Bi Minah menggendong Cinta dan membawanya ke dalam kamar. Cinta masih sesenggukan.
“Non Cinta di kamar dulu ya? Bibi ambil minum dulu.” Tanpa menunggu jawaban Cinta, Bi Minah keluar kamar dan menuju dapur.
Terdengar jelas sekali suara Meta sedang berbicara lewat saluran telephon genggamnya. Sepertinya lawan bicaranya ayahnya Cinta.
“Mas, bener. Aku tidak bohong. Tadi aku lihat Cinta mau diculik oleh seorang wanita dan anak laki-lakinya. Kalau saja tadi aku tidak lihat, mungkin Cinta udah mereka bawa pergi.” Bi Minah terlonjak kaget mendengar penuturan Meta barusan.
“Beneran Mas, makanya aku minta, kita harus segera pindah dari rumah ini. Lingkungan di sini sudah tidak aman. Apalagi bagi Cinta. Aku takut kejadian ini terulang lagi.” Lanjut Meta. Entah apa tanggapan dari Iqbal.
“Baiklah. Aku tunggu di rumah.” Meta mengakhiri pembicaraannya di telephon.
“Bibi, ngapain di sini ?” Meta memergoki Bi Minah yang sedari tadi menguping pembicaraannya.
Bi Minah gelagapan. “Ini... Nyonya... Bibi Cuma ambilin minum buat Non Cinta.”
Melihat segelas air minum berada dalam genggaman Bi Minah, Meta berlalu begitu saja menuju kamarnya. Bi Minah menghela nafas, lega rasanya tak dicurigai sedang menguping oleh majikannya.
Bi Minah membuka pintu kamar Cinta. Terlihat Cinta masih sesenggukan di atas tempat tidurnya.
“Non... minum dulu ya.” Bi Minah membantu Cinta untuk duduk, lalu meminumkannya pelan-pelan. Cinta sudah mulai tenang.
“Non Cinta ada yang sakit enggak?” tanya Bi Minah khawatir.
“Ga ada Bi.”
“Syukurlah, Bibi khawatir sama Non Cinta.” Bi Minah merasa lega, Nona kecilnya tidak terluka.
“Non Cinta, Bibi mau tanya boleh ?” tanya Bi Minah ragu, rasa penasaran tentang kejadian barusan mendorongnya untuk sedikit menginterogasi Cinta.
“Non Cinta masih inget tadi ngapain aja di luar ?” tanya Bi Minah hati-hati.
“Hmm...” Cinta tampak berfikir dahulu.
“Tadi Kak Rama datang, tapi Kak Rama ga bawa apa-apa. Cinta sedih Bi, padahal Cinta udah nungguin hadiah dari Kak Rama,” jelasnya. Bi Minah mengangguk-nganggukan kepalanya mendengar cerita Cinta.
“Tapi, tadi Cinta ketemu Bunda. Cinta seneng banget,” lanjutnya. Kali ini Bi Minah mengernyitkan dahi.
“Non Cinta ketemu bunda dimana ?” tanya Bi Minah penasaran.
“Di jalan Bi. Kak Rama yang ajakin Cinta ketemu bunda. Kak Rama baik banget ya Bi ?”
Bi Minah menganggukan kepalanya, namun ia masih tak percaya apa yang ia dengar dari Cinta. Kenapa berbeda sekali ceritanya dengan Nyonya barunya.
“Terus bisa ketemu sama Mama Meta di mana?”
“Tante Meta Bi, bukan mama,” protes Cinta.
“Iya Non, tante Meta. Maaf ya, Bibi lupa.” Bi Minah tersenyum, sepertinya Cinta masih enggan mengakui Meta sebagai mamanya.
“Terus Non Cinta kok bisa pulang sama tante Meta?” tanya Bi Minah. Rasa penasarannya masih belum terobati.
“Cinta juga gak tau, tiba-tiba aja tante Meta dateng terus suaranya keras banget manggil Cinta. Cinta jadi takut Bi.” Cinta langsung memeluk Bi Minah. Bi Minah balas memeluk Cinta.
“Jangan takut ya Non, kan ada Bibi di sini,” ucapnya sambil mengusap lembut kepala Cinta. Bi Minah percaya dengan cerita Cinta. Cinta tidak mungkin berbohong. Kejujuran selalu ditanamkan bundanya kepada Cinta sejak dini.
