Satu minggu kemudian
“Huft.”
Dilara menghela nafas panjang, merasa lega setelah selama hampir lima jam berada di ruangan ber-AC dengan ukuran empat kali lima meter. Mengikuti rapat laporan pertanggung jawaban yang rutin diadakan setiap satu bulan sekali di tempat ia bekerja.
Ia menjabat sebagai bendahara inti, kerjanya berkutat dengan jumlah angka dalam buku catatan. Angka-angka itu berhasil membuat kepalanya mendidih di level tertinggi. Pada rapat akhir bulan seperti itu, peserta rapat akan meneliti secara rinci jumlah angka dan nominal yang tertera dalam kertas laporan. Bila dirasa janggal, mereka akan bertanya kemana larinya jumlah yang tidak sesuai dengan perhitungan mereka. Mereka pasti akan memburu jawaban yang benar dari Dilara.
Dilara selalu berhasil melewati pembantaian soal nominal nominal yang sengaja ia ciptakan untuk memberi jera pada beberapa orang yang tidak suka dengan ketelitian Dilara dalam memegang keuangan yayasan milik Pak Darman, orang-orang selalu mencari celah agar ia bisa segera dicopot dari jabatannya menjadi bendahara inti. Sebab, mereka itulah yang suka memperbesar anggaran biaya untuk kepentingan perut mereka sendiri. Meski ia tahu siapa-siapa dari mereka yang punya bibit korup, Dilara tidak melaporkan itu pada Pak Darman. Yang terpenting dia bisa mengatasinya.
Dilara mengambil botol air mineral yang ada di depannya, meminum isinya yang tinggal separuh sampai tidak tersisa. Diraihnya tisu untuk mengelap bibirnya yang basah. Lalu kembali menyandarkan tubuhnya pada badan kursi untuk mengikuti penutupan rapat laporan pertanggung jawaban.
Usai rapat, Dilara tak langsung meninggalkan ruangan yang setiap bulan membuat dadanya sesak dengan jumlah nominal dalam buku catatan keuangannya. Ia meletakkan kepalanya di atas kedua tangan yang ia lipat di atas meja, lalu membenamkan wajahnya di sana.
Afkar yang sedari tadi berdiri di depan pintu dengan memperhatikan tingkah pola Dilara, langsung datang menghampirinya memberi pijatan ringan di kepala gadis yang sudah lama memenuhi ruang kosong di hatinya.
“Ah, rasanya menyenangkan,” desis Dilara menikmati pijatan dari Afkar.
“Lapar?," tanya Afkar.
Dilara mengangguk dengan wajah masih di posisi yang sama, menunduk menghadap meja. Hari ini, bukan hanya tentang keuangan kantor yang membuat lahir batinnya lelah, namun suara Bapak dari balik layar ponsel yang terus saja bertanya kabar menyoal statusnya yang masih sendiri itu juga membuat Dilara lelah.
Jarum jam masih menunjukkan pukul lima sore, hari belum juga gelap. Afkar menawarkan beberapa alternatif tempat makan untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan. Dilara lagi-lagi diam tidak memberi jawaban. Lalu berdiri dari tempat duduknya melangkahkan kaki dan memilih duduk di taman kantor, sembari melihat beberapa orang lalu lalang dan duduk-duduk di taman, bercengkrama menikmati senja yang terkadang menyapa mereka dengan derasnya hujan. Hari ini Dilara yang periang dan manja benar-benar menghilang. Wajahnya menampakkan dirinya tengah begitu lelah.
Dejavu masa lalu saat Dilara masih berseragam abu-abu, seringkali mampir dalam pikirannya, mengenang saat bahagia menjadi remaja. Tepatnya enam tahun yang lalu Pak Darman meminta pada Ayahnya agar Dilara bersekolah di yayasan miliknya, tempat di mana ia bekerja saat ini. Kedua lelaki itu memang bersahabat baik, hanya saja Ayah Dilara memilih kembali ke desa untuk bekerja sebagai petani, mengerjakan lahan pertanian milik keluarga, keduanya sibuk di bidang nya masing-masing sehingga jarang sekali bertemu, mereka hanya mampu bersua kabar melalui dering ponsel.
Afkar mengikuti langkah Dilara, menemaninya duduk. Berharap bisa mengajak Dilara pergi ke tempat yang cantik untuk candle light dinner.
“Kita makannya di sini saja,” pinta Dilara.
