Sejak sore yang menegangkan itu, Alya menanamkan sebuah mantra di dalam kepalanya: Datang untuk bekerja, pulang untuk belajar.
Ia sadar betul posisi dan jarak sosial yang membentang di antara dirinya dan pemilik apartemen mewah ini.
Kejadian tertangkap basah mengagumi ketampanan Raka menjadi pelajaran berharga bagi Alya untuk lebih mawas diri.
Ia tidak ingin kehilangan pekerjaan paruh waktu berbayar tinggi ini hanya karena dianggap tidak profesional atau memiliki tendensi yang tidak sopan.
Dua minggu pertama berlalu dengan ritme yang sangat kaku tapi teratur. Alya membuktikan dirinya sebagai pekerja yang kompeten.
Setiap pukul tiga sore tepat, ia sudah duduk di karpet ruang tengah bersama Nanda, memastikan seluruh tugas sekolah internasional anak itu selesai dengan baik.
Alya juga mendampingi Nanda makan malam, mendengarkan cerita-cerita antusias anak itu tentang sains, dan memastikan kamar belajar Nanda kembali rapi sebelum jam kerjanya berakhir.
Di sisi lain, Raka tetap menjadi sosok yang dingin dan nyaris tak tersentuh. Pria berusia dua puluh enam tahun itu selalu pulang tepat pukul lima sore, berjalan lurus menuju mesin kopi, lalu mengunci diri di ruang kerja pribadinya hingga larut malam.
Interaksi di antara mereka sangat minim, bahkan hampir tidak ada. Jika tanpa sengaja berpapasan di koridor apartemen, Alya akan langsung menundukkan kepala dengan takzim seraya menyapa formal, "Selamat sore, Pak."
Raka hanya akan merespons dengan anggukan kepala dingin yang samar tanpa menghentikan langkah kakinya. Batas di antara mereka begitu tebal, tegas, dan rasional.
Tetapi, realitas kehidupan selalu punya cara tersendiri untuk menguji ketetapan hati manusia.
Memasuki minggu ketiga, tepat di hari Kamis, cuaca ibu kota mendadak berubah ekstrem sejak siang hari. Langit yang semula cerah perlahan ditutupi oleh awan hitam pekat yang bergulung-gulung. Pukul tujuh malam, badai besar resmi melanda kota.
Hujan deras bagai ditumpahkan dari langit, disertai dengan dentuman petir yang menggelegar dan angin kencang yang membuat kaca-kaca besar di apartemen lantai dua puluh dua itu bergetar samar.
Nanda yang biasanya tenang, kini tampak agak gelisah karena suara petir. Alya dengan sabar menemaninya di dalam kamar, membacakan sebuah artikel tentang tata surya hingga anak itu perlahan tertidur pulas pada pukul delapan lewat empat puluh lima malam.
Tepat pukul sembilan malam, jam kerja Alya resmi berakhir. Ia merapikan tas ranselnya, mengenakan kardigan rajutnya, lalu berpamitan dengan Bi Sumi di dapur.
"Mbak Alya yakin mau pulang sekarang? Di luar badainya makin parah, lho," ujar Bi Sumi dengan raut wajah cemas mendengarkan suara angin yang menderu di luar jendela.
"Iya, Bi. Saya harus pulang karena besok pagi ada kuis patologi jam tujuh," jawab Alya sambil tersenyum menenangkan, walau sebenarnya hatinya sendiri diselimuti kecemasan.
Alya berjalan menuju lobi lift dan turun ke lantai dasar. Namun, begitu menginjakkan kaki di area lobi utama apartemen, langkahnya langsung terhenti.
Melalui dinding kaca lobi, ia bisa melihat air hujan yang mengalir deras seperti air terjun, membatasi jarak pandang hanya sejauh dua meter. Jalanan di depan apartemen bahkan mulai tergenang air.
Alya duduk di salah satu kursi sofa lobi yang sepi, mengeluarkan ponselnya yang retak untuk memesan ojek atau taksi daring. Jari telunjuknya berkali-kali menyegarkan aplikasi, tetapi layar ponselnya hanya menampilkan lingkaran berputar dengan notifikasi merah yang konstan: Pengemudi tidak tersedia karena cuaca buruk.
Ia mencoba beralih ke aplikasi kereta komuter, dan sebuah pengumuman darurat muncul di layar: Jalur kereta arah selatan mengalami gangguan operasional akibat pohon tumbang di perlintasan.
Alya menghela napas berat, menyandarkan punggungnya pada sofa mewah lobi dengan perasaan campur aduk. Sementara Jam sudah menunjukkan pukul 21.20.
Bertahan di lobi apartemen orang lain hingga larut malam tentu bukan hal yang ideal. Namun, menerobos badai tanpa kendaraan sama saja dengan mengantarkan diri ke kamar bersalin rumah sakit karena hipotermia atau kecelakaan.
