Langit siang ini terlihat mendung, sepertinya hujan akan turun. Suasana ruangan kelas ini terdengar riuh.
"Tipe-x woy!"
"Mana tipe-x? Aduh, cepetan oyy!"
"Woy buruan!"
"Kagak ada tipe-x!"
"Aelah, tipe-x gue ilang lagi!"
Pria ini memutar kedua bola matanya bosan saat mendengar kegaduhan yang terjadi di kelasnya.
"Kalo gini gue gak bisa fokus ngisi soal matematika." Pria ini membatin.
Seorang siswi datang dan berdiri tepat di sebelahnya.
"Raden, gue nyontek ya,”
"Nama gue Iqbaal bukan Raden." Pria yang menyebut dirinya Iqbaal ini berbicara tanpa menoleh.
Teman sekelasnya tersenyum, "Iya deh, Baal. Boleh yak?"
"Gue aja kurang fokus Rifda!" ujar Iqbaal, dia menatap temannya itu dengan tatapan menusuk.
Rifda menarik kursi dan duduk di sebelah Iqbaal.
"Lo bisa gak sih ngerjainnya sendiri aja." celoteh pria ini, Bastian.
"Lo aja nyontek dari Iqbaal, pake nyuruh gue ngerjain sendiri," ucap Bastian, dia lebih nyolot.
Iqbaal sangat geram, di semua sudut ruangan ini sangat kacau. Guru memang sedang keluar, jadi inilah tradisinya, mereka mendapatkan soal matematika dan mereka bekerja bersama.
Iqbaal berdiri, dia mengambil pena dan juga buku matematika miliknya. Iqbaal meninggalkan kedua temannya.
Iqbaal meliarkan matanya, saat dia melihat ke pojok dia langsung ke sana. Di sana ada satu tempat duduk yang kosong.
"Tuh 'kan si Raden pindah,” ujar Rifda, dia menyipitkan matanya.
Bastian melihat buku, dia mencoba mengerjakannya sendirian.
"Lo nyontek si Raden kan? Gue lihat dong," ucap Rifda.
"Bawel," ujar Bastian, "ya udah, iya." lanjutnya.
Rifda tersenyum dan mulai menyalin jawaban soal matematika di buku Bastian.
~
Iqbaal mengulas senyuman manis dibibirnya. Dia berhasil menjawab lima soal matematika yang sempat membekukan otaknya.
Iqbaal menutup bukunya lalu meliarkan matanya pada teman sekelasnya yang masih sibuk. Ada kelompok yang sibuk menyontek, kelompok yang sibuk berpikir untuk bekerjasama, dan ada yang santai-santai saja sambil facebookan.
Tap!
Mata Iqbaal kini terfokus pada seorang siswi yang sedang tersenyum sambil memainkan penanya.
"Raini ...,” batin Iqbaal.
Raini, dia adalah siswi yang tengah diperhatikan Iqbaal. SesekaliSesekali Iqbaal mengalihkan pandangan dan kembali menatapnya. SenyumanSenyuman perempuan itu masih ada di sana, bahkan sesekali tertawa dan terkadang wajahnya menampilkan keseriusan.
"Satu lagi Rain!” sorak Luthfia.
"Waktunya sebentar lagi, go! go! go!" sorak Fenly, penuh semangat, hanya sekedar menyemangati saja.
"Gue bingung, otak gue gak bisa berpikir lagi,” ujar Raini.
Gerombolan yang mengelilingi Raini yang menjadi pusatnya ini masih berada di sana.
Setahu Iqbaal, Raini siswi yang pintar. Tapi kepintarannya itu selalu dia bagi dengan teman-temannya. Terkadang Iqbaal heran dengan teman sekelasnya yang satu ini, karena gadis itu selalu memberikan sontekan dan akan berkata, Maaf kalo salah.
"Baal,”
Rifda kembali menghampiri Iqbaal, sontak saja pria itu langsung memalingkan wajah. Dia berharap Rifda tidak menyadari dirinya yang tengah memperhatikan Raini.
"Apa?" ujar Iqbaal, sinis.
"Nomor tiga dong," ucap Rifda, lalu mendesak Iqbaal agar duduk dipojok.
Iqbaal pasrah, percuma jika dia melarang, "cuma nomor tiga, awas kalo lebih."