Sore itu, Dilara ingin makan mie ayam langganan yang sering lewat depan asrama. Lidahnya sudah sangat rindu dengan semangkok mie ayam yang paling enak menurut versinya. Lima belas menit berlalu, belum juga terdengar bunyi kentongan khas penjual mie ayam.
Sembari menunggu penjual mie ayam datang, Dilara memeriksa beberapa notif di ponselnya. Ada chat dari Afkar, kedua alisnya saling bertemu, merasa aneh melihat kelakuan Afkar.
"kenapa tidak langsung ngomong, lawong aku ada di depannya, kok ribet bangey kirim wa," gumam Dilara.
“Wajahmu terlihat tidak baik-baik saja.are you oke?.” Isi pesan dari Afkar.
Dilara tersenyum membaca isi pesan Afkar tanpa memberi balasan. Mereka duduk berhadapan, bisa langsung bertanya lalu kenapa harus berkirim pesan singkat lewat aplikasi berwarna hijau?. Beberapa detik kemudian layar ponselnya kembali menyala, Afkar kembali mengirim pesan.
“Kenapa tidak kau balas?,” tanya Afkar penasaran, kedua netranya tetap memperhatikan Dilara dari jarak setengah meter di hadapannya. Dilara masih dengan sikap yang sama, tidak membalas pesan w******p dari Afkar.
“Apa yang sedang kau tunggu?. Kita makan di luar saja," ajak Afkar pada Dilara yang masih acuh pada isi pesan singkatnya, sampai akhirnya terdengar suara kentongan penjual mie ayam, Dilara langsung berlari memanggil penjual mie ayam.
“Abaaaang,” Teriak Dilara dengan keras.
“Satu porsi ya Bang, seperti biasa."
“Mie ayam tanpa saos kan?."
“Iyup benar, yang pedes bang, jangan lupa nambah ikannya ya bang, nambah harga kan?, beres dah," rajuk Dilara.
Beberapa detik kemudian semangkuk mie ayam telah siap diantar penjual ke meja tempat Dilara duduk, dia memakannya dengan lahap, menikmati tiap suapan yang masuk ke mulutnya lalu turun mengisi perutnya hingga penuh.
Sementara dari sudut yang berbeda, Afkar masih terus memandangi gadis manis bertubuh mungil itu, menunggu Dilara menghabiskan mie ayamnya, dan masih menanti balasan dari semua isi pesan singkatnya. Dilara sangat menikmati mie ayam yang sudah sangat dirindukan oleh lidahnya.
Perlahan Afkar merasakan ada yang tidak biasa dengan hatinya, setiap kali teringat senyum Dilara dengan memperlihatkan gigi gingsulnya, dadanya berdegup tidak beraturan. Afkar mulai suka tersenyum sendiri setiap kali mengingat Dilara marah-marah saat menghitung hasil akhir keuangannya tidak sama dengan real uang yang ada, padahal Dilara sudah mencatatnya dengan rinci.
Selesai makan, Dilara mengembalikan mangkuknya, lalu membayar mie ayam itu dengan selembar uang sepuluh ribu kepada penjual mie ayam, namun uang itu dikembalikan kepada Dilara, karena semangkuk mie ayam tadi telah dibayar oleh Afkar.
Masih ditempat yang sama, Dilara mengambil ponsel dari saku celananya. Menghidupkan ponsel dan lanjut memainkan jari jempolnya di atas layar telpon genggamnya.
Sementara Afkar juga masih duduk di tempat yang sama, berkali-kali ia melihat layar ponselnya, menanti pesan singkat dari Dilara. Penantian pun berakhir, muncul notif pesan dari nama perempuan yang ia nantikan, artinya pesan itu dari Dilara, Afkar segera membacanya.
“aku baik-baik saja.” (pesan pertama)
“Wajahku masih manis dan siap siap menghantui tidurmu.” (pesan kedua diakhiri emoticon tertawa).
“Aku sedang menunggumu mentraktirku makan mie ayam.” (pesan keempat).
“Tanpa ku minta kau sudah mentraktirku, mamacih.” (pesan kelima, yang dihujani emoticon ciuman).
“Aku akan langsung masuk ke kamar, kamu juga langsung saja masuk ke rumah. Sampai bertemu kembali.” (pesan terakhir).
