Sudah satu minggu berlalu. Dan selama satu minggu itu pun Rama selalu datang membawakan hadiah buat Cinta. Dan tentu saja isinya sesuatu yang disukai Cinta. Seperti sudah tahu saja seluk beluk tentang Cinta. Entah memang Rama tahu semua kesukaan Cinta, entah hanya kebetulan saja. Dan sampai sekarang pun Rama masih belum memberi tahukan sosok pengirim hadiah yang sebenarnya.
Sama seperti pagi-pagi kemarin. Hari ini pun Cinta sudah duduk di teras rumahnya. Menunggu kedatangan Rama sudah menjadi kebiasaan barunya sekarang. Sudah tidak sabar Cinta menantikan kejutan yang dibawa Rama. Sesekali Cinta mengedarkan pandangannya ke arah jalan di balik pagar rumahnya.
Cinta berdecak setiap kali ia tak mendapati tanda-tanda akan kedatangan Rama.
Bi Minah menghampiri Cinta. Ada kekhawatiran di hatinya, Rama tak datang. Dan pastinya akan membuat Cinta murung. Ia tidak ingin melihat Cinta seperti itu lagi. Sudah lelah kemarin menangisi kepergian bundanya. Dan sekarang harus dihadapkan lagi dengan sosok Rama yang telah sedikit mengobati luka hati Cinta tak muncul lagi. Sungguh Bi Minah sangat mengkhawatirkan hal itu.
“Non, masuk dulu yuk?” ajak Bi Minah.
“Engga mau Bi. Cinta mau nunggu Kak Rama. Cinta udah gak sabar. Kira-kira Kak Rama bawain apa lagi buat Cinta.” Cinta sangat antusias sekali, senyum di bibirnya terus terukir di wajah cantiknya.
“Ya sudah, Bi Minah masuk dulu ya?” pamitnya. Cinta menganggukan kepalanya. Dan kembali pandangannya tertuju pada gerbang rumahnya. Seketika senyumannya terkembang. Sosok yang dinantinya sedang berjalan ke arah gerbang rumahnya. Sontak Cinta berlari ke gerbang rumah. Belum juga namanya dipanggil, Cinta sudah membukakan pintu gerbang, walau dengan susah payah.
“Kak Rama.” Panggil Cinta senang.
Rama tersenyum. “Hai Cinta,” balas Rama.
Cinta mengedarkan pandangannya ke seluruh tubuh Rama. Namun ia tak mendapati apa-apa. Senyumnya seketika sirna.
“Kenapa Cinta?” tanya Rama.
“Kakak ga bawa apa-apa buat Cinta?” tanya Cinta. Rama hanya menggelengkan kepalanya.
Cinta semakin terlihat murung. Ada kekecewaan di raut wajahnya.
Rama hanya tersenyum saja melihat tingkah Raka.
“Maafin Kak Rama ya? Kakak ga bawa apa-apa untuk Cinta.”
Cinta masih cemberut. Namun kepalanya ia anggukan.
“Tapi Kakak bawa sesuatu yang bener-bener spesial buat Cinta.”
Cinta menatap Rama dengan seksama. “Apa?” tanyanya penasaran.
“Ayo ikut Kak Rama?”
Cinta tak langsung menjawab ajakan Rama. Sedikit ragu, karna Cinta selalu didoktrin untuk tidak terlalu percaya pada orang yang baru dikenal. Meski dia sudah berbuat baik sekalipun.
“Ayo?” ajak Rama lagi. Melihat tak ada pergerakkan dari Cinta. Rama paham akan situasi yang mereka hadapi.
“Jangan takut, Kak Rama Cuma mau ngasih kado paling spesial buat Cinta.”
Cinta masih belum merespon. Lalu Rama mendekatkan mulutnya ke telinga Cinta.
“Mau bertemu Bunda gak?” bisik Rama. Sontak Cinta mengangguk tanpa ragu.
Rama tersenyum. “Hayuk?” Rama menggandeng tangan Cinta. Cinta pun menurut.
Rama mengajak Cinta ke belokan arah biasanya Rama pulang. Hanya berselang 2 rumah dari rumah Cinta.
Tiba di belokan. Ternyata sudah ada seorang wanita yang sedang menunggu. Wanita tersebut menutup wajahnya menggunakan syal. Cinta tak mengenalinya sama sekali.
Melihat Cinta dan Rama telah tiba. Wanita tersebut langsung berjongkok dan memeluk Cinta. Cinta hanya terdiam saja, tak membalas pelukan wanita itu sama sekali.
“Ini bunda sayang,” ucap wanita itu. Tangannya langsung melepaskan syal yang menutup wajahnya.