Rifda mengangguk, "lagi pula, tinggal nomor tiga doang."
"Ya," ucap Iqbaal, dia memperhatikan bukunya, dia tidak mau Rifda ingkar janji.
Guru datang dan mengerutkan keningnya melihat semua muridnya tidak duduk di tempat yang seharusnya.
"Aduh, apa-apaan ini!" teriak Bu Sasha.
Tapi siswanya itu tetap berkerumun di tempatnya. Bu Sasha menggelenggkan kepalanya.
Iqbaal mengambil bukunya dan pergi ke tempat duduknya.
"Baal, gue belom selesai ...,” rengek Rifda.
"Ada guru, gak lihat? Buta?" umpat Iqbaal.
Iqbaal memajukan bibirnya dan duduk di kursinya yang berada dibarisan depan dekat jendela.
"Anak-anak, waktu sudah habis. Cepat kumpulkan!" teriak Bu Sasha.
Iqbaal berjalan ke depan dan mengumpulkan bukunya. Bastian menyusulnya.
Sedangkan yang lain masih sibuk, mereka sangat panik. RifdaRifda ikut nimbrung ke kelompok Raini, dia menarik buku milik Raini dan membawanya.
"Rif, kita lagi ngisi,” ucap Raini, dengan suaranya yang lembut dan bervolume kecil.
"Sebentar, gue mau lihat nomor tiga yah,” ucap Rifda.
"Oy, Raini lagi ngisi no satu. Jangan punya dia, punya gue aja nih," ujar perempuan ini, Helma.
Helma memberikan bukunya, dan Rifda menerimanya. Helma duduk dengan Rifda, dia ingin melihat pekerjaan temannya itu.
Iqbaal yang kini duduk di kursinya tersenyum.
"Waktu habis!" ucap Iqbaal, nadanya terdengar mengejek.
"Berisik lu Raden. Ratu lo lagi ngisi, bantuin kek,”
Iqbaal memutar kedua bola matanya bosan.
Rifda berdiri dia mengambil bukunya, hal itu membuat Helma merengut.
"Belum selesai Rif,” ucap Helma.
"Bodo!" umpat Rifda.
Helma memajang wajah kesal, dia sangat tidak menyukai sikap temannya ini.
Rifda menghampiri Fenly dan melihat hasil pekerjaan pria itu.
"Salah Fenly, nih punya gue bener," ujar Rifda, penuh percaya diri seraya mengangkat bukunya.
"Mana gue lihat?" ujar Fenly, serasa menodongkan tangannya.
"Waktunya udah habis. Gue harus ngumpulin," ujar Rifda, dia pergi kedepan.
Fenly memicingkan matanya, "b*****t tuh cewe uler." ujar Fenly.
"Dia emang kayak gitu, cepu!" umpat Lika.
**
Bel istirahat kedua sudah berbunyi dari 15 menit yang lalu.
Seperti biasanya, tradisi kelas XI Administrasi Perkantoran adalah keluar kelas dan membeli makanan.
Sudah 15 menit berlalu, kelima siswi ini masih mengantri.
"Aduh cecans kepanasan!" umpat Rifda, dia seperti cacing kepanasan.
"Uler kepanasan!" ledek pria itu, Fenly. Dia berada di dekat gerbang, dia sedang mengantri di pedagang cilor.
Sebenarnya Fenly masih merasa kesal dengan kelakuan Rifda hari ini. Rifda memang sering bersikap seolah-olah tidak peduli dengan teman-temannya.
Tapi sebagai teman yang baik, Raini, Helma, Lika, dan Luthfia, tetap bersikap biasa saja. Walaupun mereka juga jengkel.
"Dasar cungkring, gak ada gizi," ujar Rifda, kembali meledek.
"Uler cepu!" umpat Fenly, lalu menjulurkan lidahnya.
Raini tertawa mendengar itu, Lika juga ikut tertawa. Sedangkan Helma dan juga Luthfia hanya tersenyum.
"Ck!" Rifda menyerah menghadapi Fenly, jika terus menghadapinya dia akan dipermalukan di sepan semua orang.
"Cuaca mendung kayak gini aja kepanasan, apalagi kalo cerah. Udah ke bakar kali lo, kayak vampire," ujar Fenly.
Pedagang di sana tersenyum mendengar ocehan Fenly yang memang cukup keras.
