Misi Dompet dan Kencan Tak Terduga
Rio dan Apri terdiam. Foto di dompet ibu Luna? Ini terdengar lebih rumit dari sekadar menambal ban di tengah badai. Herman, yang selalu siap dengan data, mengeluarkan portable X-ray scanner kecil dari tasnya.
"Untuk memastikan keberadaan foto dan menganalisis materialnya," kata Herman datar, seolah hal itu adalah prosedur standar.
"Man, ini dompet orang, bukan koper berisi bom!" Apri menggelengkan kepala.
"Tapi ini bisa jadi sumber energi iri ban," Rio menambahkan, tampak serius. "Energi iri itu bisa menyebar dari benda yang paling dekat dengan pemiliknya."
Luna yang mendengarkan percakapan mereka hanya bisa tersenyum. "Mas-mas ini ada-ada saja. Tapi kalau memang itu bisa bantu, saya akan coba pinjam dompet Mama."
Apri merasa ini adalah kesempatan emas untuk lebih dekat dengan Luna. Ia harus melakukan misi ini dengan 'sukses'.
Keesokan harinya, Luna berhasil 'meminjam' dompet ibunya dengan alasan ingin membelikan sesuatu. Ia membawa dompet itu ke workshop Apri, tempat Trio Sakti sudah menunggu dengan peralatan 'penyelidikan' mereka.
"Ini dompet Mama," kata Luna sambil menyerahkan dompet kulit berwarna gelap itu kepada Apri. "Tadi Mama sempat curiga kenapa saya mau meminjam dompetnya."
Apri menerima dompet itu dengan hati-hati, seolah itu adalah relik kuno yang sensitif. Rio mendekat, memejamkan mata dan meletakkan tangannya di atas dompet.
"Aku merasakan... energi yang kuat! Ada banyak emosi di sini! Ketegasan, sedikit kekesalan, dan... aura nostalgia yang pekat!" Rio menjelaskan dengan dramatis.
Herman mengeluarkan X-ray scanner mini-nya. "Baiklah, saya akan coba memindai. Probabilitas kerusakan dompet 0,01%."
"Jangan sembarangan, Man!" Apri panik. "Ini dompet calon ibu mertua!"
"Ini untuk analisis ilmiah, Apri. Kita tidak bisa menebak-nebak tanpa data," Herman bersikeras.
Akhirnya, dengan sedikit paksaan dari Rio yang bilang 'ini demi misi', Herman mengarahkan scanner-nya ke dompet. Layar scanner menunjukkan beberapa objek di dalamnya: kartu-kartu, uang, dan... sebuah foto yang samar.
"Ada foto di bagian kartu," Herman menunjukkan pada layar. "Objek persegi panjang, dimensi 5x7 centimeter. Material kertas foto."
Rio membuka dompet itu dengan hati-hati. Di antara kartu-kartu, ada sebuah foto lusuh. Foto seorang pria muda (yang tak lain adalah kakek Luna), dengan senyum lebar, sedang mengendarai sepeda ontel tua. Di belakangnya, ada beberapa sepeda lain yang terlihat baru dan mengkilap.
"Ini dia!" seru Rio. "Energi iri itu datang dari... sepeda-sepeda di belakang kakekmu!"
Luna mendekat, melihat foto itu. "Itu kakek saya waktu muda. Tapi, kenapa energi iri dari sepeda-sepeda itu?"
"Jadi begini," Rio menjelaskan dengan gaya seorang profesor metafisika. "Roh kakekmu ini kan dulunya kesal karena bannya sering kempes. Nah, dia melihat sepeda-sepeda baru itu dengan ban yang mulus dan tidak pernah kempes. Jadi, dia merasa iri! Dan energi iri ini menyebar, membuat ban-ban di sekitarnya ikut kempes!"
Apri mengangguk-angguk. "Masuk akal. Jadi, foto ini adalah 'Jimat Iri Ban' versi modern."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Luna.
Rio berpikir keras. "Kita harus melakukan 'ritual pengasihan' untuk ban-ban di foto ini. Kita harus meyakinkan roh kakekmu bahwa ban-ban di dunia ini layak untuk tidak kempes!"
Herman mencatat. "Hipotesis: ritual pengasihan dapat mengurangi energi negatif pada objek. Probabilitas keberhasilan: tidak dapat dihitung."
