Selepas Pak Wahyu pulang, Dilara masih duduk-duduk di taman. Untuk sejenak membiarkan dirinya melepas gundah yang memenuhi rongga dadanya. Adzan maghrib belum juga berkumandang, masih lama. Beberapa penjual makanan yang lewat di depan asrama dibiarkannya lewat begitu saja, tidak satupun yang berhasil membuat lidahnya tergoda. Selera makannya menghilang.
Seperti biasa ia, memilih bermain ponsel, jarinya dengan lincah menari di atas layar ponsel, berkelana di dunia maya. Melihat beberapa status teman-temannya dan tak lupa menabur beberapa komentar pada status yang menarik perhatian. Ia juga tidak pernah absen mengintip akun sosmed milik Afkar yang tidak pernah sepi dari komentar kaum hawa yang sangat terpesona dengan ketampanan Afkar.
Pagi ini Afkar mengunggah fotonya dengan pose menghadap jendela, menikmati secangkir kopi, koas oblong warna hitam berpadu dengan jaket kaos tebal berwarna putih, dia terlihat seperti CEO tajir melintir. Dilara tersenyum melihat foto yang sudah banjir komentar dari netijen. Dibacanya satu persatu, dan sampailah pada satu komentar yang sangat menggelitik perut Dilara.
Muncul di sana nama seorang wanita yang dengan lantang mengungkapkan keinginannya untuk menjadi kekasih Afkar, wanita itu juga berani meninggalkan nomor ponselnya di kolom komentar tanpa berfikir panjang bahwa nomor itu bisa saja menarik perhatian banyak jejaka.
“mohon maaf, yang punya foto sudah ada yang punya”, bukan Dilara namanya jika tidak berbuat jahil. Beberapa wanita bersikap nyinyir pada komentar Dilara, yang katanya iri, sok tahu dengan kehidupan si pemilik akun, wanita ganjen, wanita ke-PD-an dan lain sebagainya. begitulah cuitan fans dari Afkar di dunia maya yang menanggapi komentar Dilara hingga panjang. Ia hanya tersenyum, tak dihiraukannya puluhan umpatan yang semakin membuatnya terkikik melihat kelakuan para wanita pendamba wajah tampan.
“terima kasih Dila”, balas Afkar. Dilara berhasil dibuatnya kaget. Pasalnya, Afkar tidak pernah menanggapi komentar yang mampir disetiap foto-fotonya. Sekalipun teman dekat atau saudara yang mampir memberi komentar. Di akhir komentar Dilara menabur emoji bertanda love.
“Greng, greng, greng”, terdengar suara sepeda Farabi memasuki halaman depan rumah Pak Darman dan memarkirnya tepat di samping ayunan. Mendengar deru sepeda, Dilara segera meletakkan ponselnya, memusatkan perhatiaannya pada lelaki yang katanya adalah teman masa kecilnya. Sekeras apapun Dilara mencoba membuka kembali memori tentang Farabi, tetap saja tak pernah muncul seseorang di masa lalunya yang bernama Farabi.
Farabi sengaja duduk di teras depan, sepertinya dia tahu bahwa Dilara sedang bersantai di taman sekolah yang posisinya langsung menghadap ke rumah Pak Darman. Karena jarak yang jauh, Farabi dan Dilara masing-masing tidak ada yang tahu bila sebenarnya mereka saling mencuri pandang.
“Siapa sebenarnya cowok itu?, kenapa dia rajin banget datang ke sini?”, gumam Dilara dalam hati. Terdengar suara ponselnya bergetar, muncul nama tante Ambar di layar ponselnya.
“Assalamu’alaikum Tan”, sapa Dilara
“Wa’alaikum salam. Dila tolong temani tante ya”, pinta Bu Ambar.
“Kemana ya tante?”
“Yang penting kamu mau nggak temani tante”
“Baiklah Tan, Dila ganti baju dulu ya Tan”
“Selesai ganti baju kamu langsung kemari ya”
“Siap Tan”
Dilara menutup telponnya, bergegas masuk ke kamar dan berganti baju. Hari ini Norine sedang pulang karena ibu nya sakit. Dilara bebas bergerak tanpa harus memikirkan jawaban yang pas tiap kali Norine bertanya tentang ABCD. Sepuluh menit berlalu, Dilara sudah siap menemani Bu Ambar.
Untuk memastikan dandanannya sudah pas, Dilara menghadapkan tubuhnya ke arah kaca besar yang menempel di dinding. Lagi-lagi Dilara memilih bawahan celana berbahan jins dipadu dengan atasan polos berbahan sifon dengan aksen rumbai di bagian bahu. Ia membiarkan rambutnya tergerai, hanya menyematkan japit rambut kecil di sebelah kanan. Menyemprotkan sedikit parfum andalannya. Setelah dirasa sudah pas, ia segera turun dan menghampiri mobil hitam yang biasa digunakan Afkar. Bu Ambar sudah menunggunya di dalam mobil.
