Malam mulai merangkak pada kesunyian panjang, Afkar dan Dilara menikmati semilir angin di balkon kafe yang berada di pinggir jalan. Alunan musik syahdu dari sang biduan, diiringi suara bunyi deru mobil yang melintas menambah kesan romantis malam itu.
Secangkir kopi panas, air mineral serta dua kebab pesanan Afkar sudah tersaji di atas meja. Sedangkan Dilara lebih menyukai es teh s**u dan roti bakar sebagai hidangan penutup malam itu.
“Bilang apa tadi sama Om Darman, kok tumben dikasih izin ngajakin aku keluar, malam pula?", tanya Dilara sambil terus memakan roti bakar rasa coklat.
Dilara sangat mengenal Om Darmannya itu, orang yang paling protektif padanya. Dengan siapa, sedang apa, untuk apa keluar dari asrama, Om Darman harus tahu detailnya, karena ia menjaga amanah dari temannya yaitu ayah Dilara. Dia harus menjaga anak perempuan satu-satunya dari teman masa lalunya itu.
“Yang terpenting, sekarang aku bisa ngajakin kamu keluar. Senang?,” tanya Afkar sambil meniup kopi panas yang sudah ia tuang di atas lepek, piring kecil khusus untuk mengurangi suhu panas dari kopi. “Kalau kurang, nanti pesen lagi aku yang traktir," sambung Afkar sambil terus menatap wajah Dilara. Ia menikmati setiap inci kecantikan Dilara yang mirip dengan perempuan berdarah campuran India-Arab.
Dilara terus menikmati makanan di depannya, sembari memainkan benda pipih bernama ponsel. Ia berselancar di dunia maya, memeriksa notifikasi akun media sosial miliknya dan sesekali berswa foto lalu mengunggahnya di akun pribadi.
Dilara melirik sisa kebab milik Afkar yang tinggal sedikit, kemudian menusuknya dengan garpu dan “Hap” sisa kebab itu sudah berpindah ke mulut Dilara. Afkar hanya tersenyum melihat tingkah Dilara, hal seperti itulah yang membuat Afkar jatuh hati pada gadis yang sedang duduk di depannya. Tampil apa adanya.
"Ah iya, soal Farabi apa kamu juga tidak mengingatnya?," tanya Dilara secara tiba-tiba.
Seketika Afkar terkejut, karena memang selama ini Dilara paling cuek sama makhluk yang namanya cowok. Bukan anti, hanya saja pemilih. Namun, ketika ada sosok Farabi datang, hal itu sedikit mengusik kehidupannya.
Secara fisik Farabi adalah sosok cowok yang sempurna, bahkan mampu membuat mata para gadis terpesona. Bahkan mungkin bisa membuat gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama. Satu lagi, kuda besi yang dinaiki Farabi membuatnya seperti cowok berkelas. Motor setipe dengan motor balap yang biasa berlaga di sirkuit moto GP.
Afkar juga punya fisik yang sama sempurnanya dengan Farabi. Bila disandingkan, pastilah membuat para gadis bingung siapa yang harus dipilih di antara kedua cowok itu. Yang satu memiliki wajah tampan versi orang asia, sedang yang satunya lagi memiliki wajah tampan versi orang turki. Fisik keduanya, sudah pas sesuai porsinya. Tidak heran bila perhatian para gadis di asrama Pak Darman sedikit terbagi semenjak hadirnya Farabi.
“Menurutmu?." Afkar balik bertanya dengan bersikap tenang sambil mengoles batang rokoknya dengan ampas kopi hitam yang sengaja ia tuang di atas lepek.
“Ingat, sebab sore itu aku melihat kalian saling berpelukan gitu, seperti teman lama yang baru bertemu kembali,” jawab Dilara. Afkar terdiam.
“selama aku di sini, ya baru kemaren itu melihat dia. Tapi kalau sebelumnya dia sudah sering wara wiri ya aku tidak tahu," lanjut Dilara.
“Lalu?”, rupanya Dilara masih penasaran.
“Apa?”, Afkar tidak memberi jawaban, malah balik bertanya.
“Jawabannya. Apa benar kamu tidak mengingatnya?”
“Ingat. Kami sering w******p-an.”
“Kok gak pernah cerita?.”
