Kejadian di malam yang dingin, kotak merah, serta kejadian di atas kafe rooftop begitu membekas dalam ingatan Dilara hingga membuat tidurnya tidak nyenyak, resah terus saja menyapa selama satu minggu terakhir. Pertama, ia memikirkan sikap Afkar yang sedikit berubah dari hari biasanya, tatapan yang begitu dalam tidak berani ia terjemahkan. Ditambah lagi, Afkar juga ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya, dua hal itu terus saja berkelindan di benaknya. Kedua, ia memikirkan permintaan Bapak agar ia segera menikah juga turut serta membuat dadanya sesak.
Tentang jodoh, ia sebenarnya masih ingin menikmati lebih lama lagi kesendiriannya, atau setidaknya ia bisa mengenal dulu siapa lelaki yang akan menjadi calon pendampingnya. Minimal ada pembicaraan atau pemberitahuan terlebih dahulu. Bukan dengan cara tetiba saja mengirim foto kotak cincin dan bilang bahwa dirinya telah diikat dengan orang lain. orang yang sama sekali tidak ia kenal, tidak tahu bentuk wajahnya, tidak tahu tindak lakunya.
Menikah muda memang sudah menjadi impian Dilara. Menikah dengan lelaki yang setiap detik mampu menciptakan debaran di hatinya. Menikah dengan lelaki yang mampu membuatnya jatuh cinta setiap saat. Menikah dengan lelaki yang mau menerima kekurangan dirinya, saling menggenggam dan menguatkan diri menghadapi setiap ujian dalam pernikahan. Lelaki yang seperti itulah yang ia sebut dalam do’anya. Lelaki yang terbaik di waktu yang tepat.
“Tuhan memang telah menggariskan takdir setiap orang, namun Dia lebih menyukai orang-orang yang mendekatkan diri dalam sujud mereka, bersimpuh meminta apa yang menjadi harapnya”, begitulah pesan Pak Wahyu yang tidak pernah Dilara lupakan.
Ia juga tidak lupa meminta dalam do'anya agar diberikan lelaki yang tidak hanya menyayangi dirinya namun juga keluarganya.
Usia Pak Wahyu sudah mulai senja, ditandai dengan berubahnya warna rambut yang dulu hitam pekat saat Dilara masih kecil kini berubah warna menjadi putih. Di usia senjanya, Pak Wahyu belum merasakan hidup yang adem ayem. Gurat wajahnya menyimpan beban yang tak pernah ia tunjukkan di depan Dilara. Ia menyimpan sendiri semua gundahnya dalam balutan senyum yang terus tersungging dari bibirnya.
Terakhir kali Pak Wahyu mengantar Dilara ke terminal angkutan umum untuk kembali bekerja di yayasan Pak Darman, ia membaca mimik yang tidak biasa dari wajah bapaknya itu. Dilara tak bisa mengartikannya, dan juga tidak punya keberanian untuk bertanya langsung apa yang sudah membuat bapaknya itu tidak mengantarnya dengan senyuman seperti yang biasa dilakukan Pak Wahyu.
Satu-satunya alasan kenapa Pak Wahyu bersedih adalah status Dilara yang belum berjodoh dengan lelaki manapun. Hal itu membuat warga kampung Suketi menyebut Dilara sebagai perawan tua. Mitos yang ada menyebutkan bahwa anak gadis yang belum menikah di usia dua puluhan akan membawa sial di keluarga mereka. Mungkin sebab itu senyuman Pak Wahyu menghilang. Hatinya nelangsa melihat anaknya disebut perawan tua.
Dilara terus merapal do’a untuk lelaki terbaik yang kelak membersamainya merenda masa tua. Jodoh itu rahasia-Nya, tapi masih ada waktu untuk meminta pangeran terbaik untuknya. Bersama menjemput senja dan menikmati seluruh kisah yang hanya mampu diputar kembali dengan sisa usia. Dan yang terpenting Bapak tak lagi mendengar bahwa anaknya adalah seorang perawan tua.
