Hari Senin tiba dengan membawa gemuruh kecemasan yang tertahan di d**a Alya. Sejak menginjakkan kaki di lobi utama kompleks apartemen mewah di pusat Jakarta itu, ia merasa seperti seekor burung gereja yang tersesat di istana kaca.
Lantainya yang terbuat dari marmer mengilat memantulkan bayangan jaket rajutnya yang mulai menipis dan sepatu kanvasnya yang sedikit pudar. Namun, Alya menegakkan bahunya.
Ia berada di sini untuk bekerja secara profesional demi menyelamatkan kelangsungan kuliahnya, bukan untuk merasa rendah diri.
Tepat pukul 14.50, sepuluh menit lebih awal dari jadwal yang disepakati, Alya sudah berdiri di depan pintu unit apartemen nomor 22-A. Jantungnya berdegup konstan saat ia menekan tombol bel digital yang berdenting elegan.
Pintu besar berbahan kayu eboni itu terbuka perlahan, menampilkan sosok wanita paruh baya berwajah teduh dan ramah yang mengenakan seragam asisten rumah tangga yang rapi.
"Mbak Alya, ya? Mahasiswi bimbingan Profesor Gunawan?" tanya wanita itu dengan senyum tulus yang seketika mencairkan ketegangan di pundak Alya.
"Iya, betul, Bu. Saya Alya," jawab Alya sopan sembari membungkuk kecil.
"Panggil Bi Sumi saja, Mbak. Ayo masuk, Den Nanda sudah menunggu di dalam."
Bi Sumi mempersilakan Alya melangkah masuk ke dalam ruang keluarga yang luar biasa luas.
Interior apartemen itu didominasi oleh perpaduan warna abu-abu arang, putih, dan aksen kayu gelap. Minimalis, sangat rapi, namun terasa agak sunyi dan maskulin. Jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit menampilkan pemandangan cakrawala kota yang megah.
Di sudut ruangan, dekat dengan rak buku besar, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun sedang duduk bersila di atas karpet bulu tebal, sibuk memilah-milah ratusan kepingan lego yang berserakan.
"Den Nanda, ini Mbak Alya yang akan menemani belajar sore ini." Bi Sumi memperkenalkan.
Nanda mendongak. Rambutnya hitam legam, matanya bulat bersih, namun gurat wajahnya tampak tenang—terlalu tenang untuk anak seusianya. Ia menatap Alya beberapa detik sebelum memberikan anggukan kecil yang sopan.
"Halo, Mbak Alya," sapanya singkat.
"Halo, Nanda. Salam kenal, ya."
Alya tersenyum hangat. Ia langsung melepas tas ranselnya dan ikut duduk berjarak di atas karpet tanpa menunggu diperintah.
"Wah, kamu sedang membuat replika roket Saturn V? Ini tingkat kesulitannya cukup tinggi, lho."
Mendengar ucapan Alya, mata Nanda seketika berbinar. Ketertarikan yang sama terhadap sains dan detail rumit langsung menjembatani kecanggungan di antara mereka.
Dalam waktu satu jam, Alya berhasil memenangkan kepercayaan anak itu. Ia tidak bersikap menggurui, melainkan menjadi rekan diskusi yang menyenangkan bagi Nanda saat mereka beralih menyelesaikan tugas matematika dari sekolah internasionalnya.
Waktu bergulir cepat tanpa terasa. Jarum jam dinding berbentuk geometris di ruang tengah telah menunjukkan pukul lima sore lewat beberapa menit.
Keheningan apartemen yang sejak tadi diiringi musik instrumental lembut tiba-tiba dipecah oleh suara sensor pintu digital di koridor depan yang berbunyi tajam.
Pip-pip-pip-bip.
Bi Sumi yang sedang menata camilan sore di dapur langsung menoleh ke arah pintu.
"Ah, Den Raka sudah pulang," gumamnya pelan, hampir seperti sebuah pengumuman otomatis.
Alya yang sedang mengoreksi buku catatan Nanda refleks mendongak. Langkah kaki yang konstan, mantap, dan berbobot terdengar mendekat dari arah koridor masuk. Sosok pria tinggi tegap kemudian muncul di ambang ruang tengah.
Raka. Pria berusia dua puluh enam tahun yang namanya disebut oleh Profesor Gunawan sebagai pemimpin operasional utama perusahaan keluarga mereka.
Aura otoriter dan dingin langsung menguar dari dirinya, memenuhi setiap sudut ruangan yang luas itu. Wajahnya tegas dengan rahang kokoh yang tampak kaku, sementara matanya yang tajam menyiratkan kelelahan fisik akibat tekanan pekerjaan yang besar.
