"Kakak ingat kan perjanjian kita, Aku masih kelas 3 SMA inggat itu!" Ucap gadis berambut panjang hitam legam.
"Hmmmmmm..." Pria bermata biru itu menfokuskan pandangan ke depan.
Sepatu kets hitam menginjakkan kakinya ke aspal, terlihat Seorang gadis berseragam lengkap menuruni Jazz hitam yang terparkir di pinggir jalan. Jari lentiknya menutup keras pintu mobil. Rok abu selutut dan seragam putih kini melekat di tubuh mungilnya, di sisi lengan kanannya terdapat logo SMAN Garuda. Mata coklatnya menelusuri Siswa siswi yang berhamburan memasuki pintu gerbang.
Gadis berkulit putih itu Menghela nafas pendek, mengenggam erat kedua tali tas yang bertengker di kedua pundaknya. Dengan mantap ia langkah kan kakinya berjalan memasuki gerbang berwarna hijau itu.
Di jalanan ibu kota yang padat Jazz hitam itu melaju kencang. Teriknya matahari membuat pagi ini terasa panas. Lampu lalu lintas menyala merah menghentikan laju jazz itu.
"Sinta..." teriak seseorang di koridor.
Pemilik tas unggu itu menoleh ke belakang lalu bibir tipisnya tertarik membentuk sebuah senyum, "Jihan?"
"Cie yang liburan di California, sampe ga ingget sama sahabat sendiri."
"Jihan, Gue nyesel liburan disana. Andaikan waktu berputar kembali," Sinta berjalan lemas
"Tunggu tunggu di sana kan pemandangannya bagus-bagus, masa iya lo nyesel." Jihan menghentikan langkahnya.
Tettttt tettttttt tettttttt
"Udahlah nanti gue ceritain," Sinta terus berjalan ke depan
"Hmmmm okey, lo punya hutang sama gue." setenggah berlari Jihan menghampiri Sinta
Jihan merangkul sahabatnya itu sudah satu bulan mereka tak bertemu. Mereka berdua berjalan di koridor sekolah yang mulai sepi. Hinga seseorang berlari dari belakang dan menubruk mereka.
Dugggg...
"Sorry... soryy..." ucap siswa itu lalu mengambil tasnya di lantai.
"Eh lo pria songong. Liat- liat kalau jalan" sewot Jihan
"Udah lah Ji, kita juga yang salah jalan di tenggah-tenggah" Sinta membenarkan tali tasnya yang melorot
"Gue kan udah bilang sorry," pria itu tersenyum Ramah
Sinta kenal betul suara itu, ia pun menatap wajah pria itu. melihat senyuman pria di hadapannya seketika wajahnya merona. Jihan menoleh kesamping menatap mata coklat Sinta yang berminar-binar.
"Gue udah telat, sekali lagi sorry." Siswa itu berlari di koridor meninggalkan dua gadis yang di tabraknya.
Sinta menatap punggung pria itu yang semakin menjauh dari pandangannya dan seulas senyum terlihat di wajah cantiknya.
"Jangan bilang kalau pangeran lo itu dia?" Ucap Jihan
Sinta tersenyum lalu melangkah kan kakinya di koridor meninggalkan Jihan sendirian di belakang. Sinta menghiraukan perkataan sahabatnya itu.
Sinta mengamati setiap benda yang ada di kelasnya, terduduk di bangku barisan ke tiga. sudah 6 bulan ia menduduki kelas 3 ipa1 namun baru kali ini ia merindukan sekolahnya. Sinta menopang dagunya dengan kedua tanganya, menatap lurus papan tulis yang kosong, Entah apa yang ia lamunkan saat ini.
"Selamat pagi anak-anak, kembali ke bangku masing-masing." Seorang Guru bertubuh besar memasuki kelas membuat suasana hening seketika.
"Sinta lo hutang penjelasan sama gue!" Jihan menjatuhkan pantantanya di kursi
"Nanti gue jelasin, sekarang belajar dengan baik" bisik Sinta pada Jihan
"hah? Apa gue salah denger, Sinta. Sejak kapan lo suka matematika?" Ucap Jihan
Suara Jihan sangat jelas di kelas membuat semua murid menatapnya. Bu Rita yang sedang menulis membalikan badan besarnya dan mata besarnya yang di hiasi aye sedow dan ailener hitam menatap tajam Jihan.
" Maaf bu..." ucap Jihan tertunduk lalu mengeluarkan buku dari kolong bangku.
######
Semua murid berhamburan keluar kelas, jam belajar berakhir dengan cepat. Semua siswa siswi bersemangat, tersenyum lebar. Melangkah kan kaki dengan cepat melewati pagar yang menjulang tinggi bertuliskan SMAN GARUDA.
"Nyebelin banget Ih kenapa harus pulang cepet sih, gue kan jadi bingung harus kemana." Gumam Sinta.
