Mantra Ban Anti Kempes dan Kencan Aneh
Pagi di Surabaya kembali cerah, tapi benak Rio dan Apri masih dihantui pesan singkat Luna. Ban mobil CEO Digital Agency itu kempes lagi, padahal baru saja ditambal Apri semalam. Ini bukan lagi sekadar kebetulan, ini adalah misi.
"Ini jelas ulah si kakek-kakek penunggang sepeda, Pr," ujar Rio sambil menyeruput teh jahe di klinik spiritualnya. "Energi frustrasinya masih kuat. Dia ingin ban Luna kempes terus biar Luna enggak bisa kerja, terus bisa nemenin dia naik sepeda virtual."
Apri mengusap dagunya. "Mungkin juga, Yo. Tapi secara teknis, ban itu sudah kutambal sempurna. Kalaupun ada paku baru, harusnya ada bekasnya."
Herman, yang tiba-tiba muncul di ambang pintu klinik Rio dengan tablet di tangan, menggelengkan kepala. "Tidak ada indikasi energi supranatural, Rio. Menurut analisis saya, ban Mbak Luna sudah uzur. Usia pakai karet ban itu terbatas. Apalagi kalau sering kena genangan air dan lubang. Probabilitas kebocoran berulang meningkat 78%."
Rio mendengus. "Kamu ini, Man. Semua diprediksi pakai angka. Hati orang galau juga bisa diprediksi pakai angka, begitu?"
"Tentu saja tidak," Herman menjawab datar. "Hati itu kompleks. Tapi kalau ban, itu sederhana."
"Sudahlah, kita harus bertindak," kata Rio tegas. "Apri, kamu siap-siap. Kita akan ke tempat Luna. Aku akan coba mantra anti-kempes yang baru. Mungkin si kakek-kakek butuh spiritual upgrade."
Apri menyiapkan peralatannya. Herman ikut serta, penasaran ingin mengamati "fenomena" ban kempes yang tak henti-henti ini dari sudut pandang ilmiah.
Mereka pun meluncur ke kantor Luna, sebuah gedung pencakar langit modern di pusat kota Surabaya. Apri membawa set lengkap peralatan tambal ban, sementara Rio membawa sebuah tasbih kayu dan botol kecil berisi air yang ia sebut "Air Suci Penolak Kempes". Herman seperti biasa, membawa clipboard dan tabletnya.
Di parkiran kantor, mobil Luna terparkir dengan ban depan yang memang agak kempes. Luna menyambut mereka dengan senyum cemas.
"Wah, Mas Apri, Mas Rio, Mas Herman. Kok repot-repot datang ke sini?" Luna menghela napas. "Saya jadi enggak enak. Bener-bener kayak dikutuk ban kempes, ya."
"Jangan khawatir, Mbak Luna," kata Rio dengan wibawa seorang dukun. "Ini bagian dari layanan purna jual spiritual. Apri akan menambal, dan saya akan melakukan ritual penyucian ban."
Apri segera beraksi, memeriksa ban Luna dengan teliti. Anehnya, memang tidak ada paku atau pecahan kaca. Ia menemukan retakan sangat kecil di bagian samping ban, nyaris tak terlihat. "Ini masalah usia, Mbak Luna. Karetnya sudah mulai getas."
Sementara Apri bekerja, Rio mengeluarkan tasbihnya. Ia mulai mengelilingi mobil Luna, sesekali menyiramkan air dari botol kecilnya ke arah ban yang sedang ditambal.
"Wahai roh-roh kempes, pergilah dari ban ini! Wahai kakek penunggang sepeda, banmu sudah ditambal oleh ahlinya! Lepaskanlah energi frustrasimu pada ban ini! Biarkan ban ini mengaspal dengan tenang!" Rio merapalkan mantranya dengan khusyuk.
Luna menahan tawa, sementara Herman mencatat semua yang dilakukan Rio di clipboard-nya. "Probabilitas efek plasebo 65%," gumam Herman.
Setelah Apri selesai menambal dan Rio selesai "meruwat", ban mobil Luna kembali terisi penuh.
"Nah, sudah beres, Mbak Luna," kata Apri sambil tersenyum. "Dijamin aman sampai tujuan."
Luna tersenyum lega. "Terima kasih banyak, Mas-mas sekalian. Saya jadi merasa berhutang budi sekali." Ia melihat ke arah Rio. "Mas Rio, mantra tadi... sungguh unik."
Rio tersenyum. "Ini mantra khusus, Mbak Luna. Untuk ban yang punya masalah emosional."
Tiba-tiba, Luna mendapat ide. "Bagaimana kalau saya mentraktir makan siang sebagai ucapan terima kasih? Ada restoran baru yang lucu di dekat sini."
Rio dan Apri langsung mengangguk semangat. Herman sempat ragu, tapi rasa penasarannya mengalahkan segalanya.
Makan siang itu berlangsung canggung sekaligus kocak. Rio mencoba "meramal" menu yang paling cocok untuk Luna berdasarkan "aura"-nya, Apri menceritakan filosofi hidup dari sudut pandang ban kempes, dan Herman terus-terusan membandingkan service restoran dengan data efisiensi dapur BMKG. Luna berusaha keras menahan tawa sambil melayani obrolan absurd mereka.
"Mbak Luna ini, auranya cocoknya sama salad buah, karena melambangkan kesegaran dan semangat baru," kata Rio serius.