Di dalam ruangan yang panas tanpa mesin pendingin, Dilara sering membayangkan banyak hal. Imajinasinya bermain tanpa kendali, menghayal tanpa batas. Pernah sekali dirinya menghadirkan Afkar dalam dunia nya, bersanding dengan sosok idola para gadis di Asrama ini. Dan Dilara dengan congkaknya memamerkan Afkar di atas pelaminan sebagai piala kemenangan atas perebutan hati sang idola.
Afkar lelaki yang sempurna, kulitnya kuning bersih, tingginya sekitar seratus tujuh puluhan, potongan rambutnya gondrong. Setiap pagi ia rutin berolah raga mengangkat barbell kecil di depan teras rumah, menaik turunkan tangannya dengan tubuh penuh keringat. Melihat itu tak satupun gadis yang melewatkannya, mubadzir bagi mereka bila ada pemandangan indah tapi tidak dilihat. Hampir semua gadis mempunyai hobi yang sama saat jam bel masuk sekolah belum berbunyi, suka mantengin cowok idola sekolah ini.
Tak berhenti sampai disitu, Dilara juga pernah menjadikan Pak Luth, guru bahasa inggris yang sedikit cadel itu menjadi tokoh dalam imajinasinya. Teman satu kantor di tempatnya bekerja. Dulu, saat masih menjadi siswanya, Dilara sering menggombali Pak Luth ini. Gayung pun bersambut, Pak Guru yang mempunyai gaya rambut jabrik itu juga pandai meluluhkan hati perempuan.
Yang masih diingatnya, saat pelajaran bahasa inggris berakhir, sebelum keluar kelas Pak Luth mengemasi buku-bukunya dan setelah memastikan tidak ada bahan ajarnya yang tertinggal, Pak Luth pergi meninggalkan kelas. Namun sampai di depan pintu kelas, Dilara memanggil Pak Luth, menghentikan langkahnya dan melancarkan aksinya.
“Pak Pak, ada yang lupa Bapak bawa”, panggil Dilara yang berhasil membuat Pak Luth langsung mendekat ke arahnya dengan senyum mempesona.
“Apa Dil?”, tanya Pak Luth penasaran
“Gantengnya Bapak tertinggal.” Sontak seluruh isi kelas tergelak bersama. Pak Luth hanya tersenyum malu. Membalikkan tubuhnya dan pergi begitu saja. namun beberapa detik kemudian beliau kembali menghampiri Dilara. Mengurungkan niatnya untuk meninggalkan kelas itu.
“Ada apa pak?.” Tanya Dilara yang tak kalah penasaran, dengan gagah dan tak mau kalah dengan murid yang suka sekali meng-iseng-i dirinya itu Pak Luth membalas gombalan yang sudah membuat pipi guru bahasa inggris itu memerah.
“Anu Dil, ternyata memang ada yang tertinggal.”
“Apa Pak?”. Kali ini ganti Dilara yang dibuat penasaran oleh Pak Luth.
“Tulang rusukku tertinggal Dil, yaitu kamu.”
Grrrrrrrr, seluruh isi kelas langsung bersorak. Dengan senyum mengembang penuh kemenangan, Pak Luth pergi meninggalkan kelas. Selama ini guru bahasa inggris itu hanya diam saja, tidak meladeni semua perbuatan Dilara, namun dari situ Pak Luth sudah banyak belajar dari gombalan-gombalan Dilara.
Menghayal seperti itu hanya sekedar untuk menghilangkan rasa jenuh dari rutinitas di sekolah, sekaligus menebas nelangsa karena sebutan perawan tua menempel padanya. Sebenarnya bukan nelangsa karena itu, namun Dilara lebih memikirkan perasaan Bapak yang terus mendengar gunjingan tetangga bahwa Dirinya tidak laku, tidak ada yang mau menikahinya.
Usia masih dua puluh satu tahun, bukanlah usia yang tepat untuk menyebut Dilara sebagai perawan tua. Rambutnya masih hitam, masih energik menjelajah beberapa kota dengan hanya menaiki motor butut sekalipun. Lalu kenapa warga desa selalu meributkan kesendiriannya dengan status perawan tua?.
Tidak perlu alasan baginya untuk menanggapi omongan mereka. Sebuah kebebasan, dan belum terikat dengan siapapun adalah hal yang paling harus ia nikmati di dunia ini. Dirinya juga tidak perlu meminta ijin siapapun -kecuali dengan Bapak- jika ingin keluar mencari angin segar bersama teman-teman. Meski hanya sekedar menikmati es kelapa muda di pinggir jalan. Kalau di Asrama, Dilara harus meminta izin pada Pak Darman sebagai orang tua sementara selama ia jauh dari keluarga.