“Kamu duduk di depan yah”, perintah Bu Ambar.
“Siap tante”, jawab Dilara dengan tersenyum karena bisa duduk di samping Afkar, Akal jahilnya mulai datang. Saat membuka pintu mobil, Dilara tidak segera masuk, mulutnya manyun. ia terdiam sesaat lalu perlahan masuk dan menutup pintu dengan pelan. Betapa kagetnya dia saat mengetahui bahwa yang memegang kemudi adalah Farabi, bukan Afkar. Dilara semakin bingung, namun enggan bertanya. Dia tidak ingin menjadi orang yang tidak sabaran, dia yakin suatu saat semuanya pasti akan menjadi jelas.
Tiga puluh menit perjalanan, Farabi hanya diam tak banyak bicara. Sesekali menanggapi ucapan Bu Ambar. Dilara juga tak berminat untuk membuka percakapan dengan Farabi yang bersifat angkuh padanya, padahal sudah jelas bahwa mereka pernah saling mengenal di masa lalu. Suasana perjalanan menjadi sangat membosankan. Dilara mencoba mengotak-atik mesin pemutar musik yang ada di mobil, ia memilih lagu dari Mahalini Feat Nuca berjudul Aku Yang Salah. Jika dengan Afkar, dirinya pasti sudah bebas melakukan apapun tanpa rasa canggung karena Afkar sudah sangat memahami Dilara yang tidak suka pada sepi. Dengan suara yang sangat pelan, Dilara mengikuti liriknya dengan penuh penghayatan hingga menitikkan air mata.
Menyadari Dilara berurai air mata, Bu Ambar khawatir, “kamu kenapa nak?”. “Ndak papa tan, hanya teringat sesuatu saja”, jawab Dilara dengan wajah masih tertunduk. Dia teringat Bapak di kampung, teringat ini dan itu. Hatinya kembali sesak. Mungkin jika ada Afkar, dia akan bisa bercanda-canda, karena baginya Afkar tak hanya sekedar teman. Afkar adalah tempatnya berbagi dikala sedih, tempatnya berteriak dikala bahagia, dan tempatnya meluapkan keusilan. Sore ini bukan Afkar yang mengemudi, tentu ada rasa sedikit kecewa. “Sudah sudah, ini sudah sampai. Ayo turun”, tepukan Bu Ambar membuyarkan lamunannya.
Mobil berhenti di depan sebuah toko perhiasan. Dilara tidak segera turun, dia hanya celingukan sambil membaca plakat nama toko perhiasaan tersebut UNGU JEWELERY, begitulah nama yang terpampang di sana. “nama yang bagus”, gumam Dilara dalam hati.
“Sudah, ayo turun”, ucap Farabi tiba-tiba sambil membantu Dilara membuka sabuk pengaman yang belum dibukanya. Bu Ambar sudah turun lebih dulu. “Kalian segera turun ya", pinta Bu Ambar sambil berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Dilara turun dari mobil dengan kepala yang bersungut-sungut, sebab Farabi sama sekali tidak menghiraukannya. Farabi berlalu begitu saja sambil memasang kaca mata hitam, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Dilara. Hatinya merasa sangat jengkel, Dilara meremas jemarinya seolah siap meluncurkan hantaman ke wajah Farabi.
“Dasar jutek, masak sama perempuan seperti itu sikapnya. Setidaknya bilang -mari kita masuk-, atau setidaknya bisa jalan bareng kek. Ih benar-benar ya nih cowok, pengen aku lempar mobil saja, biar ndak sok ganteng kayak gitu, ihhhhh”. Dilara terus saja menggerutu.
“Dila sini”, panggil Bu Ambar. Mendengar namanya dipanggil, Dilara segera mendekat ke arah Bu Ambar yang sedari tadi sibuk memilih perhiasan. “lihat, cincin ini bagus tidak?”. Bu Ambar menunjukkan sebuah cincin bermata satu berlian yang menempel di jari kelingkingnya. “Bagus tan, cuma matanya itu kurang kecil sedikit tan”, ucap Dilara memberi pendapat. "kenapa ditaruh kelingking tan?, harusnya di jari manis biar makin manis tan", imbuhnya kemudian.
Bu Ambar kembali menyisir beberapa cincin dari balik kaca, Dilara pun melakukan hal sama. “Nah, ini tan modelnya simpel. Terlihat mewah”. Bu Ambar mendekat ke arah Dilara yang ternyata mereka sudah berjarak cukup jauh dari. “Wah iya, kamu pintar”, kali ini Bu Ambar sependapat dengan pilihan Dilara. Bu Ambar mendaratkan sebuah ciuman kasih sayang untuk Dilara yang sudah membantunya memilih cincin yang pas. Dilara sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Dilara membalasnya dengan pelukan hangat.
"Pinjem jarinya sebentar boleh?".
"Oh boleh tan, yang mana?".
