Hari ini secerah hari sebelumnya ketika bel terakhir berbunyi nyaring diseluruh lorong. Aku mengumpulkan barang barang ku dan berjalan keluar ke halaman. Didepan sudah menjulang sosok familiar yang selalu menemani ku.
Raven menjunjung tas nya tinggi tinggi. Menghalau sengatan matahari yang kian sadis musim ini. Ramalan cuaca mengatakan akan ada hujan, tapi langit terlalu cerah dan bersih dari awan mendung. Sorot hangat diatas kepala kami menyorot tengkuk ku tajam.
"Mau pergi ke pemandian hari ini?." Tanya Raven menyodorkan segelas limun yang dingin.
Aku tidak tau darimana dia mendapatkannya, jadi Aku hanya memegangnya dan tidak meminumnya sama sekali. Dia bisa saja iseng menambahkan sesuatu dan membuatku berakhir kembali diatas hal hal mengerikan.
"Kurasa tidak. Kamu bisa pergi dengan teman teman mu yang lain." Tolakku.
"Aku terus berfikir," katanya. "Kenapa kamu tidak pernah menerima tawaran dariku? Limun ditangan mu juga pasti akan berakhir di tong sampah setelah ini, benar kan?."
Aku mengangguk. "Temukan jawabannya sendiri. Aku tidak akan memberimu jawaban apapun."
Raven mendengus. Dia cemberut lalu langsung berubah riang ketika melewati cewek cewek berpakaian minim disisi kanan. Mereka saling menyapa dengan genit dan jalan pikirannya terputus ketika melihat sekumpulan geng motor di pelataran parkir.
Harry melambai kearah kami. Cowok jangkung dengan jaket kulit itu memberi isyarat agar kami mendekat kearahnya.
"Kenapa kalian lama sekali? Kami menunggu nyaris seharian," keluhnya.
Sejujurnya itu teman teman Raven. Dia punya begitu banyak teman. Mulai dari yang terbaik sampai yang paling buruk. Geng motor Harry bukanlah hal yang buruk. Mereka banyak membantu sekitar dan setiap akhir pekan ikut melakukan kegiatan amal di dekat gereja. Tampang garang itu hanya kamuflase untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan geng motor yang terkenal garang.
"Aku harus menunggu Papa muda ini selesai dengan jadwalnya." Tunjuk Raven kearah ku.
"Oh, kamu benar benar mengambil kelas ekstra?." Cetus Kaisar tidak percaya.
"Jangan meragukannya. Dia pintar, tidak seperti mu yang punya otak setengah!." Ledek Harry.
Seorang cowok bernama Rasyid merebut limun ditangan ku tanpa permisi. Dia menghabiskan nya dalam sekali teguk. Membuat semua orang menatap horor kearahnya.
"Pencuri kecil! Sudah ku peringatkan padamu untuk meminta izin dulu!." Tegur Madison memukul pundak Rasyid.
Aku meringis. Sementara Raven dan anggota geng motor lainnya tertawa. Madison selalu jadi anak yang sangat baik dan sopan. Sementara Rasyid adalah kebalikannya.
Madison membungkuk meminta maaf kearah ku dengan tulus. Pemilik iris zamrud itu menekan kepala Rasyid untuk menunduk dan meminta maaf dengan benar. Membuatku merasa sedikit canggung.
"Tolong maafkan dia." Pintanya tulus.
Aku mengangguk sambil bergumam tidak apa apa. Sementara tawa Raven dan Kaisar belum juga usai.
"Jadi kalian berdua akan ikut ke pemandian? Clark sudah memesan tempat didekat bar Noir. Kita bisa kesana setelah puas bermain air seharian dan menikmati pesta." Kata Kaisar. "Poli punya undangan dan pass untuk masuk. Kita bisa bertemu cewek cewek cantik dan berpesta sepanjang malam!." Lanjutnya penuh semangat.
"Uuuu..." mata Raven berbinar.
Aku menggeleng. Membayangkan diriku berada diantara desakan manusia dengan berbagai macam bau membuatku mual. Jadi dengan sopan Aku menolak dengan memberikan alasan logis.
Harry mungkin baik, tapi dia sedikit pemaksa. Alasan klasik tentang tugas jelas tidak akan diterima nya.
