Dilara melewati lorong sepanjang dua puluh meter, lorong sempit yang hanya bisa dilewati oleh dua orang. Berjalan menuju dapur rumah Pak Darman, dengan hati yang masih penasaran dengan sosok Fatma dan lelaki yang dipanggil abang olehnya.
Dilara membuka pintu dapur, di sana ada beberapa tetangga samping dan depan rumah yang sudah berkumpul di beberapa titik ruangan yang berukuran lumayan besar. Mereka sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Dilara masih mematung di samping pintu, fikirannya dipenuhi dengan potongan teka-teki yang belum terpecahkan jawabannya.
Dilara mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang ia panggil Si Mbok. Orang yang saban hari dimintanya untuk membuatkan telur selimut, olahan dari dadar berukuran lumayan besar dengan isian nasi goreng super pedas. Itu adalah menu favoritnya tiap akhir bulan. Selesai rapat akhir bulanan, Dilara pasti berlari ke dapur untuk menikmati telur selimut buatan Si Mbok itu. Berulang kali ia coba untuk membuatnya sendiri selalu gagal, padahal resep dan cara membuatnya sudah sesuai dengan resep yang diajarkan Si Mbok. Mungkin karena Si Mbok membuatnya dengan penuh cinta.
Untuk sesaat Dilara mematung di depan pintu, netranya menyisir setiap sudut dari dapur itu, mencari pekerjaan yang belum selesai. Matanya menangkap sosok Norine yang sudah duduk di antara ibu-ibu, sedang sibuk melipat kardus kue. Norine yang menyadari kedatangan Dilara lalu melambaikan tangan pada Dilara. Ia pun menghampirinya.
“Tadi aku sudah melarangmu datang ke sini kan Rin?.”
“Mbak Dila tidak melarangku datang ke dapur kan?. Laranganmu hanya berlaku agar aku tidak ikut denganmu Mbak,” terangnya dan itu memang benar Dilara hanya melarang dia ikut, tapi tidak melarangnya pergi ke dapur.
Dilara menjitak pelan kepala Norine, dia sedikit kesakitan namun ia masih sempat tersenyum.
“Ini ada apa Rin?.”
“Ndak tahu mbak. Tadi sih aku dengar selentingan ada lamaran mbak.”
“Afkar maksudmu?.”
“Ndak tahu mbak, wes ayo bantuin aku mbak.”
Dilara lalu menyibukkan diri dengan membantu Norine melipat kardus berwarna putih. Tidak hanya tangannya yang bekerja, mata Dilara juga tak kalah sibuk merekam wajah-wajah yang baru dilihatnya. Dilara juga merasa asing dengan wajah perempuan paruh baya tidak berjilbab yang mempunyai pembawaan gerapyak (humble) dan sedang memberi pengarahan pada Si Mbok, keduanya terlihat akrab, dan beberapa kali Si Mbok berbisik kepadanya sambil mengacungkan jari jempol, lalu saling tersenyum.
“Mbak, minta tolong potongkan wortel ini ya, dipotong dadu”, tanpa ia sadari perempuan itu sudah berada tepat di depannya sambil memberinya satu ember besar berisi wortel yang sudah dikupas dan dicuci. Dengan segera Dilara mencari pisau, telenan dan tidak lupa tempat yang nyaman untuk khusyu’ (fokus) menyelesaikan tugasnya.
“Aku bantuin Nduk," tawarnya sambil duduk di belakang Dilara.
“Ah, iya Tante," ucap Dilara. Dengan segera ia mengubah posisi duduknya yang semula menghadap dinding denganmemutar badannya, memposisikan tempat duduknya tepat di depan perempuan yang kini mulai membuatnya penasaran. Diliriknya berkali-kali, mengingat kembali pada siapa wajah di depannya itu pernah ia temui. “Huft…” Dilara menghela nafas panjang. Perempuan itu membersamai Dilara memotong wortel sampai selesai.
“Sudah Nduk, irisanmu ayu-ayu (cantik-cantik). Persis seperti ayu mu.” Mendengar pujian itu Dilara tersenyum dan hanya mampu membalasnya dengan ucapan terima kasih. Dipandangnya dengan benar wajah perempuan yang sedang duduk lurus di depannya, mengamati dengan cermat, menyamakan dengan beberapa wajah orang yang sudah terekam otomatis saat pertama kali bertemu, hasilnya nihil. Dilara tidak menemukan kemiripan wajah perempuan itu dengan siapapun, dia orang baru. Parasnya cantik, matanya bulat, hidungnya kecil lancip, kulitnya putih, aroma wangi menguar dari tubuhnya.
“Bentar ya Nduk, aku masuk dulu. Oh iya kamu Dilara kan?”
“Iya, silahkan.”
Perempuan itu masuk ke dalam tanpa rasa canggung, untuk sementara dalam kamus Dilara perempuan itu adalah keluarga dari Pak Darman. Dilara kembali melipat kardus membantu Norine. Kini Norine mulai keluar aksi jahilnya, Ia terus menggoda Dilara dengan sebutan Nyonya Afkar.
“Hush, jangan ngawur kamu. Jangan menyebar gosip”. Dilara menepuk bahu Norine dengan pelan. Dirinya juga masih menerka, tentang hubungan dari semua kejadian beberapa hari terakhir. Benarkah dirinya terkait dengan rentetan semua peristiwa itu, dirinya hanya memegang satu kunci bahwa ia telah diikat dengan lelaki yang masih menjadi teka-teki itu. Niatnya memang tawadhu’ (menurut) ingin membahagiakan Pak Wahyu.
Si Mbok terlihat sibuk menggoreng sesuatu, Dilara menghampirinya, mengambil alih sutil yang dipegangnya.