Maka, dimulailah ritual paling absurd yang pernah ada. Rio mengambil foto itu, menaburkan bubuk kopi dan bunga melati di sekitarnya. Apri mengeluarkan pompa ban mininya, lalu pura-pura memompa ban sepeda di dalam foto. Sementara itu, Herman sibuk merekam semua kejadian dengan kamera ponselnya, sesekali melirik thermal imager-nya.
"Wahai ban-ban di foto ini! Kalian adalah ban-ban yang perkasa! Kalian layak untuk mengaspal tanpa kempes! Janganlah kalian membuat iri ban lain! Berdamailah dengan roh kakek penunggang sepeda!" Rio berseru, suaranya dramatis.
Apri dengan serius memompa 'ban virtual' itu. Luna tak bisa menahan tawa melihat tingkah laku mereka. Ini adalah hal paling gila yang pernah ia saksikan.
Setelah beberapa menit, Rio menghela napas. "Energinya sudah stabil. Roh kakekmu sudah mengerti."
Herman melihat layarnya. "Tidak ada perubahan signifikan pada medan magnet. Tapi, secara visual, foto ini memang tampak sedikit lebih 'cerah' setelah ritual."
Luna tersenyum. "Terima kasih banyak, Mas-mas. Kalian memang unik." Ia melihat ke arah Apri. "Sebagai balas budi, bagaimana kalau kita makan malam berdua malam ini?"
Wajah Apri langsung merah padam. "Berdua?"
Rio menyikut Apri. "Nah, ini baru namanya hasil ritual! Jangan disia-siakan, Pr!"
Herman mencatat di clipboard-nya. "Probabilitas kencan berhasil setelah ritual dukun: 68%. Ini adalah peningkatan signifikan."
Flashback:
Rio muda, saat itu masih kuliah di jurusan Filsafat, sering merasa galau dengan tekanan hidup. Suatu malam, ia pergi ke sebuah kedai kopi yang sepi. Di sana, ia melihat seorang bapak-bapak tua yang sedang meditasi sambil memegang tasbih. Rio yang penasaran, mendekat. Bapak itu tersenyum dan berkata, "Semua benda, semua jiwa, punya energinya sendiri, Nak. Kalau kamu bisa merasakan, kamu bisa membantu." Sejak saat itu, Rio mulai mendalami 'energi' di balik benda-benda, dan perlahan menemukan jalannya menjadi 'dukun modern'.
Malam harinya, Apri sudah rapi dengan kemeja barunya. Ia menjemput Luna di apartemennya. Kencan itu berjalan lancar. Mereka makan malam di restoran yang tenang, membicarakan banyak hal, dari pekerjaan, hobi, hingga kisah-kisah lucu mereka. Luna tak henti-hentinya tertawa mendengar cerita Apri tentang Rio dan Herman.
"Jadi, Mas Herman itu selalu begitu? Sangat ilmiah?" Luna bertanya sambil tertawa.
"Begitulah, Mbak Luna. Dia punya data untuk segala hal," jawab Apri.
"Dan Mas Rio, dengan semua mantra dan ramalannya?"
"Rio itu punya dunia sendiri, Mbak. Tapi hatinya baik," Apri tersenyum. Ia merasa nyaman sekali berbicara dengan Luna.
Saat mereka hendak pulang, Luna tiba-tiba berhenti. "Oh ya, Mas Apri. Saya lupa sesuatu."
Apri mengernyit. "Lupa apa, Mbak?"
Luna merogoh tasnya. "Tadi siang, Mama telepon lagi. Katanya ban cadangan di bagasi mobilnya kok tiba-tiba kempes juga. Padahal belum pernah dipakai sama sekali."
Apri, Rio, dan Herman yang sedang menunggu di mobil Apri di depan apartemen Luna, langsung lemas.
"Ban cadangan?!" Rio berseru dari dalam mobil Apri, yang jendelanya sedikit terbuka. "Itu pasti energi iri dari ban cadangan yang tidak pernah dipakai! Dia merasa tidak berguna!"
Herman mengeluarkan miniature sensor dari saku jaketnya. "Ini semakin menarik. Fenomena ban kempes dengan motif psikologis. Probabilitas kasus baru: 99%."
Apri hanya bisa tersenyum masam pada Luna. Kencan romantisnya mendadak berubah menjadi panggilan darurat ban kempes lagi. Sepertinya, petualangan mereka dengan "kutukan" ban kempes ini akan terus berlanjut, membawa mereka pada situasi-situasi yang semakin absurd dan tak terduga.