"Aduh gimana yah. Masa gue harus pulang sih enga banget." Sinta memutar bola matanya.
Sinta memutuskan naik taksi entah kemana yang terpenting bukan jalan pulang ke apartemen. Seluruh tubuhnya kini berkeringkat, peluh-peluh menetes dari kedua sisi rambutnya.
Wajah Sinta memerah kepanasan dan kakinya dengan lincah bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti tanda panah di layar monitor dengan irama musik yang bersuara keras. Tiga jam sudah Sinta bermain pump-pump di Games master.
musik pun berhenti menandakan berakhirnya permainan. Seketika Sinta ambruk dengan nafas tersengal sengal kelelahan. Sinta menghela napas panjang, mengatur pernafasannya agar kembali normal, ia meraih air mineral di sampingnya lalu meneguknya hingga habis. Cara ini lah yang bisa membuat Sinta melupakan sejenak permasalahan hidupnya.
Ceklek
Sinta membuka pintu apartemennya yang baru. Ia berjalan masuk membuka sepatunya lalu berjalan menuju kichen menekan stop kontak di samping kirinya.
"Seharian ini kamu kemana hah?" Ucap seseorang bernada dingin.
tubuh Sinta terhuyung ke belakang, Suara itu mengagetkan nya dan membuat jantungnya hampir copot. Sinta menegakan tubuhnya kembali lalu berjalan memberanikan diri mendekati asal suara itu.
"Gue eh Aku, Aku baru pulang sekolah. Lihat aku masih memakai seragam sekolah." Ucap Sinta mencoba menutupi ketakutanya.
"Hah kamu pikir aku bodoh, 10 jam yang lalu sekolahmu sudah bubar" mata biru itu menatap tajam gadis yang berdiri tak jauh darinya.
"Kenapa dia bisa tau? Ya tuhan menatap matanya saja aku takut. Bagaimana ini. Aku..... tadi mampir sebentar ke Mall..... Kak"
" Sebentar? 10 jam kami sebut SEBENTAR. Astaga Sinta, sekarang kamu itu tangung jawab saya. Apa kamu lupa aku i ....."
"Stop Kak Rama. Aku tau itu, maafkan aku." Sinta menudukan kepalanya.
"What ever" Ucap Rama meredam amarahnya.
Rama berdiri, berjalan mendekati Sinta menabrak bahunya dengan kasar, berlalu ke luar dengan menutup kasar pintu apartemen. Sinta lemas menjatuhkan dirinya ke lantai sekaligus. Tak terasa air matanya kini menetes kembali. Sinta menangis sekencang-kencangnya meratapi nasib malangnya kini.
"Papa mama, lihatlah ini yang kalian inginkan kan? Hiks... hiks hiks" ucap Sinta di sela-sela tangisnya yang tersedu-sedu.
########
Rama Dewa Nugraha pria arogan, tampan, kaya, pintar dan sukses menjalani usaha di bidang ekspor impor. tubuhnya pun atletis, membuat kaum hawa berbondong-bodong mendekatinya untuk di jadikan pacar atau pun istri. Wanita manapun rela memberikan tubuhnya pada Rama walaupun hanya satu malam dengannya. Satu bulan yang lalu, Rama melepaskan masa lajangnya dengan seorang Gadis yang masih mendudukki bangku sekolah.
"Sejak awal kita tidak di takdirkan bersama. Apa kamu dengar itu?!"
"Ahhh istri yang benar saja. KAMU ini keras kepala. Sampe kapan kita seperti ini hah... hah" Rama berjalan sempoyongan menuju apartemenya.
Tit tit tit tit tit dengan segenap kesadarannya, Rama menekan kata sandi apartemennya itu
Ceklek....
Samar-samar Rama melihat Sinta di ambang pintu. Rama memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit akibat alkohol yang diminumnya. Sinta berdiri di ambang pintu dengan baju tidur panjang bercorak stoberry. Rambut panjangnya kini di ikat rapih memperlihatkan leher jenjang putihnya. mata coklatnya menatap Rama penuh arti.
"I HATE YOU!" Ucap Sinta penuh tekanan di setiap katanya lalu pergi ke dalam kamarnya. Meninggalkan Rama sendirian di luar apartemen. Rama yang notabenya setenggah sadar hanya menangkap satu kata saja. Rasa sakit di kepalanya kini kembali, Rama pun memasuki apartemennya itu. Menarik Dasi hingga setenggah mengatung di lehernya, melepaskan jas kantornya lalu meleparkan nyah dengan asal. Rama menjatuhkan dirinya ke sofa perlahan-lahan ia menutup matanya.
#######
Maaf outher revisi lagi ceritanya biar enak di baca. Semoga kalian suka
jalan cerita yah sedikit berbeda karna cerita yang kemarin ga puguh ke depannya hehehe
Tinggalkan komen dan votenya okey ^^ see you
No copy ^^