Di kediaman Pradipta, tepatnya di ruang makan.
"Dimana adik kamu Al?"
"Ngga tau pah, dari sekolah juga bolos. Emang anak ngga tau diri." Ucap Alaric.
"Alaric!" Tegur sang mama.
"Kenapa sih mah? Emang begitu kan Al?" Tanya Alaric.
"Hm." Dehem Altair.
"Kamu sebagai kakak gimana Alaric, Altair?" Tanya sang papa.
"Gimana lagi si pah? Aku sama Altair juga capek ngurusin anak itu, bisanya cuma buat masalah aja."
"Aku sama Alaric juga punya kehidupan sendiri."
Sang Ayah hanya bisa memijat kepalanya, entah apa yang diperbuat putrinya sampai-sampai Alaric dan Altair tidak sudi menjaganya.
Sedangkan wanita paruh baya di sampingnya hanya bisa menatap sedih kedua putranya.
"Xaviora sekarang dimana bang?"
"Ngga usah di cari-cari mah, nanti juga pulang sendiri." Acuh Alaric dengan fokus kembali ke makanan yang ada di depannya.
Altair hanya diam memakan makanannya, tanpa menghiraukan sang mama yang mulai menangis.
"Alaric, Altair! Cepat cari adikmu, ini sudah malam nant-"
"Ngga usah yah, Xavi udah pulang." Ucap Xaviora yang tiba-tiba sudah berada di ambang ruang makan.
Masih dengan seragam sekolahnya, Xaviora berjalan menuju ruang makan dan langsung di serbu pelukan sang mama.
"Kamu dari mana aja sayang?" Tanya sang mama.
"Dari rumah temen ma, maaf ngga ngabarin dulu." Jawab lembut Xaviora.
"Ehm, lain kali kamu kalau mau pergi bisa hubungin papa, mama atau abang kamu Xavi." Tegas sang papa.
"Iya pah."
"Halah temen yang mana tuh? Nge club kan lo?" Ucap Alaric dengan tawa mengejek setelahnya.
"Mah, pah Xavi ke kamar ya, tadi udah makan dirumah temen."
Tanpa menghiraukan jawaban kedua orangtuanya, dan ejekan Alaric. Xaviora langsung berjalan menuju ke arah kamarnya, tanpa menyadari tatapan sendu dari sang kakaknya yang biasanya berwajah datar.
***
Setelah Xaviora di tahan oleh bunda Adipati, dia akhirnya pulang sekitar jam makan malam.
Sekarang ia telah selesai mandi dirumahnya, sebelum tidur ia selalu rutin memakai skincare malam.
Ia ingin besok tampil bersekolah dengan rambut sedikit keriting dan bervolume, akhirnya ia mengepang rambut panjang pirangnya. Tidak terlalu kuat, cukup untuk membuat rambutnya bervolume, ia akan membawa tidur rambutnya yang sudah di kepang.

"Eh, tapi di kepang aja juga bagus." Ucapnya.
Berakhir dengan Xaviora menggerai kembali rambutnya, sambil berjalan menuju ranjang tidurnya.
Tidur terlentang, menatap langit-langit kamarnya yang berhias lampu berkilau. Tentang hiasan Hello Kitty yang masih menempel ia akan rubah besok sepulang sekolah, matanya sakit lama-lama melihatnya.
Sudah tiga puluh menit berlalu, tapi dirinya masih setia dengan posisi terlentang nya.
Tiba-tiba dirinya mengingat bahwa ia belum menemukan ponselnya, ponsel sang pemilik tubuh asli.
Beranjak dari tempat tidur, Xaviora berjalan ke arah nakas.
Tidak ada.
Beralih ke arah lemari yang hanya berisikan rak, membuka satu per satu rak.
Tidak ada.
Berjalan kembali ke arah tempat tidur, mengangkat dua bantal.
Tidak ada.
Berjongkok, memiringkan tubuh sampai lengan kanannya menyentuh lantai, melongok ke bawah ranjang.
Tidak ada.
Berdiri, berjalan ke arah meja rias.
Tidak ada.
Ber-
Tok tok tok
Melenguh pelan, Xaviora melangkah menuju pintu kamarnya yang di ketuk.
Membuka, terlihat Altair berdiri disana. Dengan kaos oblong hitam dan celana boxer abu tua, memakai sendal bulu?
"Xa." Ucapnya, sekilas ada guratan sendu di wajah pemuda itu tapi dengan cepat hilang tertelan ekspresi datarnya.
"Hm?" Aku berfikir, tidak ada adegan di novel dimana Altair kakak Xaviora mengunjungi kamarnya.
"K-kakak anu." Terlihat Altair mengusap berulang ulang lehernya, dengan ekspresi datar yang masih menempel.
"Gapapa." Sambungnya, sebelum aku melihat dia berlari kencang dengan sandal bulunya menjauh dari kamar tidurku.
"Hah?" Aku yang bingung lantas menyusul dimana ia berlari, sekalian ingin bertanya dimana ponselnya walau setengah tidak niat bertanya ke setan.
Tapi kalau di cari-cari tidak ketemu, ia hanya punya harapan bertanya dengan kedua kakak kembarnya, ia takut kalau-kalau bertanya ke yang lain malah menimbulkan curiga.
Jadi berakhir dengan dia yang biasa berjalan malas, sekarang tampak lebih hidup mengikuti langkah dimana ia tadi melihat pemuda bersandal bulu itu berlari.
Sesampainya di depan pintu bewarna abu tua, aku ketuk pintu itu tiga kali.
Mengetuk-ngetuk kaki kananku ke lantai, dengan kedua tangan berada di d**a, aku menunggu sang kakak dakjal membuka pintu.
Setelah kulihat pintu terbuka, aku langsung bertanya.
"Tadi bilang apa? Trus lo tau ponsel gue dimana?" Tanyaku dingin, menyender ke arah bingkai kayu di sampingku, dengan kedua tangan masih setia berada di depan d**a bersidekap.
"Hah?" Bengong Alaric, ternyata yang membuka pintu adalah Alaric bukan Altair.
Kulihat Alaric memakai pakaian dan celana yang sama dengan yang kulihat tadi di pintu kamarku, bedanya sekarang Alaric hanya memakai kaos kaki, bukan sandal bulu.
Sebenernya tadi yang mengunjungi kamarnya itu Alaric atau Altair?