Hari ini Raini, Helma, Lika, Rifda, Luthfia, Fenly, Ari, dan Alwan sengaja tidak masuk sekolah. Tujuan mereka hanya satu, yaitu untuk menghadiri Bazar. Mereka masih mengenakan seragam sekolah, hanya saja mereka mengenakan jaket.
Pukul 09.00 WIB.
Mereka baru sampai, dan mereka langsung masuk.
"Gue mau ke sana,” ucap Rifda.
"Enggak, gue maunya ke sana,” ujar Lika.
Rifda dan Lika saling menatap sengit, itu membuat yang lain jengkel.
Ari merangkul Lika dan keduanya saling menatap.
"Gue ikut sama lo,” ucap Ari.
Lika tersenyum, "Siapa lagi yang mau ikut sama gue?" Lika menatap Rifda sinis.
Raini mengangkat tangannya, sedangkan yang lainnya tidak.
"Oke, kita bertiga ke sana,” ucap Ari.
Yang lain mengangguk mengerti, dan mereka berpencar.
~~~
Raini, Lika, dan Ari memilih pakaian yang bermodel rock.
Bazar ini memang dikhususkan untuk anak muda, barang-barang yang dijual pun banyak diminati anak muda. Dan Bazar ini hanya ada setahun sekali, penjualnya pun anak muda. Dan karena itu Raini dan teman-temannya rela bolos sekolah hanya karena ingin berbelanja sampai malam di tempat ini. Apalagi pada malam hari akan ada acara penutupan dengan penampilan Band.
Lika dan Ari saling menatap lalu tersenyum lebar, keduanya seperti memiliki hubungan spesial.
"Lika, baju ini--"
Raini langsung cengo saat melihat Lika dan Ari saling menatap. Dan beberapa menit kemudian Lika dan Ari memalingkan pandangan pada Raini.
"Ciee!" ujar Raini, dia menggoda temannya.
"Apaan sih?" umpat Lika.
"Kalian pacaran ya?" tanya Raini.
Lika menggelengkan kepalanya akan tetapi Ari mengangguk. Itu membuat Raini bingung.
Ari tersenyum lebar, sedangkan Lika menatap pria itu tajam.
"Jangan bilang siapa-siapa ya. Kita emang pacaran, baru seminggu,” ucap Lika, akhirnya dia jujur dan tersenyum.
Ari merangkul Lika dengan mesranya. Raini tersenyum lebar.
"Peje ya?" Raini menatap Ari.
"Pilih ae!" ucap Ari.
"Uh, thanks! Pacar lo baek Lik,” ujar Raini, dia terkekeh.
"Ck, kalo lo sama Raden pacaran beneran jangan lupa pejenya buat kita,” kata Lika.
"Ish!" decih Raini.
Ari dan Lika terkekeh melihat ekspresi Raini.
**
Pukul 16.00 WIB.
Kini mereka berkumpul dengan menenteng belanjaan masing-masing. Dan sepertinya yang paling banyak berbelanja adalah Rifda.
"Heh uler, lo beli apa aja sih,” tanya Fenly.
"Iya, banyak banget,” ucap Alwan.
"Perlengkapan buat berubah jadi uler kali,” Ari terkekeh.
Rifda memutar kedua bola matanya bosan.
"Aduh, kalian laki-laki mana tahu!" ucap Rifda.
"Gue juga yang cewek kagak tahu,” ujar Helma.
Rifda hanya berdecak kesal, dia sangat kesal tapi tetap berusaha mengabaikan. Rifda menenteng dua plastik putih, sedangkan yang lain tidak sebanyak itu.
Lika memasukkan belanjaannya ke dalam tas, begitu juga dengan yang lain. Hanya Rifda yang terlihat rempong.
Raini menatap sekitar, di sini bukan hanya bisa berbelanja tapi bermain juga. Bazar keren ini seperti pasar malam elite bagi Raini.
Tap!
Raini terperangah saat melihat gerombolan orang yang dia kenal.
