Alicia membenahi kacamatanya, mengikat rambutnya ekor kuda dan bersiap untuk berangkat, pagi ini sangat cerah, hari pertama dia mengikuti ospek, jantungnya berdegup kencang tak karuan, dia takut jika hari ini akan gagal. Alicia melirik jam tangannya dan membulatkan matanya, lima belas menit lagi jam masuk sekolah. Dia bergegas mengambil tasnya dan berlari ke bawah, dia hanya sempat mengambil satu roti bakar buatan ibunya.
“Ma aku berangkat dulu!” teriak Alicia.
“Iya sayang, hati-hati ya,” balas ibunya. Pak Seno—supir Alicia sudah menunggu di depan. Sayangnya kota Jakarta begitu macet, mobil hampir tidak bisa bergerak, Alicia menggerutu pelan, hari pertamanya sekolah kenapa harus terlambat. Dia memutuskan keluar dari mobil dan berlari, sekitar lima ratus meter lagi dia sampai di sekolah.
Alicia berlari terburu-buru sampai tidak menyadari kakinya masuk ke dalam aspal berlubang sampai dia terjungkal jatuh. Lututnya tergores berdarah.
“Aw, aduh sakit!” pekiknya. Dia berusaha berdiri sembari berjalan tertatih, seorang pemuda yang mendatanginya, dia menatap gerbang sekolah yang hampir ditutup padahal tinggal lima langkah lagi. Alvaro, dia juga siswa baru di SMA Nusa Bangsa, tanpa pikir panjang karena tak tega melihat Alicia, dia menggendong Alicia ala bridal style dan berlari masuk ke dalam sekolah.
Selamat, keduanya tidak terlambat. Alvaro menurunkan Alicia, membantunya membersihkan tasnya yang kotor karena aspal. Alicia menatap Alvaro, sungguh dia kagum dengan Alvaro.
Oh God, gantengnya natural.
Alicia tersenyum sendiri sembari membenahi kacamatanya, dia sangat beruntung hari ini ditolong oleh lelaki setampan Alvaro. “Hei, gimana? Lututmu enggak papa?” tanya Alvaro, berulang kali dia memanggil Alicia yang melamun memperhatikannya. Alicia seolah tersihir dengan ketampanan Alvaro, dia hanya terpaku menatapnya, seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, jantungnya berdegup kencang.
“Ah? Oh ... e ... iya enggak papa,” ucap Alicia. Alvaro lalu menariknya membawa Alicia ke UKS.
Dengan cekatan tangan Alvaro membalut luka Alicia, dia mengobati perlahan, karena terus memperhatikan ketampanan Alvaro, Alicia sampai tidak berkedip bahkan dia tidak merasa perih saat lukanya diobati. Alvaro membalut luka Alicia dan tersenyum puas ketika dia telah menyembuhkannya.
“Sudah, kamu kelas apa?” tanya Alvaro. Lagi-lagi Alicia diam, dia hanya menatap mata indah Alvaro.
“HEI!” ucap Alvaro dengan meninggikan nada suaranya hingga membuat Alicia tersentak.
“Eh, iya kenapa?”
“Kamu kok ngelamun terus? Kamu kelas apa?” tanya Alvaro.
“Kelas IPA 1.”
“Oh yaudah, bareng aja.” Alicia sesekali melirik Alvaro, garis rahangnya yang tegas dan matanya yang begitu bersinar, tampan memukau. Sampai Alicia tidak sadar di depannya pintu kelas dan tanpa sengaja menabraknya. Alicia hanya meringis kecil dan Alvaro menertawainya.
“Aku tau aku ganteng, tapi enggak usah segitunya.” Semburat merah muncul di pipi Alicia, seperti kebun yang baru saja mekar dan memberikan harum aroma bunga segar. Alicia malu, dia hanya bisa menunduk dan terburu-buru mencari bangku. Alvaro Dermawan, nama itu kini mengisi hati Alicia bahkan Alicia yang introvert dan tidak menyukai perkumpulan menjadi tanpa sengaja mengikuti OSIS.
“Siapa yang mau jadi OSIS di sini angkat tangan, ambi formulir nanti serahkan ke ruang guru ya.”
Alicia melirik Alvaro, lelaki itu tanpa ragu mengangkat tangannya, sejak SMP Alvaro selalu menjadi ketua OSIS, dan dia tidak mau menyerah begitu saja. Entah apa yang dipikiran Alicia dia ikut angkat tangan dan mengambil formulir.