“Biar aku yang melanjutkan Mbok”, pinta Dilara
“Eh ngagetin wae Nduk. Ojok (jangan)”, Si Mbok mengambil lagi sutilnya, mendorong tubuh Dilara sedikit menjauh dari wajan yang minyaknya terus muncrat-muncrat. Dilara merasa ada yang aneh dengan sikap Si Mbok yang tidak biasa, Si Mbok akan senang jika dirinya mau uplek (turun langsung) kerja di dapur
“Nanti ayu mu ilang, baju mu nanti bau bumbu dapur. Sudah masuk sana, kamu sudah ditunggu”. Si Mbok berusaha mencegah Dilara agar kali ini tidak membantunya memasak dan berharap ia tidak mendapat pertanyaan lagi dari Dilara yang mulai di dera rasa penasaran.
“Apa Si Mbok tahu?, ceritakan Mbok, ayok”, rengek Dilara padanya. Kedua tangan Dilara menarik sedikit celemek yang dikenakannya. Meminta penuh harap agar Si Mbok mau sedikit berbagi informasi.
Belum juga Si Mbok memberi jawaban, perempuan berkulit putih bersih tadi datang kembali ke dapur berjalan menuju ke tempat Dilara dan Si Mbok ngerumpi
“Ayo Nduk masuk”, ajaknya.
Beberapa kali mata Si Mbok berkedip dan melirik ke arah perempuan itu, entah apa yang Si Mbok coba jelaskan melalui isyaratnya itu. Ia bukan orang baru di rumah ini, sudah pasti Si Mbok mengetahui sesuatu.
“Ayo Nduk, kok malah bengong,” pintanya sambil menarik tangan kiri Dilara dengan halus. “Masuk?, maksudnya masuk ke dalam?”, Dilara merasa heran sebab dirinya bukan bagian dari keluarga ini, bukan juga bagian terpenting dari acara keluarga ini. Dirinya hanya pengurus dari yayasan ini yang sudah semestinya harus membantu pemilik yayasan jika sedang punya hajat. Hanya itu tidak lebih.
“Maaf, ada apa ya Tan?”
“Sebentar lagi kamu juga akan tahu.”
Dilara masih enggan beranjak dari tempatnya berdiri, namun perempuan itu masih terus menarik tangannya. Pintu pembatas antara dapur dan ruang utama yang tingginya hanya separuh dari gawang pintu itu terbuka, keluarlah Afkar dari balik pintu itu.
“Ma, ayo masuk. Acaranya akan segera dimulai”, Afkar memanggil perempuan itu dengan sebutan mama, siapa sebenarnya perempuan ini? Itu bukan Bu Ambar, kenapa Afkar memanggilnya mama?. Pertanyaan itu terus berkelindan di benak Dilara, namun tak satupun yang mampu menjelaskan semua tanya yang terlanjur menjalari pikirannya.
Perempuan itu terus menarik tubuh Dilara yang kurus, tak sejangkahpun melangkahkan kakinya sebelum berhasil mengajak Dilara. Seluruh mata memandang ke arahnya tak terkecuali Norine sampai melongo, lalu tersadar segera memberi isyarat agar Dilara tidak membantah, tidak menyulitkan orang tua, Dilara harus manut (menurut).
“Saya menyelesaikan ini dulu ya Tan”, gadis itu mencari alasan untuk menghilangkan sebentar rasa gugup dari ketidakpahaman dan ketidaktahuannya. Sejenak menenangkan dirinya agar benar-benar nyaman menghadapi orang-orang yang berada di dalam sana. Seharusnya dia bisa lebih santai, bila Si Mbok tidak memberi teka-teki, bila perempuan itu tidak tetiba saja mengajaknya dengan paksa masuk ke dalam ruangan utama, bila Norine juga ikut diajak masuk. Dengan begitu tidak alasan lain selain dirinya memang sengaja diberi mandat untuk membantu menyelesaikan beberapa pekerjaan di rumah Pak Darman.
“Eh, biar nanti diselesaikan sama yang lain. Kamu masuk dulu ke dalam. Ngobrol bareng dengan yang lain. Biar kenal, dan bisa lebih akrab”, perempuan itu tidak membiarkan Dilara begitu saja. Ucapannya tidak membuat Dilara tenang, degupan di dadanya semakin hebat. Duga sangkanya hampir mendekati benar bahwa dirinya akan menjadi menantu di keluarga ini.
Afkar masih diam di samping pintu, menyandarkan tubuhnya di dinding. Tatapannya terus mengarah ke Dilara yang tidak juga mau berdiri, menerima ajakan perempuan yang beberapa menit lalu dipanggilnya mama. Lama menunggu Afkar pun mendekat,
“Anak gadis kok lama bener kalau diperintah orang tua”, ucap Afkar
“Oh anu, ituuuu…”, Dilara terbata-bata mencari alasan untuk sedikit mengulur waktu supaya dirinya benar-benar siap bertemu orang-orang baru. Sungguh itu bukan sifat Dilara yang sebenarnya, dia akan bisa dengan segera menguasai dirinya berada di lingkungan baru, beradaptasi dengan orang baru. Membawa dirinya agar orang-orang merasa nyaman berada di dekatnya.
Saat ini keadaannya sedikit berbeda, Dilara menangkap bahwa dirinya bukan sebagai subjek yang sama atas sebuah kisah yang sedang tayang. Dia satu-satunya pelaku tunggal yang menjadi sentra dari potongan kisah saat ini. Ya dialah satu-satunya tokoh utama yang tidak tahu perannya.
“Sudah diam, ayok”, tanpa persetujuan Dilara, Afkar menarik tangannya. Ia pun tak lagi bisa berkutik, terpaksa harus mengikuti langkah Afkar menuju ke ruang dalam. Perempuan tadi menyusul di belakangnya.