Cahaya mentari perlahan lahan menembus tirai, memasuki ruangan persegi yang didominasi warna coklat. Seorang pria betubuh tinggi terletang di atas sofa panjang nan hitam. Bulu mata yang lentik dan halis tebal membuat kaum hawa iri dengan keindahan matanya. Hidungnya yang mancung melengkapi wajah tampannya.
Beberapa hiasan kayu di atas meja berjatuhan ke lantai. Bingkai foto sepasang pengantin yang cukup besar, terpampang jelas menempel di dingding ruang tenggah apartemen. Pria itu tertidur dengan pakaian kantor yang masih melekat di tubuhnya bahkan sepatunya pun masih terpasang rapih di kaki panjangnya.
Seragam putih abu melekat di tubuh gadis berkacamata besar itu. Sinta menatap pria di hadapannya dengan belas kasihan, sorot matanya yang coklat memperjelas kebenciannya terhadap pria itu.
"Kita akhiri semua ini. Dari awal kita tidak cocok Kak, kenapa harus Kakak sih yang jadi suami Sinta!"
"Aku ini masih Remaja, bisakah Kakak berprilaku baik padaku?" Lanjut Sinta. Ia berjalan melewati Rama yang tertidur pulas di sofa. tiba tiba seseorang mencekal lengan kirinya,di balik kacamata Sinta membuka lebar matanya. ia terkejut dengan sentuhan tangan itu "Astaga apa dia mendengarnya?" Sinta menatap pria di sampingnya. Tak lama kemudian tangan itu melemah dan perlahan-lahan melepaskan cekalannya , dengkuran terdengar dari mulut bibir merah jambu itu. Sinta menghela nafas lega, secepat mungkin ia bergegas pergi meninggalkan apartemennya.
######
Tettttt tettt
tanda bel istrihat kini terdengar nyaring di kelas 3 ipa1. Semua murid begegas pergi menuju kantin, surganya makanan bagi para siswa siswi Sma Garuda. Dua orang gadis terduduk di pojok meja kantin terlihat sibuk dengan bakso yang mereka makan.
"Lo nangis semalaman, gara-gara kemarin gue ningalin lo sendirian di depan gerbang?" Jihan menatap mata Sinta.
"PD lo selangit Jihan. Gue ga nangis cuma sakit mata lo ga liat apa?" Sinta memasukan bakso kedalam mulutnya dan menguyahnya.
"Ga mungkin. Masa kantong mata lo jadi besar dan menghitam, enga banget tau liatnya juga. Gue ini sahabat lo, dan lo harus cerita ke gue Sinta!" Kini Jihan memegangi kedua bahu Sinta. Jihan ingin tau, kenapa sahabatnya ini terlihat aneh belakangan ini dan keadaan Sinta saat ini membuatnya semakin penasaran.
"Gue gak mungkin cerita karna gue malu Jihan. Kalau lo tau dan semua orang di sekolah tau, apa kata mereka nanti. Ejekan dan hinaan akan terjadi di masa remaja gue dan gue gak mau itu terjadi!" Batin Sinta
"Gue... gue mimpi buruk semalem, jadi gue nangis deh semaleman." Ucap Sinta berbohong sebisa mungkin.
"Lo bohong Sinta. Kita tuh udah sahabatan hampir tiga tahun. Dan gue tau prilaku lo itu." Tuntut Jihan menatap tajam mata Sinta
Sinta tertunduk lemah, kaca mata yang ia pakai untuk menutupi mata bengkaknya itu melorot ke bawah. Sinta sedang berpikir keras sekarang, apa mungkin hal ini harus di ceritakan pada sahabatnya ini atau ia simpan sampai lulus sekolah. Bakso yang ia pesan kini tersisa banyak begitupun Jihan nafsu makan mereka kini hilang entah kemana.
###########
Mobil jaz hitam terparkir di pinggir jalan. Sinta yang tak asing dengan mobil itu menghampiri pria paruh baya yang memakai blangkon di kepalanya, pria itu berdiri di samping mobil jazz dan membuka pintu mobil yang berada di sampingnya.
"Non Sinta Pak Rama menyuruh saya menjemput Non atau lebih tepatnya, saya akan menjemput Non Sinta setiap pulang sekolah dan mengantar Non Sinta ke sekolah." Ucap pria paruh baya itu dan berdiri tegak lalu menundukan kepalanya.
"Baiklah," tanpa mengeluh Sinta memasuki mobil jazz di depannya itu.
Dalam perjalan menuju apartemen, Sinta hanya diam menatap lurus ke depan tanpa bertanya sedikitpun pada supir barunya ini. Merasa bosan ia pun memalingkan wajahnya ke samping jendela mobil melihat pemandang di luar sana.
Kendaraan berlalu lalang di jalanan yang ramai, siswa siswi berhamburan keluar dari bus sekolah yang mereka taiki. teriknya matahari tak menyurutkan semangat para pedangan kaki lima, mereka dengan senang hati melanyani para pembeli. Sinta sangat merindukan masa lalunya walaupun setiap hari ia bergelut dengan bus dan macetnya jakarta, ia tetap senang. Sinta tau tak seharusnya ia melakukan itu, namun baginya menjadi orang biasa itu menyenangkan.