"Udah Rif, kalo lo ladenin malah bakal ribet," ujar Raini, lalu tertawa.
"Iya, lo bener Raini,” ujar Rifda.
Pedagang papeda sudah menyelesaikan pesanan ke lima siswi ini.
"Nih Mang Pepen,” ujar Lika, dia memberikan uangnya. Dan yang lainnya juga sama.
"Wangsulanna dua ribu," ucap Mang Pepen, dengan logat sundanya yang khas (Wangsulan = Kembalian).
"Thank you Mang Pepen,” ucap Luthfia, lalu tersenyum.
Raini tersenyum lebar. Mang Pepen memang selalu menjadi langganan Luthfia untuk digoda. Lagi pula Mang Pepen orang yang sangat bisa bergaul, dia juga sering bercanda, bukan hanya Mang Pepen tapi pedagang lainnya juga.
"Lik, anter gue beli cilor," ujar Rifda.
"Ogah, gue gak mau beli," ucap Lika.
"Ya udah sama gue aja,” ucap Raini.
"Raini, katanya mau beli es doger," ujar Luthfia.
"Ini titipan Bastian. Kalian beliin aja yah, nih uangnya. Supaya cepet,” ucap Raini, lalu memberikan uang.
"Gue juga nitip, dibayar di kelas,” ucap Rifda.
Luthfia dan Lika mengangguk lalu mereka beralih pada pedagang es doger yang berada diujung.
Fenly masih terlihat di sana, dia sedang memakan cilornya bersama dengan Alwan dan Ari.
"Uler doyan cilor juga," ledek Fenly.
Rifda memicingkan matanya, Fenly selalu meledeknya.
"Uler totog,” ujar Ari, seraya memperagakannya dengan tangan seperti akan mematuk.
"Ari b*****t!" umpat Rifda.
"Awas kena racun uler,” ucap Alwan, lalu mereka pergi.
Rifda mendengus, Raini tertawa melihat hal itu. Rifda langsung menatapnya sengit.
"Ups!" Raini langsung meminta maaf.
"Kebiasaan,” umpat Rifda.
Rifda sudah tahu bahwa Raini memang tidak bisa menahan tawa jika ada sedikit pun hal lucu, itu sudah menjadi hal lumrah, terkadang Raini tertawa walau tidak lucu.
**
Raini memberikan pesanan Bastian, dua cilor seharga tiga ribuan.
"Satu lagi tolong kasih sama Raden ya Ratu," ucap Bastian.
"Enggak ah, gue mau makan papeda," ujar Raini, lalu menaruh satu cilor lagi di meja.
Bastian terkekeh melihat kepergian Raini. Iqbaal memasuki kelas dan menghampiri Bastian.
"Mana cilor gue?" tanya Iqbaal.
Bastian memberikan cilor yang ada di meja kepada Iqbaal.
"Ratu lo yang ngasih tadi,” ujar Bastian.
Iqbaal melihat ke arah Raini yang tengah duduk membelakanginya. Dia bersama teman-temannya sedang memakan makanan yang mereka beli.
"Jangan dilihatin mulu, entar takut dia,” ujar Bastian.
"Apaan sih lu!" umpat Iqbaal.
Iqbaal memakan cilor itu seraya menduduki meja. Bastian hanya geleng-geleng kepala.
"Pedes banget,” pekik Bastian.
Bastian berdiri dan memghampiri kerumunan lima wanita.
"Minta air," ujar Bastian.
"Kagak ada," ucap Rifda, dia menyembunyikan tupperwarenya.
"Siapa yang minta sama lo?" ujar Bastian, lalu melihat ke arah tupperware lain yang ada di meja.
"Punya gue,” ujar Lika, lalu memberikannya kepada Bastian.
"Makasih cantik," ucap Bastian, lalu membuka tutup botol tupperware itu dan meminumnya.
"Udah dari lahir cantiknya,” ucap Lika.
Iqbaal datang, tanpa permisi dia mengambil tupperware milik Rifda dan langsung menjauh.
"Raden Iqbaal Firdaus, jangan diabisin, gue belum minum! teriak Rifda, dia heboh sendiri.
Iqbaal langsung meminumnya, dan menyisakan setengah.
"Lo udah nyontek tadi, anggap aja ini imbalannya. Pelit banget jadi cewek," umpat Iqbaal, lalu dia menaruh tupperware itu di meja dan pergi.
