Aku kembali dengan perasaan tidak karuan. Tanpa berpamitan pada Ivy, Aku pergi. Meninggalkannya tanpa kata ditengah suka cita perayaan pembukaan galeri seni nya.
Rasa rasanya memang berlebihan untuk bereaksi seperti ini. Meninggalkan kebingungan yang begitu besar dalam benak Ivy dan lari dari hal yang begitu samar.
Sejujurnya Aku tidak ingin jadi sangat kurang ajar, tapi hatiku tidak bisa diajak berkompromi. Rasanya sulit sekali. Pikiran ku tidak sampai untuk mengatakan sepatah katapun pada cewek itu.
Membuang diri kearah sofa. Aku menutup mata dengan lengan ku. Sembari menghirup dalam dalam aroma lavender dingin yang memenuhi seisi flat. Berusaha menenangkan diri.
Ponsel ku bergetar beberapa kali. Aku mengeluarkannya dari saku dengan malas lalu melemparnya kearah meja. Benda pipih itu kembali bergetar hingga terjatuh dari meja dengan sembrono, namun tak lantas membuat ku ingin memungutnya dan melihat apa yang terjadi didalamnya.
Menghela napas berat. Mataku menatap langit langit dengan perasaan sesak. Aku tercekik oleh perasaan ku sendiri sampai sulit bernafas.
Aku berbalik dan menemukan tumpukan surat serta aroma khas yang selalu mengingatkan ku padanya. Memegangi dadaku yang terasa sakit. Memori tentang nya kembali berputar.
Begitu lancar hingga membuat ku ingin mengulang segalanya kembali. Menata masa lalu dengan lebih baik, hingga masa depan kami tak harus diisi dengan penyesalan dan rasa rindu yang tak berujung.
Dia menari nari didalam kepalaku. Mataku seolah dapat melihat ilusi tentang pertemuan pertama kami yang luar biasa membekas didalam bebakku yang rapuh.
Seperti bait puisi. Kata katanya ringkas, dalam, penuh makna namun terkadang sulit untuk ku pahami. Terkadang tak hanya ucapan, namun juga tingkah lakunya membuat ku berfikir keras tentang bagaimana otaknya berjalan.
Saat usia ku 8 tahun, diakhir bulan september, ketika angin berhembus pelan membelah ruang demi ruang setiap orang. Aku menemukannya.
Bila biasanya orang orang akan menemukan seorang gadis kecil yang manis, penuh binar kehidupan, serta rasa ingin tahu yang tinggi. Aku menemukan spesies yang berbeda dari yang lainnya.
Tak ada senyum manis. Apalagi mata berbinar penuh kehidupan. Harapan untuk bersenang senang dimasa kecil tidak ada. Tawa riang tak pernah sekalipun ku dengar darinya. Ekspresinya tetap sama. Entah dia marah, kesal ataupun bahagia. Semuanya datar dan bersih. Seperti kanvas putih tanpa noda. Namun sekali dia membuka suara akan meninggalkan noda permanen pada pendengarnya.
Pertama kali ku ulurkan tangan. Bersalaman dengan tetangga sekaligus teman baru. Bunda selalu mengajarkan kami untuk bersikap ramah dan baik pada semua orang. Jadi, meskipun perasaan ku sedikit tidak nyaman saat melihatnya, tetap ku paksakan diri untuk sedikit beramah tamah.
"Rillo. Gabriello Helios Waldhana." Ujar ku menanti uluran tangannya.
Dia terdiam. Sorot matanya kosong. Entah sedang melamun atau menatap sesuatu secara mendalam. Ku lirik pelan kearah dekapan mungil nya. Sebuah buku sketsa kecil dengan bolpoin di sisinya. Buku kuning cerah, bergambar matahari dan jerapah yang tengah memakan daun. Tampak begitu ceria, sangat kontras dengan dia yang seolah ingin mati.
"Buku yang bagus. Aku juga punya beberapa dirumah. Yah...meskipun bukan milikku." Kata ku mencoba menarik perhatiannya.
Dia masih bergeming. Langit perlahan lahan mulai redup. Nyala lampu saling bersahutan. Menerangi setiap rumah dan jalan di blok ini. Udara dingin menyapu apapun. Baju basket ku yang basa oleh keringat mulai terasa kering. Namun meninggalkan lengket dimana mana.
Aku menarik kembali uluran tangan ku. Dia mungkin merasa jijik karena Aku penuh keringat. Telapak tangan ku juga pasti kotor. Biar bagaimanapun bola basket itu cantik namun kotor. Ada jutaan kuman serta bakteri yang mungkin saja menempel diatasnya.