“Untuk?. Gak penting juga kan?."
Dilara terdiam, tidak menjawab pertanyaan Afkar yang berhasil membuat mulutnya terkunci. Dilara menyadari batas kedekatan dirinya dengan Afkar hanya lima puluh persen saja, selebihnya banyak hal tentang kehidupan pribadi Afkar yang tidak diketahui Dilara, termasuk masa lalu mereka bertiga yang benar-benar telah terhapus dari memori Dilara.
“Siapa sih dia, huh?."
Dilara masih penasaran, dia merengek minta penjelasan siapa lelaki yang seminggu belakangan ini suka memarkir sepedanya di depan rumah Afkar.
Melihat sikap Dilara yang penasaran dengan sosok lelaki itu, hati Afkar mulai dihinggapi rasa takut. Hati Afkar yang sebelumnya yakin bahwa Dilara akan memberi tempat di auditorium hatinya, seketika mulai gamang dan takut bahwa justru Farabi yang akan lebih dulu menaiki podium itu untuk menerima medali kemenangan.
“Kamu terpesona?," tanya Afkar dengan hati yang berdebar hebat.
“Mmmm." Dilara hanya nyengir dihadapan Afkar, tidak memberi jawaban pasti, lalu melempar tisu ke arah Afkar sambil tersenyum.
Malam semakin dingin, semilir angin di atas rooftop mulai tidak bersahabat. Dilara menggosok-gosok telapak tangannya agar hangat lalu bersedekap.
“Aduh kenapa udaranya jadi dingin begini ya, mana anginnya makin kenceng lagi?." Dilara mulai kedinginan.
Afkar menawarkan diri untuk mengajaknya pulang, namun Dilara menolak karena saat melihat jam tangan yang melekat di pergelangan tangan kanannya, waktu masih menunjukkan pukul Sembilan.
Baru hari ini, dirinya tahu bagaimana aktifitas kota di malam hari. Bisa menikmati malam seperti ini, hatinya sungguh bahagia. Momen yang paling ditunggu Dilara, setelah hampir setiap malam ia habiskan menikmati rembulan di bawah atap kamar asrama, berdua bersama Norine.
Penolakan itu membuat Afkar dengan segera melepaskan jaket parka miliknya, lalu menutup tubuh Dilara dengan jaket itu untuk sedikit memberi rasa hangat pada perempuan yang sangat ia cintai.
Tindakan itu berhasil membuat Dilara melongo, karena tidak menyangka bahwa Afkar mampu bersikap romantis seperti adegan romansa dalam drama-drama korea yang selalu ia lihat bersama Norine untuk mengusir rasa jenuh.
Dilara tersenyum, sambil terus menatap tajam ke arah Afkar, memainkan kedua alisnya. Tatapan itu berhasil membuat Afkar salah tingkah. Bukan Dilara namanya, bila tidak menggoda dan berbuat jahil pada orang di sekitarnya. Pribadi yang apa adanya itulah, yang berhasil membuat Afkar menjatuhkan pilihan pada Dilara, dan tak mampu menghapus bayangan Dilara dari benaknya walau hanya sedetik.
“Aduh”, pekik Dilara dengan memegang perut.
“Kamu kenapa?”, tanya Afkar khawatir.
“Kebelet, bentar ya." Gegas Dilara berlari menuju kamar mandi dengan terus memegang perutnya. Afkar hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Dilara.
Afkar kembali meminum kopinya yang sudah mulai dingin dan hilang aroma khas dari sebuah kopi. Ia berdiri ke tepian roftop, membungkukkan tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya di atas pagar pembatas sambil melihat lalu lalang mobil yang mulai sepi.
“Aduh."
Afkar menepuk jidatnya, ia lupa mengambil sesuatu dari jaket yang kini sedang dipakai Dilara ke kamar mandi. Ia berharap Dilara tidak mengetahuinya. Ya, sesuatu itu adalah kotak merah kecil yang berisi cincin. Afkar berencana ingin langsung melamar Dilara dan berharap hal itu tidak berakhir dengan penolakan.
