Rama mengunjungi setiap Butik yang menyediakan pakaian wanita ataupun toko-toko yang menyediakan peralatan wanita, Rama membeli barang-barang yang menurutnya cocok.
Sinta berjalan lemas di belakang Rama dan kini seragamnya mulai terlihat lusuh. Semua orang yang berlalu lalang di Mall menatap Rama penuh kagum dan menatap Sinta seakan berkata bolehkan aku berkenalan dengan Kakak kamu yang tampan itu.
Sinta membalaskan tatapan mereka dengan sinis.
"Aku lelah, bisakah kita beristirahat?" Sinta menghentikan langkahnya begitupun orang berjas hitam yang berada di belakangnya
''Nanti saja. Ahh sepertinya pakaian ini cocok untukmu,"Rama berjalan memasuki butik bergaya musim panas itu
Sinta memutar bola matanya kesal, ia pun menoleh kebelakang menatap tas belajaan yang begitu banyak di tangan para bodyguart Rama
" manusia gunung es itu memang gila!" Sinta berjalan lemas memasuki butik itu.
Dua jam sudah Rama dan Sinta mengelilingi Mall. Sinta yang tak tau menau mengikuti langkah Rama dari belakang. Sampai saat ini ia tak tau apa yang di rencanakan Rama. Setiap ia bertanya, Rama selalu mengalihkan pertayaan nyah. Sinta hanya bisa mendengus kesal saat Rama menyuruhnya mencoba pakaian yang telah dia pilihkan untuknya. Untuk kesekian kalinya Sinta memasuki ruang ganti.
Rama berjalan menuju salon yang berada di depannya, Sinta menarik tangan Rama hingga Rama membalikan badanya.
"Aku ingin pulang. Ini adalah penyiksaan, aku Haus Lapar dan Lelah" Sinta menekan kan kata terakhirnya.
"Ini belum selesai masuklah kedalam" Rama mengerakkan dagunya
"Tidak lagi. Ini sudah cukup!" Sinta membalikan badannya lalu berjalan menjauhi Rama
Rama tersenyum miring lalu menjentikan jarinya dan pria bertubuh tinggi berjass hitam itu menghampiri Sinta. Dan memegang kedua tangan Sinta menyeretnya memasuki salon.
"Lepaskan, kenapa kalian mendengarkan manusia gunung es itu. Lepaskan kumohon" Sinta memberontak namun hasilnya sia-sia
"Masuk lah kedalam sebentar lagi selesai" ucap Rama.
Sinta hanya membalasnya dengan tatapan tajam, kali ini Sinta sangat kesal dengan prilaku Rama padanya.
"Selamat sore, mari saya antar" ucap wanita berpakaian pink itu menatap Sinta heran
Pria jass hitam itu menurunkan Sinta di dalam salon. Sinta dengan pasrah mengikuti arah pegawai salon. Rama membalikan badannya dan menyuruh semua pengawalnya untuk pulang dengan membawa kantong belanja yang sangat banyak.
Rama meninggalkan Sinta sendirian di salon itu. Berbagai treatment kecantikan Sinta lakukan mulai dari SPA, totok wajah, berendam dengan aroma terapi dan yang lainya. Terkadang Sinta mengantuk melakukan semua hal itu, tapi apa boleh buat ini kemauan suami gunung es nyah yang tak bisa ia tolak.
Tugas matahari kini berakhir sudah, digantikan oleh sang bulan sabit dan bintang-bintang memancarkan cahaya di langit, melengkapi indahnya langit malam ini.
2 jam sudah Sinta duduk di depan meja rias yang penuh dengan lampu-lampu kecil di setiap sisi kacanya. Meja rias di depannya itu berwarna emas memperjelas bahwa salon ini sangat mewah dan luas. Fasilitasnya pun tak bisa di pungkiri, Salon ini sangat lengkap. entah dari mana Rama mengetahui tempat ini.
Aye shedow berwana pink menempel di kelopak matanya dengan sedikit air liner atas dan bawah memberi kesan mata tajam dan yang indah. Sinta perlahan-lahan membuka kedua matanya. Sinta begitu mengagumi wajah cantikya kini, Sinta tak menyangka bahwa ia akan secantik ini.
"Lihatlah, kamu seperti Dewi Sinta sunguhan. bahkan bila Dewi Sinta masih hidup ia pasti iri melihat kecantikanmu." Ucap Wika pegawai salon
"Aku iri dengan Dewi Sinta ia mempunyai seorang Suami yang sangat mencintainya dan rela berkorban untuknya. lah aku, Rama tak pernah melihat ku sebagai wanita normal. Menyebalkan, Astaga Sinta jangan berpikiran macam-macam kamu ini masih anak SMA." Batin Sinta
"Ibu ini bisa aja. Tapi kenapa aku terlihat berbeda ini bukan aku yah bu" Sinta meyentuh pipinya yang Pink karna polesan blass on
"Aduhh panggil saya Tante, tante masih muda begini di bilang ibu ibu bagaimana kamu ini." Wika membenarkan rambut Sinta
Rambut lurusnya kini di bentuk menjadi keriting gantung memberi kesan dewasa pada wajahnya. Baju berwarna peach selutut yang memperliathat kan lekuk tubuhnya itu membuat kesan berbeda di tubuh Sinta satu kata yang cocok denganya 'Dewasa'
########
Rama terduduk di ruang tunggu, jas berwarna hitam dengan dasi bergaris biru kini melekat di tubunya. Sepuluh menit sudah ia menunggu istrinya berdandan. 3 Wanita berseragam pink berdiri tak jauh darinya. mereka mengeserkan badannya ke samping telihat seorang wanita bergaun peach tanpa lengan berdiri di antara mereka. Rama yang melihat kaki jenjang dan bahu tanpa sehelai kain itu menelan ludahnya kuat-kuat.
