Sebuah mobil baru saja memasuki kawasan perumahan yang terkenal di daerah Senopati. Mobil tersebut berhenti di salah satu perumahan elite. Halaman rumah tersebut terbilang cukup luas. Satu persatu mulai keluar dari mobil, termasuk seorang gadis yang berambut sebahu itu. Nayva Laqueenza—merupakan anak satu-satunya dari pasangan Nuri Amaira dan Reyza Aaron. Nayva selalu memperlihatkan senyumnya saat sudah sampai di rumah barunya itu. Perlahan mereka mulai mengambil masing-masing koper yang berada di dalam mobil.
Sayang sekali mereka belum sempat menyewa pembantu rumah tangga, alhasil mereka harus mengurus sendiri rumah baru itu. Setelah menaruh barang-barang di kamar masing-masing, mereka kembali bersemangat untuk membersihkan rumah tersebut. Tak hanya itu, mereka juga menata perabotan yang baru saja mereka beli.
“Pa, kita enggak akan pindah-pindah lagi ‘kan?” tanya Nayva di sela-sela kegiatannya.
Pertanyaan itu harus ia tanyakan. Pasalnya, ia dan keluarganya tak pernah memiliki rumah tetap dikarenakan ayahnya yang selalu dipindah tugaskan oleh bosnya dan itu cukup mengganggu Nayva yang juga sering pindah-pindah sekolah. Namun sekarang Nayva sepertinya tak perlu mengkhawatirkan itu lagi karena ayahnya sudah ditetapkan untuk bekerja disalah satu perusahaan yang berada di Jakarta Selatan.
Pak Reyza mencubit pelan pipi anaknya, “Enggak. Ini rumah tetap kita.”
Semuanya kembali melaksanakan tugas masing-masing. Setelah semuanya selesai, mereka memutuskan untuk beristirahat di ruang tamu.
“Nanti malam Mama mau masak makanan kesukaan Nayva,” ucap Bu Nuri.
“Asik!” Entah kenapa, Nayva sangat bersemangat.
“Tapi … kita belum punya bahan-bahannya. Nayva mau beli?”
Nayva mengerucutkan bibirnya. Bukannya tidak mau, ia bahkan belum terlalu tahu kawasan di sekitar perumahannya. Tetapi, setelah dipikir-pikir, ia bisa saja keluar dari rumah sembari jalan-jalan.
“Nayva mau.”
Di sinilah Nayva sekarang, berdiri di depan gerbang rumahnya. Ia melihat ke kiri dan kanan secara bergantian. Menurut aplikasi google mapsnya, ia bisa saja ke supermarket yang berada di jalur kiri. Namun, ada beberapa supermarket yang berada di jalur kanan. Bisa dilihat, supermarket yang berada di jalur kanan, jaraknya lebih dekat.
Karena ingin jalan-jalan lebih lama, Nayva memutuskan untuk ke supermarket yang berada di jalur kiri. Di maps hanya membutuhkan 10 menit untuk sampai ke supermarket. Entah Nayva yang pura-pura tidak tahu atau dirinya memang bodoh. Waktu 10 menit hanya berlaku bagi pengguna yang menggunakan sepeda motor. Cukup lelah namun, rasa lelahnya dikalahkan oleh semangatnya.
Nayva mengembuskan napas lega kala supermarket telah berada di hadapannya saat ini. Satu hal yang paling Nayva benci adalah menyeberang jalan. Ia yang tidak terbiasa menyeberang jalan hanya bisa melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan jalanan benar-benar sepi. Tentu saja itu sangat mustahil.
Seorang laki-laki yang mengenakan hoodie seperti menyelamatkan hidup Nayva. Ketika laki-laki itu menyeberang jalan, Navya cepat-cepat mengikutinya dari belakang.
Berada di supermarket, menyebabkan Nayva tak bisa mengontrol dirinya. Ia mengambil semua barang yang menurutnya menarik. Di mulai dari berbagai jenis pulpen yang cukup menarik. Nayva tergolong ke dalam orang yang suka mengoleksi pulpen. Kakinya mulai mengelilingi setiap sudut supermarket tersebut. Dari pulpen, Nayva beralih mengambil beberapa makanan ringan dan juga minuman untuk simpanan di rumah.
Suara dering ponsel Nayva berbunyi, tertera nama ibunya di layar ponsel. Gadis itu cepat-cepat menaruh makanan ke dalam keranjang belanja.
“Halo, Ma.”
“Nayva di mana? Kamu enggak tersesat ‘kan?” terlihat jelas ibunya begitu khawatir.
“Nayva masih di supermarket, udah dulu, ya, Ma.” Nayva segera memutuskan sambungan telepon tersebut.
Setelah dirasa cukup membeli makanan, baru dirinya mengambil bumbu nasi goreng serta keperluan lainnya untuk membuat nasi goreng. Nayva dengan begitu percaya diri menuju ke arah kasir. Ia bahkan tak melihat berapa jumlah uang yang ia bawa.