Afkar tersenyum membaca isi pesan itu, ada sedikit rasa kecewa, karena Dilara pergi begitu saja, tanpa menghampirinya lagi. Afkar cukup memahami kondisi Dilara saat itu yang sudah berjuang keras menyelesaikan laporan keuangan yayasan sekolah milik keluarga Afkar, sehingga ia tidak memaksakan keinginannya untuk mengajak Dilara menghabiskan malam minggu layaknya mereka yang sedang menjalin hubungan spesial.
Padahal, malam ini Afkar sudah menyiapkan tempat romantis untuk memastikan apakah Dilara juga merasakan debaran yang sama dalam hatinya, Afkar selalu saja gelisah tiap kali Dilara menghilang dari ruang edarnya.
Malam belum juga larut, di ruang yang berbeda Afkar dan Dilara masing-masing masih terjaga, rasa kantuk belum juga datang menyapa keduanya. Dilara memutuskan keluar dari kamar asrama yang letaknya masih satu lokasi dengan rumah Afkar. Menikmati udara malam yang dingin, dengan suasananya yang tenang, menatap ribuan kelip bintang di angkasa adalah kebiasaan Dilara setiap kali merasa suntuk dan tidak bisa tidur.
Sementara Afkar memutuskan untuk membuka jendela kamarnya, lalu berdiri menyandarkan tubuhnya yang padat berisi itu di tepian jendela. Semilir angin malam berhembus pelan menyapu wajahnya yang mulus bak artis K-Pop. Bayangan senyum Dilara terus saja memenuhi hati dan pikirannya.
Afkar terlihat begitu tenang diluar, namun Afkar tak mampu menghalau debaran dalam hatinya saat sedang berada di dekat Dilara.
Afkar merasa harus mengatakan seluruh isi hatinya, rasa cinta yang terus tumbuh di halaman hatinya, rindu yang kian merasuk di kedalaman hati, harus ia utarakan pada Dilara. Sebelum gadis itu benar-benar pergi darinya dan menyematkan cinta di hati lelaki lain.
Beberapa kali Afkar mendengar Dilara bercerita tentang Bapaknya yang ingin D
segera memilih lelaki sebagai imam untuk anaknya, yang bisa menjaga lahir dan batinnya. Selama mereka berteman, tak sekalipun Afkar mendengar dari mulut Dilara tentang seorang lelaki yang di sukanya. Selain itu, Dilara juga tidak pernah terlihat pergi berdua dengan seorang laki-laki.
Cahaya terang tiba-tiba menyala dari layar telpon genggam milik Afkar, sebuah pesan singkat dari Dilara, “Belum tidur?. gak usah dijawab. Aku sudah tahu jawabannya. Hehehehehe.”.
Hati Afkar meletup-letup penuh suka cita, seperti bocah yang baru mendapatkan hadiah yang paling diinginkannya. Diliriknya jam tangan bermerk swiss army yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kirinya, masih jam delapan, mungkin tidak apa jika ia mengajak Dilara keluar sebentar, walau sekedar menghirup aroma kopi hitam dan menyeruputnya secara perlahan.
Jika ia meminta izin sebentar pada ayahnya, mungkin akan dikasih izin. Asal anak perempuan temannya itu bisa ia jaga dengan baik. Beberapa menit kemudian, izin untuk mengajak Dilara pergi sudah ia kantongi. Segera Ia memberi tahu Dilara.
Afkar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, ia akan mengatakan seluruh isi hatinya. Tak peduli dengan jawaban yang akan ia dapatkan, yang terpenting, ia tak lagi memendam rasa yang sudah lama mengendap di dasaran hatinya.
"Mau keluar denganku?," ajak Afkar.
"Ke mana?, emang boleh sama Om Darman?," jawab Dilara.
"Kalau gak boleh, aku gak mungkin nelpon kamu." Afkar berusaha memberi penjelasan.
"Iya juga sih, tunggu sebentar. aku ambil sweater itu. Dilara lalu menutupkan jaket berbulu itu di tubuhnya. Ia hanya memakai kaos oblong berwarna kuning, dengan celana pendek selutut.
Dilara terlihat sangat cantik dengan gaya pakaian sederhana, ia sudah terlihat seperti anak gedongan dengan uang jajan ratusan juta tiap bulannya. Afkar tak bisa berhenti mencuri pandang menatap kecantikan Dilara yang sempurna di matanya. Dan malam itu mereka menghabiskan bersama waktu yang tersisa sebelum pagi menyapa.