Cinta menyibak sedikit gorden, melihat keadaan di luar. Apakah ada tanda-tanda bundanya akan pulang ? Namun nihil. Hanya kesunyian yang Cinta dapatkan.
Cinta mulai terisak. Bi Minah menghampiri Cinta.
“Bunda jahat! Kenapa bunda ninggalin Cinta ?” tangis Cinta pecah, tak bisa terbendung lagi.
Bi Minah langsung memeluk Cinta. Menenangkannya.
“Bunda... Bunda di mana ?” Cinta sesenggukan. Tangisnya sungguh menyayat hati.
Bi Minah hanya mengusap-usap punggung Cinta pelan. Berharap bisa sedikit menenangkan Cinta. Bi Minah tak tahu harus berbuat apa lagi. Ia menggendong tubuh Cinta dan hendak membawanya ke kamar.
Saat akan membuka pintu kamar, terdengar suara deru mobil di depan rumah. Rupanya Iqbal dan istri barunya telah kembali. Bi Minah langsung menuju pintu utama, membukakan pintu untuk mereka. Bersama Cinta yang tetap dalam gendongan Bi Minah.
“Ayaaah...” seketika Cinta memanggil ayahnya saat pintu terbuka menampakkan sosok sang ayah.
Iqbal langsung mengambil Cinta dari Bi Minah.
“Ayah... bunda mana ?”
“Ini bunda Cinta,” jawab ayah sambil menunjuk ke arah Meta. Yang ditunjuk hanya tersenyum.
“Itu buka bunda Cinta. Cinta mau bunda.” Tangisnya semakin kencang.
“Dari tadi Non Cinta terus nanyain bundanya, Pak,” ucap Bi Minah.
“Ya sudah, Cinta sekarang bobo sama ayah ya?” ajak Iqbal. Cinta mengagguk .
Terlihat Meta tidak suka melihat keakraban ayah dan anak itu.
“Meta, kamu ke kamar duluan. Mas akan menidurkan Cinta dulu,” ucap Iqbal. Meta hanya mengangguk. Lalu pergi begitu saja ke kamar mereka berdua. Iqbal pun berlalu ke kamar Cinta, hendak menidurkan Cinta. Sementara Bi Minah, pergi ke belakang setelah mengunci kembali pintu utama.
Tak terdengar lagi suara tangis Cinta. Rupanya Cinta sudah tidur dalam pelukan ayahnya. Terlihat Cinta sangat nyaman berada dalam dekapan ayahnya. Iqbal sangat menyayangi Cinta dan benar-benar menjadi sosok ayah yang baik bagi Cinta. Tak jarang ia suka menghabiskan waktu senggangnya bermain dengan Cinta. Bahkan lelah bekerja pun seketika sirna setelah ia kembali ke rumah dan bermain dengan anak tersayangnya.
Setelah memastikan Cinta tidur, Iqbal kembali ke kamarnya. Di sana ia mendapati istrinya sedang berselonjor di atas tempat tidur sambil bermain gawainya. Iqbal berjalan mendekati Meta, dan duduk di hadapannya. Meta langsung menghentikan aktivitasnya.
“Cinta sudah tidur, Mas ?”tanya Meta.
Iqbal hanya mengangguk menjawab pertanyaan Meta. Tangannya membuka dasi yang sedari tadi melingkar di lehernya.
“Dek, kamu yang sabar ya ngadepin Cinta. Ia sangat dekat dengan bundanya, kemana pun bundanya pergi, ia pasti turut serta. Mungkin ini yang pertama bagi Cinta jauh dari bundanya.”
“Iya Mas, aku ngerti kok.”
“Mas yakin kamu bisa menjadi mama yang baik bagi Cinta.”
Meta tersenyum, “makasih Mas, kamu udah percaya sama aku.” Meta pun memeluk pinggang Iqbal dan kepalanya bersandar pada d**a bidang suaminya. Iqbal membalas pelukan Meta.
“Hmm... kamu bau acem, Mas. Sana mandi dulu,” ucap Meta seraya menutup hidungnya dengan tangan.
“Kamu ini.” Iqbal mencubit hidung Meta gemas. Meta tertawa, karna berhasil mengerjai suaminya.
Iqbal pun berlalu ke kamar mandi. Membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
“Cinta... Cinta...”
Tepat pukul 10 pagi. Suara anak laki-laki terdengar memanggil-manggil Cinta.