"Itukan Bastian, Iqbaal, sama anak kelas dua belas. Terus ada Pak Niki juga,” ucap Raini, heboh sendiri.
Lantas mereka menoleh, ekspresi mereka terlihat kecut.
"Gawat! Kalo Pak Niki lihat kita bisa ngamuk dia,” ujar Fenly.
"Kita harus cepet pergi!" ujar Luthfia.
Mereka berjalan menjauh dari tempat itu. Tapi mereka berpencar.
Ari dan Lika pergi keluar Bazar, dan dibelakangnya ada Helma dan Alwan yang mengikuti. Rifda dan Fenly berlari lebih masuk kearea Bazar, sedangkan Raini dan Luthfia memasuki tenda yang didalamnya banyak topi.
"Kenapa si Raden bawa rombongan sih?" decak Luthfia.
"Kalo Pak Niki lihat kita di sini, apalagi lihat kita pake seragam, bisa gawat!" ucap Raini.
"Bukan gawat lagi, kita bisa dihukum pas nanti sekolah,” ujar Luthfia.
Luthfia membelalakan matanya saat melihat gerombolan orang yang mengusik memasuki tenda pedagang topi.
"Gimana nih?" umpat Luthfia.
Raini melihat kearah tumpukan topi yang sengaja digantung pada gantungan.
Raini menarik tangan Luthfia agar ikut dengannya.
"Kita beli topi ini, abis itu kita pake dan pergi,” ujar Raini.
Luthfia tersenyum, "Lo bener,”
Raini dan Luthfia mengambil topi dan mengenakannya.
Dibelakang mereka ada Iqbaal dan Bastian.
"Misi Mba!" ucap Bastian.
Luthfia menyingkir dari sana dengan mengajak Raini. Luthfia menarik tangan Raini kasar dan saat keduanya akan keluar, terlihat Pak Niki sedang mengobrol dengan pedagang topi dipintu keluar. Itu mempersulit Luthfia dan Raini.
"Ck!" Luthfia berdecak kesal.
Terdengar suara ramai dibelakang mereka. Raini dan Luthfia berpura-pura memilih topi.
"Ini bagus gak Sil?" tanya siswi kelas dua belas.
Raini tahu dia siapa, dia adalah Ayu Adilla. Ayu cukup terkenal di sekolah, tepatnya dia salah satunya.
"Bagus Yu, apalagi kalo gue yang pake!" Gadis ini merebut topi ditangan Ayu, dia Putri Syarofa.
Ayu menggerutu dan kembali merebut topi itu dari Putri.
"Malu-maluin!" umpat ketua mereka, Silvia Bonita.
Ayu menatap Putri sengit, sedangkan Putri tersenyum lebar.
"Iqbaal,” teriak Putri, lalu dia menghampiri Iqbaal dan menarik tangannya. Dan pria itu menurut.
Diam-diam Raini memperhatikan itu.
"Heum, ada apa?" tanya Iqbaal.
"Enggak sih, gue cuma mau ngajak lo kesini aja,” ujar Putri.
Iqbaal tersenyum miring, lalu dia menatap Silvia yang juga memerhatikannya.
"Gue ke sana dulu kakak,” ujar Iqbaal, nada bicaranya seperti meledek.
Silvia memutar kedua bola matanya bosan, Ayu dan Putri melihat ada yang aneh dengan Iqbaal dan Silvia.
"Lo sama Iqbaal kenapa?" tanya Ayu.
"Jangan bahas!" ujar Silvia dengan nada jengkel.
Raini melihat kearah Silvia, sebenarnya Raini memang mengagumi Silvia. Kakak kelasnya itu sangat pintar, cantik, rambutnya yang panjang yang selalu di blow membuat Raini ingin mengikuti gayanya.
Tapi Raini sadar betul, dia tidak akan seperti Silvia. Dia jauh dibandingkan Silvia.
"Hey, lo anak kelas sebelaskan?"
