Ban Ibu Mertua dan Mantra Anti-Judes
Apri menelan ludah. Ban kempes ibunda Luna? Ini bukan lagi sekadar misi tambal ban, ini ujian. Ujian calon menantu.
"Tenang, Mbak Luna," kata Apri, mencoba terlihat tenang. "Saya akan bantu. Ibu ada di mana sekarang?"
Luna menyebutkan lokasi ibunya yang terjebak di pinggir jalan. Apri segera menyiapkan peralatannya. Rio, dengan gaya dukun modernnya, menyarankan agar Apri membawa "Jimat Keberuntungan Calon Menantu" berupa kunci inggris yang sudah diolesi minyak cendana. Herman, tentu saja, membawa portable tire pressure gauge dan thermal imager untuk menganalisis penyebab ban kempes.
"Probabilitas ibu Mbak Luna judes adalah 67% berdasarkan data demografi dan tingkat kemacetan di area tersebut," kata Herman datar. "Apri, kamu harus siap mental."
Mereka pun meluncur ke lokasi. Apri berusaha menyetir dengan tenang, tapi jantungnya berdebar kencang. Rio terus merapalkan mantra "anti-judes" di sebelahnya, membuat Apri semakin gugup.
"Wahai ibu-ibu di seluruh dunia! Hamba datang dengan niat baik! Janganlah kau judes pada calon menantu! Berilah restu pada cinta yang tulus!" Rio berseru-seru.
Sesampainya di lokasi, mereka menemukan seorang wanita paruh baya yang terlihat kesal berdiri di samping mobilnya. Wajahnya memang terlihat... sedikit judes. Luna memperkenalkan Apri dengan gugup.
"Mama, ini Mas Apri, tukang tambal ban yang tadi nolongin Luna. Mas Apri, ini Mama."
Ibu Luna menatap Apri dari atas sampai bawah. "Tukang tambal ban? Kamu yang bikin anak saya telat presentasi kemarin?"
Apri menelan ludah. "Maaf, Bu. Tapi itu bukan salah saya. Ban mobil Mbak Luna memang sudah waktunya ganti."
Herman mendekat, mengamati ban mobil ibu Luna. "Ban ini masih layak pakai. Tekanan angin kurang 15 PSI. Tidak ada indikasi kebocoran."
"Jadi, kenapa bisa kempes?!" Ibu Luna berseru kesal.
Rio mendekat, memejamkan mata, dan mulai "merasakan" energi di sekitar ban. "Aku melihat... ada energi... tapi bukan frustrasi. Ini energi... iri?"
Apri, Luna, dan ibu Luna saling pandang.
"Iri?" tanya ibu Luna bingung.
"Iya, Bu. Ada energi iri dari ban lain di sekitar sini. Mungkin... ban lain iri karena ban Ibu lebih bagus," jelas Rio dengan serius.
Apri menahan tawa. Ia pun mulai memeriksa ban mobil ibu Luna. Benar kata Herman, tidak ada kebocoran. Hanya kurang angin. Apri pun memompa ban itu dengan cekatan.
Sambil memompa ban, Apri mencoba mencairkan suasana. "Ibu, ban ini cuma kurang perhatian. Sama kayak manusia, ban juga butuh diperhatikan. Kalau didiamkan saja, bisa ngambek."
Ibu Luna sedikit melunak. "Kamu ini ada-ada saja. Tapi memang benar, saya jarang cek ban. Sibuk kerja terus."
Setelah ban terisi angin, mobil ibu Luna kembali siap jalan. Ibu Luna, yang sudah tidak terlalu judes, mengucapkan terima kasih kepada Apri.
"Terima kasih, Mas Apri. Kamu memang cekatan. Tapi lain kali, jangan sampai bikin anak saya telat lagi."
Apri tersenyum lega. Ujian pertama lulus.
"Siap, Bu. Saya akan pastikan ban Mbak Luna selalu dalam kondisi prima."
Rio mendekati ibu Luna, memejamkan mata, dan menyentuh bahunya. "Saya merasakan... ada energi... restu? Ibu merestui hubungan Apri dan Luna?"
Ibu Luna menatap Rio dengan tatapan aneh. "Kamu ini dukun?"
"Saya dukun modern, Bu. Menerawang masa depan cinta," jawab Rio dengan percaya diri.
Herman mencatat di clipboard-nya. "Probabilitas ibu Luna merestui hubungan Apri dan Luna setelah dibantu menambal ban adalah 45%. Faktor dukun dan gombalan Apri meningkatkan probabilitas hingga 52%."
Apri mengantar Luna pulang. Di dalam mobil, Luna tertawa.
"Kamu hebat, Mas Apri. Bisa menaklukkan Mama yang judes itu."
"Itu berkat jimat kunci inggris dan mantra anti-judes dari Rio," jawab Apri sambil tersenyum.
"Tapi jujur, saya jadi penasaran. Kenapa ban Mama bisa kempes cuma kurang angin? Padahal biasanya Mama rajin cek mobil."
Apri berpikir sejenak. Lalu ia teringat sesuatu. "Mbak Luna, ibu Mbak punya benda yang berhubungan sama sepeda?"
Luna berpikir. "Sepeda? Hmm... Mama punya foto lama. Foto kakek saya waktu muda, naik sepeda ontel. Fotonya dipajang di dompet Mama."
Apri dan Rio saling pandang. Foto di dompet? Ini bisa jadi "Jimat Iri Ban" yang baru!
"Kita harus selidiki dompet ibu Luna!" seru Rio dengan semangat.
Herman menggelengkan kepala. "Ini semakin absurd. Tapi data menunjukkan ada peningkatan kasus ban kempes misterius di Surabaya. Kita harus mencari tahu penyebabnya."
Apri tersenyum. Petualangan mereka belum berakhir. Dan tampaknya, cinta dan ban kempes akan terus mewarnai kisah kocak mereka.