Sesampainya di kamar, Dilara diberondong pertanyaan oleh Norine yang sudah penasaran dengan lelaki berwajah mirip orang berdarah campuran Arab-India itu.
“Bagaimana Mbak?. Siapa lelaki itu Mbak?," selidik Norine.
“Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Yang jelas namanya Farabi,” jawab Dilara sambil membuka lemari bajunya, guna kembali memilih baju yang pas untuknya. Ia mengambil satu atasan tunik dipadu dengan rok.
Dilara memandang lama, baju pilihannya di atas ranjang. Lama sampai akhirnya terdengar suara Norine. "Kurang cocok mbak," komentarnya.
"Iya, aku juga kurang suka," tandas Dilara membenarkan pendapat Norine.
Kembali Dilara berdiri di depan lemari, matanya naik turun melihat satu persatu lipatan baju yang tertata rapi di dalam lemari. Operasi matanya berhenti pada atasan warna salem, berbahan sifon bermotif bunga-bunga kecil, yang kemudian ia padukan dengan celana jeans berwarna hitam.
"Nah itu baru pas, aku suka banget lihat kamu pakai baju itu mbak, pas banget di kulitmu yang putih mbak," celetuk Norine.
Ia setuju dengan baju pilihan Dilara.
Setelah menemukan baju yang pas, Dilara lalu mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat.
"Oh namanya Farabi," gumam Norine di dalam hati.
Hanya sekedar tahu namanya saja bagi Norine itu sudah cukup, tidak perlu menelisik lagi yang lain seperti detektif. Norine juga tidak banyak bertanya pada Dilara, sebab sedang sibuk mempersiapkan diri.
Terkadang, Norine merasa sangat iri dengan Dilara, yang mempunyai hubungan dekat dengan keluarga Pak Darman. Namun, rasa itu tidak ia endapkan di dalam hati. Rasa itu hanya akan memutus tali persahabatan di antara mereka.
Setelah mandi, gegas Dilara berganti pakaian dengan setelan yang sudah ia tepikan di atas ranjang. Ia lalu berhias diri di depan kaca yang menempel di dinding. Menyisir rambutnya dengan rapi. Memberi garis tengah, lalu memelintir sedikit rambut bagian kiri dan meminta bantuan Norine untuk memegangnya sebentar. Ia lakukan hal yang sama pada sisi sebelahnya, memelintir rambutnya lalu menariknya ke belakang dan mengikatnya menjadi satu. Sementara sebagian rambut yang tidak diikat dibiarkannya tergerai.
“Rambutmu seperti rambut iklan shampo mbak." Norine memberi komentar setelah membantu Dilara merapikan rambutnya.
Rambut Dilara memang bagus, dan itu menjadi mahkota untuknya. Dilara dan Norine, sama-sama mempunyai rambut yang panjang hingga menutupi punggung mereka, bedanya rambut Dilara lurus dan berwarna hitam pekat. Sedangkan Norine rambutnya sedikit bergelombang di bagian bawah.
“Terima kasih sayang, rambutmu juga bagus. Kita kan memang duo iklan shampoo kamar mandi di asrama ini," canda Dilara sambil berlalu pergi setelah bebersih, berkemas, dan berdandan.
Dilara melangkahkan kakinya dengan hati tanpa beban. Dia memang periang, sekalipun ia memendam luka, ia akan menyimpannya rapat-rapat dan akan menitikkan air matanya di tempat yang tepat. Entah di kamar mandi, atau saat sedang tidak ada Norine di kamar.
Langkah Dilara terhenti. Ia melihat Farabi
sedang duduk menghadap ke arah jalan. Lelaki itu sibuk menghisap rokok dan bermain benda pipih yang menjadi andalan manusia jaman sekarang sebagai alat komunikasi.
Lama Dilara memandang Farabi, ia kembali teringat dengan rasa penasaran akan sosok yang datang ke sini dengan kuda besinya itu. Sekuat apapun dirinya ngubek-ngubek memorinya, ia tidak menemukan penggalan kenangan bersama Farabi. Namun, ia merasakan ada sedikit rasa aneh yang menjalari hatinya, ia tak mau mendefinisikan terlalu dini arti dari rasa hangat dalam hatinya itu.