Rifda memajukan bibirnya, lalu dia berjalan menghampiri meja.
Fenly datang dan mengambil tupperware milik Rifda dan langsung meminum airnya.
Rifda langsung melongo. Bastian tertawa lepas saat itu, dia sangat senang karena kepelitan Rifda terbalaskan.
"Mampus, pelit sih!" ujar Bastian.
Lika menggelengkan kepalanya pelan, sedangkan yang lain fokus dengan makanan mereka.
"Fenly, air minum gue lo abisin," ujar Rifda.
Fenly menatap botol yang ia pegang.
"Kalo tahu punya lo gak bakalan gue minum,” ujar Fenly.
Fenly pergi begitu saja dari sana. Meninggalkan Rifda yang heboh sendiri karena air
Iqbaal Firdaus, kini pria ini tengah berjalan menyusuri jalanan menuju rumahnya. Dua menit yang lalu dia baru saja turun dari angkot bersama dengan Rifda yang kini berjalan di depannya.
Iqbaal dan Rifda memang tinggal di perumahan yang sama. Rumah mereka terbilang sederhana.
"Raden, akun f*******: lo tetep Raden ‘kan namanya?" tanya Rifda, yang kini ada di sebelahnya.
"Ya, emang kenapa?" tanya Iqbaal.
"Raden Iqbaal Firdaus, asal lo tahu Raini itu beneran suka sama lo,” ucap Rifda.
"Tahu dari mana?" tanya Iqbaal.
"Sikapnya. Setiap kali dia dijodohin sama lo pasti selalu senyum, kalo bahas tentang lo senyum juga. Kalo dia gak suka seharusnya dia marah," ucap Rifda.
"Dia itu murah senyum," ucap Iqbaal.
"Kalo lo gimana? Apa lo suka sama Ratu Raini?" tanya Rifda, dia tersenyum penuh arti.
"Enggak," ujar Iqbaal.
Iqbaal mendahului Rifda, dia menghilang di tikungan.
"Enggak versi iya, atau emang enggak?" Rifda terkekeh.
**
Iqbaal memasuki kamarnya, dia menggantung tasnya pada pengait paku yang ada di tembok.
Iqbaal berbaring di kasur kecilnya, dia mengeluarkan ponsel disaku celananya. Dia membuka aplikasi facebooknya.
"Gara-gara nama f*******:, selama satu bulan ini gue diledek di sekolah. Nama f*******: gue emang Raden, tapi bukan berarti ...,”
Iqbaal menggantungkan kata-katanya, pada layar ponselnya terlihat status f*******: perempuan yang selalu disandingkan dengannya di sekolah.
"Raini, statusnya selalu aja lucu. Padahal aslinya gak pinter ngelawak," ujar Iqbaal, dia tersenyum miris.
Iqbaal menaruh ponselnya dan dia berdiri mengambil handuk dan pergi keluar.
"Ke mana, Kak?" tanya wanita ini, dia ada di depan Iqbaal.
Iqbaal mendengus kesal, dia terkejut dengan kehadiran adiknya yang tiba-tiba.
"Ula, ngagetin aja,” umpat Iqbaal.
"Ngelamun ya lo? Ada temen lo tuh di luar, cewek," ujar adik Iqbaal ini, Ula namanya.
Ula pergi dengan santainya, Iqbaal langsung ke depan.
Iqbaal menyelempangkan handuknya di leher, lalu dia pergi ke depan. Terlihat dua perempuan duduk di teras rumahnya dengan masih menggunakan seragam sekolah.
"Kalian, ada apa?" tanya Iqbaal, saat dia menyadari siapa yang datang.
Kedua wanita ini berdiri dan tersenyum. Mereka Helma dan juga Raini.
"Masuk ke dalem," suruh Iqbaal.
Helma mengangguk dan mengikuti Iqbaal yang masuk ke dalam. Sebelum masuk Raini membuka sepatunya, sedangkan Helma langsung masuk begitu saja.
"Eits! Sepatunya nyonya," bentak Iqbaal.
Helma memutar kedua bola matanya bosan, lalu dia mundur dan membuka sepatunya.
Sebenarnya Iqbaal merasa heran dengan kehadiran kedua temannya ini.
"Duduk aja,” ucap Iqbaal.
