Setelah pamit untuk pergi ke sekolah Xaviora menaiki salah satu motor yang berjejer rapi di garasi rumah si pemilik tubuh, mengambil kunci di lemari khusus, menaiki dan melajukan menuju ke sekolah.
Dirinya yang tidak diberi ingatan sang pemilik asli hanya mengandalkan google maps, dengan mengetikkan nama sekolah yang tertera di seragamnya.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Xaviora sampai di sekolahnya, bersamaan dengan kakak kembarnya yang ternyata sudah ada dibelakangnya menggunakan motornya masing-masing.
Motor Xaviora dengan kedua kakaknya hanya berbeda di warna saja, kalau Alaric berwarna putih, Altair bewarna hitam, sedangkan Xaviora bewarna hitam dengan sedikit plisir merah di beberapa bagian.
Memarkirkan motornya Xaviora memilih lahan yang sejuk, dan ternyata disana sudah ada beberapa anak yang ia yakini adalah Gio dkk yang pastinya ada Anna si ratu.
Mengabaikan kehadiran mereka dan kakak kembarnya, Xaviora dengan santai melepaskan helm yang ia pakai menampilkan rambut pirangnya yang tergerai bebas tertiup angin, merapikan rambut sebentar lalu ia turun dengan dagu terangkat berjalan ke arah yang siswa lain juga lalui.
Baru beberapa langkah Xaviora berjalan, suara pemuda yang ia hafal menghentikan langkahnya.
"Xavi." Ucap Xabiru riang.
Xaviora berbalik dan menatap Xabiru, mengangguk untuk membalas sapaannya, setelahnya ia melanjutkan langkah yang tadi sempat tertunda.
"Ngapain dah lo manggil-manggil dia, gedeg gue." Ucap Alaric.
"Jangan gitu sama adek." Sahut Xabiru.
"Halah ngga sudi gue punya adek kaya dia, mending juga kaya Anna, pinter ngga pernah buat masalah juga."
Xaviora hanya melanjutkan langkahnya, tanpa menghiraukan suara yang samar-samar terdengar tengah membicarakannya.
Tanpa Xaviora sadari, ada satu pemuda yang tengah tersenyum tipis menatapnya.
Melangkahkan kaki ke dalam SMA TANUWIJAYA, Xaviora membuat beberapa orang terkejut sedari ia datang.
'Itu si Xaviora kan?'
'Kak Xaviora tambah cantik.'
'Nenek lampir berangkat sekolah guys.'
'Wih keren banget Xaviora.'
'Itu Xaviora yang selalu ngejar-ngejar kak Gio kan? Ewh.'
'Jujur kak Xaviora hari ini cantik banget.'
'Tau bakal gini dari dulu harusnya gue deketin.'
'Cantikan juga gue.'
'Sekali jalang tetap jalang.'
Telinganya panas mendengarnya, kalau Xaviora yang asli bakal marah-marah dan membully, kini ia hanya berlalu dengan santai seakan-akan tidak ada yang sedang membicarakan nya.
Semua kejadian itu tak lepas dari padangan Gio dkk, mereka memandang Xaviora dengan pandangan yang berbeda-beda.
Xaviora berharap-harap cemas, semoga teman sang pemilik asli tubuh ini yang kemarin ada di UKS memunculkan dirinya, sebab ia tak hafal atau sebenernya tak tau dimana ruang kelasnya berada.
Karena seseorang yang ia harapkan tidak kunjung menampakkan diri, akhirnya ia mencegat siswa yang kebetulan sedang berjalan di dekatnya.
Mencekal salah satu tangannya, Xaviora tidak bisa melihat wajahnya karena dia terus menundukkan kepala dan badannya juga gemetar.
'Wah ternyata cuma penampilannya aja yang tambah bagus, kalo perilakunya mah masih jelek guys.'
'Masih pagi udah mau bully orang.'
'Diem deh, nanti lo kena bully juga mau?'
'Ngga heran sih, nenek lampir.'
Xaviora mendecakkan lidahnya sebal, bukan itu yang mau ia lakukan. Dirinya hanya ingin sekedar bertanya dimana letak kelasnya.
"Hei, angkat kepala lo." Ucap Xaviora
Pemuda yang berada di depannya akhirnya mengangkat kepalanya, walau sedikit lambat.
Xaviora tercengang melihat wajahnya, wajah siswa di depannya ini mirip sekali dengan Aksa, teman sekelasnya di kehidupan pertamannya.
Bedanya Aksa yang dikehidupannya dulu terkesan bad boy, kalau sekarang malah nerd boy?
Xaviora jadi gemas sendiri, tak sadar tangannya terangkat mencubit salah satu pipi siswa yang mirip Aksa tadi.
Kejadian tersebut tak luput dari seorang pemuda yang sedang menatapnya tajam.