Arloji Ajaib dan Kencan Berujung Klinik Dukun
Lutut Apri yang robek memang tidak parah, tapi cukup untuk membuat Luna panik dan menyeretnya ke klinik terdekat. Rio yang awalnya semangat merapal mantra di taman, mendadak berubah mode menjadi "dukun medis".
"Tenang, Pr. Ini cuma luka biasa. Nanti aku ruwat pakai antiseptik dan doa biar cepat sembuh," kata Rio sambil menuntun Apri yang pincang. Herman, di belakang mereka, sibuk mencatat detail insiden itu di clipboard-nya.
"Perkiraan waktu penyembuhan memar akibat benturan dengan kecepatan jatuh 2,5 meter per detik adalah 3 hingga 5 hari," Herman menganalisis. "Probabilitas infeksi minimal jika langsung dibersihkan."
Di klinik, setelah perawat membersihkan lukanya, Rio mengambil alih. Ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan hijau keruh yang ia sebut "Elixir Penyembuh Jiwa dan Raga", lalu meneteskannya ke luka Apri.
"Ini Elixir dari pegunungan Himalaya, Pr. Khusus untuk luka yang disebabkan oleh energi spiritual yang jahil," jelas Rio serius. Apri hanya bisa meringis.
Luna yang melihat semua itu hanya bisa menggelengkan kepala, tapi ada senyum tipis di bibirnya. Ia jadi semakin tertarik dengan kelakuan trio ini.
"Mas Apri, saya sungguh minta maaf. Gara-gara jam kakek saya, jadi begini," kata Luna tulus.
Apri yang menahan sakit, mencoba tersenyum. "Ah, tidak apa-apa, Mbak Luna. Ini bagian dari petualangan."
Setelah diobati, Apri dipaksa Rio untuk beristirahat di workshop-nya. Rio pun kembali ke kliniknya, karena kliennya yang lain sudah menanti untuk "meruwat" gawai yang lemot dan hati yang patah. Herman, seperti biasa, melanjutkan penelitiannya di BMKG.
Malam harinya, Apri menerima telepon dari Luna.
"Mas Apri, saya mau tahu keadaan Mas. Sudah lebih baik?" suara Luna terdengar khawatir.
"Sudah kok, Mbak Luna. Luka kecil saja," jawab Apri, hatinya berbunga-bunga.
"Syukurlah. Oh ya, Mas, soal jam dinding kakek saya itu. Tadi sore, saya perhatikan, jarum detiknya bergerak sangat cepat, lebih cepat dari biasanya. Dan anehnya, ada perasaan... dingin di sekitar jam itu. Apakah itu juga efek dari roh kakek saya?" Luna bercerita.
Apri langsung teringat ramalan Rio tentang "energi rindu" kakek Luna. "Wah, jangan-jangan benar yang dibilang Rio, Mbak. Kakek Mbak rindu banget sama sesuatu."
"Tapi apa?" Luna terdengar bingung. "Beliau punya banyak koleksi, tapi yang paling beliau sayangi selain jam itu adalah... arloji saku kesayangannya. Bentuknya juga sepeda tua."
Apri langsung lemas lagi. "Arloji saku?"
"Iya. Tapi arloji itu sudah lama hilang. Kakek saya sangat sedih waktu arloji itu hilang."
Apri pun menceritakan hal ini kepada Rio dan Herman via telepon.
"Jadi, roh kakekmu itu tidak hanya frustrasi karena ban kempes, tapi juga galau karena kehilangan arloji saku?" Rio menyimpulkan dengan nada dramatis. "Ini kasus 'Galau Multidimensi'!"
"Probabilitas energi galau dari arloji yang hilang mempengaruhi jam dinding adalah 0,0001%," kata Herman di ujung telepon. "Tapi kemungkinan ada medan magnet residual pada arloji yang hilang itu. Kita harus mencarinya."
"Mencari arloji hilang? Di mana?" tanya Apri.
"Rio, kamu bisa menerawang lokasi arloji itu?" Apri bertanya.
Rio terdiam sejenak. "Aku perlu konsentrasi penuh. Mungkin perlu media yang kuat."
Akhirnya, mereka memutuskan untuk bertemu di apartemen Luna keesokan harinya. Herman membawa detektor logam mini, Rio membawa cawan berisi air dan bunga melati, dan Apri membawa peralatan tambal ban lengkap, berjaga-jaga jika ada ban yang tiba-tiba kempes karena aura arloji.