"Hai," sapa Dilara.
"Hai," jawab Farabi yang masih asyik melihat ponselnya.
Niat hati Dilara ingin memangkas jarak antara dirinya dan Farabi, yang katanya dulu pernah akrab. Namun ternyata, Farabi tidak memberinya respon positif. Sehingga hanya ada rasa canggung yang tercipta saat Dilara nekat mendekat dan duduk di hadapan Farabi.
“Memang benar ya, kalau dulu kita pernah sedekat itu?”, tanya Dilara basa basi. Ia masih berusaha mencairkan suasana, sementara Farabi masih tetap mengacuhkan niat baik Dilara. Lelaki itu hanya memberinya jawaban dengan sebuah anggukan kepala, dan masih sibuk menghisap batang rokok yang terus mengeluarkan asap.
Dilara merasa jengkel dengan sikap Farabi. "Ah, menyesal aku. Ngapain juga bertanya, yang ada makin sakit hati”, gerutunya dengan suara yang sedikit keras agar terdengar oleh Farabi.
Dilara lalu berdiri dan masuk ke dalam rumah. Hatinya merasa kesal, andai ia boleh memilih untuk tidak pergi bersama dengan lelaki itu, pasti ia akan bahagia.
"Tante, makhluk apa sih yang ada di luar itu. diajakin ngomong kok cuma diam saja," gerutu Dilara di dekat Bu Ambar.
"Hush, dia itu juga manusia," tegur Bu Ambar, agar Dilara lebih berhati-hati lagi dalam berucap.
"hehehehe, iya Tan. Habisnya sama Dila dia kurang ramah tan."
"Namanya juga baru ketemu sayang, tiap orang punya pembawaan yang berbeda," nasehat Bu Ambar pada Dilara.
"Siap tanteku sayang," Dilara lalu meninggalkan jejak ciuman di pipi perempuan yang sudah dianggapnya ibu itu.
Tiga puluh menit kemudian tepat di jam lima sore, mobil pajero putih melaju perlahan pergi meninggalkan asrama Sahabat Cendekia. Kali ini Pak Darman yang ambil kemudi, ia membiarkan Farabi, Dilara dan Afkar menikmati kembali momen kebersamaan mereka yang telah lama hilang. Namun ternyata keputusan lelaki paruh baya itu membuat Dilara tidak nyaman.
“Om, musik dong," pinta Dilara yang mulai merasa bosan dengan suasana sunyi di jok belakang.
Afkar yang biasanya banyak omong, kini memilih diam seperti tidak mengenal Farabi. Sikap Afkar berhasil membuat Dilara bingung, sebab saat gadis itu kembali ke kamar, dirinya sempat melihat Afkar dan Farabi saling berpelukan dan melempar senyum. Tapi saat ini, yang ia lihat berbeda. Suasana berbanding terbalik, keduanya seperti tak saling mengenal. Itu yang ada di dalam pikiran Dilara.
“Jangan lagu ini om, cari lagi. Bukan, bukan juga.”
Dilara terus memberi arahan pada Pak Darman agar, mengganti lagu dalam katalog musik yang ada di mobilnya. Sampai satu lagu yang pas dan paling sering ia dengarkan beberapa minggu terakhir. Pilihannya jatuh pada lagu milik Anet yang berjudul 'mungkin hari ini esok atau nanti'. Dilara langsung berdendang dengan sedikit berjoget, meluapkan kekesalannya.
“Masih lama Om?," tanya Dilara yang sudah sangat tidak nyaman duduk di antara lelaki yang saling berpura-pura tidak bertegur sapa itu.
“Tidak, sebentar lagi juga sampai," jawab Bu Ambar.
“Untunglah, saya sudah ingin ke kamar mandi Tante."
Ke kamar mandi hanya menjadi alasan agar dirinya segera terbebas dari himpitan lelaki yang terlihat begitu keren. Jika moodnya sedang baik, Dilara pasti sudah foto selfi bersama Farabi dan Afkar, lalu mengunggahnya di sosial media.