“Kamu ikut OSIS? Serius? Demi bulan bintang dan matahari, Alicia? Osis? Ngapain? Yaampun Alicia, kamu mimpi apa semalem?” bisik Freya, sahabat Alicia sejak SMP yang kebetulan ada di kelas yang sama dengannya.
“Em ... iya ya ngapain aku angkat tangan? Aduh udah terlanjur lagi.”
Freya hanya tertawa kecil menggelengkan kepalanya, dia sangat heran dengan temannya, ada sesuatu yang berubah dari Alicia.
“Yaudah, kan udah terlanjur, isi aja, palingan juga enggak lolos seleksi,” ucap Freya. Alicia hanya tersenyum menanggapi Freya, ada benarnya ucapan Freya, Alicia tidak memiliki bekal apapun soal kepemimpinan ataupun organisasi, sejak dulu SMP jika Alicia mendaftar OSIS, dia tidak pernah beruntung, dia selalu gagal saat seleksi.
Alicia kembali menatap Alvaro, mungkin ini hari pertama dia akan terus menyukainya, lelaki itu punya sejuta cara menarik perhatian Alicia, baru pertama melihat, namun Alicia sudah merasa sangat dekat.
Alicia melangkahkan kakinya untuk pulang, Pak Seno tidak bisa menjemputnya karena mendadak harus mengantarkan ayahnya ke Singapura. Alicia menghela nafasnya, sungguh dia ingin memiliki keluarga yang selalu ada, ayahnya jarang sekali bisa menyambutnya tersenyum hangat setiap hari, selalu sibuk dengan bisnisnya. Tanpa sadar Alicia kembali tersandung saat berjalan, dan Alvaro memegang tangannya agar tak terjatuh. Mereka kembali bertatapan, netra mereka saling bertemu, memberikan sesuatu yang berbeda dalam diri Alicia, benar, ini cinta.
“Eh? Ma-maaf.” Alicia menarik tangannya dan tersenyum canggung.
“Jalan pakai mata di kepala, bukan mata kaki.”
Alvaro lalu berjalan melewatinya dia lalu menuju tengah lapangan basket untuk mengikuti seleksi. Sekilas Alicia melihat Alvaro yang membawa jersey biru bergaris putih. Alicia belum sempat mengucapkan terimakasih, dia kembali keluar gerbang untuk pulang. Dia tersenyum dari kejauhan melihat Alvaro, lelaki yang dia kagumi memang sangat sempurna, manis dan lucu. Alicia duduk sejenak memandangi lelaki di seberangnya, di tengah lapangan sedang sibuk mendribble bola basketnya.
“Cie Alicia,” sapa Freya. Alicia langsung memandang ke arah lain, Freya tersenyum kecil, mata manusia tak mungkin salah. Freya sangat tahu jika Alicia menyukai Alvaro. Dia ingin berteman dekat dengan Alicia, namun Alicia gadis yang lebih menyukai buku daripada pertemanan.
“Enggak pulang?” tanya Freya lagi, Alicia masih terdiam.
“Alicia Putri Felisha!! Oh God, aku lagi ngomong sama kamu, bukan sama patung, jawab dong Alicia!” bentak Freya. Alicia lalu menoleh menatap Freya, dia dengan Freya memang sudah berteman sejak di bangku SMP, tetapi Alicia tidak pernah menganggap Freya sebagai teman dekat.
“Iya, aku mau pulang tapi naik angkutan umum.”
“Oh, ikut aku aja, itu supir aku udah dateng, rumah kamu Mangga Gading blok C kan?” tanya Freya.
“Loh kok tau?” tanya Alicia bingung. Freya tertawa terbahak-bahak, benar dugaannya, Alicia memang gadis yang cuek dan hanya peduli dengan buku, entah itu buku novel atau buku pelajaran.
“Iya tau lah, kita kan tetangga, rumah aku dua rumah di samping rumah kamu, aku blok D.” Alicia membulatkan matanya, pantas saja dia sering melihat Freya di toserba dekat kompleks.
“Astaga, aku baru tau kalau rumah kita dekat,” ucap Alicia masih tercengang. Soal Alicia, tingkat cueknya sudah tidak ada yang bisa menandingi.
“Yaudah, yuk pulang.” Freya menggandeng Alicia dan mengajaknya masuk ke dalam mobil, mengantarkannya pulang. Di perjalanan Freya banyak berbicara dan membuat suasanya tidak canggung, Alicia baru menyadari jika Freya orang yang ramah dan baik. Rasanya begitu nyaman dan menyenangkan di dekat Freya.