Setelah makan bakso Xaviora dan Xabiru pulang kerumah, meninggalkan pertanyaan yang menggantung tadi. Tanpa mendengarkan jawaban Gio tentang siapa pacarnya, Xaviora memilih menyeret Xabiru untuk pulang, menghiraukan dua pasang manusia yang masih diam.
Sesampainya di rumah ia langsung disuguhkan dengan pandangan dingin sang kakak kembarnya, memilih menghiraukan Xaviora langsung berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Xabiru tanpa kata dengan kedua kakaknya.
Sebelum telapak kaki Xaviora menyentuh undakan tangga pertama, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Habis ngapain lo ru sama jalang itu."
Xaviora hapal itu suara kakaknya yang bertanya kepada Xabiru, kakak yang menamparnya tanpa alasan di parkiran sekolah, Alaric.
Menolehkan kepala ke belakang, menatap dingin sang pelaku.
Xaviora akhirnya berjalan putar balik menuju sang kakak yang masih memandangnya dengan pandangan mencemooh, berjalan pelan dan anggun serta mengangkat dagu angkuh. Matanya menyorot benci sang kakak, dan tangannya terangkat.
Plak
Menarik sebelah sudut bibirku, merasa puas dirinya langsung berbalik meninggalkan tiga pemuda yang masih syok melihatnya menampar Alaric.
Menuju kamar dengan langkah pelan, seakan-akan tidak ada kejadian yang baru saja terjadi.
Sudah lama dirinya tidak melatih tubuhnya, dulu saat di kehidupan pertamanya, setiap hari dia akan berolahraga untuk melatih kekuatan tubuhnya. Dirinya juga kerap mengikuti tawuran antar sekolah, walaupun dirinya perempuan tapi kekuatannya tidak bisa diremehkan.
Akhirnya Xaviora memutuskan untuk keruang gym di rumahnya, baru berlatih selama setengah jam ternyata tubuhnya sudah lebih dulu kelelahan. Tidak memaksa keadaan tubuhnya yang lemah, dirinya akan berlatih sedikit demi sedikit.
Dirinya tidak mau diremehkan dan direndahkan seperti yang Xaviora asli alami, ia akan merubah semua pandangan orang terhadapnya.
Memikirkan nasibnya yang akan mati karena kebodohan Xaviora yang asli, jadi dirinya memutuskan untuk tidak jatuh hati kepada pemeran utama pria, Giordano. Setelah dirinya tidak tertarik dengan Gio, pasti semua alur yang menuntun Xaviora ke kematian akan berganti, pikirnya.
***
Keesokan harinya.
Xaviora dikejutkan dengan kedatangan wanita paruh baya ke kamarnya, ia yang masih merias tipis wajahnya untuk pergi ke sekolah akhirnya berjalan mendekati beliau.
Setelah melihat Xaviora berjalan kearahnya, wanita yang ternyata ibu dari Xaviora yang asli itu tampak syok.
Ia syok melihat wajah putrinya yang sangat mirip dengannya, persis seperti saat dirinya masih muda. Dirinya tidak mengira wajah asli putrinya akan seperti ini, karena kesibukan pekerjaannya dan Xaviora yang selalu memakai make up tebal saat dirumah.
Ia diam-diam mengucap syukur melihat perubahan baik putri satu-satunya, tidak sabar memamerkan kemiripan keduanya kepada suami dan anak kembarnya.
"Astaga sayang, kamu cantik banget. Eh iya maafin mama ya pulang telat, soalnya papamu ada kerja tambahan di Aussie."
"Emm iya mah."
"Ayo turun, kita sarapan bareng. Mama bawa banyak oleh-oleh buat kamu loh."
Sesampainya Xaviora dan ibunya di ruang makan, ia mendapati dua kakak kembarnya dan satu pria paruh baya yang dirinya tebak adalah ayah dari si pemilik tubuh.
Mereka semua menatap kagum penampilan Xaviora hari ini, tidak ada lagi dandanan menor seperti biasa, sekarang hanya ada wajah cantik yang persis seperti ibunya.
Lain dari kebiasaan Xaviora yang menempeli kakak kembarnya dimanapun berada, sekarang dirinya hanya langsung duduk di sebelah ibunya tanpa kata.
Ayah dan ibu Xaviora pun heran memandang putrinya yang tak seperti biasanya, lain halnya dengan kedua kakak Xaviora yang menatap tajam sang adik, terutama Alaric yang masih ingat kejadian kemarin, dengan lancang Xaviora menamparnya.
Sedangkan Xaviora hanya duduk tanpa kata dan menyantap sarapannya.
"Trik apalagi yang lo mainin buat deketin sahabat gue?" Ucap Alaric.
"Murahan." Sambungnya.
"Ric." Tegur Altair.
"Alaric jaga bicara kamu." Ucap tegas sang ayah.
Sedangan kan ibunya hanya memandang sendu Xaviora, bukan sekali dua kali jika berkumpul selalu saja Xaviora menjadi bahan hinaan kakak-kakaknya.
Tiba-tiba Xaviora menggeser kursinya kebelakang, berdiri.
"Mah, pah, Xaviora berangkat dulu ya." Pamit Xaviora sambil mencium tangan ayah dan ibunya.
Keduanya sontak terkejut dengan sikap putrinya, sampai tidak sadar Xaviora sudah pergi dan menghilang dibalik pintu.
Lain hal dengan kakak kembarnya, keduanya merasa sedikit sesak di bagian hatinya. Diabaikan oleh sang adik, yang biasanya kehadirannya saja mengganggu.