Nayva menatap kesal ke arah gadis tersebut. Gadis itu baru saja melemparinya kertas dan sekarang Nayva melihat ia tengah tersenyum ke arahnya. Apakah ia senang mengerjai Nayva? Senyumnya itu justru membuat Nayva ingin membalas perbuatannya. Terlihat sekali, gadis tersebut baru sampai di sekolah. Friska Aiza—merupakan anak dari salah satu donator di sekolah tersebut. Memiliki sifat humble yang membuat banyak orang yang ingin berteman dengannya. Tetapi Friska tak ingin mempunyai banyak teman. Sejauh ini, ia hanya dimanfaatkan oleh teman-temannya.
“Lo anak baru?” tanya Friska.
Nayva mengangguk pelan, ia tak berniat membuka suaranya.
“Gue Friska, lo bisa panggil gue Iska, Ka, atau Fris?” Friska mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Nayva.
“Nayva,” jawab Nayva seadanya.
“Lo mau cari ruang kepala sekolah ‘kan?” Friska merangkul Nayva dan segera mengajak Nayva untuk beranjak dari tempat itu.
Sepanjang menuju ke ruang kepala sekolah, Friska menjelaskan nama-nama ruangan yang mereka lewati. Pertama kali bertemu Friska, Nayva sudah bisa menebak bahwa perempuan yang berada di sampingnya ini banyak bicara. Nayva hanya bisa mengangguk pelan untuk menanggapi perkataan Friska.
“Yang itu ruang kelas gue. Kelas X-IPA-1.”
Nayva melihat ke arah yang ditunjuk oleh Friska. Seseorang yang tak asing di matanya berhasil menarik perhatiannya. Laki-laki yang tengah duduk itu merupakan laki-laki yang baru saja ia temui tadi pagi. Nayva mendapat fakta baru lagi tentang Friska.
Perlu diketahui, Nayva pindah ke sekolah ini tepat saat ia sudah menyelesaikan semester satu di sekolah lamanya. Sekarang ia kembali menempuh pendidikan di kelas sepuluh semester dua, di sekolah barunya. Pembicaraan mereka berhenti karena keduanya sudah berada di depan ruang kepala sekolah. Tangan Nayva mulai memegang knop pintu. Sebelum membuka pintu itu, Nayva mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Permisi, Pak,” ucap Nayva.
Laki-laki paruh baya yang tengah duduk itu segera menghentikan aktivitasnya. Ia menaruh kembali beberapa dokumen di atas meja.
“Silakan duduk.” Pak Asrul mempersilakan Nayva untuk duduk.
Segera Nayva duduk di hadapan Pak Asrul.
Selesai berbincang-bincang dengan kepala sekolah, Nayva diantar oleh Pak Asrul menuju ke ruang guru. Namun, baru saja keduanya keluar dari ruangan kepala sekolah, mereka sudah mendapatkan Friska yang berdiri di depan pintu.
Nayva melirik ke arah samping. Ia kembali berjalan bersama dengan Friska. Kepala Sekolah tadi menyuruh Friska untuk mengantar Nayva menuju ruang guru. Sepertinya Nayva sudah mendapatkan teman baru. Selesai mengantar Nayva, Friska memutuskan untuk kembali ke kelas akibat bel sudah berbunyi.
Rasa gugup kembali menyelimuti diri Nayva saat guru mengantarnya menuju ke ruang kelas. Entah kenapa, suara derap langkah kaki gurunya itu membuat rasa gugupnya semakin menjadi-jadi. Nayva ikut menghentikan langkahnya saat gurunya itu berhenti di depan ruang kelas X-IPA-1. Bisa dipastikan, ia akan bertemu dengan Friska lagi. Ada rasa lega, karena ia sudah mengenal Friska terlebih dahulu. Kedua orang itu, mulai memasuki ruang kelas.
Seperti biasa, Nayva harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Ia memperkenalkan dirinya secara singkat. Setelah itu, Nayva dipersilakan duduk di meja kosong. Meja kosong tersebut berada tepat di samping laki-laki yang pertama kali ia temui di sekolah ini. Hatinya berdegup tak karuan saat duduk di samping laki-laki itu. Meja di kelas tersebut seperti meja kampus pada umumnya. Masing-masing siswa memiki satu meja dan satu tempat duduk sehingga tak ada yang duduk secara berpasangan. Nayva terus saja memerhatikan siswa yang saat ini duduk di sampingnya. Cepat atau lambat, ia akan mencari tahu siapa nama siswa tersebut. Jam pelajaran pertama cukup membosankan bagi Nayva. Guru di depannya begitu asyik menjelaskan materi tanpa memedulikan beberapa siswanya yang mengantuk.
