Cahaya lampu tidur kini menerangi kamar ber aroma mint itu. Seorang pria bertubuh tinggi tertidur pulas di atas ranjang. Matanya terbuka perlahan, pria itu terbangun dari tidurnya.
Rama meraih gelas di atas meja samping tempat tidurnya. Tengorakannya kini terasa kering namun gelas yang ia pegang sudah kosong sejak semalam aku lupa mengisinya. Dengan terpaksa Rama turun dari kasur king size nyah itu.
Kaki panjangnya melangkah menuju dapur dengan sebelah tangan yang masih memegang gelas kosong, Rama mengerutkan keningnya tak biasanya lampu dapurnya menyala.
"apa yang kamu lakukan disini?" Ucap Rama berdiri di samping gadis yang tertunduk di meja.
Rama mengoyangkan bahu gadis itu dengan gelas yang ia pegang. Gadis itu mengeliat dan membenarkan posisinya kembali. Buku-buku yang berada di dekatnya pun berjatuhan ke bawah namun ia tak memperdulikannya dan kembali tertidur pulas. Rama mengelengkan kepalanya.
"ternyata, gadis menyebalkan ini tertidur." Rama meninggalkan Sinta lalu berjalan mendekati kulkas, menuangkan air mineral ke dalam gelasnya.
Setelah terisi penuh, Rama berjalan melewati Sinta begitu saja di meja makan. Langkahnya terhenti di depan bingkai photo yang menampilkan sepasang pengantin tersenyum bahagia.
Sejak awal photo ini sangat mengangu ku. Pikirnya
Rama membalikan badannya kembali melangkah menuju dapur, mendekati meja makan lalu terdiam cukup lama menatap Sinta yang tertidur pulas.
Rama duduk di samping Sinta, mengamati wajah Sinta dengan seksama. Bibir tipis merah jambu itu bergerak-gerak, sebagaian anak rambut menutupi wajahnya membuat Rama tanpa sadar mendekat wajahnya, lalu dengan gerakan hati-hati Rama menyelipkan helaian rambut itu dari wajah Sinta menggunakan jemarinya, menyelipkannya ke belakang telinga. Menampakkan wajah tidur yang kini terekpos sempurna.
" Istri? Bocah seperti ini menjadi istriku. Tidak mungkin!" Gumam Rama sangat pelan.
Rama menjauhkan wajahnya,
"Sinta, Apa kita bisa menjalani nyah? Mengingat wajahmu saja membuat kepala ku pusing"
Rama Mengikuti posisi tidur Sinta, satu tangannya terulur panjang di atas meja lalu menidurkan kepalanya di atas tangannya itu. Kini wajah mereka saling berhadapan.
"Istri?" Rama tersenyum getir
Selama dua bulan terakhir hidup bersama, tak ada kemajuan di antara mereka berdua. Hubungan mereka masih sama seperti pertama kali bertemu.
Satu jam sudah Rama memandangi wajah Sinta yang terlelap tidur. Rama tak ingin membangunkan Sinta karna itu bisa merusak moodnya. Rama beranjak dari tempatnya lalu menatap ke bawah meja, ia merasa menginjak sesuatu di lantai.
Rama membungkuk, mangambil benda berbentuk persegi itu
"Dewi Sinta Kiana, kelas 3 ipa1, Separti nyah ini menarik"
Rama membaca sampul depan buku tulis yang di pegangnya itu, Membuka lembar demi lembar buku itu. Rama tak menyangka Sinta sangat bodoh dalam hal berhitung ia pun mengeleng-gelengkan kepalanya, berjalan membawa buku itu kedalam kamarnya.
Semua soal matematika yang tertulis di buku coklat itu, telah ia selesai kan dalam kurung waktu satu jam. Rama keluar dari kamarnya, membuka pintu ruangan di depan kamarnya. Aroma khas berry tercium di indra penciumannya, untuk Pertama kalinya Rama memasuki kamar Sinta yang notabenya adalah istrinya sendiri.
Semenjak pulang ke indonesia mereka tak pernah satu kamar, Sinta takut terjadi apa-apa bila satu kamar dengan Rama karna Sinta masih ingin bersekolah. Bayangkan saja jika Sinta hamil dan masih duduk di bangku sekolah menurut Sinta itu enga banget. Walaupun 'itu' tak kan pernah terjadi, mencegahnya dari sekarang kan lebih baik.
########
Sinta menghela nafas Panjang ketika Ru Rita dengan mata tajamnya memasuki kelas. Bibir merah cabe karna polesan lipstik itu akhirnya meminta tugas yang Sinta janjikan akan ia bereskan hari ini.
Dengan sekuat tenaga Sinta mengambil buku matematika dalam tas gendong, memberikan nya pada Bu Rita lalu Sinta menundukan kepala, kali ini ia siap menerima hukuman yang akan di berikan guru matematikanya itu. Tanpa berbicara Rita meninggalkan bangku Sinta dan meminta tugas siswa lainya.
Tanda usai belajar pun berbunyi semua murid berhamburan keluar. Dengan semangat Sinta memasukan buku-bukunya yang berserakan di atas meja. Hari ini ia sangat senang karna terhindar dari hukuman Bu Rita dan mendapatkan nilai 100 nilai matematika tertinggi di kelasnya, tanpa menyontek tentunya? Sinta yang terhanyut dalam kesenangan, melupakan siapa orang yang membuat tugasnya.
Langkah Sinta terhenti di koridor seorang siswa berjalan melewatinya. Mata coklatnya berbinar, dengan melihatnya saja membuat wajah Sinta merona.