"Apa Kakak mengenal ku?" Tanya Sinta menghampiri pria yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Hari ini kamu menjadi istri yang baik. Baguslah, ini tidak mengecewakan ku. tak sia-sia aku membawa mu kesini. Cepatlah masuk mobil" Rama berjalan meninggalkan Sinta di belakang
"Ya Tuhan apa dia buta lihatlah perbedaan ku sekarang. Rama terkutuklah kamu hari ini." Sinta tertegun melihat punggung suaminya yang semakin menjauh darinya.
Suara musik klasik terdengar jelas di restoran mewah bergaya Eropa. Sinta menurunni jazz hitam itu, berjalan sepelan mungkin.
"Cepat lah Bunda menunggu kita" Rama menghampiri Sinta yang mencoba menurunkan kain bajunya
Sinta mengerutkan keningnya, "Jadi bunda yang membuatmu menyiksa ku hari ini. Akan ku ceritakan semuanya" Sinta menegakkan tubuhnya.
"Bersikaplah dewasa, perankan peranmu dengan baik, inggat jangan membuat bunda ku kecewa." Rama mengandeng Sinta memasuki restoran
Tanpa di ancam pun Sinta akan memerankan perannya dengan baik karna penikahan ini menyangkut bisnis kedua orang tuanya. Rama dan Sinta bergandengan tangan, tersenyum menghampiri wanita yang yang terduduk di dekat jendela.
Malam ini, Diana Ibunda Rama ke indonesia dan menginap di apartemennya selama dua hari. Rama yang tak ingin membuat ibunya shok secepat mungkin menyusun rencana. Rama tak ingin mengecewakan ibunya, apa pun itu Sinta harus menyetujui rencana yang Rama buat.
Dan malam ini mereka berdua sukses memerankan perannya dengan baik, senyuman tak pernah lepas dari keduanya.
"Bunda senang kalian semakin dekat." Ucap Diana di sela-sela makannya.
"Iya Rama senang kesehatan Bunda mulai membaik, apa Kak Juna kesini juga Bun?"
"Juna sedang sibuk dengan proyek barunya itu. sudahlah suatu saat nanti ia akan mengunjungi mu di sini" Diana menatap lekat anak keduanya itu
Rama tersenyum lalu memotong steak nya di piring. Sinta sibuk mengisi isi perutnya yang dari pagi kosong. Diana menatap Sinta yang duduk di hadapannya,
"Malam ini menantu ku sangat cantik, apa boleh wanita tua ini meminta cucu,"
Perkataan Diana membuat Sinta tersedak, Rama secepat mungkin memberi air minum pada Sinta. Sinta memukul pelan d**a nya yang terasa sesak, wajahnya memerah dan tengorokamnya terasa sakit karna harus menelan danging bulat-bulat.
Rama mengusap-usap pungung Sinta. Rama terlihat tenang dengan perkataan Bundanya itu.
Diana yang khawatir dengan keadaan menantu ya itu hampir saja menelepon rumah sakit.
"apa kamu tidak apa-apa? .'' Kekhawatiran tersirat di wajah Diana
"Ekhem maafkan Sinta, Sinta tidak apa-apa uhuk uhuk"
"Bunda, Sinta masih duduk di bangku sekolah. Tunggulah hingga dia keluar sekolah." ucap Rama mencoba meyakinkan Bundanya itu.
"Bunda kira Sinta sudah lulus ternyata belumnya, Bunda lupa. lupakan perkataan bunda barusan serius lah belajar Sinta" Diana tersenyum menatap Sinta
Sinta membalas senyuman Diana, sekarang selera makan Sinta menghilang entah kemana. Perkataan Diana masih tergiang giang di telinganya.
ini tidak boleh terjadi batin Sinta
Sinta mengusap-usap tangan yang terasa dingin, Rama menghentikan percakapnnya dengan Diana dan membuka jass nyah, ia pasangkan jassnya di tubuh Sinta. Rama menatap Sinta yang menoleh ke arahnya lalu tersenyum lembut.
melihat pemandangan itu Diana tersenyum bahagia "Bunda akan menginap di apartemen kalian, bunda mengantuk ayo kita pulang" Diana mengelap kedua sisi mulutnya dengan tisu
Sinta menatap Rama seolah-olah mata mereka berbicara. "Iya Bunda" Rama beranjak dari tempatnya dan menghampiri Diana membantunya berdiri dan mendudukannya di kursi roda.
Sinta menghentikan langkahnya
"Aduhh duhh duh kenapa dengan perutku. Ahh tidak ini belum saatnya"
"Kenapa?" Rama membalikan badanya, dalam bayangkan jendela kaca Sinta menghentikan langkahnya
"Sepertinya aku harus ke air. Ka.. Mas Rama sama Bunda duluan aja."
Sinta tersenyum menahan rasa sakit di perutnya
Rama menganguk dan berjalan mendorong kursi roda keluar restoran. Sinta sebisa mungkin berlari memaki hak 9cm ke WC.
###########
Semoga kalian suka ^^ maaf outher revisi lagi
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan vote nya^^4.