Di tengah kebingungannya, pintu lift di belakang lobi berdenting terbuka. Langkah kaki yang familier terdengar mendekat. Alya menoleh dan seketika menegakkan tubuhnya saat mendapati Raka berjalan keluar dari area lift.
Pria itu sudah tidak mengenakan pakaian kantornya, melainkan kaus polo hitam kasual dan celana panjang katun santai.
Tampaknya ia baru saja turun untuk mengambil sebuah paket dokumen di meja resepsionis lobi.
Raka yang sedang memeriksa amplop dokumen di tangannya refleks menghentikan langkah saat melihat sosok familier duduk sendirian di sudut sofa lobi yang temaram.
Ia melihat jam tangan kronograf di pergelangan tangan kirinya, lalu menatap Alya lurus-lurus.
"Belum pulang?" tanya Raka dengan suara baritonnya yang berat, memecah keheningan lobi.
Itu adalah kalimat tanya pertama yang diajukan Raka pada Alya di luar urusan perkembangan belajar Nanda.
Alya menelan ludah, mendadak merasa gugup ditatap intens oleh sang majikan.
"Belum, Pak. Maaf jika keberadaan saya di sini mengganggu. Di luar badai sangat deras dan semua transportasi daring sedang tidak menerima pesanan. Ditambah lagi, jalur kereta komuter menuju arah kos saya sedang mengalami gangguan operasional. Saya akan menunggu di sini sampai hujannya agak reda," jawab Alya buru-buru, cemas jika Raka berpikir ia sengaja mengulur waktu untuk mencari perhatian.
Raka tidak langsung merespons. Matanya beralih menatap ke luar dinding kaca lobi, memperhatikan rintik hujan yang mengamuk dan kilatan petir yang menyambar langit malam.
Raka kemudian kembali menatap Alya, memperhatikan pakaian gadis itu yang sangat sederhana—hanya kardigan rajut tipis yang agaknya tidak akan cukup mampu menahan dinginnya angin malam pasca-badai.
Sebagai seorang pria dewasa yang rasional, Raka tahu membiarkan seorang gadis berusia dua puluh satu tahun terlantar di lobi apartemen atau pulang sendirian menembus badai malam hari di kota besar adalah hal yang tidak bertanggung jawab, terutama karena gadis ini bekerja untuk adiknya.
"Di luar badai tidak akan reda dalam satu jam ke depan. Sangat berbahaya bagi perempuan pulang jam segini sendirian tanpa kendaraan pribadi," ujar Raka datar, tapi tegas.
"Tunggu di sini sepuluh menit. Saya akan ambil kunci mobil di atas dan mengantarmu pulang," tambahnya.
Alya terbelalak, matanya membulat sempurna karena terkejut.
"Eh? Tidak usah, Pak! Sungguh, saya tidak mau merepotkan Bapak sama sekali. Saya bisa menunggu di sini sampai tengah malam atau subuh kalau perlu—"
"Ini perintah dari majikanmu, Alya, bukan sebuah penawaran yang bisa kamu negosiasikan," potong Raka tegas, menatap Alya dengan pandangan otoriter yang membuat kata-kata Alya langsung tertahan di tenggorokan.
"Saya bertanggung jawab penuh atas keselamatan orang yang bekerja di rumah saya selama mereka berada di lingkungan ini. Tunggu di sini," imbuh pria tampan itu.
Tanpa menunggu jawaban lagi dari Alya, Raka memutar tubuhnya dan kembali berjalan menuju lift dengan langkah tegap, meninggalkan Alya yang hanya bisa terpaku dengan jantung yang kembali berdegup tidak karuan.
Sepuluh menit kemudian, Raka kembali dengan jaket bomber hitam dan sebuah payung besar di tangannya. Ia memberi isyarat dengan kepalanya agar Alya mengikutinya menuju area parkir bawah tanah.
Selama berjalan menuju mobil sedan mewah hitam milik Raka, tidak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Alya berjalan dua langkah di belakang Raka, menatap punggung lebar pria itu dengan perasaan yang campur aduk, antara rasa sungkan, takut, dan sepercik rasa aman yang aneh.
Ketika Raka membukakan kunci mobil dengan sensor otomatisnya, Alya dengan ragu membuka pintu penumpang bagian belakang, merasa itu adalah posisi yang paling sopan bagi seorang pekerja. Namun, sebelum ia sempat menyusupkan tubuhnya ke kursi belakang, suara Raka kembali terdengar dingin dari sisi kemudi.
"Saya bukan sopir pribadimu, Alya. Duduk di depan," seru pria itu.
Wajah Alya seketika merona merah di kegelapan basah area parkir.
"Ah... baik, Pak. Maaf," cicitnya pelan, segera menutup kembali pintu belakang dan beralih duduk di kursi penumpang depan, tepat di samping Raka yang kini mulai menyalakan mesin mobil yang menderu halus.