“Nduk, bagaimana?”. Sebuah tepukan kecil membuyarkan lamunan Dilara. Hari ini Pak Wahyu datang berkunjung menjenguk keadaan anaknya yang sudah hampir enam bulan tidak pulang, sekaligus bersilaturrahmi dengan Pak Darman sahabatnya. Kedatangan Pak Wahyu kali ini berhasil membuat Dilara diam tak bergeming.
Bapak yang sudah lama menantikan hari bahagia untuknya itu datang hanya ingin mendengar jawaban dari kabar yang sudah diterimanya dari kakak iparnya Tasya melalui pesan singkat satu minggu yang lalu.
“Bagaimana Pak?”. Ia bertanya, pura-pura kurang memahami maksud perkataan bapaknya. Dilara memandang wajah Pak Wahyu, wajah yang sudah semakin tua. Beberapa jambangnya sudah berwarna putih. Garis keriput di wajahnya semakin tergambar dengan jelas.
“Dengarkan ya Nduk?.” Dilara mengangguk, kali ini ia menyimaknya dengan benar apa yang di ucapkan Bapaknya itu. Diraihnya tangan Dilara, diusapnya berkali-kali sambil menunduk. Dilara tidak melihat ada air mata yang membasahi pipi bapaknya, namun beberapa kali ia melihat bapak mengusap hidungnya.
“Darman membawa lamaran untukmu”. Hening beberapa saat, “Darman?, Pak Darman kah?, atau ada orang lain yang kebetulan punya nama yang sama dengan ayahnya Afkar itu?”, ucap Dilara dalam hati.
"Maksud Bapak, Pak Darman yang ini.?" tanya Dilara.
"Kalau boleh tahu, apa Dilara dijodohkan dengan Afkar Pak?."
Pak Wahyu menggelengkan kepalanya, "Bukan Nduk. Bapak sudah semakin tua, ingin melihat langkah anakmu berlarian memenuhi halaman rumah Nduk”. Dilara masih terdiam, tidak bisa memberi jawaban. Semua ini terlalu mendadak. Dia putri satu-satunya, anak bungsu yang selalu bisa memberi alasan jika tidak ingin melaksanakan pintanya, kini dirinya seperti tak punya kuasa menghapus harapan indah dari seorang bapak.
Tatapan penuh harap. Ya, tatapan itulah yang tak mampu ia tolak. Genggaman penuh keyakinan, yang mengartikan bahwa dirinya harus yakin bahwa pilihan itu tidak salah alamat. Demi masa tuanya, juga demi bahagianya.
Dilara meraih tangan bapak, membalas genggamannya dan meyakinkan orang tua yang sudah tanpa lelah menjaga dan menyebutnya dalam do’a-do’a panjangnya. “Pak, Dilara perlu berfikir dulu”, Pinta Dilara. “Dila pasti akan membahagiakan Bapak”, lanjutnya.
Pak Wahyu menghela nafas panjang , menaikkan bahunya lalu menurunkannya dengan cepat. Ada gurat kesedihan di wajahnya, menangkap lelah yang tidak bisa dipahami oleh Dilara.
“Bapak pulang dulu, jangan terlalu lama berfikir”, pamit Pak Wahyu. Dilara mengangguk dan memberinya senyuman.
Sebelum benar-benar pergi, Pak Wahyu menyodorkan kotak merah pada Dilara. Titip agar Dilara bisa dengan segera memberi jawaban. Ditatapnya kotak itu, lalu pergi mengantar bapaknya munuju gerbang dan pulang.
Bersama senja, langkah Pak Wahyu pergi meninggalkan dirinya dengan kotak merah ditangan. Bayangannya berbaur dengan jingga yang perlahan menghilang menjadi malam penuh bintang. Hanya pada malam dirinya bersuara bahwa senyuman bapak adalah segalanya. Dilara kembali ke kamar dengan satu tanya yang tak bisa ia temukan jawabannya, dengan siapa ia akan berjodoh?.