"Kali ini kuharap bukan tugas," peringatnya lebih dulu.
"Ayolah Riel, jangan terlalu memaksakan diri. Kamu akan tetap lulus tepat waktu atau bahkan lebih awal. Bersenang senang sedikit tidak akan membuat mu gagal!." Imbuh Kaisar.
Aku menghela napas dan menyodorkan ponsel ku. Disana tertera sebuah undangan online dari sebuah galeri seni ternama, lalu di salindia selanjutnya tiket turnamen basket. Aku kehilangan kata kata ku untuk memberi mereka alasan. Dan hanya ini jalan terakhir ku yang tersisa. Tangan ku kosong begitupun dengan otakku yang belum matang untuk persiapan apapun mengahadapi mereka.
Raven mendesah berat. "Aku tidak tau jika kamu punya jadwal sepadat itu!." Sarkasnya.
Harry menatap lekat kearah ku. Lalu mengangguk. Sepertinya dia menerima alasan ku dengan baik kali ini. Membuat ku bernapas lega untuk sesaat sebelum dia membuka mulutnya dan kembali mengoceh tanpa mau dibantah.
"Aku akan memberikan alamatnya. Datanglah setelah kamu puas melihat semua karya seni berharga itu!." Ujarnya acuh.
Madison menyengir lebar lalu menepuk pundak ku sekali. "Kamu tidak akan menyesal, jadi tolong datang sebelum Kai atau Clark datang dan menyeret mu."
"Ta-" kata kata ku hanya sampai di tenggorokan.
Rasyid kembali menyela. "Aku punya tiket menonton turnamen untuk kita semua. Ku harap kamu tidak lupa jika Ad dan Poli bermain untuk tim, jadi kita semua akan hadir untuk memberi dukungan."
Aku nyaris lupa jika Rasyid tidak mengingatkannya. Mereka semua bergegas menaiki motor dan menyalakan mesin. Raven naik pada boncengan Harry tepat setelah dia melemparkan senyum genit kearah seorang cewek dan berteriak kearah ku dengan nyaring.
"Hubungi Aku jika kamu sudah sampai flat. Makan dengan baik dan berhenti membaca semua surat tak bertuan mu itu!." Teriaknya lantang.
Aku memutar bola mata kesal. Berurusan dengan Clark bukan hal yang baik. Apa yang dikatakan orang orang tentangnya benar. Dia otoriter dan bagian terburuk nya adalah Aku tidak berdaya melawan nya.
Aku berbalik dan menemukan 2022 Mercedes-Benz C-Class hitam ku terparkir 10 meter dari tempat ku berdiri. Aku berlari menghampirinya dan langsung masuk. Meregangkan badan dan menghirup jok kulit dengan aroma lavender yang dingin didalamnya. Memberi ku perasaan tenang. Aku memutar kunci di starter dan mobil meraung hidup. Kami bergerak keluar lalu melaju membelah jalanan kota yang padat. Melewati jembatan gantung tua dengan pemandangan menyungai yang akrab. Rasanya kota ini sudah seperti rumah ku sendiri.
Begitu sampai di gedung dengan gaya klasik itu, Aku memarkirkan mobil kesayangan ku disamping sedan hitam milik tetangga flat ku. Dan segera menaiki tangga untuk sampai di kamar.
Begitu membuka pintu, aroma yang sama memasuki indera penciuman ku. Ini seperti obsesi. Aku meletakkan ransel dan menggantung kunci mobil didekat kulkas. Membuka pintu kulkas dan menemukan bahan makanan utuh yang melimpah. Aku tersenyum kemudian mengambil sebotol air dingin lalu menenggaknya perlahan. Membiarkan sensasi dingin mengaliri tenggorokan ku yang kering.
Tumpukan surat memenuhi meja diruang tamu ku. Dengan perasaan yang sulit di jelaskan Aku meraih salah satunya dan mulai membacanya kembali. Entah untuk yang ke berapa kalinya. Aku kehilangan hitungan ku sejak lama.
Tumpukan surat ini sudah ku kumpulan sejak beberapa tahun yang lalu. Semua isinya sama, hanya penanggalan nya yang berbeda.
Kertas kuning itu terbuka. Menampakkan tulisan tangan ku yang konsisten. Aroma lavender bercampur dengan kertas berpadu indah menjadi sebuah candu. Membuatku tidak pernah bosan dengannya.