“Totalnya 150 ribu, ya.”
“Hah?!” Nayva melihat ke arah tangannya. Ia hanya membawa uang sebesar 100 ribu.
Nayva menggaruk tengkuk lehernya yang tak terasa gatal. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Lagi dan lagi, seorang pemuda yang membantunya menyeberang tadi menyelamatkan hidup Nayva. Pemuda yang memakai hoodie itu membayar sisa belanja Nayva. Sayang sekali, Nayva tak bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas karena wajahnya ditutupi oleh hoodie yang ia kenakan.
Setelah memasukkan barang belanjaannya ke dalam kantong belanja, Nayva segera menyusul pergerakan laki-laki itu. Untung saja laki-laki itu masih berada di depan supermarket. Jika bukan karena hujan, mungkin saja laki-laki tersebut sudah pergi meninggalkan supermarket.
“Ee … ee … makasih, ya, Kak,” ucap Nayva begitu ragu.
Laki-laki itu tetap fokus melihat ke arah depan sembari menikmati es krim yang baru saja ia beli.
Kalau enggak ikhlas bilang aja
Gerutu Nayva dalam hati. Disatu sisi ia sangat berterima kasih dengan laki-laki itu tetapi, di sisi lain ia sangat merasa kesal.
“Sekali lagi, makasih, Kak. Uangnya pasti aku kembaliin. Ini alamat rumah aku.” Nayva memberikan alamat rumahnya kepada laki-laki itu. Kebetulan sekali ia masih menyimpan alamat rumahnya di chasing HPnya.
Tangan Nayva masing menggantung, sebab orang yang berada di sampinganya ini tak kunjung mengambil alamat rumahnya. Tetapi, setelah es krimnya habis ia dengan cepat mengambil alamat rumah Nayva dan segera beranjak dari tempat itu. laki-laki itu pergi di saat hujan masih turun dengan begitu derasnya.
Nayva menatap tak percaya kepergian laki-laki tersebut. Aneh—kata itu yang mewakili pikiran Nayva saat ini. Mengesampingkan sifat aneh laki-laki yang baru saja ia temui, kini ponselnya kembali berdering. Nayva tersenyum kecil. Ibunya saat ini pasti sangat khawatir.
“Nayva, kamu di mana? Masih di supermarket?”
“Iya, Ma. Nayva enggak mungkin hujan-hujanan. Papa bisa jemput Nayva enggak, Ma?”
Satu hari yang cukup melelahkan bagi Nayva. Baru pindah rumah, Nayva sudah mempunyai kenangan yang cukup memalukan. Entah hal memalukan apa lagi yang akan Nayva dapatkan besok di sekolah barunya. Nayva harus bersiap untuk menerima berbagai hal baru dari sekolah barunya dan hari ini, ia sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah.
“Nay, jangan lupa kembaliin uangnya, ya.” Bu Nuri mengingatkan anaknya kembali sebelum Nayva berangkat ke sekolah.
“Tapi Nayva enggak tahu alamat rumahnya, Ma,” jawab Nayva di sela-sela sarapannya.
“Semisal kamu ketemu sama dia lagi,” timpal Papanya.
Selesai sarapan, Nayva segera berangkat ke sekolah diantar oleh papanya yang langsung berangkat kerja. Mata Nayva berbinar kala palang bertuliskan SMA Kencana Sakti mulai terlihat. Ada rasa senang dan juga gugup pada diri Nayva saat ini.
“Belajar yang rajin.” Pak Reyza mengusap rambut anaknya saat Nayva mencium tangannya untuk berpamitan.
Perlahan tapi pasti, kaki Nayva mulai memasuki area sekolah. Kedua tangannya memegang tali tas gendongnya sedangkan pandangannya menatap seluruh isi di sekolah itu. Tak lupa dengan senyum yang selalu ia pancarkan. Senyum Nayva menghilang saat ia teringat harus menemui kepala sekolah dan sekarang Nayva tidak tahu di mana letak ruang kepala sekolah.
Nayva kembali mengedarkan pandangannya berharap ada seseorang yang membantunya untuk menemukan ruang kepala sekolah. Seorang laki-laki yang lewat di sampingnya membuat Nayva diam seribu kata. Bagaimana tidak? Nayva tak pernah melihat laki-laki setampan itu di sekolahnya dulu. Tanpa sadar, mulut Nayva terbuka setengah. Beberapa saat kemudian, ia kembali teringat dengan ruang kepala sekolah. Dengan penuh keberanian, Nayva meminta bantuan kepada laki-laki itu. Dari sikapnya yang dingin, Nayva sudah tahu laki-laki tersebut tak akan mau membantunya dan benar saja, ia tak memedulikan ucapan Nayva.
Seseorang yang melempar gulungan kertas ke arahnya membuat Nayva membalikkan badanya. Seorang gadis dengan panjang rambut sepinggang serta poni depan yang tak terlalu banyak itu tengah tersenyum ke arahnya.