Nayva menunggu ayahnya di koridor sekolah. Jam pelajaran sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Entah harus menunggu berapa lama lagi. Nayva benar-benar bosan. Sejujurnya, Friska sempat menawarkannya tumpangan pulang tetapi ia menolaknya. Ia hanya tak enak, selama sehari ini ia sudah banyak merepotkan Friska. Andai saja ayahnya membelikannya sepeda motor, Nayva tak perlu menunggu selama ini.
Suara klakson mobil dari arah gerbang sekolah tersebut, membuat Nayva segera beranjak dari tempatnya. Nayva memperlihatkan wajah kesalnya. Tak segan ia menutup pintu mobil dengan kasar. Ayahnya yang melihat itu hanya tersenyum kecil.
“Nasi goreng kayaknya enak, mau beli nasi goreng dulu?” tanya Pak Reyza pada anaknya.
Nayva tetap diam. Pandangannya menatap ke luar jendela. Rintik hujan mulai membasahi kaca mobil tersebut. Hujan itu kembali mengingatkan Nayva pada sosok laki-laki yang meminjamkan uangnya pada Nayva kemarin.
“Pa, Nayva mau ke supermarket,” ucap Nayva. Ia harus mengurungkan niat marahnya untuk beberapa saat.
Pak Reyza menuruti permintaan anaknya. Setelah sampai di supermarket, ia memarkirkan mobilnya. Nayva segera turun dari mobil. Firasatnya mengatakan, mungkin laki-laki kemarin akan kembali ke tempat ini. Nayva duduk disalah satu kursi yang berada di supermarket.
“Lagi nunggu siapa?” Pak Reyza pikir anaknya ini akan membeli sesuatu di supermarket. Namun, nyatanya Nayva seperti sedang menunggu seseorang.
Nayva kembali diam. Ia benar-benar malas berbicara dengan ayahnya saat ini. Ia akan tetap diam sampai ayahnya tahu apa keinginannya. Pak Reyza tersenyum kecil. Tanpa pikir panjang, laki-laki paruh baya itu masuk ke supermarket untuk membelikan Nayva es krim.
Pak Reyza kembali dengan membawa sebuah es krim di tangannya. Ia menempel es krim tersebut di pipi anaknya, “Nayva mau beli motor apa?”
Secepat itu Nayva melihat ayahnya jangan lupakan tangannya yang langsung mengambil es krim dari tangan ayahnya, “Nayva, terserah Papa aja.”
Hanya dengan begini, kemarahan Nayva langsung mereda. Sudah cukup lama Nayva berdiri di depan supermarket bersama ayahnya. Laki-laki yang ia cari tak kunjung datang. Nayva memutuskan untuk pulang. Tak mungkin ia menunggu di tempat ini selama 24 jam.
Malam harinya, Nayva mencoba menggambar hoodie yang dikenakan oleh laki-laki itu. Andai saja Nayva tahu bagaimana wajah laki-laki tersebut, maka ia tak perlu menggambar hoodie yang laki-laki itu kenakan. Satu hal yang paling Nayva ingat dari hoodie tersebut adalah sebuah rajutan khusus berinisial huruf ‘R’ di belakang hoodienya. Nayva tak ingin ambil pusing, salahkan laki-laki itu yang tidak datang ke rumahnya. Nayva melihat sekilas jam yang berada di kamarnya. Menggambar hoodie itu, membuat ia lupa dengan waktu. Tak ingin begadang, Nayva memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Suara dering alarm yang berasal dari ponselnya berhasil membangunkan Nayva. Rasanya baru saja ia menutup mata. Nayva berusaha meraih ponselnya yang berada di atas meja. Matanya yang terpejam membuat ia sedikiti kesulitan. Karena kesal, ia terpaksa membuka matanya hanya untuk mematikan alarm. Setelah itu Nayva kembali tidur untuk beberapa saat. Alarm Nayva berbunyi untuk kedua kalinya, kali ini ia benar-benar langsung membuka matanya. Dengan mata sedikit terbuka, Nayva langsung menuju ke arah kamar mandi.
“Sayang, cepat turun, kita sarapan!” teriak ibunya dari bawah.
Pintu kamar Nayva terbuka memperlihatkan dirinya yang sudah berpakaian rapi. Nayva segera turun dan bergabung di meja makan. Sepeti biasa, sarapan pagi itu diselingi dengan obrolan tentang sekolah baru Nayva.
“Pa, Papa enggak lupa ‘kan?” tanya Nayva.
