Kali pertama memasuki ruangan yang besar, mata Dilara terbelalak. Ruangan yang cukup besar, kursi-kursi ukiran khas Jepara tertata rapi menepi di sisi tembok. Karpet besar digelar hampir menutupi seluruh lantai ruangan yang udaranya sudah terpapar ac, rasanya sejuk meski di luar cuaca sedang terik.
Aneka kudapan dan buah-buahan terhidang di atas karpet. Di sana kaum ibu-ibu sudah berkumpul. Pak Darman juga sudah menyediakan ruang tamu untuk tamu laki-laki. Anak-anak berkumpul di depan televisi, sebagian memang ada yang di teras, termasuk Afkar dan saudara-saudara sepupunya.
Dilara masih bingung dengan statusnya di sini. Alhasil dirinya hanya diam berdiri mematung di samping pintu. Merasa canggung. Sesekali kedua netranya mengamati pergerakan di ruangan itu, merekam wajah-wajah orang yang baru ia jumpai. Fatma dan beberapa anak seumuran dia serta usia remaja berkumpul di depan televisi.
“Mbak Dila…”, teriak Fatma setelah menyadari keberadaan Dilara yang tengah berdiri mematung beberapa menit yang lalu. Dilara merasa sedikit lega karena ada Fatma yang mengenalnya, rasa canggungnya sedikit mereda. Setidaknya ia punya alasan untuk berada di sini, menemani Fatma gadis kecil yang masih membuat dirinya penasaran tentang sosok lelaki yang tadi dipanggilnya abang.
Dilara memang baru bertemu dengan Fatma beberapa waktu lalu di halaman sekolah, namun pribadinya yang ceria dan sikapnya yang pemberani saat bertemu dengan orang baru, membuat keduanya bisa dengan cepat saling mengakrabkan diri. Dilara mempunyai sifat ngayomi (Humble), sehingga siapapun yang berada di dekatnya akan merasa nyaman.
“Tadi diajak Fatma masuk kenapa tidak mau kak?”, ledek Fatma, ucapannya seolah menjelaskan bahwa kehadiran Dilara memang sedang di nanti untuk acara yang akan berlangsung dan mau berbaur dengan keluarga ini. Dilara membungkuk mencolek hidung gadis kecil yang mempunyai bentuk hidung hampir sama dengan Farabi. “Hidungmu mancung seperti Fa…”, Dilara menghentikan ucapannya. “Ah lupakan, ayo duduk disini”, lanjut Dilara yang menawarkan pahanya pada Fatma untuk duduk di pangkuannya.
Fatma menolaknya, ia sudah lebih dulu menuntun Dilara untuk duduk dengan sekumpulan anak-anak yang tengah asyik melepas rindu, bermain bersama dan saling bertukar kisah. Moment acara pertemuan keluarga seperti ini adalah menjadi waktu terbaik untuk mereka saling menjaga tali silaturrahmi dengan anggota keluarga yang lain. Fatma menarik kedua tangan Dilara hingga tubuhnya terduduk tepat di antara ibu-ibu.
Ruangan ini penuh dengan kerinduan, sesekali terdengar bahak yang menggelegar dari berbagai sudut, bercerita tentang apa saja. Dan Dilara masih menyibukkan diri bermian dengan Fatma, sudah seperti Abdi Ndalaem (pelayan di pesantren) yang terus mengawasi langkah Ning dan Gus kecilnya. Sesekali matanya memergoki ibu-ibu yang sedang menatap penuh telisik ke arahnya.
Dua jam berlalu, Dilara hanya duduk-duduk menemani Fatma bermain. Dengan telaten ia menyuapi Fatma karena disuruh oleh perempuan yang tadi bersamanya di dapur. Diliriknya jam yang menempel di dinding, waktu menunjukkan pukul tiga sore. beberapa orang terlihat wara-wiri ke kamar mandi membersihkan diri, sholat lalu menggantinya dengan baju yang bersih.