Bi Minah merasa kasian dengan Cinta karena mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang yang ngakunya sayang. Namun ternyata semuanya palsu. Mungkin inilah sosok ibu tiri yang hanya cinta kepada ayahnya saja tidak serta anak-anaknya.
Bi Minah juga sangat geram dengan Meta. Bisa-bisanya ia mengarang cerita seperti itu. Bi Minah tak habis fikir dengan kelakuan Meta. Dan bagaimana bisa majikannya lebih memilih wanita ular tersebut. Sungguh cinta bisa membutakan mata hati. Bahkan berlian pun bisa terkalahkan oleh serpihan kaca.
“Bi, bunda kok ga tinggal di sini lagi bareng Cinta. Tadi juga Cinta ajakin pulang, bunda ga mau,” tanya Cinta membuyarkan lamunan Bi Minah.
Bi Minah bingung harus memberikan jawaban seperti apa untuk anak yang baru 5 tahun.
“Bibi kok diem aja?” tanya Cinta lagi.
“Hmm... Maaf ya Non, Bibi juga gak tau. Nanti Non Cinta tanya aja ke ayah ya?” Cinta mengangguk.
“Syukurlah Non Cinta mau menurut,” gumamnya dalam hati.
Tak berapa lama, Cinta sudah kelihatan mengantuk. Bi Minah tak beranjak dari kamar Cinta, menemani Cinta sampai Cinta tertidur dalam pangkuannya.
Terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah. Bi Minah menidurkan Cinta di tempat tidurnya. Kakinya sedikit kebas akibat tindihan badan Cinta. Bi Minah menyelimuti Cinta dan mengusap pucuk kepala Cinta dengan lembut. Lalu ia pun beranjak keluar kamar.
“Tuan sudah pulang ?” Bi Minah menghampiri Iqbal. Ada kekhawatiran di raut wajah majikannya.
“Cinta mana Bi ?”
“Non Cinta lagi tidur di kamarnya.”
“Ibu mana ?”
“Nyonya juga lagi di kamarnya.” Iqbal mengernyitkan dahi, ada kejanggalan dari kata-kata Bi Minah. Namun ia tak mau ambil pusing. Iqbal beranjak ke kamar Cinta. Membuka pintu pelan-pelan. Bi Minah mengekor di belakang Iqbal.
Iqbal masuk ke kamar Cinta. Duduk di samping Cinta yang sedang terlelap. Mengusap lembut kepalanya, lalu mencium pucuk kepala Cinta. Terlihat sekali Iqbal menyayangi Cinta. Seakan tak mau terpisahkan. Setelah puas memandangi anaknya, Iqbal beranjak dan keluar kamar Cinta. Langkahnya kali ini tertuju pada kamarnya.
“Sayang...” panggil Iqbal.
Meta terlonjak kaget mendengar suaminya sudah berada di dalam kamar.
“Mas, kamu sudah pulang ?” Meta menghampiri Iqbal dan langsung merangkul tangan Iqbal.
“Kenapa ? Bukankah kamu yang meminta Mas cepet pulang ?” Mendapat tanggapan Iqbal seperti itu, Meta cemberut dan melepaskan rangkulannya. Iqbal langsung duduk di sofa.
“Sini duduk,” Iqbal menepuk sisi sofa di sebelahnya. Meta menurut.
“Jadi kamu mau kita pindah ke mana ?” tanya Iqbal.
“Ke mana saja Mas, asalkan tidak di rumah ini lagi. Aku khawatir kejadian seperti tadi terulang kembali.”
“Aku tidak mau terjadi apa-apa terhadap Cinta,” lanjut Meta dengan berurai air mata.
“Baiklah, nanti Mas akan cari rumah yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja.”
“Mas, apa tidak bisa Mas juga pindah kerjanya? Semacam mutasi kerja gitu Mas ?”
Iqbal terdiam. Memikirkan pertanyaan Meta.
“Mas?” panggilnya, karena sedari tadi Iqbal terdiam, tak menjawab pertanyaannya.
“Nanti coba Mas usahakan.”
“Beneran ya ?”
Iqbal hanya tersenyum. “Untuk sementara kita tinggal di sini dulu ya, dan Mas minta kamu benar-benar jagain Cinta. Mas takut kehilangannya.”
“Tenang saja Mas, aku udah anggap Cinta seperti anak kandungku sendiri. Buktinya aku minta pindah juga karna aku sayang Cinta, aku khawatir kejadian itu terulang lagi.”
Iqbal tersenyum, menganggukkan kepalanya.
==========5==========