Melihat tatapan Nayva membuat Pak Reyza kembali ingat tentang perkataanya kemarin.
“Enggak, nanti pulang sekolah, kita beli motor.”
“Bahas motornya nanti aja. Nay, kamu juga enggak lupa ‘kan? Itu lho hutang kamu,” ujar Bu Nuri.
Mendengar kata ‘hutang’ membuat Nayva merasa tidak tenang. Ia benar-benar terganggu denga kata itu. Menerima bantuan dari laki-laki tersebut ternyata hanya menambah beban hidupnya.
***
Nayva melambaikan tangannya setelah berpamitan dengan ayahnya. Lantas ia membalikkan badannya bersiap untuk memasuki lingkungan sekolah. Mungkin ini masih terlalu pagi. Hanya segelintir siswa yang baru datang. Suara klakson motor berhasil mengagetkan dirinya. Friska kembali mengagetkan Nayva.
“Pagi, Nay,” sapa Friska dengan penuh semangat.
“Pagi,” jawab Friska tak kalah semangat.
Nayva menatap Friska yang masih memakirkan motornya. Ia berniat untuk menunggu Friska. Tetapi, sebuah jaket yang berada di atas motor yang terparkir di samping motor Friska berhasil menarik perhatiannya. Cepat-cepat Nayva mengambil gambar hoodie itu dari tasnya. Ia menatap gambaran dan hoodie tersebut secara bergantian. Ia semakin yakin, bahwa hoodie itu sangat persis dengan hoodie yang pernah ia lihat. Rajutan khusus di hoodie tersebut terlihat sangat jelas.
“Ayo, Nay, kelas.” Friska menarik pelan tangan Nayva untuk mengajaknya ke kelas.
Baru saja Nayva sampai di kelas, ia sudah mendapatkan Elvan yang sudah duduk di bangkunya dengan pandangan yang selalu menatap ke arah ponsel. Mungkin saja ia sedang sibuk bermain game. Meskipun demikian, Elvan termasuk ke dalam laki-laki rajin. Ini yang membuat Nayva semakin menyukai Elvan.
“Pagi,” sapa Nayva setelah dekat dengan Elvan.
Elvan tetap fokus bermain game. Ia tak memedulikan sapaan Nayva. Tak ingin menyerah, Nayva kembali menyapanya. Merasa terganggu dengan sapaan Nayva, Elvan menaruh ponselnya di saku celana lalu menatap tajam ke arah Nayva. Tatapan tajam itu justru membuat Nayva gelagapan.
“Pagi,” ucap Nayva namun sangat pelan.
“Pagi, udah puas lo sekarang?” Setelah mengucapkan itu, Elvan segera keluar dari ruang kelasnya.
Nayva menatap kepergian Elvan sebelum memutuskan untuk duduk ke bangkunya. Friska tak tinggal diam, ia menggeser tempat duduk Elvan agar lebih dekat dengan Nayva.
“Lo suka sama Elvan?” tanya Friska tak percaya.
“Enggak,” jawab Nayva dengan cepat.
“Fris, lo pernah lihat orang yang pakai hoodie ini enggak?” Nayva menunjukkan gambar hoodie yang ia buat.
“Enggak. Gue baru pertama kali lihatnya.”
Nayva hanya menjawab dengan aggukan kepala. Sepertinya, Friska tak tahan dengan keheningan. Ia kembali membuka suaranya. Lebih tepatnya menceritakan sifat Elvan yang begitu dingin dan cuek. Tentu saja, Nayva menjadi pendengar yang baik. Banyak fakta baru yang ia ketahui tentang Elvan. Salah satunya, ia belum pernah mempunyai pacar. Ini kesempatan yang bagus bagi Nayva.
“Lo enggak ada kerjaan lain selain ngomongin orang?”
Suara yang tiba-tiba itu berhasil membuat Friska bungkam termasuk Nayva yang berhenti bertanya. Friska segera bangkit dari tempat duduk Elvam dan menaruh kembali tempat duduk itu ke tempat semula.
“Lo ikut gue,” ucap Elvan pada Nayva.
Nayva bangkit dari tempat duduknya. Ia berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan Elvan. Tak peduli ke mana tujuan laki-laki itu. Yang bisa Nayva lakukan hanyalah mengikuti pergerakan Elvan. Langkah Elvan yang berhenti mendadak menyebabkan Nayva hampir saja menabrak Elvan.
“Lo suka sama gue?”
Nayva cukup kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Elvan hingga dirinya tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.