Beberapa saat termenung, akhirnya membuat Afkar berinisiatif untuk melamar Dilara dengan diiringi sebuah lagu. Ia pun melangkah mendatangi penyanyi yang sedang melantunkan lagu romantis. Afkar mendekatkan kepalanya, meminta satu judul lagu saat nanti dia sudah kembali duduk bersama Dilara.
Tanpa sengaja perbuatan Afkar itu dilihat oleh Dilara saat keluar dari pintu kamar mandi. Ia lalu mengernyitkan dahinya, tidak pernah terpikir olehnya, bahwa Afkar akan mempunyai sisi romantis yang tidak diketahui oleh anak-anak asrama yang sangat mendamba menjadi kekasihnya.
“Sedang apa tadi?," tanya Dilara pada Afkar yang sudah kembali duduk di tempatnya.
“habiskan rotinya”, pinta Afkar kemudian tanpa memberi jawaban pada Dilara.
Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Dilara terkejut mendengar lagu itu, sebuah lagu dari Yovie and Nuno yang berjudul Janji Suci. namun dia mencoba tenang dan tidak berani mengartikan terlalu dini arti dari lagu itu. Bisa jadi itu hanya sebuah lagu yang disukai Afkar. Seperti biasa, Dilara langsung mengeluarkan jurusnya menggoda Afkar.
“Ciye ciye ciye, sedang jatuh cinta nih bang?, sama siapa nih?."
Tanpa tedeng aling-aling, Dilara langsung bertanya pada Afkar dan berhasil membuat wajah lelaki itu memerah seperti udang rebus, karena tidak mengira bahwa akan mendapat respon seperti itu dari Dilara.
“Tolong dengarkan sebentar Dil, aku minta kamu bisa serius sebentar saja."
Afkar memegang kedua tangan Dilara, menatap pemilik sepasang manik mata yang berwarna coklat. Afkar sengaja tidak bertanya soal kotak merah yang ada di dalam saku jaket yang kini dipakai oleh Dilara.
Sensasi debaran hebat mulai menggetarkan hati keduanya.
“Aku."
Afkar menghentikan ucapannya karena mendengar ponsel Dilara berbunyi, lalu memberi kesempatan pada gadis itu untuk mengangkatnya.
“Sebentar, aku ke sana dulu." Dilara meminta izin sebentar untuk mengangkat telepon.
Dari jauh, Afkar mengamati wajah Dilara.
Gurat kesedihan tergambar jelas di wajah gadis yang kini telah memenuhi seluruh ruang di hatinya. Setelah menunggu hampir lima belas menit, Dilara kembali ke tempat duduknya dengan melipat wajahnya.
“Kenapa?," tanya Afkar khawatir.
Masih dengan rona wajah penuh kesedihan, Dilara menunjukkan ponsel berukuran sembilan inchi itu kepada Afkar. Sebuah foto kotak merah lengkap dengan isinya terlihat dilayar. Afkar mencoba bersikap tenang. Tidak mau gegabah membombardir Dilara dengan ribuan pertanyaan.
“Kata Mbak Tasya, Bapak telah menerima lamaran untuk ku," ucap Dilara dengan suara gemetar.
Keduanya saling terdiam. Menyelami perasaan masing-masing. Merasai lara yang tidak pernah terbayang di hidup keduanya. Afkar merasakan luka baru tanpa sayatan yang eramat perih. Dilara merasakan luka kecewa karena hak atas pilihan jalan hidupnya direnggut untuk kesekian kali.
Sepanjang jalan pulang, suasana di dalam mobil menjadi sangat hening, sepi seperti malam tanpa kilau bintang karena mendung terlalu digdaya.
“Maaf baru ku kembalikan, tadi terjatuh dari jaket.” Dilara menyodorkan kotak merah yang jatuh dari jaket Afkar saat di kamar mandi.
Afkar mengurungkan niatnya untuk melamar Dilara setelah melihat dan tahu bahwa dirinya kalah start dengan seseorang yang sudah memberi Dilara kotak yang sama. Afkar mengambilnya dari tangan Dilara, lalu melempar ke kursi belakang.
Suasana kembali hening, Dilara tidak banyak bertanya tentang kotak merah yang dilempar Afkar ke jok belakang. Mobil melaju dengan kecepatan tujuh puluh kilometer perjam. Menembus dinginnya malam dengan iringan sebuah lagu dari Mahendra -pura-pura lupa-.