Airlangga hanya berdiam menatap Xaviora yang perlahan menjauh dari area kantin, dilihatnya sekarang Xaviora tidak meluap-luap seperti biasanya.
Xaviora tampak tenang namun tegas, tidak ada amarah atau air mata yang keluar. Raut mukanya tak menggambarkan apapun untuk dibaca, hanya raut malas dengan pandangan acuh yang diperlihatkan.
Bukan seperti Xaviora yang dia tahu dulu, Xaviora yang akan menjambak dan mencaci maki lawan. Bermain fisik dengan menampar dan keroyokan, serta menangis bila di bentak.
Walau tak melihat raut sedih tertampang diwajahnya, tapi ingin rasanya ia memeluk gadis itu, menenangkan dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
Mengingat Xaviora yang sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan sahabatnya tentu ia diam-diam senang. Entah karena apa, tapi dirinya merasakan seperti itu.
Berniat ingin menemui Xaviora yang mungkin membutuhkannya, tapi niatnya sirna. Melihat Xabiru yang tampak berlari tergesa-gesa menulikan pendengaran walau Anna, kembar dan Gio memanggil-manggil namanya.
Ia tahu Xabiru akan menyusul Xaviora, jadi ia mengalah dahulu untuk kali ini. Ia juga merasa tidak enak kalau-kalau ia meninggalkan Anna dengan keadaan seperti ini.
Kami berempat melangkah menuju UKS guna mengobati luka Anna yang memerah, mengekor di belakang tanpa bertanya keadaan Anna seperti biasanya jika Anna terluka.
Setelah kembar selesai mengobati luka Anna sambil mencaci maki adiknya sendiri, tiba-tiba pintu UKS di buka secara kasar, menampakkan Xabiru dengan raut muka keruh berjalan kearah Anna terduduk.
"Darimana?" Ucapku heran, kalau menemui Xaviora kenapa cepat sekali?
Setelahnya ia hanya mendapat dengusan keras dari Xabiru, merasa ada yang tidak beres akhirnya ia keluar berniat mencari Xaviora.
Berjalan melangkah ke lantai dasar pertama, mungkin ia berada di taman?
Sebelum sampai di taman, dirinya menengadahkan kepalanya keatas guna melihat langit yang terlihat mendung siang ini, tapi pandangannya malah terfokus ke dua pasang kaki yang menjuntai kebawah dari atas gedung, dirinya mendengus keras melihatnya. Masih ada ya pacaran alay di atas gedung berduaan?
Mengabaikan hal tersebut Airlangga melanjutkan langkahnya menuju taman, tanpa mengetahui kalau salah satu pasang dari dua pasang kaki yang menjuntai kebawah di atas gedung adalah orang yang dia cari.
***QUEEN XAVIORA***
Xaviora melirik pemuda yang duduk di sebelahnya, di kemejanya bertuliskan Artha Graha Maxime.
Artha? Sekarang ia tau, pemuda di sebelahnya ini adalah sang antagonis pria. Salah satu partner Xaviora untuk menghancurkan hubungan Anna dengan Gio.
Artha yang kejam pun jatuh cinta kepada pemeran utama wanita, Anna. Karena kelembutan Anna, Artha jatuh cinta pada pandangan pertama.
Cinta Artha untuk Anna itu mengarah ke obsesi, bahkan Xaviora partnernya sendiri ia khianati karena melihatnya yang ingin menyakiti Anna.
Menghembuskan asap dari dalam mulutnya, ia melirik Artha.
Dirinya berpikir, kenapa Artha malah kesini dan berakhir merokok bersamanya?
Bukannya ia akan bertemu Artha saat Artha sendiri yang menghubunginya lewat ponsel, dan bertemu di taman untuk membicarakan rencana agar Gio bisa menjauhi Anna setelah pertandingan basket Airlangga selesai?
Sekarang bahkan pengumuman pertandingan belum di umumkan, tapi ia sudah bertemu pemeran antagonis pria.
Tengah fokus memikirkan, tiba-tiba kepulan asap berkumpul di depan wajahnya.
Mendelik sinis kearah sang antagonis pria, malah dibalas kekehan kecil olehnya.
"Tembem." Ucapnya sambil mencubit salah satu pipiku.
"Apasih, awas." Ucapku malas.
"Iya, iya. Galak banget si, ayo turun mau ujan."
Xaviora menatap tangan yang terulur didepannya, memilih mengabaikan ia bangkit sendiri dan meninggalkan Artha yang malah terkekeh kecil di belakangnya.