“Cinta...”
Suara panggilan di balik pintu gerbang rumah Cinta, menghentikan langkah Bi Minah yang hendak masuk bersama Cinta.
Bi minah dan Cinta saling pandang. “Sepertinya ada yang manggil Non Cinta, non tau siapa ?” Cinta hanya menggelengkan kepala.
“Kita masuk saja ya, yuk?” ajak Bi Minah. Tak menghiraukan suara panggilan tadi.
“Cinta...”
Sekali lagi nama Cinta terdengar . Kali ini dengan alunan lagu khas anak kecil dengan suara yang cempreng.
Bi Minah kembali terdiam. “Bi minah liat dulu ke depan ya? Non Cinta tunggu di sini.”
“Ga mau, Cinta ikut.”
Bi Minah tersenyum, menganggukan kepalanya. Lalu mereka pun berjalan ke arah pintu gerbang.
Tiba di pintu gerbang. Bi Minah menurunkan Cinta, dan membuka sedikit pintu gerbang. Terlihat sesosok anak laki-laki yang cukup tampan, berdiri di depan pintu gerbang dengan senyum merekah, di tangannya menggenggam sebuah es krim coklat.
“Ini es krim buat Cinta. Tolong sampein ya Bi.”
Bi Minah terkesiap. Dengan ragu ia menerima es krim tersebut.
Melihat kebingungan di wajah Bi Minah, anak laki-laki itu tersenyum. “Es krim ini dari seseorang yang sangat menyayangi Cinta,” ucap anak laki-laki itu.
“Siapa ?”
Belum sempat anak laki-laki itu menjawab. Terdengar suara dari dalam rumah memamggil Bi Minah dan Cinta.
“Maaf Bi, saya harus segera pergi. Permisi,” pamitnya.
“Terima kasih ya Dek.”
“Sama-sama.”
Bi Minah dan Cinta memandang punggung anak laki-laki itu, sampai ia menghilang di belokan depan.
Merasa panggilannya tak direspon. Meta mengahampiri Bi Minah dan Cinta.
“Lagi ngapain disini?” tanya Meta
Bi Minah bingung harus menjawab apa.
Meta melihat Bi Minah memegang es krim coklat.
“Ini Bu, tadi abis beli es krim buat Non Cinta. Es krim ini kesukaan Non Cinta,” ucap Bi Minah
Meta mengangguk mendengar penuturan Bi Minah.”Ya sudah, cepat masuk.” Meta langsung berbalik dan berjalan ke dalam rumah.
Bi Minah lega, Meta sepertinya tak melihat tadi ada anak laki-laki.
“Ini Non, dimakan ya es krim nya.” Bi Minah membuka bungkus dan memberikannya kepada Cinta. Cinta terlihat berbinar, ia sangat senang mendapatkan es krim kesukaannya.
“Tadi siapa Bi?” tanya Cinta.
“Bibi juga tidak tau Non. Kita masuk yuk ?”
Cinta mengangguk. Bi Minah menutup kembali gerbangnya. Dan berjalan masuk ke dalam rumah bersama Cinta. Sepertinya rasa sedih Cinta teralihkan dengan es krim coklatnya. Ia terlihat lahap memakan es krim. Mulutnya penuh dengan es krim yang belepotan sampai ke pipi-pipinya. Bi Minah tersenyum melihat tingkah Nona kecilnya.
Setelah menghabiskan es krim. Bi Minah mengajak Cinta ke kamarnya. Membersihkan wajah Cinta yang penuh dengan es krim. Dan mengganti bajunya. Tak berapa lama, Cinta tertidur. Mungkin ia lelah, menangis sepanjang pagi hingga siang. Dan akhirnya ia pun tidur dengan pulasnya.
Setelah memastikan Cinta tidur, Bi Minah beranjak dari kamar Cinta. Namun ternyata di depan pintu sudah ada ayah Cinta, Iqbal.
“Cinta tidur Bi?” tanya Iqbal.
“Iya Pak, sepertinya Non Cinta kelelahan.”
“Tolong jaga Cinta ya, Bi.”
“Baik Pak.”
“Saya sama Meta mau pergi dulu. Titip Cinta.”
“Baik, Pak,”
Menjelang sore, Cinta terbangun dari tidurnya. Cukup lama Cinta tidur siang. Mungkin kelelahan karna terlalu lama menangis, lebih tepatnya menangisi kepergian bundanya.
“Bunda... Bunda...” panggil Cinta dengan suara khas bangun tidur. Tak mendapati sosok bundanya. Cinta turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya.
