Matahari sedang terik, panasnya seperti akan membakar seluruh alam. Seharian berendam dalam bak mandi, tetap tidak akan mampu menghalau rasa panas. Mengguyur tubuh berkali-kali akan tetap terasa berkeringat dan berkeringat lagi. Suhu udara mencapai tiga puluh tujuh derajat, udara di dalam kamar terasa pengap. Kipas angin tidak pernah berhenti bekerja, meski langit telah menggelap kipas angin akan terus berputar sepanjang malam.
“Buk..”
Dilara membanting tubuhnya di atas kasur yang tak lagi terasa empuk, karena sudah terlalu lama menjadi alas tidur banyak orang. Lemari yang ada juga sudah usang, kondisinya jauh dari kata layak, pintunya sudah raib hanya ditutup dengan kelambu. Bagi Dilara itu tidak masalah yang terpenting masih bisa menjadi tempat untuk menata bajunya agar kamar terlihat rapi dan bersih.
Di asrama, orang datang silih berganti. Meninggalkan kisahnya sendiri disetiap sudut kamar yang berukuran dua kali dua centimeter. Menjadi saksi dari setiap luka yang teramat pilu. Menjadi saksi dari setiap tawa yang penuh bahagia.
Dilara menatap lekat langit-langit kamarnya, mengingat kembali permintaan Bapak beberapa hari yang lalu. ia terus terbayang wajah Bapak yang penuh harap saat menyerahkan tempat perhiasan kecil berbentuk kotak warna merah.
“Pak Darman membawa lamaran untukmu.”
Mengingat itu dadanya terasa sesak, adanya seperti tiada. Setidaknya kabar itu sampai padanya lebih dulu sebelum menerima kotak merah. Namun apalah daya, benda itu sudah lebih dulu menghampiri Bapak dan menjadi sumber kebahagiaannya, karena status anak gadisnya akan berubah, bukan lagi perawan tua.
Dilara tak mampu menolaknya. Benda merah itu tak hanya sekedar berisi tanda pengikat menuju ikatan yang sah, namun juga harapan Pak Wahyu tersemat di sana bahwa anak gadisnya akan bahagia dengan lelaki pilihan karibnya itu. Menerima dengan penuh keyakinan.
Sebuah kekecewaan terus menjalari hati Dilara, ia merasa disingkur. Tanpa hadirnya, Bapak sudah menerima cincin bermata putih. Tanpa anggukannya, Bapak sudah menyetujui lelaki mana yang akan menjadi calon imamnya. Tanpa izin darinya, Bapak sudah mengikatnya dengan lelaki lain. Bapak terlihat bahagia dengan pinangan ini, apalagi datangnya dari kawan karibnya sejak kecil, yang sudah mengetahui dengan jelas bibit, bobot dan bebetnya lelaki itu.
Serapat apapun Dilara menyimpan rasa kecewa itu, senyuman Pak Wahyu terus berkelindan dalam angan-angan, Ia berusaha membungkusnya dengan setangkai senyum terindah untuk bapaknya itu. Sebab hanya itu yang bisa ia berikan untuk Pak Wahyu sebagai kado di masa senja.
Di depannya, Dilara berusaha baik-baik saja, menutupi resah yang sudah terlanjur membelenggu. Membangkang bukan sifatnya, menurut juga bukan keinginannya. Saat seperti ini, yang terpikir hanyalah senyuman Pak Wahyu tidak boleh hilang. Dan Dilara lebih memilih mengubur mimpinya agar bisa menentukan sendiri pangeran yang akan menjadi Raja dikehidupannya, tanpa pernah bercita-cita untuk menggali kembali impian itu.
Bayangan Afkar tetiba saja muncul memenuhi ingatan Dilara. Duganya, lelaki itu adalah Afkar, putra bungsu Pak Darman yang suka pamer wajah gantengnya di teras rumah. Parasnya mampu memikat hati siapapun pada pandangan pertama. Dilara menata hati, belajar legowo jika memang ternyata dialah lelaki yang tepat menurut Alloh.
