Belum lama tangannya mencubit pipi sang pemuda di depannya, ia lebih dulu ditarik oleh seseorang yang sejak tadi memandang tajam keduanya.
Memekik tertahan sambil melihat siapa yang beraninya menarik tangannya, kendati ingin memarahi ia malah dibuat terkejut dengan siapa yang tengah menarik tangannya saat ini.
"Angga?" Beo Xaviora.
"Hm, gue anter ke kelas."
Sebuah keajaiban bisa mendengar Airlangga berbicara lebih dari tiga kata dengan Xaviora, padahal di novel tertulis tidak ada satu pun komunikasi antara Airlangga dan Xaviora. Airlangga lebih banyak bicara kalau itu menyangkut dengan Anna, tapi sekarang Airlangga tengah memegang tangannya lembut, apa alurnya sudah berubah? Tapi sejak kapan?
Masih memikirkan tentang alur novel hingga tak sadar Airlangga sudah berhenti, alhasil Xaviora menabrak punggung Airlangga.
Airlangga berbalik menatap Xaviora yang masih mengaduh, tangannya terangkat mengusap pelan dahi yang tadi menabrak punggungnya.
"Sana masuk."
Xaviora hanya mengangguk kaku, dirinya memandang Airlangga yang perlahan menjauh. Tak menyadari Gio dan Anna yang tengah memandanginya di sebrang kelas dengan pandangan rumit.
Masih di depan pintu kelas yang ia yakini adalah kelasnya, masuk mendapati semuanya menatap terkejut kearahnya, atau mungkin perilaku Airlangga terhadapnya?
Bahkan aku melihat Irene teman sang pemilik tubuh ini yang dijelaskan di novel selalu bermuka datar sekarang malah tengah menatapku dengan mulutnya yang setengah terbuka, jangan tanyakan Alaia dan Aura mereka berdua sudah menggebrak meja sambil berteriak heboh.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Omo! Xavi you jalan with Airlangga, Airlangga mengelus you dahi?" Ucap Alaia setengah berteriak.
"Xavi gue sih dukung, daripada sama si Gio pacar lo tuh nempel sama Annanjing terus." Sahut Aura.
"Bener." Timpal Irene yang sekarang sudah kembali ke muka datarnya.
"Apasih." Sahutku.
"Xav, udah ngga sama Gio lagi lo?" Tanya salah satu siswi yang tengah memegang cermin di salah satu tangannya, ia adalah Bianca salah satu suruhan Xaviora untuk membully Anna dulu.
Bianca terkenal sebagai queen bullying di SMA TANUWIJAYA, dia juga cukup akrab dengan Xaviora. Ya sesama antagonis harus akrab bukan?
"Masih gue." Sahutku malas.
Aku berjalan duduk di samping Irene, Irene dan Xaviora sebangku dengan Alaia dan Aura di depannya.
Kulihat Bianca dan kedua anteknya berjalan mendekat kearah tempat dudukku.
Menarik kursi kosong dan mendudukkan dirinya di sampingku, Bianca berkata.
"Gue liat pacar lo bawa si Anna ke apart kemaren."
"Buset, ngga bener tuh Xav. Btw kok lo tau bi?" Tanya Aura.
"Si Bianca kan apartnya satu gedung sama si Gio." Jelas salah satu antek Bianca, Leta.
"Labrak aja Xav, gue siap bantu." Ucap Bianca.
"Iya Xav, ikut gedeg gue." Kompor Alaia.
"Ngga usah, lo kalau liat si Gio sama Anna ke apart lagi langsung wa gue aja bi." Jawabku.
"Terus, lo mau apain abis itu Xav?" Tanya Ara, antek Bianca kedua.
"Gue datengin."
Anna tidak sekelas dengan Xaviora, kebetulan Anna sekelas dengan Gio dkk.
Entah salah penglihatan atau apa, tapi aku sekilas melihat wajah Irene menyeringai samar. Memilih tidak terlalu memikirkan, ia kembali menatap Bianca dan membisikan sesuatu.
Bianca tersenyum menatapku yang kubalas dengan senyum tipis, setelahnya Bianca dan kedua anteknya berjalan ke arah bangku masing-masing.
"Bisikin apaan lo ke Bianca?" Tanya Alaia.
"Nanti tau." Sahutku yang hanya dibalas dengusan oleh ketiganya.
Setelahnya guru masuk dan pelajaran dimulai.
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya bel istirahat berbunyi.
Alaia dan Aura langsung menyeretku serta Irene ke kantin.
Akhirnya aku berjalan kearah kantin dengan Alaia,Aura serta Irene di sampingku. Memasuki kantin, kantin yang tadinya ramai seketika langsung hening karena kehadiranku.
Melangkah tak peduli sampai suara pecahan kaca yang jatuh di samping sepatu yang kupakai, membuat langkahku terhenti.
Menunduk, Xaviora mendapati Anna yang sudah jatuh terduduk di samping sepatunya.
Seketika suasana kantin yang tadinya hening berubah menjadi tegang, semua menunggu apa yang akan Xaviora lakukan setelahnya.
Xaviora dikenal tidak suka di usik dan di ganggu, siapapun yang mengusik dan menganggunya akan ia bully. Tapi sekarang yang menempati tubuh Xaviora adalah jiwa lain, akankah ia melakukan hal serupa seperti yang Xaviora asli biasa lakukan atau sebaliknya?