"Ah...maaf, tangan ku pasti kotor." Ringis ku canggung.
"Di dekat sini ada lapangan. Setiap sore Aku dan teman teman yang lainnya bermain basket. Kamu bisa ikut besok. Ada tempat melukis juga disana!."
Rembulan mulai naik keatas langit. Menggantikan matahari. Menyinari langit padam sesaat. Pantulan cahaya disekitar membias mengelilingi kami. Entah perasaan ku saja atau ini memang nyata.
Bunda bilang hal yang tak benar benar terjadi bisa saja sebuah ilusi. Hasil dari rangsangan yang diperoleh dari salah satu atau beberapa pancaindra salah diartikan, sehingga tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Aku seperti terkoyak dan terbuai dalam satu waktu. Napas ku memberat sesaat. Hanya sepersekian detik. Jantung ku berdetak jauh lebih kencang daripada saat bermain basket.
"I-itu, rumah ku disana." Tunjukku gugup.
Dia melirik sekilas. Tak ada emosi sama sekali. Membuat ku patah seketika. Tampaknya itu memang sebuah ilusi semata.
Kanvas kosong didepan ku ini tak mungkin tersenyum kan?. Bahkan hanya sesaat?.
"Rumah kita berseberangan. Bunda bilang kita mungkin bisa berteman dengan baik. Jadi, hari ini Aku menghampiri kamu langsung." Aku ku sedikit malu malu.
Ku harap dia akan sedikit mengangguk atau memberikan respon lainnya. Tapi tidak. Mungkin akan lebih baik meminta rembulan menusuk ku sampai busuk.
Tidak pernah ku rasa segugup ini dalam 8 tahun awal kehidupan ku. Dia orang pertama yang memberi ku pengalaman seperti berbicara pada batu.
Oh tidak! Atau mungkin seperti berdoa sambil mengadah langit. Terus berbicara tanpa respon secepat kilat menyambar.
Aku jadi terdengar sangat memaksa. Dia mungkin tengah menertawakan Aku didalam hatinya. Dan, karena itu Aku bertambah gugup hingga melihat ilusi demi menenangkan diri.
"Jika butuh sesuatu, atau kamu ingin bermain maka datanglah kerumah ku." Ajak ku.
Menggaruk tengkuk gugup. Aku tersenyum canggung. Menatapnya sekali lagi, dan terus menemukan pemandangan yang sama. Wajah datar tanpa ekspresi.
"Kalau begitu...Aku pergi dulu. Sampai ketemu besok!." Pamit ku kemudian berlari pergi.
Tak berani menengok kebelakang, tapi dapat dipastikan dia masih menatap kearah ku sampai Aku melewati gerbang.
Bunda menyambut kedatangan ku dengan senyum hangat. Nampaknya bunda memperhatikan kami sejak tadi. Wajah lembutnya berseri seri, dan ekspresi ini akan muncul setiap kali ia senang akan sesuatu.
"Bukankah dia manis?." Sambut Bunda.
Aku mengernyit. Lalu menggeleng. "Tidak sama sekali." Bantah ku telak.
"Sungguh? Tapi, menurut bunda dia sangat manis."
Yang benar saja!.
Dia membuat langit cerah ku padam. Tanpa bicara. Tanpa berkedip. Tanpa bergetar. Hanya dengan berdiri disana, mendengar semua kegugupan ku.
Sangat tidak manis!.
Selera orang dewasa dalam menilai sesuatu memang aneh. Sangat sulit untuk dimengerti. Dan Aku baru menyadari hal ini ketika beranjak dewasa. Bahwa tidak semua hal manis terlihat manis secara kasat mata.
Aku memberanikan diri untuk menengok ke belakang dan menemukan dia masih berdiri disana seperti patung porselen yang rapuh. Kulitnya yang bening seolah memantulkan cahaya kekuningan dari lampu jalan. Rambut coklat nya jadi menyala. Berubah warna menjadi keemasan. Benar benar indah.
Aku terlalu gengsi untuk mengakui itu dahulu. Jadi setiap kali Bunda atau siapapun memujinya, maka Aku akan menjadi orang pertama yang membantahnya dengan keras.
Menyalak kearah mereka untuk diam. Namun mengiyakan dengan lebih keras didalam hati. Keindahannya membuatku terpana kapan pun dan dimanapun. Membuatku ingin menyembunyikan nya dari dunia luar. Dan menyimpan nya untuk diriku sendiri sampai mati.
~Rain Hurts~