Dilara celingukan, mencari Afkar yang tadi sudah menyeretnya ke ruangan ini dan meninggalkannya begitu saja. Kelambu ruang tamu terbuka, muncul Afkar dari balik kelambu itu. Saat sudah merasa dekat, Dilara segera berdiri dan mengajak Afkar ke depan televisi untuk meminta sedikit penjelasan tentang semua yang dialami Dilara di ruangan ini.
“Coba jelaskan sepadat mungkin padaku, tentang semua ini”, pinta Dilara pada Afkar dengan nada sedikit memaksa untuk menjelaskannya. “Kamu tahu, anak kecil itu namanya Fatma. dia terus saja bilang kalau aku akan menjadi kakaknya, aku semakin bingung”, sambung Dilara dengan menunjuk Fatma. Afkar hanya tersenyum.
“Tadikan sudah ku bilang nanti kamu akan tahu sendiri jawabannya, jawab Afkar dengan sedikit mencolek hidung mancung Dilara dan berlalu begitu saja menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Dada Dilara masih terus berdetak tak beraturan, seperti saat sedang menaiki wahana tornado. Sendirian di ruangan dengan orang-orang yang tidak dikenal telah membuatnya tidak nyaman, berasa menjadi alien yang tersesat di muka bumi. Hanya momong Fatma, obrolan mereka hanya mengikuti tema ucapan Fatma. Dan ternyata hal itu tidak mengurangi sikapnya yang makin lama makin terlihat kikuk, merasa tidak nyaman. Ada sedikit rasa kecewa pada Afkar, Pak Wahyu, Pak Darman, Bu Ambar, semua orang yang merahasiakan peristiwa hari ini dan perempuan yang membuatnya terjebak di ruangan ini. “mau-maunya tadi aku diajakin masuk ke sini, jadinya kan seperti orang bego," umpat Dilara dalam hati.
“Mungkin sebaiknya aku kembali ke dapur”, pungkas Dilara. Ia merasa lebih ada manfaatnya di dapur, membantu yang lainnya menyelesaikan pekerjaan. Ada banyak hal yang bisa ia lakukan di sana dari pada hanya bermain-main dengan Fatma, tanpa harus berpura-pura tersenyum bahagia di balik rasa canggung yang terus mendera.
“Mau ke mana Nduk," cegah perempuan tadi.
“Mau kabur itu Ma," teriak Afkar yang baru saja turun dari tangga. Sebentar Afkar menatap wajah Dilara, lalu mengerlingkan sebelah matanyanya menggoda Dilara yang wajahnya sudah terlihat bersungut-sungut. “Eh, anak gadis gak boleh marah”, ledek Afkar.
“Hus, sudah sana pergi. Jangan menggoda anak cantiknya mama”,
“Siap mama sayang”, sebelum berlalu, Afkar mendaratkan ciuman di pipi perempuan yang sejak tadi dipanggilnya mama. Mampir sebentar ke telinga Dilara sambil berbisik, “aku memanggilnya mama meike, kamu juga boleh.” Dilara terlihat heran dengan ucapan Afkar.
“Dila, kamu ke kamar dulu ya. Ganti bajumu dengan yang ini," pesan bu meike. Digantungnya sebuah gaun berwarna salem pada lengan Dilara.
“Untuk saya tan?," tanya Dilara heran
“Iya buat kamu nak, nanti ada orang yang akan membantu kamu merapikan rambutmu.”
“Mmmmmm….," Dilara masih diam memikirkan sesuatu.
“Sudah, jangan kebanyakan berfikir. Waktu cepat berlalu," Bu Meike sedikit mendorong tubuh Dilara agar ia dengan segera bergerak melangkahkan kakinya.
