Jimat Kempes Ban dan Kencan Berujung Gagal
"Jimat kempes ban?!" seru Apri, matanya membelalak menatap liontin sepeda di leher ibu-ibu itu. Rio mengangguk penuh keyakinan. Herman mendekat, mengamati liontin dengan miniature magnifying glass dari saku jas hujannya.
"Secara morfologi, liontin ini terbuat dari perak, dengan ukiran sepeda kuno. Tidak ada anomali elektromagnetik yang signifikan," kata Herman, nada suaranya datar seperti lantai keramik. "Jadi, secara ilmiah, ini hanya perhiasan biasa."
"Tapi energi frustrasinya, Man!" Rio menunjuk-nunjuk liontin itu. "Ini akumulasi kemarahan kakek-kakek karena bannya selalu kempes! Energinya menular ke ban lain!"
Ibu-ibu pemilik scooter itu menatap mereka bertiga dengan bingung. "Maksudnya gimana ini, Mas? Ban saya kok jadi dikait-kaitkan sama jimat?"
Apri segera menenangkan si ibu. "Bukan apa-apa, Bu. Ini teman saya, Rio, memang suka berimajinasi. Tapi soal ban Ibu, akan saya cek lagi."
Apri memeriksa ban scooter itu dengan seksama. Memang tidak ada lubang. Ia mengamati tekanan ban, lalu melihat ke arah liontin. Ia pun punya ide gila. "Bu, boleh pinjam liontinnya sebentar?"
Si ibu ragu, tapi akhirnya melepas liontinnya. Apri memegang liontin itu, lalu meletakkannya di atas ban yang kempes. Rio mulai merapalkan mantra-mantra aneh, sementara Herman sibuk mencatat.
"Menurut thermal imager saya, tidak ada perbedaan suhu yang signifikan antara ban dengan dan tanpa liontin," gumam Herman. "Ini jelas tidak ada hubungannya."
Tapi tak lama kemudian, keajaiban aneh terjadi. Pelan-pelan, seperti ditiup oleh sesuatu yang tak terlihat, ban scooter itu mulai mengembang! Tidak penuh, tapi cukup untuk menghilangkan kesan kempes total. Apri, Rio, dan si ibu melongo. Bahkan Herman pun menurunkan magnifying glass-nya, matanya sedikit membulat.
"Wow! Mantraku berhasil!" seru Rio penuh kemenangan.
"Ini bukan mantra, Yo. Ini... entahlah. Misteri," Apri memandang liontin itu dengan takjub. "Mungkin liontin ini memang punya daya hisap angin."
Herman melihat data di tablet-nya. "Kejadian aneh ini memiliki probabilitas 0,001%. Perlu penelitian lebih lanjut."
Si ibu sangat terkejut dan senang. "Aduh, terima kasih banyak ya, Mas-mas. Untung ada Mas-mas ini. Padahal saya sudah mau nangis saja."
Apri mengembalikan liontin itu kepada si ibu. "Sama-sama, Bu. Tapi mungkin sebaiknya liontinnya disimpan dulu saja, jangan dipakai saat naik motor."
Ibu itu mengangguk patuh, masih tak percaya. Ia pun pergi dengan ban yang sudah cukup terisi angin.
Rio menatap Apri. "Jadi, sekarang kita punya bukti. Roh kakek itu memang marah sama ban kempes dan bisa memengaruhi ban lain melalui benda yang terkutuk."
"Atau, kebetulan yang sangat luar biasa," Herman menyela. "Bagaimana pun, ada benang merahnya. Sekarang kita tahu kenapa ban Mbak Luna sering kempes. Jangan-jangan dia punya benda yang ada kaitannya sama roh kakek itu juga?"
Apri langsung panik. "Jangan-jangan dia punya action figure sepeda tua atau semacamnya?"
"Kita harus selidiki!" Rio bersemangat. "Misi berikutnya: mencari benda terkutuk di sekitar Mbak Luna!"
