Hari-berhari berganti, matahari tampak malu-malu memunculkan wujudnya, tampak separuh bersembunyi di balik awan tebal di langit.
Jam masih menunjukkan pukul 6.00 WIB, tapi seorang pemuda jakung dengan seragam SMA sudah berdiri di atap gedung sekolah.
Tampak pemuda tersebut menatap kosong jalanan ramai dibawah sana, memikirkan seorang gadis yang sudah membuat pikirannya awut-awutan.
Xaviora.
Satu nama gadis yang dulunya ia benci, benci karena sifatnya yang dulu lembut menjadi kasar kepada semua perempuan yang dekat dengannya.
Gadis yang ia anggap mengganggu kehadirannya, tapi masih ia pertahankan karena dirinya memang masih menyayangi gadis yang dulu adalah teman kecilnya.
Gadis yang setiap hari selalu menempel dengannya, menganggu bahkan membully Anna salah satu siswi polos dan manis yang dekat dengannya.
Tiada hari tanpa gangguan Xaviora.
Tapi sampai hari itu terjadi, dimana ia bertengkar hebat dengan Xaviora sampai gadis itu mengucapkan kalimat yang tak ia pikirkan akan keluar dari bibir gadis cantik itu.
Xaviora yang terlihat amat mencintainya, meminta memutuskan hubungan sepasang kekasih yang sudah terjalin 3 tahun lamanya.
Syok tak ayal muncul di ekspresi wajahku, ketakutan yang entah berarti apa tiba-tiba aku rasakan.
Sampai dengan bodohnya aku menyetujui permintaan gadis itu, berfikir bahwa ia hanya melakukan trik-trik untuk menarik perhatianku seperti yang dulu-dulu ia lakukan.
Tapi sudah seminggu berlalu dari kejadian itu, Xaviora tampak menjauhi diriku, bahkan sekarang ia terlihat di kelilingi oleh siswa-siswa populer yang tak kuketahui bagaimana mereka bisa saling kenal.
Jika Xaviora yang dulu saat melihatku akan langsung bergelayut manja di lenganku, kini Xaviora tampak seperti orang baru, jiwa baru, dan kepribadian baru.
Ia hanya berlalu dengan santai, mengangkat dagu dengan pandangan lurus, tidak terlihat melirik atau mencuri-curi pandang seperti biasa.
Sekarang aku dan dia tampak seperti orang asing, seperti matahari dengan bumi, seperti matahari yang seakan tidak mau menampakan wujudnya karena ada awan yang menghalangi.
Sama seperti Xaviora yang jauh dari jangkauanku, Xaviora yang tampak seperti tak ingin bertemu denganku, Xaviora yang selalu dikelilingi siswa seperti matahari yang di kelilingi awan.
***
Gadis dengan celana ketat panjang, dipadukan atasan berseragam khas SMA TANUWIJAYA, tampak tengah mengendarai motor besarnya.
Dengan santai dia mengendara, tanpa menghiraukan tatapan memuja dari pemuda-pemuda yang sepertinya juga akan berangkat ke sekolah masing-masing.
Dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menyalip kendaraan lain seperti yang di kehidupan pertamanya lakukan, yang berakhir dengan dia tertimpa truk besar.
Entah sudah jadi apa tubuhnya saat itu, ia hanya dapat merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya, seakan remuk dengan daging terkoyak-koyak.
Sudah seminggu ini, dengan tampilan barunya, dan sifat barunya. Sekarang Xaviora memiliki banyak penggemar dari kalangan laki-laki, dan haters dari kalangan perempuan.
Bahkan Artha yang saat itu terlihat seperti memiliki kekasih, sekarang selalu menempel padanya.
Menjelaskan bahwa Cassandra hanyalah teman masa kecilnya, penjelasan tersebut hanya di balas dengusan malas oleh gadis pirang itu.
15 menit berlalu, Xaviora membelokkan stang motornya ke kanan memasuki gerbang besar sekolahnya.
Seperti biasa ia akan selalu menjadi pusat perhatian, setelah memarkiran motornya Xaviora dengan santai turun dan membuka helm yang ia kenakan.
Di pandangan semua orang yang melihatnya, gerakan Xaviora membuka helm tampak slow motion. Terbukanya helm itu menampilkan wajah cantik Xaviora dengan polesan make up tipis, rambut panjang pirangnya tampak di gerai indah.

'Brengshake nenek lampir tambah cantik anjing.'
'Cara jalannya kak Xavi asik banget, se asik Rahmat tahalu.'
'Calon gue tuh.'
'Calon gue anjing, bukan lo.'
'Paan sih, kaya gitu doang dikatain cantik.'
Cibiran dan pujian dari siswa-siswi di parkiran tampak mereda, bersamaan dengan langkah pemuda jakung yang menghampiri gadis berambut pirang itu.
Semua orang disana menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, keadaan hening tapi Xaviora masih tampak tenang melangkah tanpa menghiraukan pemuda yang sudah memanggil namanya.
"Xavi, berhenti." Ucap pemuda itu.