"Sinta, udah lah pria di luar sana lebih ganteng dari pada dia dan tentunya mereka suka sama lo." Ucap Jihan yang berdiri di samping Sinta.
"Hmmmm gue tau bahkan gue udah punya suami Jihan. Tak semestinya gue seperti ini. Namanya juga cinta monyet Ji jadi wajarlah" ucap Sinta tampa mengalihkan pandangannya
"Lo tuh yang monyet, gue mah enga tuh. Eh eh eh Sinta liat Om om ganteng itu gile dia cakep bener" Jihan mengoyang goyangkan lengan Sinta
"Ahh gue ga suka Om Om Ji, ihh apaan sih ga seneng apa kalau gue lagi.. ASTAGA!'' Sinta menoleh ke arah gerbang
"Katanya ga suka Om Om tapi ekpresi lo lebay banget sih" Bibir Jihan mengerucut
"Ya tuhan kenapa manusia gunung es itu kesini sih. Apa dia lupa perjanjian itu. Bagaimana ini dia tak boleh melihat ku."
Sinta terhenyak Ketika mata biru itu melihat ke arahnya. Rama berdiri di depan gerbang dengan pakaian kantor lengkap di tubuhnya. Menatap tajam Sinta yang berdiri tak jauh darinya.
"Gue duluannya, kalau enga gue bakal jadi daging rebus nanti, bye honey" Sinta meninggalkan Jihan yang menatapnya Bingung
"Tuh anak aneh banget sih dengan sekejap mata ekpresi nya berubah " Jihan mengerakan bahunya dan kembali berjalan menuju parkiran.
Sinta berjalan pelan melewati pagar sekolahnya. Sinta menundukan kepalanya alhasil rambutnya yang tegerai panjang menutupi wajahnya. Sinta berhasil melewati Rama yang berdiri di ambang pagar, ia menghela nafas lega dan bersiap berlari memasuki jazz hitam yang terparkir di pinggir jalan.
"Ahhhh Sial." runtuk Sinta, saat ia akan berlari seseorang menarik kerah bajunya
"Mau kemana kamu. Kabur? Lari saja kalau bisa" Rama menarik kerah baju Sinta
Sinta memunundurkan langkahnya, mencoba bersikap tenang lalu meniup poni yang mulaienutupi wajahnya.
"Lepaskan. Ngapain sih Kakak kesini!" Sinta membalikan badanya
" Dan apa Kakak inggat perjanjian kita. Gimana kalau temen-temen Sinta Kakak ini siapa, makin riwet nanti ceritanya!" Sinta memberanikan menatap mata Rama.
Rama menatap heran Sinta "Masuk lah ke dalam mobil. Kamu sendiri yang membuat ribet. Lihatlah teman-temanmu memandangi kita" Rama berjalan melewati Sinta dan mendekati pintu mobil kemudi
" astaga gue lupa kalau gue masih di depan sekolah. Menyebalkan" batin Sinta, lalu berlari memasuki mobil
''Huhh kamu ini selalu membuatku kesal. Duduklah di depan! Aku ini suami mu bukan supirmu Sinta!"
Sinta yang sering di antar jemput Pak Cepot membuatnya terbiasa duduk di kursi penumpang dan kali ini ia lupa, kalau di kursi kemudi adalah Rama bukan Cepot yang selalu menjemput nyah. Secepat mungkin Sinta keluar dan duduk di kursi depan. Mendengar nada dinginya saja membuat bulu kuduk Sinta berdiri.
Sinta menghela nafas panjang mengeluarkannya perlahan-lahan sudah lama, Rama tak menjemputnya pulang sekolah. Wajah datar Rama kini terlihat dan itu membuat Sinta takut akan dirinya.
"Kenapa? Ada yang salah dengan diriku ini" tanya Rama tanpa melihat Sinta di sampingnya
"Tidak. hanya saja aku lupa kalau aku ini seorang Istri" Sinta tersenyum miris
"Huhh... sudahlah malam ini temani aku ke pesta temanku" Rama memutar kemudinya
"Aku? Sejak kapan Kakak mengangapku ada! Apa aku salah dengar?" Sinta bertanya dengan polosnya
"Kamu ingin suami mu ini membawa wanita lain ke pesta dan b******a dengannya di apartemen Kita" Ucap Rama melihat sekilas wajah Sinta
Dalam hati kecil Sinta, ia tak rela kalau suaminya ini berjalan dengan wanita lain. Sinta tau ia dapat melarang suaminya karna itu hak nyah Sinta sebagai seorang istri. Namun di sisi lain Sinta tak pernah memberikan apapun sebagai seorang istri, menyajikan makanan atau minuman pun tak pernah ia lakukan pada suaminya itu.
"Maafkan aku kak, karna aku tak mengijinkan hal itu.'' Sinta menundukan kepalanya.
Rama tersenyum, ia kira Sinta akan mengijinkannya melakukan itu tapi nyata nyah tidak. Sebisa mungkin Rama menyembuyikan senyumannya dari Sinta.
Rama memarkirkan mobilnya di sebuah Mall ternama di jakarta. Ia pun mematikan mesin mobilnya "Kita sampai, aku memaafkanmu Sinta. Cepatlah keluar dari mobil" Ucap Rama lembut lalu keluar dari mobil.
"Kenapa dia? Kenapa suaranya menjadi lembut ahhh tidak... pasti dia marah besar. Seharusnya aku mengijinkannya melakukan hal 'itu' " runtuk Sinta keluar dari mobil. Berjalan di belakang, mengikuti Rama yang sudah memasuki Mall.
#########
Semoga kalian suka outher ini versi terbaru nyah hehee
Tingallkan komentar dan votenya
No copy ^^