Flashback:
Luna Adhisti muda, yang kala itu masih seorang mahasiswi semester akhir, sedang menghadapi deadline presentasi proyek yang sangat besar. Malam itu, laptopnya tiba-tiba mati total. Ia sudah mencoba segala cara, dari restart berkali-kali sampai memukul-mukul keyboard, tapi laptop itu tak mau menyala. Panik luar biasa.
Ia menelepon teman-temannya, tapi tak ada yang bisa membantunya saat itu. Dalam keputusasaan, ia teringat sebuah cerita kuno dari neneknya tentang "energi benda mati". Luna pun memutuskan untuk "berbicara" dengan laptopnya, memohon agar laptop itu mau menyala kembali. Anehnya, setelah ia memeluk dan membisiki laptopnya, benda itu tiba-tiba menyala! Sejak saat itu, Luna selalu punya keyakinan bahwa ada "energi" di balik benda-benda, meskipun ia seorang CEO di bidang digital.
Malam harinya, Apri mencoba memberanikan diri mengirim pesan ke Luna. Tiba-tiba Apri teringat saran Herman untuk meningkatkan probabilitas hingga 42%.
Apri: "Mbak Luna, tadi ban Ibu-ibu yang di dekat kantor Mbak tiba-tiba kempes juga. Ternyata ada kaitannya sama benda yang punya 'aura' aneh. Mbak Luna punya koleksi barang antik sepeda tua atau semacamnya?"
Luna membalas dengan emoji tertawa.
Luna: "Mas Apri ini ada-ada saja. Saya enggak punya koleksi sepeda tua, kok. Kenapa memangnya?"
Apri: "Soalnya, Mas Rio menduga ini ada kaitannya sama roh kakek-kakek penunggang sepeda yang frustrasi karena bannya sering kempes. Kayaknya roh itu suka ngikutin benda-benda yang terkait sama dia."
Luna membalas dengan emoji berpikir.
Luna: "Oh, begitu ya. Kalau begitu, saya punya satu benda yang mungkin Mas Rio maksud. Sebuah jam dinding antik dengan gambar sepeda tua pemberian kakek saya. Beliau juga suka sekali naik sepeda. Kebetulan sekali, kakek saya meninggal di dekat taman kota yang ada patung kuda itu."
Apri langsung lemas. Ini dia biang keroknya! Ternyata roh kakek penunggang sepeda itu adalah kakek Luna!
Apri: "Mbak Luna, maaf, mungkin Mas Rio agak aneh, tapi bisakah saya dan teman-teman datang ke tempat Mbak Luna besok untuk melihat jam dinding itu?"
Luna: "Tentu saja, Mas Apri. Kapan saja."
Apri merasa ini adalah kesempatan emas untuk lebih dekat dengan Luna.
Keesokan harinya, Apri, ditemani Rio, datang ke apartemen Luna. Herman menolak ikut karena "data probabilitas kencan Apri dengan Luna tidak cukup tinggi untuk dibuang-buang waktu."
Apartemen Luna sangat modern dan minimalis. Di salah satu dinding, tergantung sebuah jam dinding antik dengan ukiran sepeda tua yang sangat detail. Aura "tua" dan "mistis" terasa kuat dari jam itu.
"Ini jamnya, Mas Rio," kata Luna. "Peninggalan kakek saya. Beliau memang sangat menyukai sepeda dan sering kesal kalau bannya kempes."
Rio mendekati jam itu, memejamkan mata, dan mulai "merasakan" energinya. "Benar! Ini dia sumbernya! Energi frustrasi si kakek ini terkumpul di sini! Dan... tunggu! Ada energi lain! Energi... rindu?"
Apri dan Luna saling pandang.
"Maksud Mas Rio?" tanya Luna penasaran.
"Kakekmu itu... dia bukan hanya frustrasi, dia juga rindu. Rindu naik sepeda, rindu merasakan angin, rindu... masa mudanya," jelas Rio. "Kalau kita bisa menenangkan rindunya, energi frustrasinya pasti akan hilang."
Apri berpikir keras. "Bagaimana caranya menenangkan roh kakek-kakek yang rindu naik sepeda?"