"Non Sinta, apa benar Non istrinya Pak Rama?" Ucap supir yang di ketahui bernama Cepot, membuyarkan lamunan Sinta.
di kursi penumapang Sinta menatap punggung Pak Cepot lama, menghela nafas panjang. Perkataan Pak Cepot menyadarkan Sinta akan keyataan hidupnya. " Satu bulan yang lalu aku menjadi istrinya. Memang kenapa?" Tanya Sinta
" Non Sinta bakalan senang menjadi istri Pak Rama. Pak Rama itu sangat baik Non, yah terkadang sikapnya kurang baik dan menakutkan setiap orang yang melihatnya, tapi sebenarnya ia tipe orang yang peyayang." Jelas Cepot membangakan atasan ya itu.
" peyayang? Penyayang syetan kali maksud bapak. Orang sejahat itu tak pantas di puji Pak. Bapak seharusnya sadar itu hanya topeng." Runtuk batin Sinta
"Mungkin, jangan memujinya seperti itu. Bisa-bisa tuh orang besar kepala" pada akhirnya Sinta mengucapkan kata-kata itu.
"Non ini bisa saja." Cepot terseyum di kaca spion yang mengantung di depan. Sebisa mungkin Sinta membalas senyuman Pak Cepot dengan senyum terpaksanya.
"Sudah sampai Non silahkan masuk apartemen, Bapak akan pergi kalau Non sudah memasuki gedung apartemen itu." Jelas Cepot membuka pintu mobil yang di duduki Nona mudanya itu, Sinta pun keluar dari mobil jazz hitamnya.
"Kak Rama itu benar-benar lebay. Dia kira dengan cara seperti ini aku memaafkan kelakuannya tapi sayangnya itu tidak berguna, karna aku tetap membencinya" Mulut Sinta kini komat kamit berjalan memasuki gedung tinggi itu.
########
Setiap hari Sinta di jemput oleh Cepot, Sinta selalu terdiam di dalam mobil. menurut Sinta tak ada lagi kebahagian dalam hidupnya bahkan masa depannya kini telah suram.
Semenjak kejadian satu bulan yang lalu Sinta selalu menghindar bertemu dengan Rama. Sesekali mereka bertatap muka dan berbicara sedikit hanya hal tepenting saja yang mereka ucapkan selain itu, tidak ada. pernikahan yang terjadi dia antara keduanya tidak seperti pernikahan yang orang-orang impikan.
Jihan gue nyontek tugas Bu Rita nyah besok please... :(
Gak, sebelum lo cerita apa yang terjadi ama lo!
Pelit lo... gue gak bisa nanti aja gue ceritanya. Please honey... gue ga mau di hukum lagi sama Bu Rita :'( *mewek darah gue, lo tega apa sama gue
Lo juga tega ama gue Sinta! kalau gitu, ya udah nyonteknya nanti lagi aja. Bye honey gue nantuk :*
Sinta memandang layar ponselnua dengan penuh duka, Jihan sahabatnya sendiri tidak bisa membantunya hanya karna Sinta belum siap menceritakan keadaannya kini. Sinta terkadang heran dengan tingkah laku Jihan yang tak bisa di tebak olehnya. Sinta tau Jihan masih marah Tapi untuk yang satu ini, Sinta belum siap untuk bercerita pada siapa pun.
Sinta mondar mandir di depan meja makan. Saat ini ia sedang resah dengan tugas matematika yang menumpuk karna ia tak pernah mengerjakannya. Dalam hal pelajaran matematika Sinta paling besar mendapatkan nilai 5 itupun hasil mencontek dari teman sekelasnya. menurut Sinta matematika itu tidak berguna dan memusingkan.
apa gue pura-pura sakit aja. ahh masa setiap pelajaran matematika gue sakit yang ada nanti makin parah nilai matematika gue.
minta bantuan sama manusia gunung es itu, gak mungkin. bisa bisa dia makin ngeremehin gue lagi. Ahh ya Tuhan bantu hamba mu ini kirimkan malaikat bersayap untukku.
Pada akhir Sinta menunduk di atas meja makan. Terlalu lelah hari ini hingga ia tertidur pulas di meja makan. Sinta tertidur dengan posisi duduk di kursi dan menengelamkan wajah di antara kedua lipatan tangannnya, hingga suara handponenya berbunyi menandakan pukul 6 pagi.
"Ahh leherku, badanku sakit semua. Manusia gunung es itu benar-benar menyebalkan, masa gue yang cantik ini di diamkan tertidur di meja makan. Hah dasar orang jahat!"
Sinta menutup mulutnya dengan kedua tangan lalu berlari ke dalam kamarnya bergegas mandi karna hari ini ia harus masuk sekolah. Tugas matematika yang menumpuk ia melupakannya sementara.
Sinta menghela nafas Panjang ketika Ru Rita dengan mata tajamnya memasuki kelas. Bibir merah cabe karna polesan lipstik itu akhirnya meminta tugas yang Sinta janjikan akan ia bereskan hari ini. Dengan sekuat tenaga Sinta mengambil buku matematika dalam tas unggunya, memberikannya pada Bu Rita lalu Sinta menundukan kepala kali ini ia siap menerima hukuman yang akan di berikan guru matematikanya itu.
########
semoga kalian suka ^^ komen dan votenya jangan lupa see you bye No copy ^^
Tinggalkam komentar dan vote ya plisss