Raini dan Helma duduk pada kursi bambu yang ada di sana. Helma terlihat tidak nyaman dengan posisi duduknya.
"Raden, gue mau ke toilet," ucap Helma.
"Belum apa-apa udah ngerepotin. Ayo gue tunjukin," ucap Iqbaal.
Helma terlihat kesal, lalu dia menarik tangan Raini untuk ikut.
"Gak perlu ajak temen, toilet rumah gue sempit,” ucap Iqbaal.
"Gue disini aja deh," ujar Raini.
Helma mengangguk lalu mengikuti Iqbaal.
Iqbaal dan Helma sampai di dapur, Iqbaal menunjuk pintu berwarna biru yang warnanya sudah memudar.
"Kalian mau apa ke sini?" tanya Iqbaal.
"Nanyanya nanti aja, gue kebelet,” umpat Helma, dan pergi.
"Gue tinggal,” ujar Iqbaal.
"Iya," teriak Helma.
Iqbaal kembali ke ruang tamu. Dia duduk di hadapan Raini, dia mengernyit saat sudah tersedia dua gelas air dan dua toples yang berisikan kue.
"Adik lo baik ya, dia nyediain ini,” ucap Raini, lalu tersenyum.
"Ula?" ujar Iqbaal.
Raini menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Laki-laki. Dia bilang, dia adik lo," ujar Raini.
"Gue gak punya adik laki-laki. Gue cuma punya dua adik, dan semuanya cewek," ujar Iqbaal, dia terlihat bingung.
Iqbaal melihat Raini yang kebingungan sampai menggaruk kepalanya sendiri. Rambut gadis itu menjadi berantakan.
"Tadi lo mau mandi ya? Ganggu dong," ujar Raini, dia kembali tersenyum.
"Tahu dari mana? Dari Rifda?" tanya Iqbaal, dia terkekeh.
Raini tersenyum lebar seraya menggelengkan kepalanya.
"Baju lo kancingnya kebuka, terus lo bawa-bawa handuk,” ujar Raini.
Iqbaal melihat handuk dan seragamnya yang kancingnya terbuka tiga, dan memperlihatkan dadanya. Iqbaal segera mengancingkannya.
Raini menundukan kepalanya, Helma datang dan duduk di sebelah Raini.
"Rok gue basah ...," rengek Helma.
"Kok bisa? Kerannya bocor?" tanya Raini.
"Kamar mandi gue mana ada kerannya," ucap Iqbaal.
"Gue tarik penutup airnya, terus kena rok," gerutu Helma, lalu memajukan bibirnya.
"Nanti juga kering, jangan sok cengeng. Langsung aja, mau apa kalian ke sini?" tanya Iqbaal.
Helma merasa jengkel dengan sikap Iqbaal yang menyebalkan jika di luar pelajaran di sekolah. Sikap serius dan berwibawanya hilang, bagai ditelan bumi.
"Raini, si Raden ini berubah seribu derajat saat di luar pelajaran di sekolah." kata Helma, lalu tersenyum miring.
Iqbaal mendengus kesal, lalu dia memperhatikan Raini yang kini mengubah ekspresinya menjadi serius.
Semenjak kelas sebelas, saat gosip di kelas mencuat hebat tentang Raini dan juga dirinya. Iqbaal menjadi penasaran kepada Raini, dia selalu memperhatikannya diam-diam. Dia selalu memperhatikan senyuman, tawa, dan ekspresi seriusnya yang hanya sesekali bisa dia lihat.
"Tadi kita ketemu Pak Iwan di jalan," ujar Raini.
Raini membuka reseleting tas besarnya yang berwarna pink ketuaan. Lalu dia mengeluarkan buku besar yang dibungkus oleh plastik putih.
Bruk!
Raini menaruh buku besar itu di atas meja, lalu dia mengeluarkan satu buku lain dan menaruhnya di atas buku itu.
"Ada titipan, katanya penting. Besok harus dikasih sama Pak Niki. Pak Iwan gak bisa masuk besok," ujar Raini, lalu tersenyum.
Iqbaal mengernyit.
"Kenapa gak besok aja?" tanya Iqbaal.
Helma dan Raini saling menatap. Helma menelan ludahnya.
"Padahal besok aja di kelas, kan besok gak libur," ucap Iqbaal, lalu memperhatikan kedua temannya yang terlihat aneh.