Raka melepaskan jas formal abu-abu gelapnya, menyampirkannya begitu saja di lengan kursi singel, lalu melonggarkan ikatan dasinya dengan satu tangan.
Kemeja putih premiumnya yang kini digulung hingga siku memperlihatkan lengan bawah yang kokoh.
Raka berjalan lurus menuju area konter dapur bersih, melewati ruang tengah tanpa menyapa atau melirik siapa pun, seolah keberadaan Alya dan Nanda di sana hanyalah bagian dari dekorasi ruangan. Ia bergerak dengan presisi, menyeduh secangkir kopi hitam dari mesin espreso otomatis yang berdesis pelan.
Setelah cangkir keramik hitamnya terisi penuh, Raka tidak langsung pergi ke kamarnya. Pria itu berdiri bersandar pada meja konter marmer, membelakangi dapur dan menghadap ke arah jendela besar. Ia memegang cangkir kopinya dengan satu tangan, menatap ke luar jendela yang mulai disirami cahaya matahari sore yang menguning—golden hour pukul lima sore yang hangat.
Dari tempatnya duduk di atas karpet, Alya terpaku. Pandangannya seolah terkunci, magnetis tak bisa dialihkan. Dari jarak beberapa meter, ia memperhatikan siluet tubuh Raka yang diterpa cahaya keemasan.
Ketampanan pria itu bukan sekadar visual yang sering ia lihat di majalah bisnis. Ada daya tarik matang, dingin, terkesan acuh, namun sangat menawan yang memikat perhatian.
Gerakan tangan Raka saat menyesap kopi hitamnya tampak begitu tenang, menciptakan kontras yang tajam dengan dunia luar yang bising.
Alya terpesona. Untuk beberapa detik yang krusial, ia lupa pada posisinya. Ia lupa pada statusnya yang hanya seorang mahasiswi miskin yang dibayar untuk mengasuh anak. Alya memperhatikan bagaimana helai rambut Raka jatuh di dahinya, dan bagaimana jakun pria itu bergerak pelan saat menelan cairan pekat tersebut.
Mungkin karena intensitas tatapan yang begitu kuat, Raka tiba-tiba merasakan kehadiran sepasang mata yang sedang mengawasinya. Pria itu perlahan menolehkan kepalanya ke arah ruang tengah.
Deg.
Tatapan mereka bertemu tepat di udara. Mata elang Raka yang hitam pekat, tajam, dan sarat akan pengalaman hidup langsung mengunci manik mata Alya yang bening, polos, dan penuh keterpanaan yang tertangkap basah.
Detik itu juga, waktu rasanya berhenti berputar bagi Alya. Seluruh suara di apartemen itu lenyap, menyisakan keheningan yang luar biasa pekat dan intens di antara mereka berdua. Jantung Alya bertalu begitu keras di balik rongga dadanya hingga ia takut suaranya akan menggema di ruangan yang sunyi itu.
Raka tidak menunjukkan ekspresi jengkel, tidak pula mengernyitkan dahi karena merasa terganggu oleh pandangan orang asing di rumahnya. Pria itu hanya diam, menatapnya dengan pandangan yang dingin dan tak terbaca, seolah sedang menilai integritas gadis yang direkomendasikan oleh Profesor Gunawan tersebut.
Tiga detik berlalu, tetapi bagi Alya rasanya seperti keabadian yang menyiksa.
Kesadaran menghantam kepala Alya bagai guyuran air es.
"Apa yang kamu lakukan, Alya? Dia majikanmu. Kamu di sini bekerja, bukan untuk mengagumi wajahnya," umpatnya di dalam hati.
Dengan kepanikan yang menjalar hingga ke ujung jari, Alya segera memutuskan kontak mata tersebut. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lembar soal matematika Nanda yang mendadak buram di matanya.
Pipi Alya terasa terbakar, merona merah padam karena rasa malu yang luar biasa hebat. Jari-jari wanita itu meremas ujung kardigan rajutnya yang longgar, berusaha menyembunyikan getaran halus di tangannya.
Alya sadar betul bahwa ia telah melewati batas tidak tertulis mengenai kesopanan dan profesionalitas seorang pekerja paruh waktu.
Sementara itu, di seberang ruangan, Raka tetap diam tak terbaca. Pria itu menyesap kopinya sekali lagi dengan tenang, seolah konfrontasi visual singkat tadi tidak pernah memengaruhi ketenangannya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau menyapa adiknya, Raka memutar tubuhnya dan berjalan santai membawa cangkir kopinya masuk ke dalam ruang kerja pribadi, meninggalkan Alya yang masih berusaha mengatur napas dan detak jantungnya yang berantakan di atas karpet.