Xaviora menatap malas Anna yang masih terduduk dibawah, diiringi isak tangis Anna tampak seperti putri lemah yang membutuhkan pertolongan.
Matanya menyorot acuh ke sekitar, mencari keberadaan seseorang.
Bianca.
Dengan satu tangan memegang ponsel, seringaian muncul di wajah cantik Bianca.
Xaviora yang menemukan keberadaan Bianca ikut menyeringai tipis, berniat melangkah meninggalkan Anna yang masih terkapar dibawah, tapi langkahnya terhenti.
"Lo ngapain lagi sih Xav!" Geram Alaric, sambil melangkah mendekati Xaviora, diikuti Altair dan yang lain.
Sedangkan Xaviora hanya menatap dingin kakaknya, menunggu kata apa yang selanjutnya akan keluar dari mulus busuknya.
"Ngapain." Ucap malas Xaviora.
Melirik keberadaan Anna, ternyata Anna sudah berdiri dibantu oleh Gio yang masih menyangga tubuhnya.
"Cih, jatuh doang kaya abis ngelahirin aja sampe di sangga-sangga."
"Xav!" Tegur Gio.
"Sebenernya siapa sih pacar lo?" Tanya Xaviora.
"Siapa emang yang mau ngakuin lo sebagai pacar dengan kelakuan lo yang ngga manusiawi kaya gini, cih ngimpi!" Ucap Alaric.
Berbeda dengan Altair yang hanya diam, menatap dingin sang adik.
"Lo!" Bentak Alaia.
Berbeda dengan Aura yang malah sudah siap menjambak Anna, tapi terhenti karena di cekal Irene yang masih cukup waras.
"Cukup Ai, biarin manusia t***l ini berpendapat." Ucap Xaviora, sambil menahan Alaia yang ingin maju.
"Xavi!" Alaric mengangkat tangannya siap menampar Xaviora, tapi terhenti saat Airlangga mencekalnya dengan Xabiru yang siap menghadang tamparan Alaric di depan Xaviora.
Anna yang melihatnya menjadi sedikit kesal, biasanya ia yang dilindungi, sekarang Airlangga dan Xabiru berbalik melindungi Xaviora.
"Kak, udah jangan salahin kak Xaviora lagi." Timpal Anna yang masih berada di rengkuhan Gio dengan suara lembutnya.
Bukannya membuat perdebatan menjadi selesai, tapi perkataan Anna bagaikan bensin yang menyiram api.
Xaviora melirik sinis ke arah Gio yang masih saja merengkuh Anna di depan matanya, sebenarnya ia malas sekali melihatnya, tapi demi keberlangsungan rencana dengan terpaksa ia akan terus melanjutkan perdebatan ini.
Di novel tertulis bahwa Xaviora sengaja menghadang kaki Anna dengan kakinya, agar Anna jatuh dan di tertawakan seisi kantin. Tapi sekarang beda, Anna jatuh sendiri dan ia masih di salahkan.
Xaviora melangkah mendekati Gio, Anna yang melihatnya langsung saja gemetar, membuat Gio langsung menegurnya.
"Ngga usah deket-deket, lo ngga liat Anna ketakutan ngeliat lo." Ucap Gio lantang.
Seisi kantin yang sedari tadi memperhatikan perdebatan antara Xaviora dengan Anna yang di bela Gio dkk minus Airlangga dan Xabiru menahan nafas mendengar perkataan Gio yang cukup tajam bagi mereka.
"Oh." Ucap Xaviora acuh.
Matanya menatap malas Gio yang berada di depannya.
"Lo, mau pilih gue, apa nih putri?" Lanjut Xaviora dengan telunjuk yang menunjuk tepat di depan mata Anna yang bergetar.
"Xav, lo apa-apaan sih?"
"Cepet jawab!" Sentak Xaviora dengan suara tinggi, menyebabkan keterkejutan seisi kantin sampai Airlangga dan Irene yang biasa bermuka datar pun berjengkit.
"Gue.."
Alis Xaviora terangkat menunggu jawaban, dengan kedua tangan disilangkan di d**a, Xaviora tampak menawan walau sedang keadaan marah. Berbeda dengan Anna yang sudah awut-awutan, air mata dimana-mana, mata sembab dengan badan bergetar.
"Gue jelas pilih lo Xaviora, Anna cuma temen."
"Kalau gitu lepasin Anna, biarin dia sama yang lain." Ucap Xaviora tegas tak terbantahkan.
"Ngga bisa." Lirih Gio
"Lo gimana sih anjing! Tiap hari sama Anna sampe ke Apart juga bawa Anna, waras ngga sih lo." Suara Bianca tiba-tiba menggelegar di kantin, sepetinya jiwa bullynya meronta-ronta melihat perdebatan ini.
Seketika kantin langsung ramai mendengar perkataan Bianca, semuanya membicarakan Anna yang seperti w************n, padahal sudah tau Gio memiliki kekasih.
"B-bianca, kamu jangan asal bicara." Ucap Anna bergetar.
"Lo apa-apaan, jangan asal fitnah!" Sentak Gio.
"Oh mainnya di Apart." Xaviora tertawa rendah, tawa mengejek untuk pasangan di depannya ini.
Gio yang panik, seketika bermuka pucat. Seisi kantin memperhatikan ia dengan Xaviora yang tampak menonjol, ia semakin membenci Xaviora, padahal kemarin ia pikir Xaviora berubah dan mulai sedikit senang akan hal itu.
Xaviora seperti sengaja membuka aibnya di hadapan orang-orang, imagenya yang selalu ia jaga akan hancur semua gara-gara Xaviora. Gadis sialan itu, geram Gio.
Sebelum Gio menyuarakan alasan demi menjaga imagenya, suara Xaviora yang terdengar acuh tak acuh mengalun indah membuat suasana kantin hening.
"Giordano, ayo putus."
JANGAN LUPA KILIK LOVE.