Suara dentuman bola basket memenuhi lapangan, sorak sorai penonton SMA Nusa Bangsa begitu heboh, apalagi saat Alvaro memasuki lapangan dengan penuh senyum optimis, seolah seluruh siswi perempuan tersihir dengan ketampanannya. Alicia, gadis manis itu awalnya tidak tertarik dengan pertandingan basket, dia lebih menyukai duduk di perpustakaan membaca satu persatu buku di sana. Namun karena mendengar Alvaro telah direkrut menjadi anggota tim, dia seketika meletakkan buku yang dia pegang dan bergegas ke lapangan. Sesekali dia membenahi kacamatanya sembari memperhatikan gerak gerik Alvaro yang mahir menggiring bola. Peluh keringat di dahi Alvaro, rasa hati Alicia ingin menyekanya dan memberi minum, sayang nyalinya tak sebesar itu untuk mendekati Alvaro. Mata Alicia menyipit, dahinya mengerut, terlihat jelas di seberang sana Alvaro berbincang sejenak dengan gadis cantik di pinggir lapangan setelah pergantian babak. Alvaro menatap gadis itu dengan lekat sampai membuat Alicia menghela nafas berulang kali, gadis itu mengerucutkan bibirnya karena cemburu.
“Hei,” sapa Freya menepuk pundak Alicia.
“Tumben enggak ke perpustakaan?” tanya Freya. Dia mengikuti arah pandang Alicia dan menaikkan alisnya, matanya tertuju pada Alvaro dan Luna.
“Cemburu ya?” goda Freya menatap Alicia. Sudah lama Freya mengenal Alicia, dia sudah jelas mengerti jika Alicia menyukai Alvaro, matanya menatap Alvaro dengan lekat dan tidak berkedip saat melihatnya, seolah pusat perhatian Alicia hanya ada pada Alvaro.
“Ha? Eng ... enggak kok,” ucap Alicia gugup sembari menggigit jemarinya.
Alicia jadi makin bingung, kenapa dirinya bisa jatuh hati pada pandangan pertama untuk Alvaro? Dia salah. Lelaki yang dikagumi oleh banyak cewek-cewek di sekola ini. “Udah gapapa, aku bisa kok simpan rahasia.”
Alicia tersenyum lega mendengar Freya, semenjak hari itu mereka lebih dekat dan memutuskan menjadi sahabat selamanya. Freya selalu mempunyai ribuan cara membuat Alicia untuk selalu berani melakukan apapun, termasuk hari ini, dia memberikan Alicia sebotol minuman berenergi dan menyuruhnya memberikan kepada Alvaro.
“Nih,” ucap Freya memberikan minuman berlabel biru itu kepada Alicia, dia mengedipkan matanya, mengode Alicia untuk memberikan kepada Alvaro. Tetapi hal itu tak mungkin Alicia lakukan, dia gadis yang pemalu dan tak terbiasa bertingkah agresif. Dia berbalik, namun Freya menarik kerahnya.
“Woilah mau kemana? Udah cepetan kasih!!” ucap Freya.
Alicia masih menggeleng dan membenahi kacamatanya yang turun, dia hendak pergi kembali ke dalam kelas, namun Freya menariknya. Meski tubuh Freya kecil dan kurus kering, dia masih sanggup menarik Alicia.
“Ayoo kamu enggak akan mendapatkan cinta tanpa usaha!!” bentak Freya. Alicia meragu, dia mengepalkan tangannya dan menghela nafasnya, menatap Freya sekali lagi dengan ragu lalu pasrah, ya benar kata Freya, setidaknya dia harus mencoba untuk mendekati Alvaro.
Alicia tinggal tiga langkah lagi dekat dengan Alvaro, Freya sangat gemas dengan sikap Alicia, dia mendorong Alicia sampai terjungkal dan hampir saja jatuh jika Alvaro tidak menangkap pinggangnya.
“Astaga Alicia, kamu kenapa sih apa-apa enggak pakai mata?” ucap Alvaro. Freya hanya tersenyum kecil ketika melihat Alvaro yang memegangi pinggang Alicia lalu dia pergi. Alicia bertatapan dengan Alvaro, sekujur tubuhnya rasanya terpaku dan tidak bisa bergerak sama sekali, dia mengerjapkan matanya dan mencoba berdiri tegak dengan benar. Alicia tidak bisa berkata-kata, dia hanya menarik tangan Alvaro dan memberikan minuman isotonik itu lalu berlari pergi.
