Setelah pertemuan pertama ku dengannya yang begitu canggung dan penuh kegugupan. Aku dapat memastikan bahwa tidur ku tidak senyenyak atau setenang biasanya. Dan hal itu terus berulang hingga detik ini.
Setelah mendengar ramalan cuaca dari radio dan beberapa lagu yang diputar atas permintaan para pendengar setia. Aku mematikan benda antik itu dan mengambil posisi paling nyaman untuk tidur.
Tetapi sebelum itu, Aku mengintip dari jendela. Melongokkan kepala ku kearah kamar Bang Manu hanya untuk menemukan bahwa lampu kamarnya masih menyala. Yang berarti dia masih sibuk bergelut dengan pelajarannya. Dia sosok paling ambisius yang pernah Aku temukan diantara anak anak dalam kompleks perumahan ini.
Setelah itu Aku kembali ke tempat tidur dan menarik selimut hingga batas d**a. Menutup mata perlahan sembari berdoa pada tuhan agar Aku dilindungi ketika tidur dan tetap bisa bangun lagi keesokan harinya.
Malam bernapas pelan. Dan, akupun terhirup pukat khayalku sendiri. Seperti luka menganga, akupun terdampar.
Tapi tidak biasanya Aku bermimpi. Hanya sesekali. Selama ini Aku terlalu lelah bermain basket, hingga tertidur lelap saat malam dan terbangun dengan perasaan kosong. Dibeberapa kesempatan akan terasa lebih bugar, namun kebanyakan kosong.
Momen langka untuk bermimpi lalu mengingatnya setelah bangun. Aku perlu bertanya pada Bunda. Jadi Aku memutuskan untuk bertanya saat sarapan. Karena hanya di moment inilah Aku bisa bertemu semua anggota keluarga tanpa terkecuali.
"Jangan bicara saat makan, Rillo." Tegur papa ketika aku hendak bertanya dimana Bunda.
"Tapi-"
"Makan dengan benar, atau kamu akan tersedak." Potong Papa.
Aku tak punya pilihan selain menurut. Memakan kembali sereal nomor 14, dan ramalan cuaca harian mengatakan bahwa hujan mungkin akan mulai turun dalam beberapa hari kedepan. Sudah hampir bulan oktober, artinya musim penghujan akan berlangsung sampai april.
Bang Manu sedang khusu memakan sarapannya. Orang aneh ini makan yupi lagi sebagai sarapan. Bunda belum melihatnya, jadi dia mungkin tidak akan dapat teguran apapun. Papa tidak akan menegur anak emasnya. Jika bisa, satu kotak ice cream mungkin akan diberikannya untuk sarapan.
Namun baru beberapa detik pikiran itu berlalu, Bunda keluar dengan setelan rapihnya. Dan langsung berteriak marah kearah Bang Manu.
"Manu!." Teriaknya.
Yupi buaya di tangan bang Manu jatuh ke lantai.
Wajahnya masam. Papa cepat cepat meneguk kopinya. Hendak melarikan diri.
"Sudah berapa kali Bunda bilang jangan makan yupi?!. Gula darah mu bisa naik!."
"Hanya sedikit." Kilahnya.
"Tetap saja!." Tandas Bunda.
Bunda memberi tatapan tajam kearah Papa. Aku memakan sereal dengan perasaan menggebu. Ini pasti akan jadi seru. Papa tidak pernah menang melawan Bunda. Kecuali jika Papa merayu nya maka Bunda akan luluh dengan kecepatan kilat.
"Bukankah ini kelewatan batas, Pa?." Kata Bunda.
"Hanya sedikit," balas Papa. "Tidak akan ada masalah. Biarkan anak anak memakan apa yang mereka mau. Juga, Manu perlu meningkatkan mood nya. Hari ini dia akan ujian." Lanjutnya memberi alasan basi.
Aku hampir tersedak. Harusnya ini tidak mengejutkan lagi. Bang Manu adalah anak kesayangan Papa. Tapi, mendengarnya menjawab begitu tenang, sementara ekspresi Bunda mengeras membuatku merinding.
Disisi lainnya Bang Manu mengangguk anggukan kepalanya. Ekspresinya polos, seolah dirinya tak merasa berbuat salah sama sekali.
Papa menepuk bahu Bunda sekali, dan ketika Bunda menoleh ke arahnya, ia mencium Bunda didahinya. Ada cicitan aneh dari ciuman itu yang hampir membuatku menyudahi sisa sereal ku.
"Mari bahas ini nanti, Sayang. Anak anak bisa terlambat. Papa juga ada rapat penting."
Bibir Bunda membentuk senyum. Perubahan suasana hatinya begitu drastis. Aku tidak tau manusia bisa berubah secepat itu, tapi kenapa dia bahkan tidak berubah sama sekali kemarin?.
"Baiklah, Cinta. Sampai nanti." Luluh Bunda.
"Rillo, habiskan sarapan mu. Manu, minum air putih." Perintah Bunda kearah kami.