Parasnya memang layak disandingkan dengan artis ibu kota, gaya maskulinnya mampu menghipnotis gadis manapun, semua pasti kepincut dengan lelaki sempurna seperti Afkar, tak terkecuali Dilara. Berawal dari hubungan yang intens karena pekerjaan, lalu berubah menjadi teman spesial yang lebih dari sahabat. Keduanya enggan mengartikan kebersamaan itu adalah sebuah rasa saling mencinta. Afkar dan Dilara merasa nyaman dengan hubungan mereka saat ini, walau sejatinya Dilara juga sering mencuri pandang, saling menabur perhatian, saling merindu dalam jarak yang panjang.
Rupanya Dilara travelling terlalu jauh, sosok lelaki itu saja masih menjadi teka-teki, Pak Wahyu dan Pak Darman belum mengatakan siapa lelaki yang akan menjadi arjunanya.
“Mbak Dil, bukakan pintunya.”
Terdengar suara Norine setengah berteriak sambil menggedor pintu dari luar. Suaranya tersengal-sengal, Dilara segera berdiri dan membukakan pintu yang sengaja dikuncinya agar ia bisa tidur dengan tenang tanpa mendapat gangguan dari Norine.
“Kamu kenapa?, sini masuk dulu,” Dilara membuka pintunya sedikit lebar, sekiranya tubuh norine yang kecil bisa masuk. Norine ngos-ngosan, sepertinya ia telah berlari terlalu cepat.
“Minum dulu Rin, baru ceritakan pelan-pelan,” Dilara mengambilkan Norine segelas air mineral, yang selalu tersedia di meja samping kasur.
“Kenapa pintunya dikunci sih mbak, baisanya juga dibiarkan teerbuka”, protes Norine.
“Gak papa, ayo katakan kenapa kamu bisa sampai seperti ini.”
“Anu mbak, sampean dipanggil Pak Darman.” Norine mengambil jeda untuk bernafas. “Semua keluarga berkumpul lo mbak,” lanjutnya.
“Ada apa yo Rin,?” tanya Dilara penasaran.
“Paling disuruh bantu-bantu mbak, sampean kan orang lama di asrama ini.?”
“Biasanya juga gak pernah dipanggil ke sana kalau ada acara.” mereka saling menerka, membuat simpulan sendiri yang tidak jelas.
“Apa sampean mau dinikahkan dengan Mas Afkar yo mbak.?”
“Hush, ngawur kamu itu. Ya tidak mungkin.”
Dilara mendaratkan pukulan halus ke pundak Norine, lalu merapikan rambut panjangnya dengan menguncir seluruh rambut menjadi satu dan bergegas menggeret tangan Norine keluar dari kamar.
“Mbak aku ikut yo”, pintanya dengan sedikit merengek, Dilara membalasnya dengan gelengan kepala. Mereka memang dekat tapi bukan berarti segala tentangnya harus diketahui oleh Norine. Ada masanya Dilara akan bercerita, setelah ia tahu pasti alasan Pak Darman memanggilnya. Untuk saat ini Dilara membiarkan Norine mengartikan sesuai perintah, bahwa dirinya dipanggil ke rumah yayasan hanya sebatas dibutuhkan tenaganya.
Matahari masih mentereng dengan gagah, masih menyombongkan digdayanya. Dilara melangkahkan kakinya menuju rumah utama. Banyak hal yang ia pikirkan, fokusnya menghilang untuk beberapa saat hingga tanpa sadar sudah menabrak anak kecil yang sedang melintas di depannya.
“Ah”, teriak anak kecil itu saat tubuhnya bertabrakan dengan Dilara, spontan dia menangis. Dilara membantunya berdiri, dan mengusap celana yang sebenarnya tidak kotor. Anak kecil sangat menyukai itu sebagai bentuk perhatian sederhana. Namun anak kecil di depannya itu tak juga berhenti menangis.
Berbagai jurus untuk menenangkan anak itu gagal dilakukan Dilara. Dia masih menangis, namun sudah tak lagi berurai air mata. Dilara menggendongnya sampai depan pintu. Sepanjang perjalanan ia terus berkata bahwa Dilara cantik, sebagai balasan Dilara juga berucap yang sama pada gadis kecil yang lucu itu.
“Namanya siapa sayang.?”