Helma menyikut Raini agar menjawabnya.
"Besok gue sakit," ucap Raini, dia menjawabnya dengan cepat.
Helma menepak jidatnya sendiri, menurutnya itu jawaban terkonyol yang pernah ada.
Iqbaal mengangkat sebelah alisnya. Raini tertawa kecil.
"Salah ya?" kata Raini.
Iqbaal tersenyum tipis, lalu dia menatap Raini secara terang-terangan. Dan itu membuat Raini gugup.
"Gue izin besok, mau jenguk nenek. Terus Raini mau ikut kondangan sama nyokapnya." ucap Helma.
Iqbaal menatap Helma, dia mengerutkan keningnya.
"Alesan!" pekik Iqbaal.
"Udahlah, kita pulang aja. Panas gue di sini.," gerutu Helma.
"Rumah gue emang gak ada AC, gak kayak rumah lo,” pekik Iqbaal.
"Baal, kita pulang yah. Salamin sama orang tua, Ula, sama adek laki-laki lo,” ucap Raini.
"Iya," ucap Iqbaal.
Mereka berdiri, Raini dan Helma keluar dan mengenakan sepatu.
"Naik motor?" tanya Iqbaal.
"Iya,” jawab Raini.
Iqbaal masih setia di depan pintu, dia memerhatikan Raini yang kini tengah menaiki motornya. Dan Helma tengah mengenakan Helm.
Iqbaal mengerutkan keningnya saat Raini tidak mengenakan helm.
"Raini, lo gak pake helm?" tanya Iqbaal.
Sontak saja Raini menoleh dan mengangguk.
"Gue ada helm, kalo mau gue ambilin," ucap Iqbaal.
Raini menggelengkan kepalanya, "eng--"
"Ambilin aja Baal, kan bahaya,” ucap Helma.
Raini menatap Helma sengit, tapi temannya itu tersenyum lebar.
"Bentar Raini," ujar Iqbaal, dia masuk kedalam rumahnya dan mengambil helm.
Setelah mengambil helm, Iqbaal keluar dan menghampiri Raini dan memberikan helmnya itu.
"Makasih," ujar Raini.
Raini mengenakan helm berwarna biru tua itu. Dia kesulitan mengaitkan tali helmnya.
"Hel, tolong dong,” ucap Raini.
"Bentar, nyokap gue nelepon,” ucap Helma, dia menempelkan ponselnya pada telinga, dan dia menjauh dari sana.
Raini berdecak, padahal dia sedang butuh bantuan. Gadis ini sibuk dengan tali helm, dia terus menggerutu karena dia tidak bisa mengaitkannya.
"Emang sedikit rusak,” ucap Iqbaal.
Raini menoleh ke arah Iqbaal, pria itu kini ada di depannya dan meraih tali helm dan mencoba mengaitkannya.
"Bentar ya!" ucap Iqbaal.
Raini memperhatikan wajah Iqbaal yang begitu dekat dengannya. Iqbaal juga kesulitan, sebenarnya itu dikarenakan tangannya yang gemetar. Sebelumnya Iqbaal tidak pernah sedekat ini dengan Raini, dia juga bisa memperhatikan Raini. Bahkan dia baru sadar paras Raini yang begitu hitam manis dan cantik.
Klek!
Akhirnya helm itu berhasil dikaitkan, Iqbaal tersenyum dan mundur dua langkah.
"Makasih," ucap Raini.
Iqbaal tersenyum, entah mengapa dia berkeringat saat ini. Karena cuaca panas, atau karena teman sekelasnya ini.
"Iya. Btw, besok lo mau ke mana sebenernya? Bolos?" tanya Iqbaal, dia mencoba menutupi rasa gugupnya.
Raini terdiam, lalu Helma datang.
"Raini, kita harus cepet pulang,” kata Helma.
Raini mengangguk, lalu dia naik ke motor dan menyalakan mesin motornya.
"Hati-hati," ujar Iqbaal.
"Sok manis!" umpat Helma, lalu dia duduk di jok belakang.
"Assalamualaikum,”
Raini langsung pamit, jika tidak seperti itu pastinya Helma dan Iqbaal akan tetap adu bicara.
"Waalaikumsalam,”
Raini melajukan motornya. Iqbaal segera masuk ke rumahnya.