“Silakan catat materi yang ada di papan tulis,” ucap Bu Asti selaku guru sejarah.
Tangan Nayva mulai mencatat materi yang ditulis oleh Bu Asri. Diam-diam Nayva melihat ke samping. Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat laki-laki itu tidak mencatat sama sekali. Yang Nayva lihat sekarang adalah, laki-laki tersebut menaruh tangannya di atas meja dengan kedua tangannya yang ia lipat sebagai bantal untuk kepalanya.
Bu Asti menggeleng pelan. Perlahan ia menghampiri salah satu siswanya itu. Tangannya tak segan-segan untuk menjewer telinga siswanya.
“Elvan Ryder, bangun!”
“Aduh, sakit, Bu.” Elvan memegang telinganya yang terasa nyeri.
Elvan Ryder—siswa laki-laki yang bisa dibilang malas, bisa juga dibilang rajin. Ada saatnya ia menjadi sosok yang pintar di kelas dan ada saatnya ia menjadi sosok yang paling malas di kelas. Semuanya tergantung dengan mata pelajaran yang ia sukai. Salah satunya pelajaran olahraga. Semua yang berkaitan dengan olahraga selalu ia tahu. Tetapi, sifat yang paling menonjol pada dirinya adalah dingin dan cuek. Terlalu dingin hingga tak ada perempuan yang mendekati dirinya. Sebagian besar perempuan di sekolah ini, lebih menyukai laki-laki yang memiki sifat lemah lembut. Sejauh ini belum ada sosok perempuan yang mendekati dirinya. Tetapi, dengan kedatangan Nayva mungkin akan mejadi sejarah bagi sosok Elvan.
Nayva menganggukan kepala pelan serta tersenyum kecil. Akhirnya ia tahu nama laki-laki itu. Nayva tak hanya ingin mengetahui namanya. Bisa dipastikan, Nayva akan mencari tahu kehidupan Elvan mulai sekarang. Nayva meyakinkan dirinya bahwa ia memang menyukai Elvan. Prinsip hidupnya, jika ia menyukai seseorang selama satu minggu ke depan dan perasaan itu masih sama, Nayva akan memperjuangkan cintanya itu. Seluruh siswa tertawa melihat ekspresi Elvan. Bu Asti tidak menghukum Elvan, ia lebih memilih untuk menyuruh anak didiknya mencatat materi yang ia jelaskan tadi. Menghukum muridnya, berarti ia membuang-buang waktu untuk muridnya mencatat. Elvan kebingungan meminjam pulpen pada teman-temannya dan ini kesempatan bagi Nayva untuk berbicara dengan Elvan.
“Ini.” Nayva meminjamkan salah satu pulpennya pada Elvan.
Elvan menatap sekilas pulpen tersebut sebelum mengambilnya dari tangan Nayva.
Hanya meminjamkan pulpen saja sudah membuat Nayva merasa senang. Selama mencatat materi Nayva tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Mengapa ia sebahagia ini? Nayva tak menyadari bahwa Friska memerhatikan dirinya. Terlalu banyak mencatat materi, membuat mereka tak sadar dengan waktu yang begitu cepat berlalu.
“Kantin yuk,” ajak Friska pada Nayva.
Nayva melanjutkan mencatat sebentar lalu menutup buku catatanya. “Ayo.”
Baru saja ia berdiri dari duduknya, Elvan menghampiri dirinya untuk mengembalikan pulpen yang ia pinjamkan tadi. Elvan menaruh begitu saja pulpen tersebut di atas meja Nayva tanpa berniat mengucapkan terima kasih dan jangan lupakan dengan wajah datarnya itu. Bisa Nayva maklumi. Meskipun demikian, Nayva tetap tersenyum.
“Tunggu,” ucap Nayva.
Elvan yang tak merasa dipanggil, tentu saja melanjutkan langkahnya menuju ke luar kelas. Nayva tak tingal diam, ia menyusul pergerakan Elvan. Tangannya dengan berani menahan tangan Elvan menyebabkan laki-laki itu menghentikan langkahnya. Elvan menatap tangannya cukup lama lalu menepisnya begitu saja.
“Sorry.”
“Mau lo apa?” tanya Elvan ketus.
“Gue … gue … gue Nayva,” Nayva mengulurkan tangannya.
Elvan menatap tangan itu cukup lama, “Gue … enggak peduli.”
Setelah itu Elvan melenggang begitu saja. Nayva diam mematung. Ia menatap tangannya yang masih menggantung lalu perlahan menurunkan tangannya.