eh iya." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Ganteng banget, mau bales senyum tapi nanti image dinginnya malah jadi pudar. Akhirnya dia hanya balas mengangguk, berdiri berniat pergi sebelum lagi-lagi Xabiru dengan seenaknya memegang tanganku dan menariku entah kemana dengan dirinya yang masih memegang jus di tangan satunya.
"Temenin pergi yuk Xav."
"Hah?"