"Ai, Xavi kemana sih? Udah jam pulang, tasnya gimana?"
"Bawa aja Ra, kita samperin aja kakaknya."
Dibelakang dua orang siswi yang sedang berjalan dan berdebat, Irene hanya melangkah malas mengikuti Alaia dan Aura.
Setelah mereka bertiga sampai di parkiran, disana sudah ada gerombolan Gio dkk. Yang sudah pasti ada Alaric dan Altair, jangan lupakan si putri lemah lembut kita, Anna.
Gerombolan itu berjalan dengan Anna di tengah antara Alaric dan Altair yang terlihat sedang tertawa entah karena apa, dibelakangnya ada Gio yang sedang menundukkan kepalanya disertai Airlangga dan Xabiru yang hanya berjalan diam di kedua sisinya.
"Al." Panggil Alaia sambil berlari menghampiri.
Sontak Alaric dan Altair yang mempunyai nama panggilan sama pun menolehkan kepalanya kompak, tampak lucu.
Aura menyusul Alaia setelah melihat kembar menoleh, dengan Irene yang masih berjalan santai jauh di belakang.
"Apa?" Sahut Alaric dengan nada sengit.
Alaric akan membenci dan memusuhi siapapun yang telah menyakiti Anna, gadis lugu dengan senyum manis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, karena ia tau kalau cintanya tak akan terbalaskan.
"Santai dong." Ucap Aura dengan kedua mata yang melotot.
"Nih tas Xavi, bawa pulang." Ucap Alaia sambil melempar tas hitam ke arah Alaric.
"Xavi, kemana?" Tanya Airlangga yang sudah melangkah maju.
Irene yang baru sampai dan mendengar Airlangga menanyakan Xaviora tampak mengernyitkan dahi, tapi hanya berlalu beberapa detik wajahnya kembali datar.
Tidak ada yang menyadari dari empat gadis itu ada yang tengah menahan kesal, mengepalkan tangan tapi dengan pandai gadis itu menutupinya.
"Kita ngga tau, Xavi ngga ke kelas selesai jam istirahat." Jawab Aura dengan wajah cengo, mendengar Airlangga yang notabe nya cuek malah bertanya tentang sahabatnya.
"Dia kemana?" Suara itu berasal dari pemuda yang sedari tadi tampak menundukkan kepalanya, Gio.
"Bukan urusan lo!" Jawab Alaia sambil menyeret kedua sahabatnya untuk pergi.
Sedangkan Alaric dan Altair hanya diam dengan pemikiran masing-masing.
Anna yang sedari tadi juga kesal tampak memikirkan sesuatu, agar kelima pemuda ini memperhatikan nya. Perhatian dan cinta mereka berlima harus untuknya seorang, bukan untuk Xaviora atau yang lainnya.
***QUEEN XAVIORA***
"
Artha, kamu pindah sana aja sama aku, ngga sempit kaya disini."
Ucapan dari gadis tersebut membuat suasana warung yang tadinya ramai dengan ledekan seketika hening.
Sedangkan pemuda yang sedang diajak bicara hanya diam, sambil memainkan jari-jari Xaviora yang duduk di sampingnya.
"Artha." Ucap gadis itu sekali lagi.
Dengan kesal Artha menolehkan kepalanya ke arah gadis yang tengah berdiri di depan tempatnya duduk, risih sekali.
"Apa Cas?" Tanya Artha yang masih berusaha ramah.
"Sini Tha, sama aku." Ucap Cassandra mendayu-ndayu.
"Nanti aja, gue sini dulu. Ada temen gue nih."
"Siapa sih Tha? Beneran temen kan?"
"Aduh neng Cassandra, itu teh pacarnya si bos. Mundur aja neng sini sama abang, happy-happy." Ucap seorang pemuda dengan wajah mesumnya, wajar karena Cassandra yang tampak memakai seragam ketat di warung yang sebagian besar berisikan laki-laki.
Ucapan pemuda tersebut tampak membuat suasana warung yang tadinya sempat hening, heboh kembali.
Wajah Cassandra yang tadi nampak cerah seketika berubah merah padam mendengar perkataan tadi, dia dengan berani menarik tangan Artha guna menyuruhnya duduk bersama.
"Apaansih Cas!" Sentak Artha.
Cassandra tampak terkejut mendengar bentakan dari Artha, dengan tiba-tiba matanya sudah berair siap untuk tumpah.
"Artha." Ucapnya gemetar.
"Lo! Siapa sih lo, deket-deket sama Artha sampai dia bentak gue hah!"
"Dasar gatel!" Sambungnya.
Artha yang mendengar geram, dengan sekali tarikan tangannya sudah mendarat di pipi mulus Cassandra.
Plak
"A-artha kamu."
Tampak Cassandra yang tengah memegang pipinya, luruh Cassandra berjongkok dan menangis.
Teman Cassandra yang sedari tadi hanya menyaksikan akhirnya berjalan mendekat, salah satunya dengan lantang berkata.
"Keterlaluan lo Artha!"
Artha pun tampak terkejut dengan tindakannya tadi, dengan sigap ia berjongkok dan meraih pipi Cassandra yang ia tampar.
Xaviora yang sedari tadi menyaksikan drama di depannya ini hanya bersandar malas, masih dengan posisi duduk dia mencuri satu putung rokok milik Shaka yang nampaknya ikut tegang melihat Cassandra di tampar bosnya.
Mematik api, menghisap rokok dengan bersandar. Xaviora samar-samar mendengar pertanyaan Cassandra yang masih menangis di pelukan Artha.
"Beneran temen kan?"