Akhirnya laju mobil berhenti di sebuah rumah makan sederhana di pinggiran sawah, letaknya di atas pegunungan Wonosalam. Rumah makan ini memilih gaya gazebo sebagai ruang untuk tempat makan pengunjungnya. Dilara benar-benar dibuat kagum dengan nyala lampu yang sangat terang yang terpasang di setiap gazebo, sehingga tidak terkesan seperti warung remang-remang, meski letaknya di desa terpencil.
Tempat itu mengingat Dilara pada sosok Bapak di rumah, tinggal di salah satu desa terpencil di pegunungan kota Batu dengan udara yang terkadang begitu dingin, gigilnya menusuk hingga ke tulang. Masih untung di sini jalanan bisa di akses bebas oleh mobil dan sepeda, karena sudah beraspal. Sedang jalan menuju rumah Dilara sudah banyak yang rusak.
Tanpa arahan dari siapa pun, Farabi dengan sigap memilih tempat paling ujung dengan view langsung ke sawah. Tempat favoritnya para pengunjung.
“Dari dulu kamu paling suka penghijauan Nak, kamu belum berubah," ucap bu Arum menanggapi pilihan Farabi. Mereka lalu mengambil posisi masing-masing.
“Aku yang memilih menu Tante, semua pasti suka," pinta Farabi sambil mengambil alih sebuah kertas berisi nama menu makanan warung tersebut.
Dilara merasa heran melihat Farabi. Lelaki yang sejak tadi siang hanya diam, tersenyum, diam tersenyum kali ini lebih banyak berbicara dibanding dirinya yang terkenal paling cerewet. Ya maklum karena dia perempuan. Menu makan malam kali ini, Farabi semua yang memilih.
“Ma, kenapa aku tidak pernah di ajak ke sini?," protes Afkar.
“Kan sudah mama jawab tadi.”
“Jangan-jangan Om dan Tante sengaja tidak mengajak kami ke sini, karena memang ingin berduaan saja. Hayo.” Afkar dan Dilara mulai menggoda Pak Darman dan Bu Ambar.
“Tidak sayang, kami juga tidak pernah ke sini. Dan ini kali pertama setelah sekian tahun lamanya," terang Bu Ambar sembari memberi belaian lembut pada Dilara.
Beberapa saat kemudian, datanglah pramusaji dengan membawa menu bandeng bakar sambal kecap jeruk nipis, bandeng goreng sambal belimbing wuluh serta bandeng kuah kuning. Menu-menu itu adalah menu yang paling diburu di rumah makan ini.
“Ini kesukaan Tante dan Om kan?." Farabi mendekatkan cobek sambal bandeng bakar serta bandeng goreng ke dekat Pak Darman dan Bu Ambar.
“Nasinya terlalu panas Nte?,” tanya Farabi. Bu Ambar menggelengkan kepala.
Lagi-lagi Dilara dibuat tercengang dengan sikap Farabi yang bisa sedekat itu dengan orang tua Afkar. Ia bisa bersikap lebih manis dari prasangka Dilara.
“Curang kamu Bi, buat aku mana?, masak Mama dan Papa doang yang kamu layani," protes Afkar. Dengan segera Farabi mengambilkan Afkar ikan bandeng kuah kuning.
“inikan?," tunjuk Farabi. lalu dua jempol ditegakkan Afkar untuk Farabi.
"Kalau aku apa yah?," Dilara memancing sikap Farabi, apa ia masih bersikap dingin terhadapnya. Namun tanpa bertanya menu apa yang diinginkan Dilara, Farabi dengan segera mendekatkan bandeng goreng sambal belimbing wuluh padanya. Meski begitu, lelaki itu tetap diam, tanpa memberi senyuman padanya.
Afkar terus memperhatikan perlakuan spesial Farabi pada Dilara. Tatapan mata Farabi saat melihat Dilara bukanlah tatapan biasa. Siapapun yang melihatnya pasti sudah bisa membaca arti tatapan tajam itu. Rasa khawatir mulai menyelinap masuk di hati Afkar, antara cemburu dan takut kehilangan perempuan yang selama ini bersemayam di dalam hatinya.
Afkar bukan tidak mau mengungkapkannya, Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan seluruh isi hatinya pada Dilara. Namun kini, Farabi tetiba hadir di antara mereka. Baik Dilara dan Afkar harus mencari tahu maksud kedatangan Farabi.