“Bunda.” Cinta langsung memeluk Rahma. Derai air mata meluncur begitu saja dari pelupuk mata Cinta dan Rahma. Rindu yang sudah lama menggenang, akhirnya berlabuh juga. Rahma pun memeluk Cinta kembali.
Setelah tangis mereka mereda, Rahma melonggarkan pelukannya.
“Bunda kangen Cinta. Cinta baik-baik saja kan?” tangan Rahma menangkup pipi cabi Cinta.
Cinta mengangguk. “Cinta juga kangen. Bunda kemana aja ? Kenapa gak pulang-pulang ?”
“Maafin Bunda sayang.” Kembali Rahma memeluk Cinta.
“Kita pulang yuk bun?” dengan polosnya Cinta mengajak bundanya pulang ke rumah.
“Maafin Bunda sayang, bunda gak bisa pulang sama Cinta.”
“Bunda gak mau pulang sama Cinta?” Nada suara Cinta meninggi.
Rahma menggeleng. “ Bukan seperti itu, rumah itu bukan rumah bunda lagi, jadi bunda tidak boleh tinggal di sana lagi.” Rahma mencoba menjelaskan. Entah Cinta akan mengerti atau tidak.
“Cinta ikut Bunda.” Cinta mulai merengek. “Cinta ga mau tinggal di sana lagi. Cinta mau ikut Bunda.”
Rahma tak bisa berkata-kata lagi. Tangannya kembali memeluk Cinta.
“Cinta!” Tiba-tiba saja terdengar suara yang cukup lantang memanggil Cinta. Membuat pelukan Rahma dan Cinta terlepas.
“Meta.” Ucap Rahma kaget.
Tanpa aba-aba Meta langsung menarik tangan Cinta kasar. Sontak Cinta menangis histeris.
“Bunda...” tangan Cinta terulur mencoba menggapai tangan Rahma. Namun Meta menarik Cinta dengan kuat.
“Kamu!” tangan Meta menunjuk ke arah Rahma. “Jangan pernah mencoba menemui Cinta.” Meta berkata dengan lantang penuh amarah.
“Cinta anakku, Meta. Aku juga berhak untuk menemui Cinta.” Rahma tak mau kalah. Ia ingin memperjuangkan haknya atas Cinta. Meski hanya bisa bertatap muka saja.
“Ayo pulang!” Meta tak menggubris perkataan Rahma, ia menarik paksa Cinta menuju rumahnya. Cinta meraung-raung, tak henti-hentinya memanggil bundanya. Namun Meta tak peduli sama sekali.
Rahma tak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Menatap kepergian anaknya, hatinya semakin perih. Nasibnya sungguh malang. Hanya ingin bertemu pun harus berakhir dengan kepiluan.
“Tante... sebaiknya tante pulang dulu. Tenangkan diri tante. Nanti biar Rama yang memantau Cinta,” ucap Rama yang sedari tadi diam dan hanya menonton, tak tega melihat Rahma.
Tanpa berkata lagi, Rahma menurut dan melangkahkan kakinya menuju kontrakannya.
Sementara Rama kembali ke rumah Cinta. Ia hanya ingin memantau dari jarak jauh saja.
Terdengar Meta memanggil-manggil Bi Minah. Saking keras suara Meta, sampai juga ke telinga Rama. Padahal jarak Rama ke rumah Cinta lumayan cukup jauh.
“Bi Minah!!! Kamu ngapain aja kerjanya ? Disuruh jagain anak satu ini aja gak becus!” Meta meluapkan amarahnya. Tangan Cinta yang ia pegang dihempaskan begitu saja. Cinta terdorong ke depan. Beruntung Bi Minah menangkap Cinta dengan sigap. Sedari tadi Cinta terus menangis.
“Ada apa, Bu?” Bi Minah memberanikan diri bertanya. Sungguh ia tak mengerti sama sekali. Sedari tadi ia sibuk berkutat di dapur. Bahkan Cinta pergi pun tak ia sadari.
“Anak ini tadi di luar bersama orang lain. Kalo Cinta diculik bagaimana ? Siapa yang akan tanggung jawab ?” entah kenapa Meta tak menceritakan yang sebenarnya, tentang pertemuan Cinta dengan bundanya.
“Maafin Bibi, Bu. Bibi sudah lalai menjaga Non Cinta.”
“Mulai hari ini, Cinta tidak boleh keluar rumah. Paham Bi?”
“Paham, Bu.”
“Satu lagi, jangan panggil saya Ibu, panggil saya Nyonya.”
“Baik, Nya.” Bi Minah hanya bisa pasrah. Meta pun pergi ke kamarnya, meninggalkan Cinta yang masih terisak bersama Bi Minah.
==========4==========