"Betul, Mbak. Tapi jangan lupa, salad buah juga butuh saus yang pas. Kayak ban, butuh tekanan angin yang pas. Kalau kebanyakan, bisa pecah," Apri menambahkan.
Herman mengeluarkan miniature thermometer saku. "Suhu ruangan ini 24,5 derajat Celcius. Optimal untuk kenyamanan, tapi tidak ideal untuk menjaga kesegaran buah-buahan dalam waktu lama tanpa lemari pendingin."
Luna hanya bisa tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia mulai menyadari bahwa ketiga pria ini, meskipun aneh, punya pesona dan kebaikan hati yang tulus. Rio dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, Apri dengan kearifan lokalnya, dan Herman dengan logikanya yang kaku tapi konsisten.
Flashback:
Herman muda, masih kuliah di jurusan Meteorologi, adalah seorang mahasiswa yang sangat perfeksionis. Suatu hari, ia dihadapkan pada tugas akhir yang sangat sulit: memprediksi cuaca secara manual untuk tiga hari ke depan tanpa bantuan komputer. Ia menghabiskan berminggu-minggu dengan data, peta cuaca, dan perhitungan rumit. Pada hari presentasi, ia sangat percaya diri dengan prediksinya: "Cerah berawan total."
Namun, takdir punya rencana lain. Saat ia melangkah keluar dari gedung kampus setelah presentasi, hujan deras tiba-tiba mengguyur, diikuti kilat dan petir yang menggelegar. Prediksinya meleset total. Herman muda terpukul. Ia merasa gagal. Sejak saat itu, ia bertekad untuk membuat prediksi cuaca yang 100% akurat. Ia percaya, dengan data yang cukup, tidak ada yang tidak bisa diprediksi. Obsesinya pada angka dan probabilitas dimulai dari hari itu.
Setelah makan siang, Luna mengantar mereka ke parkiran.
"Terima kasih lagi ya, Mas-mas. Seru sekali makan siangnya," kata Luna tulus.
"Sama-sama, Mbak Luna," balas Apri. "Kalau ban kempes lagi, jangan sungkan panggil saja."
Rio tersenyum penuh arti. "Saya jamin, setelah ritual tadi, ban Mbak Luna akan aman. Atau, kalau ada masalah lain yang butuh 'ruwatan', jangan sungkan telepon saya."
Luna tersenyum. "Pasti. Saya akan coba hubungi Mas Rio kalau ada masalah yang... spiritual." Matanya bertemu pandang dengan Apri sejenak. Ada sedikit rona di pipi Luna.
Setelah Luna masuk mobil dan melambaikan tangan, Rio menepuk bahu Apri. "Gimana? Mantap kan ramalanku? Badai membawa jodoh, dan jodohnya itu CEO Digital Agency!"
Apri masih melongo. "Gila, Yo. CEO itu. Aku kan cuma tukang tambal ban."
"Hei, tukang tambal ban itu profesi mulia!" sahut Rio. "Menyambung rezeki dan menyelamatkan pengendara dari kemacetan. Lebih mulia daripada beberapa CEO yang kerjanya cuma ghosting client."
Herman melihat tablet-nya. "Probabilitas kelanjutan hubungan antara Apri dan Mbak Luna adalah 35%, karena perbedaan latar belakang pekerjaan yang signifikan. Namun, faktor humor dan ketulusan Apri bisa meningkatkan probabilitas hingga 42%."
Apri dan Rio hanya bisa melongo mendengar analisis Herman.
"Tapi," lanjut Herman, "ada satu data aneh yang saya temukan. Intensitas anomali medan magnet di sekitar kantor Mbak Luna sedikit meningkat setelah ritual Rio. Kemungkinan..."
Belum sempat Herman menyelesaikan kalimatnya, sebuah scooter matic yang melaju kencang tiba-tiba oleng di depan mereka. Pengemudinya seorang ibu-ibu paruh baya yang panik.
"Ya ampun! Ban saya kempes! Padahal baru keluar dari bengkel!" seru ibu-ibu itu.
Apri langsung menghampiri. Ia melihat ban scooter itu. Tidak ada paku, tidak ada retakan. Tapi bannya kempes.
"Kakek-kakek itu..." Rio menatap langit dengan tatapan ngeri. "Dia bukan cuma bikin ban Luna kempes, dia juga ngikutin Mbak Luna!"
"Tidak mungkin," Herman menyangkal. "Roh tidak bisa berpindah tempat begitu saja. Pasti ada penjelasan logis. Mungkin ibu ini punya masalah ban yang sama dengan Mbak Luna."
Tiba-tiba, Apri menyadari sesuatu. Ia melihat kalung yang dikenakan ibu-ibu itu. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk sepeda pancal tua.
"Yo, Man, lihat ini!" seru Apri, menunjuk kalung ibu-ibu itu. "Ini... ini bukan kakek-kakek yang ngikutin Luna. Tapi... ini..."
Rio dan Herman ikut mendekat. Mereka melihat liontin itu, lalu saling pandang. Ada aura aneh yang terpancar dari liontin tersebut.
"Ini bukan sembarang liontin," kata Rio serius. "Ini adalah... jimat kempes ban!"
Herman mencatat dengan cepat di clipboard-nya. "Hipotesis baru: kutukan ban kempes berpindah melalui benda-benda yang terkait dengan roh. Probabilitas..."
Apri menepuk jidat. Ini bukan lagi sekadar tambal ban biasa. Ini adalah petualangan supranatural yang melibatkan roh kakek-kakek yang punya masalah ban!