"Asyik banget lihatnya, dari kemarin belum kelar juga?," celetuk Dilara sambil merebahkan tubuhnya di samping Norine.
"Iya nih Mbak Dila," jawab Norine yang matanya masih fokus menyimak drama cina.
Sebentar Dilara melihat ke ponsel Norine, karena penasaran dengan ekspresi wajah gadis di sebelahnya itu menunjukkan keterkejutan dari alur kisah dalam drama tersebut.
"Ih, wajahnya imut banget Rin." Dilara memberi sedikit respon pada pemain yang ada di dalam drama itu.
"Emang, tapi dia jahat."
"Lo kenapa?,"
"Dia dalang dari semua kejadian dalam drama ini," terang Norine yang sudah mengubah posisi tubuhnya.
"Oh."
Hari minggu waktunya bersantai bagi Dilara dan Norine, memanjakan diri dengan rebahan sambil memandang langit-langit kamar asrama yang sudah dipenuhi dengan sarang laba-laba. Terkadang mereka mengisi hari minggu mereka dengan bercerita tentang apa saja. Kecuali membaca, Dilara tidak suka itu, demikian juga dengan Norine.
Minat membaca mereka sangat rendah, hanya sekitar lima puluh persen dari seratus prosentase. Kegiatan yang paling menjadi favoritnya adalah menikmati serial drama korea dari berbagai genre.
Namun pagi ini, Dilara menolak ajakan Norine yang dari kemarin sudah maraton melihat drama korea. Gadis berambut sedikit ikal di bagian bawah itu, lebih memilih melihat beberapa IGS dari akun i********: yang ia ikuti.
“Brem, brem, brem.”
Terdengar bunyi sepeda motor yang sangat memekakkan telinga. Norine yang sedang mengantuk seketika langsung berlari menuju jendela kamar yang terbuka lebar lalu berteriak,
“Woi, ajari motornya sopan santun dong, sudah tahu waktunya orang tidur, masih saja seenak dengkul mainin knalpot motor. Dasar gak ada akhlak."
“Hush, anak gadis itu kalau bicara yang sopan dong. Apa bedanya sama suara knalpot motor yang baru saja kamu maki," tegur Dilara yang sudah berdiri di samping Norine.
Keduanya memperhatikan lelaki yang baru saja memarkir motor sportnya di depan rumah Pak Darman.
“Siapa mbak?," tanya Norine kemudian.
“Ya mana Mbak Dila tau rin,” jawab Dilara.
Dilara belum pernah melihat lelaki itu datang bertamu ke rumah sahabat ayahnya itu, dan siang itu adalah kali pertama gadis itu melihat lelaki yang memiliki postur tubuh sedikit padat dan tinggi.
Dari jendela kamarnya, Dilara terus memperhatikan lelaki yang baru saja melepas helm, dan menggantungnya pada gagang setir motor sebelah kanan. Ia sedikit tersenyum geli, ketika melihat lelaki itu mendekatkan wajahnya ke kaca spion guna merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
“ Wah, ganteng banget mbak cowok itu," celetuk Norine begitu melihat wajah yang sedari tadi bersembunyi di balik kaca helm berwarna hitam.
Dilara membenarkan ucapan Norine di dalam hatinya, ia sama melongonya dengan Norine saat tahu bahwa lelaki berkemeja marun itu parasnya seperti lelaki yang memilik darah campuran turki-india, namun hal itu tidak ia tunjukkan dengan gaya yang berlebihan.
“Oke aku setuju dengan kamu, dia memang ganteng, tapi…(tuk)”, Dilara menjitak pelan jidat Norine.
“Au sakit mbak”, rintih Norine kesakitan sambil memegang jidatnya yang terasa nyut-nyutan.
“ya makanya, ndak usah segitunya kalau memandang cowok."
“Masak memandang saja tidak boleh, siapa tahu nasibku bisa seperti Cinderella. Upik abu ketemu pangeran tampan."
Dilara hanya tersenyum melihat harapan yang tersembunyi dalam perkataannya.
"Mbak Dila sendiri, kenapa masih memandangnya?," protes Norine padanya.
Dilara memang masih terus menatap lelaki berambut jabrik itu, yang perlahan mulai menghilang dari ruang edar mereka berdua.
"Mau tahu aja," tukas Dilara sambil kembali berjalan ke tempat tidur.
“Hayo, kesemsem kan?," goda Norine yang kemudian mengikuti langkah Dilara kembali ke tempat tidur.
“Sok tahu."
Baru saja Dilara kembali memegang ponselnya, benda pipih itu bergetar. Muncul nama Pak Darman di sana.
“Halo Om. Iya di kamar. Siap om. Dila akan turun secepat kilat." Dilara menutup sambungan teleponnya.
“Pak Darman ya mbak?," tanya Norine dengan cepat.
“Iya," jawab Dilara disertai dengan anggukan kepala.
“Tuh kan, pasti dikenalin sama cowok keren tadi. Enak banget hidup mu Mbak."