Di apartemen Luna, suasana terasa lebih misterius. Jarum detik pada jam dinding antik itu memang berputar lebih cepat. Herman sibuk menyorotkan detektor logam ke setiap sudut ruangan.
"Tidak ada indikasi logam berat di area ini," kata Herman datar.
Rio memejamkan mata, memegang cawan berisi air. "Aku melihat... sebuah tempat yang gelap... berair... ada suara... 'krusuk-krusuk'..."
"Toilet?" celetuk Apri.
Rio menggeleng. "Bukan... ini tempat yang lebih besar... ada banyak sampah... dan... bau..."
"Tempat pembuangan sampah?" Luna bertanya, mulai terbayang-bayang.
Rio mengangguk pelan. "Mungkin... arloji itu dibuang atau jatuh di sana."
"Tapi tempat pembuangan sampah umum itu sangat luas, Rio. Bagaimana kita bisa menemukannya?" Herman bertanya, bahkan ia pun mulai sedikit terbawa suasana.
Rio membuka matanya. "Aku melihat... ada sebuah truk... truk yang kotor... dengan tulisan... 'Maju Bersama'..."
"Truk sampah!" Apri langsung tahu. "Itu truk sampah yang biasa lewat komplek ini!"
Mereka bertiga, ditambah Luna yang penasaran, akhirnya memutuskan untuk mencari truk sampah berlabel "Maju Bersama". Mereka berkendara menyusuri jalanan, Rio sesekali memejamkan mata untuk "merasakan" jejak energi arloji, Apri fokus menyetir, dan Herman mengamati data GPS truk sampah yang sempat ia lacak dari BMKG.
Setelah beberapa saat, mereka menemukan sebuah truk sampah yang sedang berhenti di sebuah area pembuangan sampah. Baunya sangat menyengat. Herman langsung memakai masker gas mininya.
"Probabilitas menemukan arloji di tumpukan sampah sebesar ini adalah 0,000001%," Herman berkomentar, membuat Apri dan Luna down.
Rio memejamkan mata lagi. "Aku merasakan arlojinya... di dekat sana... di tumpukan yang paling bau!"
Apri dan Luna menutup hidung mereka. Mereka melihat ke arah tumpukan sampah yang ditunjuk Rio. Di sana, di antara berbagai macam sampah, tergeletak sebuah arloji saku tua dengan ukiran sepeda. Warnanya kusam dan sedikit berlumut.
"Itu dia!" seru Luna. "Arloji kakek saya!"
Mereka pun bergotong royong mengambil arloji itu. Tentu saja, Herman menolak menyentuhnya tanpa sarung tangan khusus.
"Baunya luar biasa," Apri mengeluh.
Rio mendekati arloji itu, memejamkan mata, dan meletakkan tangannya di atasnya. "Aku merasakan... kelegaan. Roh kakekmu... dia senang arlojinya ditemukan."
Kembali ke apartemen Luna, mereka membersihkan arloji itu dengan hati-hati. Meskipun sudah tua, arloji itu masih terlihat indah. Setelah arloji diletakkan di samping jam dinding, jarum detik pada jam dinding itu berputar normal kembali. Aura dingin di sekitar jam juga menghilang.
"Hebat! Mas Rio benar!" Luna berseru gembira. "Roh kakek saya pasti sudah tenang."
Herman memeriksa datanya. "Indikasi anomali medan magnet di area ini telah hilang 99,99%. Secara empiris, kejadian ini memang bertepatan dengan penemuan arloji."
"Jadi, sekarang tidak ada lagi ban yang kempes karena kakek Luna?" tanya Apri, sedikit lega.
Rio tersenyum penuh misteri. "Mungkin. Tapi setiap roh punya fase. Mungkin nanti kakek Luna rindu bersepeda di virtual reality. Atau rindu melihat orang lain naik sepeda fixie."
Luna tertawa. "Mas Rio ini ada-ada saja. Tapi terima kasih banyak ya, Mas-mas. Kalian sudah banyak membantu saya."
Tiba-tiba, ponsel Luna berdering. Ia melihat nama di layar, lalu mengangkatnya. "Halo, Mama?" Wajah Luna berubah serius. "Apa? Ban Mama kempes di tengah jalan? Aduh, kenapa bisa begitu?"
Apri, Rio, dan Herman saling pandang. Mereka tahu, petualangan mereka belum berakhir.