“Fatma kak.” Senyumnya mengembang, ia sudah lupa kalau tadi habis terjatuh.
“Fatma, hmmm nama yang bagus. Sayang, maaf ya tadi tanpa sengaja kakak sudah membuatmu terjatuh.” Fatma mengangguk, disambungnya dengan sebuah senyuman. Dilara merasai tangan fatma semakin kuat melingkar di lehernya. Tangisnya sudah benar-benar berhenti, kini Fatma lebih banyak menyanyikan lagu-lagu yang familiar di telinga anak-anak. Beberapa kali Dilara mengikuti iramanya, menyanyikan syairnya berduet dengan Fatma.
Dilara melangkah dengan debaran tanpa sebab, kenapa Pak Darman sampai harus memanggilnya untuk datang ke rumah. Fikirannya terus dihinggapi rasa penasaran, meraba dan mencoba menyatukan setiap kepingan kejadian beberapa hari terakhir untuk menjawab semua teka-teki tentang siapa lelaki yang sebenarnya akan menjadi pangerannya itu.
“Kakak turun”, Fatma menggoyangkan kakinya dengan keras untuk meminta turun, Dilara kaget dan tersadar dari lamunannya.
“Oh sudah sampai to”, Dilara menurunkan Fatma, namun Fatma tak segera melepaskan genggamannya. Ia melihat sebentar ke arah kerumunan beberapa pemuda seumuran Afkar yang ssedang asik rumpik di teras depan. Fatma meminta Dilara untuk sedikit membungkuk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Dilara yang hendak berbisik menanyakan sesuatu,
“Kakak yang namanya kak Dilara ya?.”
Spontan Dilara mengernyitkan dahi, dari mana Fatma tahu namanya. Sementara dirinya baru beberapa menit yang lalu melihat gadis kecil itu, saat tanpa sengaja mereka saling menabrak. Dilara mensejajarkan matanya dengan mata Fatma, lalu bertanya
“Fatma tahu dari mana sayang?.”
Fatma hanya tersenyum, tanpa memberi jawaban dan terus menatap tajam wajah Dilara. Dia merapikan rambutnya, mungkin alasan Fatma tersenyum karena rambutnya yang berantakan. Dilara juga mengusap wajahnya, kali aja ada noda atau apa yang tak bisa Ia lihat. Fatma masih tersenyum dan sesekali melihat ke arah para lelaki yang sedang asyik mengobrol dengan menikmati rasa dan aroma tembakau dari lintingan rokok bermerk.
“Sudah ya, Fatma masuk dulu. Kakak harus ke dapur.”
“Lewat sini saja kak, sama aku.”
“Terima kasih sayang, pintunya kakak ada di belakang sana."
“Abang, ini lo Kak Dila tidak mau lewat sini.”
Fatma berteriak memanggil Abang pada salah satu pemuda yang ada di sana. Teriakannya berhasil membuat para lelaki itu menoleh ke arah mereka berdua. Dilara kaget, wajahnya memerah karena malu. Entah siapa yang dipanggilnya Abang, semua lelaki yang di sana menoleh ke arah mereka, termasuk Afkar. Dilara sempat melihatnya berdiri di pintu. Seseorang langsung berdiri, namun Dilara tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena langsung memutar badan dan berjalan masuk ke dapur melalui pintu samping, melewati lorong panjang.
Dilara sedikit merasa lega, drama dengan Fatma sudah berakhir. Ia pergi tanpa menghiraukan lagi Fatma yang terus merengek memintanya masuk bersama melalui pintu depan yang sudah dipenuhi banyak tamu, Fatma sudah ada Abangnya yang menemani dan menenangkan hatinya.
Sepanjang lorong menuju dapur Dilara tertunduk dalam ruang sepi, hatinya kembali resah. Hadirnya Fatma menambah babak baru yang harus Dilara selesaikan garis akhir dari sekumpulan tanya yang bergelantung dibenaknya. Siapa Fatma dan siapa Abangnya yang terlihat begitu akrab dengan namanya, padahal tak sekalipun dirinya bersinggungan dengan keluarga mereka. Dilara merasa kini hidupnya penuh dengan kepingan-kepingan kisah yang tidak utuh.