“Hm? Ini apaan lagi?” ucap Alvaro menyerngitkan dahinya melihat minuman isotonik dalam genggamannya.
Alicia kini kembali duduk di pinggir lapangan dan menatap Alvaro dari kejauhan, dia berharap Alvaro meminum minuman darinya, namun dia hanya bisa menghela nafas dan menekuk bibirnya ketika Alvaro meletakkan minuman itu di samping tasnya dan kembali olahraga. Ada sedikit rasa kecewa dia melihat Alvaro yang hanya menaruhnya. Sekilas Alicia melihat Alvaro yang tersenyum kepada Luna, dia membalikkan badan dan cepat-cepat ke perpustakaan, pemandangan seperti itu membuat mata Alicia memanas. Dia melewati toilet, berhenti sejenak dan masuk ke dalam toilet. Menatap dirinya dari pantulan cermin dan membandingkan dirinya dengan kecantikan Luna. Rasanya dia memang tidak secantik Luna, dia hanya bisa menatap dengan tatapan kosong. Belum lagi jika memang Alvaro menyukai Luna, entah bagaimana perasaan Alicia saat ini, rasanya campur aduk.
Alicia harusnya tak mudah percaya, kenapa bisa Alvaro menebar pesona seperti ini? Pada dirinya? Apakah dia ingin bermain-main?! Alicia menjadi tak karuan.
Ponsel Alicia bergetar dan dia segera mengangkat teleponnya.
“Alicia?” ucap ibunya panik. Dari nada suara ibunya Alicia bisa mendengar ibunya sangat panik dan khawatir.
“Iya Ma? Ini aku, kenapa Ma?” tanya Alicia ikut bingung.
“Alicia, Pak Seno sudah ada di depan, Mama juga sudah telfon guru kamu, cepat pulang ya sayang.”
Deg.
Entah kenapa jantung Alicia berdegup kencang, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Alicia meletakkan ponselnya ke dalam saku dan berlari terburu-buru ke dalam kelas mengambil tas dan bukunya. Sepanjang perjalanan pak Seno sama sekali tidak bicara, berulang kali pak Seno ditanya oleh Alicia, namun tidak ada jawaban, hanya diam dan hening. Alicia semakin panik, entah kenapa dia yakin ada yang tidak beres. Alicia terkejut ketika melewati gerbang rumahnya, banyak orang berpakaian hitam masuk ke dalam rumahnya. Tanpa banyak berbicara, Alicia langsung berlari masuk ke dalam rumah, dia melihat kakeknya yang meninggal telah tertutupi kain kafan. Alicia sungguh tidak bisa berkata-kata, baginya kakek adalah orang yang berharga.
“Ma, kakek kenapa Ma?!” ucap Alicia dengan suara bergetar, dia tidak bisa lagi menahan air matanya, dia memeluk erat ibunya yang juga menangis. Prosesi pemakaman berjalan dengan lancar, Alicia kini hanya menatap kosong kamar kakeknya. Dia menangis di atas ranjang kamar kakeknya, sejak kecil kakeknya selalu memberi kehangatan dan kebahagiaan kepadanya.
“Alicia, sayang gapapa ya kakek sudah tenang di sana, kamu jangan menangis terus,” ucap ibunya mengusap kepala anaknya. Hanya ada ibunya saat ini, tidak ada yang lain, bahkan ayahnya juga tidak pulang padahal kakeknya meninggal. Ayahnya sudah terlanjur pergi ke luar negeri. Walaupun dekat, ayahnya termasuk orang yang irit dan enggan membuang uang kembali.
“Papa enggak pulang, Ma?” tanya Alicia. Ibunya memeluk anaknya lagi, Rosa sangat memahami perasaan Alicia, apalagi suaminya jarang menemani Alicia, rasa sedihnya pasti berkali-kali lipat. Sejak awal suaminya memang sibuk dan lebih mementingkan bisnis demi apapun.
“Papa lagi enggak pulang sayang, kita makan malam dulu ya, kamu dari tadi kan belum makan?” tanya ibunya. Alicia menggeleng, rasanya tidak nafsu untuk makan, biasanya Alicia selalu ceria dan mkan dengan teratur, namun kali ini berbeda. Dia merasa tidak ada semangat untuk hidup, apalagi makan. Serpihan kenangan bersama kakeknya terus menerus terngiang di kepalanya.
Padahal baru saja dia ingin menceritakan sebuah cerita kepada kakeknya saat dirinya akan berkunjung, lenyap.