London, 15 Januari 2021
Teruntuk masa lalu ku yang belum usai...
Masih segar di ingatan ku tentang hari hari yang kita lalui bersama. Dibawah naungan langit yang dingin, dimana matahari sesekali berhasil menyusup diantara relung awan. Ketika malam tiba, bintang bintang dan bulan menggantung dengan indah penuh kerlip warna warni.
Bumi berputar mengelilingi matahari, tetap berusaha bertahan didalam dekap langit yang perlahan runtuh. Gelombang air laut sesekali naik. Menyapu daratan lebih tinggi, membawa ikan laut dalam sampai ke permukaan.
Diantara itu semua,
Aku menemukan mu.
Si kanvas hitam yang mampu menelan ku tanpa sisa. Membuat jantung ku berdetak lebih kencang seperti menaiki rollercoaster.
Pemilik jemari lentik pengisi ruas jari jari ku yang kosong. Begitu pas, tak ingin tergantikan.
Bisakah kita berjanji untuk tidak menyerah lagi? Bisakah kita bertahan sekali lagi jika terlanjur ingkar? Berjuanglah bersamaku, kita temukan bersama apa itu bahagia dan membangun keluarga kita sendiri.
Mau, ya?.
Matahari
☔☔☔
Aku membaca surat yang kutulis berulang kali. Tak pernah ada kata bosan. Ketika Aku akhirnya menyelesaikan semua surat diatas meja, jam menunjukkan pukul 8 malam. Masih ada 45 menit lagi sebelum pembukaan galeri.
Aku merapikan semua surat diatas meja dan meletakkannya pada posisi semula. Lalu bersiap mencari jalan untuk bertemu dengan masa lalu.
30 menit kemudian mobil ku melaju membelah jalanan London. Tak lupa di atas dashboard, kotak surat mini bertengger manis. Aku mengambil salah satu surat dari dalamnya ketika hendak turun.
Merapalkan doa dan langsung memasuki galeri. Kedatangan ku disambut oleh jejeran karya seni bernilai tinggi yang apik dan mempesona.
Ivy, pemilik dari semua karya seni yang ada dalam galeri ini menghampiri ku. Aku memberikannya sebuket bunga sebagai ucapan selamat.
"Kipikir kamu tidak akan datang," sapanya hangat.
"Aku tidak punya alasan untuk tidak datang." Sahut ku sambil tersenyum.
"Baik, kemarilah. Aku punya kejutan untuk mu!." Dia menarik ku kearah sudut ruangan.
Mataku terpaku menatap dinding. Sebuah lukisan besar terpajang megah didepan sana. Goresan kuas nya membawa nostalgia untukku. Ini benar benar sebuah kejutan!.
"Darimana kamu mendapat inspirasi?." Tanya ku setengah tidak percaya.
"Ini karya besar yang ku bicarakan dengan mu saat itu. Kami menyelesaikan nya bersama dalam waktu yang lama!."
Aku merasakan tenggorokan ku tercekat. Tangan ku hendak menggapai lukisan, namun segera terhenti. Kepala ku berputar menghadap Ivy. Cewek itu memamerkan senyum paling menawan yang dia miliki. Dia mungkin berfikir bahwa Aku akan memujinya. Tapi tidak.
Aku linglung sesaat. Merasakan jantung ku kembali berdetak kencang. Kepalaku mencari cari keberadaan seseorang. Diantara banyaknya pengunjung, Aku mencoba menemukan sosok familiar yang selama ini begitu ku rindukan.
"Apa yang kamu cari?." Tanya Ivy.
"Dia...dimana dia?."
"Siapa?."
"Seseorang yang membuat lukisan ini bersama mu!." Sergah ku.
Aku tidak dapat melihat ekspresi Ivy. Cewek itu terdiam sesaat sampai kembali membuka suara.
"Dia baru saja per-"
Aku berlari keluar tanpa sempat mendengar kalimat Ivy berakhir. d**a ku terasa amat sesak. Surat ditangan ku sudah nyaris tak berbentuk. Hampir sama dengan keadaan hatiku. Rasanya sulit sekali membayangkan Aku kehilangan dia lagi di tempat sedekat ini.
~Rain Hurts~