Cinta yang berada di teras rumahnya, langsung menghampiri ke arah sumber suara.
“Pagi Cinta,” sapa anak laki-laki itu.
“Kamu siapa ?” tanya Cinta polos.
“Aku Rama,” jawabnya.
“Aku Cuma mau ngasih ini.” Rama menyerahkan cokelat yang terbungkus kertas warna ungu kepada Cinta.
Mata Cinta langsung berbinar melihat cokelat pemberian Rama. Ia langsung menerimanya tanpa pikir panjang. Karna memang cokelat tersebut makanan kesukaan Cinta.
“Makasih Kak.”
“Sama-sama.” Rama tersenyum senang melihat Cinta begitu antusias dengan pemberiannya.
“Non Cinta...” panggil Bi Minah yang ternyata sudah berada di belakang Cinta.
“Pagi Bi ..” sapa Rama ramah.
“Pagi,” jawab Bi Minah.
“Non Cinta lagi apa di sini ?” tanya Bi Minah.
“Ini apa ?” tanyanya lagi, tangannya mengambil cokelat yang ada dalam genggaman Cinta.
“Cokelat Bi, dari kak Rama,” Cinta menunjuk ke arah Rama.
Rama tersenyum ramah.
“Maaf Dek Rama, Bibi boleh bertanya ?” Rama mengangguk.
“Bibi baru liat Adek, Adek sebenarnya siapa?” tanya Bi Minah Ramah.
“Saya Rama, Bi.” Rama tersenyum memperkenalkan diri kepada Bi Minah.
“Kenapa Adek suka ngasih makanan ke Non Cinta?”
“Saya tidak ada maksud apa-apa, Bi. Saya hanya sekedar mengantarkan,” jawab Rama.
Bi Minah mengernyitkan dahi, tidak mengerti dengan perkataan Rama barusan.
“Memangnya makanan ini dari siapa?” tanya Bi Minah penasaran.
“Maaf, Bi. Saya juga tidak tau. Cuma diminta tolong ngasihin ini ke Cinta. Jadi saya tolongin,” jelas Rama.
Bi Minah terlihat tidak puas dengan jawaban Rama. Sempat terlintas di pikirannya, bahwa yang memberi makanan ini adalah ibundanya Cinta. Namun, ia sendiri tidak yakin.
“Saya permisi dulu ya Bi. Dadah Cinta.” Rama melambaikan tangannya dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
Setelah Rama pergi, Bi Minah dan Cinta beranjak masuk ke dalam rumah. Tak lupa, Bi Minah menutup pintu gerbang terlebih dahulu.
“Bi, Kak Rama baik ya ?” Bi Minah mengangguk.
“Besok Kak Rama ke sini lagi nggak Bi ? Kalo kesini bawa apa ya ?”
Bi Minah tersenyum mendengar pertanyaan Cinta. Terlihat sekali cinta sangat senang. Bersyukur ada Rama yang bisa sedikit mengalihkan pikiran Cinta akan bundanya.
“Yang pasti bawa kesukaan Non Cinta.”
Mata Cinta sontak berbinar. “Benaran, Bi?”
“Iya Non Cinta cantik.” Bi Minah menjawel pipi Cinta lembut. Gemas dengan tingkah laku Cinta.
Bi Minah menggendong Cinta dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka, lebih tepatnya memperhatikan Cinta. Bocah kecil yang sangat dicintainya. Yang ia lahirkan dan besarkan dengan penuh cinta, namun kini semuanya telah sirna. Memeluknya hanya sebuah angan-angan saja.
Tak terasa bulir bening berhasil meluncur dari peraduannya. Tak kuat menahan tangis. Ia pun berbalik. Kembali ke tempat persinggahannya sekarang. Hanya sepetak kamar, namun begitu berarti baginya. Karna dekat dengan anaknya, Cinta.
Berbekal perhiasan yang dipakainya. Ia mencari kontrakan atau semacamnya yang masih dekat dengan rumahnya yang dulu. Beruntung ada sepetak kamar yang masih kosong. 3×3 meter cukuplah untuk dirinya sendiri. Yang penting baginya, bisa melihat Cinta setiap hari adalah hal yang sangat membahagiakan. Walaupun harus sembunyi-sembunyi seperti seorang pencuri. Namun semua itu tak menjadi masalah. Asalkan ia bisa melihat Cinta, bisa dekat dengan Cinta. Ia juga ingin memastikan bahwa Cinta baik-baik saja.
==========3==========