Aku kehilangan minat, tapi tidak punya cukup keberanian untuk menyia nyiakan makanan. Mau tidak mau Aku menghabiskan sisa sereal yang ternyata dua sendok lagi.
Bang Manu segera menenggak dua gelas air mineral. Kemudian berlalu dari meja makan untuk menemukan sepasang kaus kaki hijau nya.
Bunda memberikan bekal kami masing masing. Ia menyampirkan tas Bang Manu pada bahu nya, lalu padaku. Sebuah kecupan kami terima sebelum masuk ke mobil Papa. Setelah kami melambai dengan penuh semangat, mobil Papa mulai berjalan keluar gerbang. Meninggalkan Bunda dan pertanyaan ku yang mengambang di meja makan.
Aku mengingatnya kembali ketika tidak sengaja menatap gerbang rumah cewek pendiam itu. Mendesah kecewa. Ini tidak memungkinkan untuk bertanya pada Bang Manu dan Papa karena itu hanya akan membawa celaka untukku. Mereka akan meledek ku habis habisan jika tau!.
☔☔☔
Ku pikir Aku sudah terbangun dari mimpi. Tapi ternyata belum.
Atau sudah?.
Oh...Aku bingung sekali!.
"Rajen, bisa pukul aku keras keras?." Pinta ku pada Rajen.
Pipi tembamnya hampir tumpah. Dia menatap kearah ku dengan bingung.
"Kenapa?."
"Pukul saja."
"Kamu gila?."
Aku berdecak. Memang apa susahnya memukul orang lain?.
"Aku minta dipukul, bukan dikatai!." Dengus ku.
Rajen mempoutkan bibirnya. Tangannya yang besar dan penuh lemak menampar paha ku. Memberikan serangan kaget yang hebat. Mata ku hampir melompat dari tempatnya.
"Sakit..." ringis ku pelan.
"Maaf. Kamu yang meminta di pukul. Harusnya minta pada Raven saja tadi." Sesalnya.
"Kalian kenapa?." Sahut Raven.
Anak Arab itu menoleh kearah kami. Mata bulat nya mengerjap lucu.
"Rillo minta di pukul. Lalu Aku memukulnya. Tapi, setelah itu dia mengeluh sakit." Papar Rajen jujur.
"Dasar aneh!."
"Aku hanya berusaha memastikan." Balas ku tak terima.
"Memastikan apa?." Tanya Rajen dan Raven nyaris bersamaan.
"Itu." Tunjuk ku kearah bangku depan. Didekat pintu.
Mereka langsung menoleh. Alis tebal Raven terjun kebawah. Sedang Rajen nampak kebingungan lagi. Buntelan ini memang sedikit lola, tapi dia baik.
"Dia kenapa?." Tanya Raven.
"Bukannya dia anak baru?." Imbuh Rajen ketika akhirnya mengerti maksud ku.
Aku mengangguk. "Siapa namanya?."
"Seberia?." Rajen tak yakin.
"Severia." Koreksi Raven. "Namanya Severia. Suaranya kecil. Jadi butuh usaha ekstra untuk mendengarnya." Tambah nya percaya diri.
Aku mengangguk paham. Memang benar. Suaranya ternyata sekecil itu. Jadi, Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Iya. Itu dia. Spesies aneh yang kemarin ku temukan. Sangat mengejutkan melihatnya ada dikelas yang sama dengan ku. Rasanya seperti mimpi.
"Kamu suka dia?." Tanya Rajen.
Aku buru buru menggeleng. "Yang benar saja!." Bantah ku berang.
"Kami bertemu kemarin. Dia tetangga satu blok ku." Ujar ku. "Kalian ingat rumah kosong didepan rumah ku? Unit itu terjual. Dan dia anak dari pemilik baru."
"Kalian bertemu, tapi kenapa kamu tidak tau namanya?." Tanya Raven heran.
"Dia sangat pendiam. Aku seperti berbicara sendiri kemarin. Dia hanya melirik, lalu ekspresinya tidak berubah sama sekali!."
"Wah! Tidakkah itu sombong?." Tanggap Rajen.
"Nampak jelas sih. Aku memperhatikannya, dia mungkin tipe cewek pendiam yang suka membuat penasaran." Imbuh Raven mendekatkan diri.
"Seandainya kalian ada disana, mungkin kalian akan merasakan gugup yang begitu besar. Kaki ku bahkan melemas!."
"Aw! Itu terdengar sangat menakutkan." Rajen merinding.
"Benarkah kamu merasa gugup?." Ledek Raven.
Aku mengangguk. "Kalian bisa melihatnya nanti. Kita ajak dia bicara."
Raven dan Rajen segera mengangguk semangat. Kami menyudahi pembicaraan dan kembali fokus pada kelas. Bila ketahuan guru, kami pasti akan kena hukuman.
Aku melirik kearahnya sekali. Kemudian bergumam kecil.
Jadi namanya Severia?.
Aku sempat berfikir bahwa dia tak semanis namanya. Sampai Aku menemukan bahwa Severia adalah rumah terbaik dan termanis yang pernah ku tinggali.
~Rain Hurts~