"Jari manis yang tangan kiri Nak". Dilara segera mengasuhkan jari manisnya. Bu Ambar memasukkan cincin itu ke jarinya, dan ternyata pas. Bu Ambar lalu tersenyum sambil memberi sedikit tepukan di pipi Dilara.
"Buat siapa Tan?", tanya Dilara penasaran.
"Temannya Farabi, Mbak inis saja ya tolong dibungkus".
"Kenapa tante yang milihin", tanya Dilara lagi penuh selidik.
"Ibunya Farabi masih di Jogja sayang".
"Oh,,"
“Kamu cari siapa Dil”, tanya Bu Ambar yang memperhatikan Dilara tampak sibuk mencari seseorang.
“Cowok tadi lo Tan, yang mengantar kita kemari”.
“Namanya Farabi sayang, dia punya nama. Palingan dia sedang ke toilet”, terang Bu Ambar.
“Mbak, nanti yang membayar Farabi ya”.
Dilara langsung menatap Bu Ambar. Lagi dan lagi, Dilara dihadapkan pada keadaan yang membingungkan dirinya.
“Bu Ambar”, panggil seorang pegawai toko. Dari tempatnya duduknya, Dilara melihat Bu Ambar mengangguk-angguk pertanda memahami penjelasan dari pegawai toko, lalu mengambil sebuah tas handbag kecil dengan cap nama toko. “Beli cincin saja, tasnya semewah itu”, Dilara kembali menggerutu dalam hati.
Bu Ambar menghampiri dirinya, disusul Farabi yang menuruni anak tangga. Rupanya sedari tadi Farabi berada di lantai dua. Kali ini Dilara tidak mau tahu. Masa bodoh dengan kehidupan Farabi, toh cowok angkuh itu tidak pernah berniat untuk menjalin kembali pertemanan mereka. Dilara sudah cukup pusing dengan perjodohannya, dirinya tidak mau menambah lagi beban fikirannya dengan sibuk penasaran tentang kehidupan Farabi.
“Kita jadi ke tempat tadi Tan?”, tanya Farabi dengan pandangan tetap fokus ke depan. “Iya”, jawab Bu Ambar singkat. “Kita kemana?”, pertaanyaan Dilara sebenarnya untuk Farabi, ia berusaha membangun kedekatan dengan lelaki yang berada di sampingnya itu, namun lelaki itu tidak meresponnya. Bu Ambar yang menyadari Farabi telah bersikap acuh pada Dilara dengan sigap menjawab pertanyaan Dilara, “Setelah sholat maghrib, kita akan makan di restoran yang baru buka milik Farabi”. “Wah, keren. Masih muda sudah punya bisnis sendiri. Pasti banyak cewek yang antri nih.” Goda Dilara dengan menepuk lengan Farabi. “Kamu mau ikut antri ndak?”, celetuk Bu Ambar dari jok belakang. “Takut Ah Tan, orangnya serem. Wkwkwkwkwk”. Dilara kemudian terbahak. “Tuh Bi, dengar kata Dilara. Ucapannya sekaligus mewakili hati para gadis yang berharap bisa menjadi pendamping hidupmu”.
Farabi hanya tersenyum menanggapi hal itu, dan ia kembali fokus mengendalikan laju mobilnya. Selesai sholat maghrib mereka langsung menuju jantung kota, melewati gang sempit dan berhenti di sebuah restoran berkonsep desa kecil yang menakjubkan. Bagaimana Dilara tidak takjub melihat restoran ini, memasuki gang sempit sekitar seratus meter bertemulah resto dengan papan nama PAWON UNGU (Dapur Ungu) dengan area parkir yang luas. Di depan resto terdapat miniatur menara eifell setinggi kurang lebih lima belas meter dengan gemerlap lampu yang menyala.
“Ternyata Farabi juga punya selera yang bonafide, kreatif. Oke lah ada sisi positif dalam dirinya, setidaknya aku masih punya alasan satu persen untuk tidak terlalu membencinya”, ucap Dilara yang juga menduga toko perhiasan tadi adalah milik Farabi, karena memiliki nama depan yang sama, hanya saja kata pengiringnya menyesuaikan jenis usaha yang dikelolah.
Mereka bertiga lalu masuk dan menikmati makanan yang sudah terlebih dulu dipesan Farabi melalui manager resto. Sengaja Farabi memilih tempat duduk di bagian dalam yang berkonsep gazebo dengan kolam ikan di bagian bawahnya. Sesekali Dilara mencuri pandang pada Farabi, mengamati dengan cermat setiap inci dari wajah lelaki yang tetiba saja membuat hatinya berdesir hangat. Buru-buru Dilara menyadarkan perasaannya, bahwa dirinya sudah terikat dengan cincin yang kini melingkar di jari manis tangan kirinya. Sehingga ia harus menjaga namanya juga nama keluarga. Dan membuang jauh fikiran tentang Afkar atau Farabi yang akan menjadi rajanya. Walau sebenarnya ia sangat ingin tahu siapa lelaki sudah memberinya cincin.