Raini tersadar dari lamunannya, lalu dia menatap gadis yang ia kagumi sudah ada didepannya. Dia Silvia.
Luthfia terkejut karena Silvia memergoki mereka.
"Kak, please jangan berisik!" ucap Luthfia, dia memohon dengan nada pelan.
"Kalian bolos?" tanya Silvia, matanya sangat tajam.
Luthfia dan Raini mengangguk pasrah.
"Kak, jangan bilang sama Pak Niki ya. Please!" ujar Raini.
Silvia menatap kedua adik kelasnya itu gusar, lalu dia mengangguk.
"Gue bantu kalian keluar, tapi ada syaratnya,” ucap Silvia.
"Apapun syaratnya gue ikut,” ujar Luthfia.
"Oke!" ucap Silvia, dia tersenyum.
Silvia merangkul Raini dan juga Luthfia dan keduanya berjalan keluar.
"Maaf neng!"
Silvia menghentikan langkahnya lalu menoleh dan melihat kearah pedagang topi.
"Topinya belum dibayar,”
Pak Niki memerhatikan gerak-gerik Silvia.
"Silvi, kamu mau kemana?" tanya Pak Niki.
Silvia memberikan uang kepada pedagang topi, lalu dia tersenyum kearah Pak Niki.
"Mau ke sana sebentar Pak, cari toilet,” ujar Silvia.
"Baiklah!" ujar Pak Niki.
Silvia kembali merangkul Luthfia dan Raini. Mereka pergi dari sana.
*****
Rifda dan Fenly melihat kebelakang, dan di sana tidak ada orang yang mereka cari.
"Yang lain kemana?" tanya Rifda.
"Mungkin keluar,” ujar Fenly.
Tanpa keduanya sadari, tangan mereka masih saling bergandengan.
"Kita ke parkiran aja, pasti mereka ada di sana,” ucap Fenly.
Rifda mengangguk setuju, dan keduanya berjalan beriringan. Fenly membawakan satu plastik Rifda, mereka masih bergandengan.
Rifda melihat tangannya, dia baru menyadari jika dia berpegangan dengan Fenly.
"Wih!"
Rifda berteriak histeris seraya menarik tangannya.
"Kenapa lo pegang-pegang?" teriak Rifda.
"Mana gue tahu, lo kali yang pegang-pegang,” Fenly lebih nyolot.
Rifda dan Fenly saling menatap tajam, keduanya sama-sama kesal.
"Nih bawa!" Feny memberikan belanjaan Rifda.
"Bawain,” ucap Rifda.
"Ogah!" Tolak Fenly, dan dia berjalan mendahului Rifda.
"Fenly b*****t tungguin!" teriak Rifda, dia menyusul Fenly.
Orang-orang memerhatikan keduanya aneh.
**
Pukul 18.30 WIB.
Silvia menatap adik kelasnya dengan tatapan tajam menusuk.
Di sana bukan hanya ada Raini dan Luthfia, tapi Fenly, Rifda, Lika, Ari, Alwan, dan Helma juga ada di sana.
"Jadi kalian ngasih surat izin palsu?" tanya Silvia.
Adik kelasnya itu mengangguk kompak.
"Kalo Pak Niki lihat kalian, bisa gawat!" ujar Silvia, lalu menyeringai.
"Jangan dilaporin Kak,” ujar Helma.
"Kita bisa habis Kak!" ucap Alwan.
"Gue ada syarat!" ucap Silvia.
Silvia menyeringai, lalu berkecak pinggang.
"Di sekolah ada kegiatan baru, yaitu dance. Gue mau program itu lancar, banyak yang ikut, dan gue mau kalian semua ikut,” ucap Silvia.
Fenly menatap Silvia sinis, dia sangat tidak menyukai eskul dan sejenisnya.
"Kok gue geli ya dengernya,” ujar Fenly.