"Kita harus mengadakan 'ruwatan' sepeda!" seru Rio dengan semangat. "Kita akan 'menghadirkan' kembali sensasi naik sepeda untuknya!"
Luna dan Apri melongo. "Ruwatan sepeda?"
"Iya! Kita akan siapkan sepeda, lalu Apri yang akan menaiki sepeda itu, berkeliling, dan aku akan merapalkan mantra 'anti-galau' untuk roh kakekmu!" Rio menjelaskan rencananya dengan mata berbinar.
Luna tertawa terbahak-bahak. "Ide yang sangat... orisinal, Mas Rio. Tapi bagaimana caranya?"
"Tenang saja, Mbak Luna," kata Apri, mulai membayangkan dirinya naik sepeda di depan umum sambil Rio merapalkan mantra. Pasti akan jadi tontonan. "Masalah teknis serahkan pada saya."
Mereka pun berdiskusi rencana gila ini. Apri menyarankan untuk melakukannya di taman kota, dekat patung kuda, karena di sana ada energi yang lebih kuat. Luna setuju, ia juga mulai tertarik dengan ide-ide aneh trio ini.
Keesokan harinya, Apri membawa sepeda lipat kesayangannya ke taman kota. Rio membawa tasbih, diffuser mini, dan beberapa bunga melati. Herman, yang akhirnya penasaran, ikut datang, membawa alat perekam suara dan kamera untuk mendokumentasikan "fenomena" ini.
"Oke, Man, kamu rekam semua ini. Ini akan jadi bukti ilmiah!" kata Rio.
"Saya akan merekam anomali suara dan visual, Rio. Tapi ini bukan bukti ilmiah, ini dokumentasi aneh," Herman mengoreksi.
Apri naik sepeda lipatnya. Rio berdiri di sampingnya, memejamkan mata, dan mulai merapalkan mantra-mantra dalam bahasa yang tak dimengerti. Ia bahkan sempat menyalakan diffuser mini yang mengeluarkan asap beraroma sandalwood.
Apri mulai mengayuh sepeda pelan-pelan. Ia merasa sedikit canggung, tapi Luna yang berdiri di pinggir taman terlihat menahan tawa sambil merekam dengan handphone-nya.
"Wahai roh kakek penunggang sepeda! Rasakanlah kembali sensasi angin! Rasakanlah ban yang takkan kempes lagi! Bebaskanlah kerinduanmu! Terbanglah dengan damai!" Rio berseru dengan suara keras, sesekali mengipas-ngipaskan bunga melati.
Apri mengayuh lebih cepat, mencoba menghadirkan sensasi "angin" yang dimaksud Rio. Ia bahkan sesekali melakukan wheelie kecil yang langsung disambut tawa Luna.
Tiba-tiba, saat Apri sedang asyik mengayuh, kakinya tersandung sesuatu. Ia oleng, dan sepeda lipatnya jatuh. Apri terpental ke rumput, celananya robek di lutut. Luna langsung berlari menghampiri Apri.
"Mas Apri! Kamu tidak apa-apa?!" Luna terlihat sangat khawatir.
Rio yang masih merapalkan mantra, tiba-tiba membuka mata. "Aku melihat... kakek itu... dia tertawa!"
Apri meringis kesakitan. "Tertawa? Ini sakit, Yo!"
Herman mendekat, mengamati Apri. "Ada memar di lutut, probabilitas infeksi 15% jika tidak diobati. Sepeda rusak ringan."
Luna membantu Apri berdiri. "Mas Apri, ayo ke klinik saja. Lututmu perlu diobati."
Rio mendekati Apri. "Aku salah, Pr. Kakek itu bukan rindu naik sepeda... dia rindu melihat orang lain kesialan karena ban. Dia ingin kamu juga merasakan penderitaannya!"
Apri hanya bisa menghela napas. Ini bukan kencan romantis yang ia bayangkan. Ini adalah kencan paling absurd dan sial yang pernah ia alami. Sementara itu, jam dinding antik Luna di apartemennya... terlihat berdetak lebih kencang dari biasanya.