"Beneran temen kan?"
"Heem." Jawab Artha sambil melirik gadis yang tengah menghisap rokok di ujung kursi.
"Waduh bos, yang pirang buat gue ya?" Tanya Adipati dengan alis naik-turun.
"Boleh."
Bukan Artha yang menjawab melainkan Xaviora sendiri, setelah menjawab pertanyaan Adipati, Xaviora langsung berdiri dari tempat duduk berjalan ke arah pemuda itu.
"Xavi-" Ucap Artha tertahan.
"Di, temenin ke sekolah."
"Ayo neng." Jawab Adipati.
Berakhir dengan Xaviora dan Adipati pergi, meninggalkan Artha yang masih berjongkok tak bergeming dengan Cassandra yang tersenyum kemenangan.
"Tha? Anterin aku pulang ya, udah jam pulang."
"Ngga, gue mau-"
"Lo tanggung jawab dong Tha, udah bikin pipi Cassandra bengkak gitu." Ucap salah satu teman Cassandra, Cindy.
Menghembuskan nafas kasar, akhirnya Artha mengangguk menyanggupi permintaan Cassandra.
Setelahnya Artha ikut meninggalkan warung dengan Cassandra bersamanya, membuat beberapa anak yang masih disana menggelengkan kepala melihat tingkah ketua mereka.
Berangkat bareng siapa, pulang sama siapa, batin Shaka.
Di sisi lain, Xaviora dan Adipati sudah memasuki kawasan sekolah. Keadaan sekolah terlihat sepi karena jam sudah menunjukkan waktu pulang, menuju kelas dengan Adipati yang masih setia mengekor di belakangnya.
Sesampainya di kelas, tampak semua bangku sudah kosong. Tidak ada tasnya di dalam kelas, ponselnya sang pemilik tubuh asli juga belum ia cari.
Jadi tanpa kata, ia menyeret Adipati menuju parkiran.
"Gue mau pulang." Ucap Xavi, setelah mereka berdua sampai di parkiran sekolah.
"Ngogey neng." Jawab Adipati dengan santai berjalan menjauh meninggalkannya.
Menarik ujung kemeja pemuda tersebut, Xaviora tanpa sungkan berkata.
"Anterin."
"Lah?"
"Kunci gue di tas, tas nggaada." Jelas Xaviora, dengan muka malas. Ia sudah ingin tidur di kasur empuknya, untuk sekarang bicara saja dia malas.
"Terus motor lo mau gimana in?" Tanya Adipati sambil merogoh ponsel di saku.
"Enn tinggal?"
"Yaudah ayo." Ucap Adipati, dengan pandangan yang masih fokus kearah ponsel.
Mengikuti Adipati yang melangkah di depannya, ia berjalan pelan.
Adipati ternyata bukan membawa motor melainkan mobil, masuk dan duduk di samping mobil kemudi Xaviora langsung bersandar di kursi.
Sedangkan Adipati yang melihatnya tersenyum konyol.
"Lemes amat neng, belum juga di apa-apain."

Xaviora melirik ke samping dengan posisi yang masih menyender, ia sedikit terpesona dengan senyuman pemuda di sampingnya ini, tapi dengan cepat ia menggelengkan kepala.
Mengulurkan tangan ke arah Adipati, menekuk dua jarinya, dengan sekali ketuk.
Tak
"Aw, kok dijitak sih."
"Diem."
Memajukan bibir bawahnya, Adipati lantas melajukan mobil.
Melihat diamnya Xaviora, Adipati tersenyum misterius, kakinya bergerak menginjak gas menambahkan kecepatan mobilnya.
Setelah setengah jalan, sepertinya gadis di sampingnya sadar.
"Ini bukan jalan rumah gue ya." Ucapnya.
"Emang bukan."
"Gue mau pulang."
"Iya bentar deh, diem."
Mobil yang di tumpangi Xaviora dan Adipati berbelok memasuki gerbang besar, masuk ke halaman yang luas dengan rumah besar berwarna dasar putih diujungnya.
"Ayo turun."
"Ngga."
"Cepet elah."
"Gue mau pulang Adiiiii." Ucap gadis pirang itu dengan nada geram.
"Iya ini gue ganti baju dulu, abis itu anter lo. Gue sekalian mau pergi."
"Gue disini aja."
"Masuk, kalo ngga gue ngga mau anter."
"Yaudah gue cari taksi aja."
"Sana-sana, mana ada taksi disini."
"Lo!" Geram Xaviora.
Adipati lantas tertawa, melihat ekspresi lain di wajah gadis itu. Menjahili gadis pirang berwajah datar ini, mungkin akan menjadi hobi barunya.
Dengan langkah malas, setengah menyeret kakinya, Xaviora terus menggerutu di belakang Adipati yang masih cekikikan.
"Bunnnn." Teriak Adipati setelah mereka berdua memasuki rumah mewah bernuansa putih.
"Iyaaaaaaa." Tak lama terdengar suara sahutan wanita yang terdengar dari arah jauh, setelahnya terlihat wanita paruh baya menghampiri kami dengan langkah terpogoh-pogoh?
"Eh ini mantu bunda yang kamu bilang di chat Di?" Ucapnya dengan senyum sumringah.
"Iya bun, Adi mau ganti baju dulu." Ucapnya sambil berlari menjauh tertawa cekikikan.
Tadi saat Adipati mendengar Xaviora memintanya mengantarkan pulang dia dengan iseng menghubungi bundanya lewat chat, berkata bahwa ia akan membawa mantu untuknya.
Gas duluan boleh kan? Melihat wajah cantiknya muncul di warung tadi, membuat ia tiba-tiba merasakan degupan cepat di dadanya, sampai-sampai dirinya tidak bisa mengontrol mulutnya untuk menggoda gadis itu terus-menerus.
Melihat ketuanya yang lebih memilih menolong Cassandra dengan mengabaikan Xaviora, lantas ia bertanya dengan iseng. Tapi sahutan dari gadis pirang itu membuatnya terkejut, ia meminta Xaviora untuknya dan gadis itu malah menjawab boleh, katanya.
Berusaha mengabaikan wajah Xaviora yang sudah mengerikan, ia lantas berlari sambil menahan tawa.
Sebelum sampai di kamarnya, Adipati berhenti dan menolehkan kepalanya kebelakang, dilihatnya wajah gadis itu yang tertekan namun masih berusaha senyum meladeni pertanyaan beruntun dari bundanya, lucu sekali.