"Gak ada penolakan, kecuali kalo kalian mau gue laporin ke Pak Niki, Pak Iwan, dan kepala sekolah. Supaya sekalian orang tua kakian dipanggil,” ucap Silvia, dia tersenyum manis.
"Kalo gue aih yes,” ucap Ari, Lika juga mengangguk.
"Pasrah gua, padahal gua kagak bisa dance,” ucap Luthfia.
"Gue tunggu kalian besok pas jam istirahat. Kalo kalian gak dateng, gue samperin,” ucap Silvia.
Silvia pergi dari sana. Fenly menjulurkan lidahnya kepada Luthfia.
"Raini yang ketahuan bukan gue,” ucap Luthfia.
"Maaf ya!" ujar Raini.
"Iya gak papa, sudah terjadi ini,” ucap Helma.
Raini tersenyum.
____________________________
Keesokanharinya..
Raini dan teman-temannya mendatangi Silvia dan mereka mendaftar.
Sungguh kaget murid lain saat melihat gerombolan anak badung dari kelas dua belas ikut mendaftar.
"Makasih Fenly,” ujar Silvia, dia tersenyum manis.
Fenly memajang ekspresi datar, dia memang mengangumi kecantikan Silvia. Akan tetapi tidak dengan sifat mengaturnya itu.
Iqbaal datang bersama dengan sahabatnya Bastian. Iqbaal datang karena ingin mengantar Bastian untuk mendaftar.
"Kalian ikut juga?" tanya Bastian.
Sontak yang merasa ditanya mengangguk kompak.
Iqbaal melihat kearah Raini, dengan terang-terangan Iqbaal menatap gadis itu.
"Baal, lo juga ikutan?" tanya Ayu, yang memang ada di sana.
Iqbaal menggelengkan kepalanya, lalu dia melihat kearah Silvia. Gadis itu menatap Iqbaal sengit.
"Kalo udah gak berkepentingan bubar aja,” ujar Silvia.
Bastian sudah mendaftar lalu dia ikut dengan teman-temannya yang lain untuk pergi.
Iqbaal masih ada di sana, dia menatap Silvia dengan tatapan yang tidak bisa diungkapkan.
"Maaf dek, mau daftar?" tanya Silvia.
Iqbaal membalikan tubuhnya dan pergi dari sana.
"Perang dunia!" ujar Putri.
*
Raini melihat Iqbaal yang meninggalkan Silvia dengan ekspresi kesal.
Raini ingin menyimpulkan seauatu, tapi da tidak punya hak untuk itu.
Suasana kelas kali ini terlihat sepi, karena di kelas hanya ada Raini.
Raini memainkan ponselnua dia ingin sendiri saat ini.
Seseorang masuk dan melihat kearah Raini.
"Kenapa gak ikut sama yang lain?"
Raini mendongakan wajahnya, lalu tayapannya bertemu pada seorang pria yang kini duduk di kursi barisan depan.
"Lagi males,” jawab Raini.
Pria ini Iqbaal, dia menghampiri Raini dengan membawa tumpukan kertas. Iqbaal duduk didepan Raini dan berhadapan dengan gadis itu.
Raini jadi salah tingkah olehnya, dia menundukan kepalanya.
"Dari Pak Iwan,” lirih Iqbaal, seraya menaruh tumpukan kertas di meja.
Raini melihat tumpukan kertas itu.
"Lo ikut lomba buat puisi sama cerpenkan?" tanya Iqbaal.
"Tahu darimana?" tanya Raini.
"Pak Iwan,” jawab Iqbaal.
"Dia cerita?" tanya Raini.
Iqbaal mengangguk, Raini merasa canggung karena Iqbaal terus memerhatikannya.
"Semangat ya!" ucap Iqbaal.
Raini membelalakan matanya, dia sungguh tidak percaya dengan penuturan Iqbaal.
Semangat ya!
Kata itu sangat langka, Raini tersenyum.
"Semoga sukses,” ucap Iqbaal.
Raini mengangguk dan tersenyum. "Thanks Baal!"
