Disini Xaviora sekarang berada, tengah duduk sambil menunggu Xabiru memesan bakso depan komplek.
Masih dengan memakai piyama, sendal bulu dan cepolan rambut yang sudah berantakan, Xaviora masih tetap terlihat cantik dan imut bersamaan.
Tak lama Xabiru datang, membawa nampan berisi dua porsi bakso sepasang dengan minumannya.
"Nih dimakan." Ucap Xabiru.
"Kenapa makan disini, dirumah nanti bunda pulang juga masak."
"Pengen makan diluar aja, santai gue yang bayarin kok." Ucapnya sambil tersenyum konyol.
Aku hanya mendengus menanggapi ucapannya.
Kulihat Xabiru yang ternyata sudah mulai memakan baksonya, akhirnya aku mengikutinya dan menggapai sambel untuk meracik baksoku.
Baru menambahkan satu sendok sambel, tanganku lagi-lagi ditahan oleh laki-laki di depanku.
"Apa."
"Eh jangan galak-galak, belum makan nasi kan lo. Sambelnya udahan segitu aja."
"Gamau."
"Yaudah." Ucap nya sambil menjauhkan wadah sambel dari jangkauanku.
Kutatap sebal wajah Xabiru, akhirnya kuturuti saja kemauannya.
Memakan baksoku dengan ogah-ogahan, tapi tiba-tiba aku dikejutkan dengan apa yang Xabiru lakukan.
"Ehm itu kuahnya sampe keluar bibir."
Xabiru mengelap ujung bibirku dengan ibu jarinya.
"Eh."
"Bukan mukhrim." Terdengar suara lain yang berasal dari arah kiri, tepatnya jalan masuk ke tenda bakso ini.
Terlihat Gio bersama dengan Anna, berjalan kearah meja kami.
Aku menggeram marah dengan ketidak tahu dirian seorang Giordano, dengan santainya menggandeng perempuan lain di depan pacarnya sendiri.
Betapa bodohnya Xaviora yang asli karena mencintai laki-laki yang tidak tahu diri seperti ini, tapi sekarang tidak akan lagi cerita sama seperti dulu. Dirinya akan membuat seorang Giordano menyesal telah menyia-nyiakan perempuan sepertinya.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di otaku, tersenyum menyeringai.
"Gio." Ucapku dengan lembut.
"Xavi." Sahutnya.
Gio yang melihat Xaviora tidak mengeluarkan tanda-tanda akan menyakiti Anna akhirnya sedikit tersenyum, Gio tidak akan membenci Xaviora dijakalau tidak menyakiti Anna.
'Cih tidak tahu diri' batinku.
"Gio sini." Ucapku sambil menepuk tempat kosong yang berada tepat di sampingku.
"Iya." Sahut Gio sambil melepas tautan tangannya dengan Anna.
Aku diam-diam melirik ekspresi Anna, kulihat dia tengah menahan kesal melihat Gio duduk di sampingku. Aku tersenyum mengejek kearahnya, sekarang Xaviora tidak akan berbuat dengan cara kasar seperti yang pemilik asli tubuh ini lakukan, tapi dirinya akan berbuat dengan cara licik tetapi halus saat bersamaan.
Kulihat Biru yang menatap heran kearahku, aku hanya mengedipkan sebelah mataku kearahnya sebagai kode bahwa aku tengah berakting.
Tanpa Xaviora ketahui, Xabiru tengah salah mengartikan kode Xaviora kepadanya. Kedua telinga Xabiru kini sudah memerah sendiri akibat ulah seseorang yang sekarang malah dengan santainya tengah berbicara dengan laki-laki disampingnya.
"Gio, kok kamu sama Anna?"
"Eh a-anu, tadi ngga sengaja ketemu jadi sekalian."
Aku berusaha tersenyum mendengarnya, padahal aku tahu mereka bukannya tidak sengaja bertemu tapi memang di sengaja. Di novel tertulis sebelum Gio dan Anna menuju kedai bakso depan komplek perumahan Xaviora, mereka berdua tengah berada di apartemen milik Gio, yang sialnya terdapat adegan nana-ninu disana.
Kuteliti penampilan Anna yang ternyata sudah duduk anteng di samping Xabiru, dan gotcha!
Terdapat tanda kemerahan di salah satu sisi lehernya, aku tersenyum menatapnya.
"Anna, leher kamu kenapa?" Ucapku pura-pura polos.
"A-ah ini, e-em tadi anu nyamuk." Ucapnya tidak jelas.
Aku menaikan sebelah alisku tanda ingin penjelasan, kulirik Gio yang berada di sebelahku, wajahnya terlihat gugup dan kaku.
Aku tersenyum ke arah Xabiru, Xabiru balas tersenyum manis. Menghela nafas pelan, maksudku adalah kode agar menyuruh biru ikut memojokan Anna, tapi mungkin aku lupa bahwa Xabiru juga salah satu pangeran pelindung Anna di novel.
"Lo ngapain sama pacar gue?" Tanya Gio tiba-tiba.
Tatapanku langsung menuju ke Gio, pintar juga mengalihkan pembicaraan.
"Makan bro." Sahut Xabiru santai.