“Bunda... Bunda...” kembali Cinta memanggil bundanya. Namun sosok yang dicari tak kunjung muncul.
Bi Minah yang sedang berada di dapur, mendengar Cinta memanggil bundanya. Ia langsung mencari ke arah sumber suara. Terlihat Cinta menuju kamar orang tuanya.
Tiba di depan kamar orang tuanya, Cinta langsung mengetuk pintu. “Bunda... buka pintunya, ini Cinta,” panggil Cinta. Tak ada sahutan dari dalam. Kini Cinta menggapai gagang pintu dan mencoba membukanya. Namun ternyata kamarnya dikunci. Cinta tak menyadari kamar tersebut dikunci. Ia terus berusaha membukanya.
Melihat Cinta berada di depan kamar orang tuanya, Bi Minah segera menghampiri Cinta.
“Non Cinta udah bangun ?”
“Bi... Bunda mana ?” tanya Cinta. Wajahnya sudah terlihat akan menangis. Sepertinya Cinta lupa akan kepergian bundanya tadi pagi.
Bi Minah berjongkok. Menyejajarkan tubuhnya dengan Cinta. Membelai rambut Cinta.
“Bunda lagi pergi sebentar.” Bi Minah terpaksa berbohong, ia tidak ingin Cinta bersedih kembali.
“Non Cinta mandi dulu ya, trus makan. Non Cinta dari siang belum makan,” ajak Bi Minah.
“Cinta mau nunggu bunda dulu.”
“Nunggu bundanya sambil mandi dan makan ya? nanti kalo bunda datang , Non Cinta udah cantik, udah makan. Pasti bunda seneng. Non Cinta pengen bunda seneng kan ?” Cinta mengangguk mendengar penuturan Bi Minah.
Bi Minah tersenyum melihat respon Cinta. Ia langsung menggendong Cinta dan membawanya ke kamar mandi di belakang.
“Bi... Cinta mau pake baju frozen.”
“Siap Non.”
Setelah selesai mandi dan berganti baju sesuai permintaan Cinta. Bi Minah membawa Cinta ke ruang makan. Dari siang Cinta belum makan sama sekali. Dan sengaja Bi Minah memasak makanan kesukaan Cinta. Ayam tepung krispi. Cinta makan dengan lahap.
“Bi... bunda kapan pulang?” tanya Cinta di sela makannya.
“Mungkin... sebentar lagi Non.” Gugup Bi Minah menjawab pertanyaan Cinta. Pertanyaan simpel, namun sebenarnya Ia pun tak tau jawabannya. Terpaksa Bi Minah berbohong kembali. Entah sampai kapan. Mungkin sampai Cinta mengerti sendiri bahwa keadaan orang tuanya yang tak lagi hidup bersama. Dan itu tak tau kapan.
Tak terasa Cinta telah menghabiskan sepiring nasi dan sepotong ayam. Tentu saja porsi anak seusianya.
“Bi... bunda kok lama perginya?” kembali Cinta bertanya perihal bundanya.
“Mungkin lagi ada urusan yang penting Non.” Bi Minah sebisa mungkin menjawab pertanyaan Cinta.
“Bagaimana kalo Non Cinta main dulu?” Bi Minah mencoba mengalihkan perhatian Cinta.
“Bibi temenin Non Cinta main.” Cinta mengangguk. Mereka pun beralih tempat ke ruang tv. Selain untuk bersantai menonton tv, ruangan ini juga menjadi arena bermain bagi Cinta. Sengaja ruang keluarga di buat paling luas di antara ruang-ruang yang lain. Agar Cinta leluasa bermain. Ada banyak mainan yang Cinta miliki. Bahkan kolam bola pun ada. Meski tak seluas di arena permainan di luar sana. Tapi bagi Cinta sudah sangat senang memilikinya.
Sudah berbagai mainan yang Cinta mainkan. Dan Cinta sudah terlihat bosan.
“Bi... Bunda ga pulang-pulang?” tanya Cinta. Wajahnya kembali murung.
“Kita nunggu bundanya di kamar Non Cinta ya ?” bujuk Bi Minah.
“Ga mau! Cinta mau nunggu bunda.” Cinta mulai merajuk. Ia berlari ke arah pintu keluar. Beruntung pintu sudah Bi Minah kunci, karna waktu sudah malam juga. Dan majikan serta istri barunya belum pulang juga.
Cinta tak berhasil membuka pintu. Lalu ia beralih ke jendela samping pintu. Menyibak sedikit gorden, melihat keadaan di luar. Apakah ada tanda-tanda bundanya akan pulang ?
==========2==========