Iqbaal masih ada di sana, Raini pikir setelah mengatakan itu dia akan pergi.
"Ada apa?" tanya Raini.
"Soal orang yang ngaku jadi adik laki-laki gue itu.,” Iqbaal menggantungkan ucapannya.
"Eh iya, dia siapa?" tanya Raini.
Iqbaal tersenyum, Raini memperhatikan setiap sudut wajah pria yang dia sukai ini.
"Dia abang gue,” ujar Iqbaal.
Raini terkekeh, "Kok ngakunya adik,” ujar Raini.
"Dia emang gitu orangnya. Dia mah jahil,” kata Iqbaal.
"Siapa namanya?" tanya Raini.
"Ryzki, panggilannya Kiki,” ujar Iqbaal.
"Salamin ya, sama Ula juga, terus sama adek lo yang satu lagi. Siapa namanya?" ujar Raini.
"Deby,” ucap Iqbaal.
"Ya, sama dia juga,” ucap Raini.
"Gak sekalian orang tua gue juga?" tanya Iqbaal, dia terkekeh.
"Iya deh, bilangin ya. Dari Raini,” ucap Raini.
"Gak ditambahi embel-embel di belakangnya?" tanya Iqbaal.
"Raini Raini, cewek terculun di kelas tapi tenar,” kata Raini.
Itu mengundang tawa Iqbaal, Raini juga ikut tertawa.
Raini merasa senang hari ini, karena untuk pertama kalinya dia bisa berbicara panjang lebar lebih dari kemarin dengan Iqbaal, dan juga bisa tertawa berdua seperti ini.
**
Senyuman Raini mengembang saat mengingat kejadian di kelas.
Tentu saja kejadian itu menjadi pengalaman pertamanya yang menyenangkan dengan Iqbaal. Eits, itu pengalaman keduanya, yang kemarin adalah yang pertama.
"Baal, apa lo punya perasaan yang sama?"
Raini membuka laptopnya, lalu dia mengetik kalimat puitis di sana.
Meringisku dalam kesunyian
Menangisku dalam kegelapan
Marahku dalam perselisihan diam
Wahai fajar, kapan aku bisa berterus terang?
Bersama dengan keindahanmu yang luput oleh malam..
Raini menutup laptopnya saat mengetikan kalimat itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Raini menoleh ke arah pintu kamarnya, lalu dia berdiri dan membuka pintu
Terlihat wanita cantik di depan sana, tapi beberapa keriput terlihat jelas di wajahnya.
"Raini, ayo makan,”
"Iya Mih,” ucap Raini.
Raini keluar dan menutup pintu kamarnya.
"Mamih siapin makanan enak buat kamu,” ujar Mamih Anita.
"Enak banget?" tanya Raini, dia terkekeh.
"Enak aja gak pake banget,” ucap Mamih.
Raini dan Mamih duduk dan membalikan piring yang ada di meja.
Mamih menyendokan nasi ke piring Raini.
"Aku ambil sendiri aja Mih,” ucap Raini.
"Iya sayang,” ujar Mamih.
Raini mengambil ikan goreng kesukaannya lalu dia memakan nasi dan ikan goreng itu.
"Raini,”
"Iya, Mih,” ujar Raini.
Mamih merasa ragu untuk membuka mulut. Tapi akhirnya dia membuka mulut juga.
"Besok, ikut Mamih jenguk Papih ya,” ujar Mamih, dia berbicara dengan lembut dan hati-hati.
Raini menghentikan aktivitasnya. Raini mengambil segelas air dan meneguknya.
"Besok aku sekolah,” ucap Raini, nada bicaranya terdengar malas.
"Pulang sekolah Raini, please!" ucap Mamih.
"Aku sibuk Mih,”
Mamih menundukkan kepalanya. Raini melahap makanannya.
'Kapan kamu bisa maafin Papih?' tanya Mamih dalam hati.
Bersambung...
Follow my ig @tikus_ttga