Lagi lagi Dilara hanya membalas sikap Norine yang sedikit kesal itu dengan senyum lebar, dan memberi sebuah ciuman kecil di kepala gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri.
Keduanya hampir mempunyai sifat yang sama, mereka punya banyak persamaan. Hanya saja, Dilara sedikit lebih dewasa dari pada Norine, dan memiliki tubuh yang lebih tinggi dari pada gadis yang selalu menjodohkannya dengan Afkar.
Mereka juga suka blakraan, asal ada waktu senggang mereka pasti sudah pergi menjelajah ke tempat yang belum mereka datangi. Meskipun tempat itu jauh, dan hanya menikmati semangkok bakso mereka sudah bahagia bisa pulang dengan membawa oleh-oleh sebuah momen yang mereka abadikan dengan kamera ponsel mereka.
Tapi, mereka tidak bisa sembarang pergi. Izin dari Pak Darman harus sudah mereka kantongi terlebih dahulu. Selama itu siang hari, Pak Darman pasti memberi izin.
Asrama ini bebas beraturan, artinya yayasan tidak membatasi gerak kreatifitas siswa dan penghuni asrama untuk saling bekerjasama dengan lawan jenis. Tapi harus taat peraturan yang sudah ditetapkan oleh kepala yayasan dan asrama. Salah satunya, seluruh penghuni asrama harus sudah masuk asrama saat jam malam sudah berlaku, yakni jam sembilan malam. Keluar asrama pun harus jelas tujuannya.
Bagi Pak Darman, seluruh penghuni asrama adalah titipan orang tua mereka yang harus dijaga seperti menjaga anak sendiri. Terlebih pada Dilara, Pak Darman harus benar-benar tahu dengan siapa anak sahabatnya itu bergaul. Keluar malam hanya boleh dengan keluarga Pak Darma dan Afkar saja. Selebihnya, tidak ada alasan untuk mengizinkan Dilara keluyuran malam-malam.
Dilara membuka lemari bajunya, mencari baju yang lebih sopan, dan pilihannya jatuh pada kaos motif tie dye berwarna ungu muda yang dipadukan dengan celana jins berwarna gelap. Setelah menukar bajunya dengan baju yang lebih sopan, Dilara langsung turun dengan rambut yang dikuncir ala kadarnya tanpa merapikannya lagi.
Sepuluh menit berjalan kaki, Dilara sudah sampai di depan rumah pak Darman. Ternyata, di sana sudah ada Afkar, Pak Darman beserta Bu Arum dan lelaki yang sudah mengusik ketenangan istirahat siangnya tadi. Mereka sudah duduk-duduk di kebun belakang, di bawah rimbunnya pohon jambu darsono, sambil menikmati kudapan yang ada di atas meja.
“Hai Dila, ayo sini," panggil Pak Darman yang sudah menyadari kehadirannya.
Dilara pun mendekat, dan hampir terjatuh karena tersandung kaki Afkar yang sengaja dijulurkan untuk membuat Dilara jatuh.
“Aduh”, pekik Dilara kesakitan sambil melotot ke arah Afkar yang cuek seolah itu bukan perbuatannya.
“Eit hati-hati dong sayang," ucap bu Ambar karena cemas.
"Hehehe, iya tante”. Dilara langsung duduk di samping lelaki berkemeja marun tadi. Aroma parfumnya menguar tersapu angin dan seketika aroma itu meninggalkan jejak di benak Dilara. Aroma parfum yang lebih menyengat, dibanding dengan aroma parfum Afkar yang sangat akrab dengan indra penciumannya.
“Itu Om, Afkar tadi mencoba menghalau jalanku." Dilara mengadu pada Pak Darman layaknya seorang anak kecil terhadap ayahnya.
“Fitnah," ucap Afkar membela diri.
“Om,” rengek Dilara sambil bergelayut manja pada lelaki berusia enam puluh lima tahun itu.
“Bohong Pa”,
“Stop." Bu Arum menghentikan perdebatan diantara Dilara dan Afkar. Sebab ia tahu, tidak ada yang akan mengalah. Ya, bu Arum sangat menghafal dengan perilaku keduanya jika sudah bertemu dalam satu forum. Kecuali, saat mereka sedang rapat. Pertengkaran itu akan berhenti, mereka sudah tahu posisinya masing-masing.
“Kalian itu yah, dari kecil kok ya ndak pernah bosen bertengkar terus. Dulu, kalian bertiga kalau sudah berkumpul yang menjadi peredam ya Farabi. benerkan Pa?,” ucap Bu Ambar sambil melihat ke arah Pak Darman.
“Iya," ujar pak Darman membenarkan ucapan istrinya. Dan sedikit memberi tambahan, “Yang paling sering menangis itu Afkar, padahal dia cowok. Afkar juga selalu kalah dari Dilara." Pernyataan itu, seketika membuat mereka tergelak bersama.
Dilara sedikit bingung dengan perkataan Pak Darman yang menyebut dengan kalian bertiga, yang dua sudahlah tentu dirinya dan Afkar, lalu yang satunya?. Lalu Nama Farabi menjadi tanda tanya di benaknya.
