Bukan hanya Giordano yang terkejut, bahkan penjual kantin yang menyimak saja ikut terkejut.
Kantin hening setelahnya, bahkan Giordano tampak tak dapat membuka mulutnya.
"Halah ngga usah di ladenin Gi, dia tuh cuma nge trik biar di perhatiin lo." Kompor Alaric.
Gio tampak tenang setelah mendengarnya, setelahnya ia menyeringai menatap sang kekasih.
"Udah Xav, kalo cuma mau nge trik. Gue turutin permintaan lo buat putus, jangan sampe lo nyesel dan ngejar-ngejar gue lagi."
Sampai tiba-tiba mangkok yang tadi berada di dekat kaki Anna, sudah berpindah di dekat dinding, terpantul dengan keadaan pecah.
Sang pelaku yang telah menendangnya hanya tersenyum culas, menatap Giordano dengan pandangan benci ia berkata.
"Silahkan lo sama putri lo itu, gue ngga akan ganggu lagi kehidupan mesra kalian berdua."
"Dan satu hal yang harus lo tau, gue ngga akan pernah nyesel mutusin lo."
Setelah berucap dengan lantang, Xaviora melangkahkan kakinya meninggalkan kantin yang masih dalam keadaan tegang. Bahkan ia meninggalkan teman-temannya yang masih disana, biarlah mereka mencarinya.
Disisi lain, dipojok meja kantin. Sekumpulan pemuda dengan penampilan bad juga menyimak perdebatan yang terjadi, salah satu pemuda yang paling menonjol tampak memperhatikan gadis yang keluar dari kantin setelah meminta putus dengan sang mantan kekasih.
Pemuda tersebut tersenyum tipis.
"Menarik." Ucapnya
"Apa bos? Menarik?" Ucap salah satu teman pemuda tadi.
"Brisik nyet." Sahutnya sambil melangkahkan kakinya mengikuti gadis yang ia dengar bernama Xaviora.
Melangkah pelan di belakangnya, ia melihat rambut panjang pirang milik gadis itu. Mungkin itu cat, karena terlihat diwajahnya hanya ada wajah Asia tanpa campuran lain.
Rambut gadis itu di kuncir kuda, bergerak ke kanan ke kiri mengikuti irama pemilik tubuh berjalan. Badan ramping dengan kulit putih pucat, tinggi sesuai tipenya.
Ternyata gadis di depannya ini menuju ke atap, tetap berjalan di belakangnya tanpa menimbulkan suara.
Xaviora yang merasa diikuti hanya diam, tetap melangkah. Setelah tiba di tempat tujuan ia membalikkan badan.
Benar dugaannya, terdapat seorang pemuda jakung yang berdiri tepat dibelakangnya.
Menatap datar pemuda di depannya ini, dilihatnya kulit putihnya yang tegas dengan urat menonjol di beberapa bagian, tampak gentle.
Kalung hitam tampak bertengger manis di lehernya, kerah terbuka tanpa dasi yang mengikatnya.
"Ngapain lo ngikutin gue."
"Siapa deh, gue cuma mau ngrokok kali." Ucapnya sambil memamerkan sebungkus rokok kepadaku.
"Lo mau?" Lanjutnya.
"Hm." Xaviora dengan santai mengambil satu putung rokok yang pemuda ini sodorkan.
Ia memang butuh ketenangan, mungkin merokok bisa membuatnya lebih tenang.
"Korek." Menengadahkan tangan menunggu pemuda tersebut menyondorkan.
"Mau nomer hp lo dulu."
"Hah?"
"Sini hp lo."
"Nggak."
"Sini Glenca." Ucapnya.
"Nama gue Xaviora."
"Bagusan Glenca."
"Terserah, cepetan koreknya."
"Cium dulu."
"Mau mati lo."
Pemuda tersebut tampak mengangkat kedua tangannya keatas, sambil terkekeh ia berkata.
"Bercanda, nih."
Berakhir keduanya merokok bersama di atap, duduk bersebelahan dengan kaki menjuntai kebawah bergoyang berlawanan arah, tampak seperti sepasang kekasih.
Di lain sisi, Xabiru sedang berlari kearah Xaviora tadi menuju.
Awalnya ia hanya ingin menghibur Xaviora, walau mungkin hanya dengan kata-kata. Ia pikir Xaviora sekarang membutuhkan seseorang untuk bersandar, entah apa yang terjadi dengannya, tapi ia merasa jadi lebih memperhatikan gadis yang di bencinya dulu.
Bahkan Anna, cinta pertamanya ia abaikan begitu saja.
Berjalan melewati undakan tangga, sampai dirinya mendapati pintu besi. Xabiru membuka, pemandangan yang pertama ia lihat cukup mengejutkannya.
Xaviora, sedang bersama lelaki lain.
Dengan pelan ia melangkah mundur, kembali menutup pintu dan berjalan dengan pandangan tertunduk.
Ia sempatkan menemui karena ia khawatir dengan keadaan gadis itu, tapi mungkin dirinya terlambat.
Xaviora gadis yang dulu ia benci sekarang bisa membuatnya khawatir, bisa membuatnya tampak lebih memperhatikan semenjak melihat kepribadiannya yang tenang dan wajahnya yang lembut dan cantik tanpa riasan apapun.
Xabiru merasa ia kalah sebelum bertanding.
JANGAN LUPA KETUK LOVE!