Dilara berjalan dengan terhuyung, kepalanya terasa pening, berkali-kali menarik nafas panjang menyusuri jalan yang sama dengan kepingan teka-teki yang harus segera ia temukan jawabannya.Menunggu penjelasan dari keluarganya juga tidak ada yang bicara, kemarin saat kakaknya menelfon, ia hanya memberi jawaban bahwa ia mengikuti keputusan bapak, apapun yang membuat bapaknya itu bahagia, Dilara juga akan bahagia.
Dirasa merasa dandanannya sudah pas, segera ia bergegas kembali ke rumah Pak Darman. “Tok tok tok…”, terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. “Belum juga membuka pintu, sudah dijemput saja”, gumamnya dalam hati. Afkar ada di balik pintu itu, “kamu?, sedang apa?”, tanya Dilara beberapa detik setelah keduanya saling menatap penuh kekaguman. Afkar terpanah kecantikan yang sederhana dari gadis desa yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.
Afkar hanya menggerakkan sedikit kepala, melirik seseorang yang ada dibelakangnya kemudian memberi sedikit jalan kepada orang itu yang ternyata tukang rias pengantin. Spontan Dilara mengernyitkan dahinya. “Kenapa harus dimakeup?”, tanya Dilara yang lagi-lagi membuat Afkar tidak bisa memberi jawaban, ia hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.
“bisa kita mulai mbak?.” tanya tukang riang.
“Ah iya bisa-bisa. Tapi jangan terlalu menor ya mbak,” request Dilara sebelum terlanjur ia didandani ala dakocan. Dilara tipikal gadis yang tidak terlalu suka dengan makeup menonjol. Saban harinya hanya memakai bedak tabur, sedikit mengoleskan celak berwarna hitam pada kelopak mata bagian bawah. Seperti itu saja Dilara sudah berhasil memikat beberapa lelaki, namun ia enggan menanggapi.
Perias itu tak perlu susah payah make over wajah Dilara yang sudah pas porsi kecantikannya, dia hanya perlu menambah bulu mata, dan mengoles eyeliner pada matanya yang bulat. lalu merapikan rambutnya dengan mengepang bentuk kelabang tekek. Dilara sudah persis seperti tokoh yang berperan sebagai putri dari kerajaan negeri dongeng, hanya saja ia tidak memakai daun yang sangat lebar dan tanpa mahkota di kepalanya.
“Nah sudah Mbak Dil, aduh cantiknya.” Puji perias itu. Sebenarnya Dilara malu, namun ia berusaha menyembunyikannya dengan alasan mencari ponselnya. Afkar terus menatapnya tajam, kali ini tanpa senyuman lalu mengulur nafas panjang. Mereka bertiga lalu keluar kamar menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu jati. Pas anak tangga terakhir Afkar sengaja menyalip Dilara untuk mengatakan sesuatu, “Kamu cantik.” Langkah Dilara terhenti, rasa takut tetiba saja datang menyapa. Binar kesedihan terpancar dari kedua matanya. Menatap punggung Afkar dengan hati penuh derai kesedihan.
“Aku berharap lelaki itu kamu.” Kalimat itu melintas begitu saja, tanpa bisa dikendalikan oleh Dilara. Afkar membalikkan tubuhnya, menatap Dilara yang masih terpaku berdiri di atas anak tangga terakhir. Dari jarak yang cukup jauh keduanya saling menatap penuh harap. Dilara ingin berlari dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan Afkar, sebab ia yakin bahwa saat malam di atas rooftop Afkar akan melamarnya. Afkar pun demikian, ia sangat ingin bahwa malam ini Dilara akan benar-benar bahagia dengan keputusan yang sudah dibuatnya.
Setelah lama saling menatap, Afkar melambaikan tangannya “Ayo!”. Dilara pun tersadar, perlahan ia berjalan dan masuk melalui pintu samping. Afkar merasa hari-harinya akan sepi tanpa Dilara. Pun demikian dengan Dilara, baginya hanya Afkar lelaki yang dengan sabar menerima dibuli Dilara. “Hari-hari pasti sepi tanpamu”