“Kami bertiga Om?," tanya Dilara penuh telisik. Sebab dalam ingatan Dilara, hanya ada satu anak cowok yang selalu bertengkar dengan dirinya yakni Afkar.
“Iya sayang, kalian bertiga," tegas bu Ambar.
Dilara masih tidak mengerti. Di ambilnya kue kering berbentuk tipis dengan rasa gurih manis, namanya lidah kucing dari dalam toples lalu mengunyahnya pelan sambil menunggu jawaban dari orang tua angkatnya itu.
"Kamu, Afkar sama Farabi ini, dulu kan sering main bareng sebelum akhirnya orang tua Farabi pindah ke jogja," terang Bu Ambar sambil menunjuk Farabi yang duduk di sebelahnya.
“Oh, namanya Farabi to," sahut Dilara sambil mengangguk tanda mengerti.
“Jadi dari tadi kamu tidak tahu siapa dia?," tanya Bu Ambar terkejut
Dilara menggeleng. Dirinya benar-benar tidak mengingat siapa lelaki itu sebenarnya, ingatan tentang Farabi benar-benar menghilang dari memori internal di otaknya.
Rentetan kisah masa lalu dengan indah diceritakan oleh Bu Ambar. Pada kisah yang lucu, mereka langsung menabur tawa sampai menahan perut. Namun tak demikian dengan Farabi, ia yang masih diam hanya melukiskan sedikit senyuman di wajahnya. Dia memang yang paling pendiam di antara Afkar dan Dilara, tapi justru dialah yang punya jiwa sosial paling tinggi.
Dulu, pernah saat berwisata keluarga, Bu Ambar jatuh terpeleset karena memakai sandal berhak terlalu tinggi, dengan sigap Farabi datang membantu perempuan yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri berdiri, lalu memberi pijatan kecil dengan tangan mungilnya.
Pijatan Farabi tak berefek apapun, karena memang usianya masih enam tahun. Meski begitu Bu Ambar sangat senang. Farabi kecil punya jiwa yang sangat peduli dengan penderitaan orang lain. Sedang Dilara dan Afkar, sibuk bermain ayunan yang ada di tempat wisata tersebut.
Farabi hanya tersenyum mendengar Bu Arum dan Pak Darman yang kembali memutar ulang video lama tentang masa kecil mereka, yang sudah hampir mereka lupakan. Dia tidak banyak berkata, hanya sesekali memberi respon sebagai tindakan bahwa dirinya menyimak awal pertemuan dirinya dengan keluarga sahabat ibunya itu. Dan mungkin akan menjadi memori baru yang akan tercipta.
Hari sudah semakin sore, banyak kisah yang tak bisa diceritakan kembali hanya dalam waktu satu hari. Butuh banyak waktu untuk mengingatkan kembali tentang masa lalu mereka yang sudah terkubur dengan memori baru.
“Wah, sudah jam empat. Saatnya kita bersiap."
“Ke mana Tante?,” tanya Dilara penasaran.
“Kita akan makan malam ke tempat yang paling kalian suka saat kalian masih kecil, begitu ya Farabi?," jawab Bu Ambar.
“Iya Tante," ucap Farabi memberi dengan anggukan kepala.
“Ada gitu Tan?. Di mana?," tanya Dilara penuh selidik.
“Ada dong, adakan ya Pa?”. Bu Arum melempar tanya kepada pak Darman yang terlihat kikuk sebab dia tidak mengajak Afkar dan Dilara ke sana.
“Masak sih pa, kenapa selama ini aku tidak pernah di ajak ke sana?," protes Afkar, yang kemudian disambung oleh Dilara.
“Iya nih, Om dan Tante curang."
“Bukannya kami curang sayang, sejujurnya kami para orang tua sepakat untuk tidak lagi kembali ke tempat itu setelah Farabi diboyong ke jogja oleh ibunya."
“Kenapa?." Dilara kembali bertanya, namun tidak mendapatkan jawaban.
“Sudah ayo kita bersiap, nanti tempatnya keburu penuh," ajak Bu Arum tanpa memberi jawaban pada Afkar dan Dilara.
Dilara kembali ke kamarnya. Ditengah perjalanan, Dilara menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang melihat pemandangan dua orang lelaki yang terlihat sangat akrab tanpa rasa canggung karena sudah lama tidak bertatap muka.
Afkar melingkarkan tangan kanannya ke pundak Farabi, yang kemudian dibalas Farabi dengan melakukan hal yang sama. Pertanda mereka saling melepas rindu, mereka masih saling berhubungan. Sontak hal itu memunculkan tanda tanya di benak Dilara, kenapa selama ini Afkar tidak pernah cerita soal Farabi?, kalimat itulah yang kemudian muncul di benak Dilara.
Farabi, nama itu seolah tenggelam jauh di ingatan Dilara yang paling dalam. Semakin ia mencoba mengorek ingatannya, nama itu semakin jauh tenggelam.